Blog Kesmas

happu diet photo Diets250x150.gif

Inspeksi Sanitasi

Weight Loss Diet

Update Tablet

info-ponselhp photo InfoHOFlash_zpsc6939bc5.gif

Public Health Blog

daftar isi sanitasi photo DAFTARISIBLOG2.gif
Showing posts with label Public Health. Show all posts
Showing posts with label Public Health. Show all posts

Variabel Tempat pada KLB

Written By Lumajangtopic on Wednesday, April 6, 2016 | 7:13 AM

Mengambarkan KLB Berdasarkan Variabel  Tempat 

Beberapa pertanyaan terkait variable Tempat pada kasus KLB antara lain : Dimanakah distribusi geografik yang paling bermakna dari kasus-kasus (menurut) tempat tinggal? Tempat kerja? Tempat lain?; Berapakah angka serangan (attack rate) pada setiap satuan tempat/geografik?

Informasi yang dikumpulkan pada waktu penghitungan diharapkan dapat memberikan petunjuk mengenai populasi yang mempunyai risiko menurut tempat. Hal ini dipadukan dengan informasi lain, diharapkan dapat membantu mengidentifikasikan sumber infeksi dan cara penularan.

'Spot map' dari kasus-kasus dibuat untuk mengetahui adanya pola tertentu dalam distribusi kasus menurut tempat. Dengan mempunyai alamat dari para kasus dan sebuah peta dari daerah yang bersangkutan, dapat diletakkan titik atau jarum pada peta untuk mewakili kasus dan menggambarkan distribusinya menurut tempat tinggal. Perlu dicari pengelompokan kasus, yang mungkin sesuai dengan lingkungan geografik tertentu, seperti blok sensus, lingkungan pembuangan limbah, dan daerah sekolah. Jika memang terdapat pengelompokkan, hubungan dengan kemungkinan sumber infeksi seperti air, susu atau bahan makanan mungkin menjadi tampak jelas.

Apabila pengelompokan menurut tempat tinggal tidak tampak secara nyata, hal itu mungkin disebabkan karena tidak digunakan "tempat” yang sesuai. Misalnya, memetakan kasus-kasus brucellosis pada manusia menurut tempat tinggal mungkin tidak akan mengungkapkan sesuatu, sedangkan memetakannya menurut tempat kerja mungkin memberikan petunjuk yang diperlukan tentang sumbernya. Mungkin pula terjadi bahwa sekalipun tidak tampak pengelompokan secara nyata, distribusi spasial itu masih bermakna. Apabila penyebab penyakit itu menyebar terbawa udara, maka pola yang terlihat mungkin dapat diterangkan oleh arah angin pada saat paparan kasus terhadap penyebab itu. Apabila penyebab penyakit menyebar melalui air, maka penyebaran kasus yang luas secara geografik dapat berarti bahwa seluruh populasi terancam terpapar.

Bagaimana pun pola geografik yang terlihat pada 'spot map', penilaian variasi geografik dari risiko paparan atau risiko infeksi harus memperhitungkan distribusi populasi. Hal itu berarti bahwa perlu dihitung angka serangan menurut daerah (specific attack rate area), dan kesimpulan perbedaan risiko pada daerah-daerah yang berlainan harus didasarkan pada 'rate' dan bukan pada jumlah kasus saja.

Situasi-situasi khusus lainnya terjadi dalam hubungan dengan kasus-kasus di berbagai institusi. Misalnya jika kasus-kasus adalah karyawan atau pasien rumah sakit, mereka harus dianalisis menurut tempat kerja atau tempat tinggal mereka : lantai, bangsal, kamar, bagian atau tempat tidur. Apabila penyelidikan menunjuk kepada adanya hubungan dengan sebuah sekolah, informasi tentang "tempat" mungkin diolah dan dianalisis menurut ruang-ruang kelas di dalam sekolah yang bersangkutan. (Tabel 5).

Analisis suatu KLB menurut tempat dianggap telah dilakukan dengan baik apabila angka insidens untuk daerah-daerah bagiannya mengungkapkan bahwa populasi di satu atau lebih daerah bagian itu mempunyai risiko paparan yang lebih tinggi secara bermakna daripada risiko rata-rata.

Sumber : Buku Pedoman Penyelidikan dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa Penyakit Menular dan Keracunan Pangan (Pedoman Epidemiologi Penyakit), Edisi Revisi Tahun 2011, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011



7:13 AM | 0 comments | Read More

Penyakit Akibat Lingkungan Kerja

Written By Lumajangtopic on Monday, January 18, 2016 | 9:13 PM

Pengendalian Penyakit Akibat Lingkungan Kerja

Penyakit akibat kerja dan atau penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan dapat disebabkan oleh pemaparan terhadap lingkungan kerja. Dewasa ini terhadap kesenjangan antara pengetahuan ilmiah tentang bagaimana bahaya-bahaya kesehatan berperan dan usaha-usaha untuk mencegahnya. Juga masih terdapat pendapat yang sesat bahwa dengan mendiagnosis secara benar penyakit-penyakit akibat kerja yang disebabkan oleh zat/bahan yang berbahaya dilingkungan kerja, sudah membuat sutuasi terkendalikan.

Pendekatan tersebut tetap membiarkan lingkungan kerja yang tidak sehat tetap tidak berubah, dengan demikian potensi untuk menimbulkan gangguan kesehatan yang tidak diinginkan juga tidak berubah' Hanya dengan "diagnosa" dan "pengobatan/ penyembuhan" dari lingkungan kerja, yang dalam hal ini disetarakan berturut-turut dengan "pengenalan/evaluasi" dan "pengendalian efektif" dari bahaya-bahaya kesehatan yang ada dapat membuat lingkungan kerja yang sebelumnya tidak sehat menjadi sehat.

Untuk dapat mengantisipasi dan mengetahui kemungkinan bahaya-bahaya dilingkungan kerja yang diperkirakan dapat menimbulkan penyakit akibat kerja utamanya terhadap para pekerja, ditempuh 3 langkah utama yaitu : Pengenalan lingkungan kerja, evaluasi lingkungan kerja dan pengendalian lingkungan dari berbagai bahaya dan resiko kerja.

Pengenalan lingkungan kerja
Pengenalan dari berbagai bahaya dan resiko kesehatan dilingkungan kerja biasanya pada waktu survai pendahuluan dengan cara melihat dan mengenal ("walk-through survey"), yang salah satu langkah dasar yang pertama-tama harus dilakukan dalam upaya program kesehatan kerja. Beberapa diantara bahaya dan resiko tersebut dapat dengan mudah dikenali, seperti masalah kebisingan disuatu tempat, bilamana sebuah percakapan sulit untuk didengar, atau masalah panas disekitar tungku pembakaran atau peleburan yang dengan segara dapat kita rasakan. Beberapa hal lainnya yang tidak jelas atau sulit untuk dikenali seperti zat-zat kimia yang berbentuk dari suatu rangkaian proses produksi tanpa adanya tanda-tanda sebelumnya.

Untuk dapat mengenal bahaya dan resiko lingkungan kerja dengan baik dan tepat, sebelum dilakukan survai pendahuluan perlu didapatkan segala informasi mengenai proses dan cara kerja yang digunakan, bahan baku dan bahan tambahan lainnya, hasil antara hasil akhir hasil sampingan serta limbah yang dihasilkan. Kemungkinankemungkinan terbentuknya zat-zat kimia yang berbahaya secara tak terduga perlu pula dipertimbangkan. Hal-hal lain yang harus diperhatikan pula yaitu efek-efek terhadap kesehatan dari semua bahaya-bahaya dilingkungan kerja termasuk pula jumlah pekerja yang potensial terpapar, sehingga langkah yang ditempuh, evaluasi serta pengandaliannya dapat dilakukan sesuai dengan prioritas kenyataan yang ada.

Evaluasi Lingkungan kerja
Evaluasi ini akan menguatkan dugaan adanya zat/bahan yang berbahaya dilingkungan kerja, menetapkan karakteristik-karakteristiknya serta memberikan gambaran cakupan besar dan luasnya pemajanan. Tingkat pemajanan dari zat/bahan yang berbahaya dilingkungan kerja yang terkendali selama survai pendahuluan harus ditentukan secara kualitatif dan atau kuantitatif, melalui berbagai teknik misalnya pengukuran kebisingan, penentuan indeks tekanan panas, pengumpulan dan analisis dari sampel udara untuk zat-zat kimia dan partikelpartikel (termasuk ukuran partikel) dan lain-lain. Hanya setelah didapatkan gambaran yang lengkap dan menyeluruh dari proses pemajanan kemudian dapat dibandingkan dengan standar kesehatan kerja yang berlaku, maka penilaian dari bahaya atau resiko yang sebenarnya terdapat dilingkungan kerja yang telah tercapai.

Pengendalian Lingkungan kerja

Pengendalian lingkungan kerja dimaksudkan untuk mengurangi atau menghilangkan pemajanan terhadap zat atau bahan yang berbahaya dilingkungan kerja. kedua tahapan sebelumnya pengenalan dan evaluasi, tidak dapat menjamin sebuah lingkungan kerja yang sehat. Jadi hal ini hanya dapat dicapai dengan teknologi pengendalian yang adekuat untuk mencegah efek kesehatan yang merugikan dikalangan para pekerja. Walaupun setiap kasus mempunyai keunikan masing-masing, terdapat prinsip-prinsip dasar teknologi pengendalian yang dapat diterapkan, baik secara sendiri maupun dalam bentuk kombinasi, terhadap sejumlah besar situasi tempat kerja untuk memulainya ada beberapa pertanyaan yang perlu dikemukakan, dan jawabanya diharapkan dapat memberi pedoman terhadap jenis teknologi pengendalian yang paling tepat dan mungkin untuk dilaksanakan.

Pada dasarnya pengendalian terhadap bahaya-bahaya lingkungan kerja dapat dikelompokkan kedalam 2 kategori yaitu Pengendalian Lingkungan dan Pengendalian Perorangan.

a. Pengendalian Lingkungan
Pengendalian Lingkungan meliputi perubahan dari proses kerja dan atau lingkungan kerja dengan maksud untuk pengendalian dari pada bahaya-bahaya kesehatan baik dengan meniadakan zat/bahan tersebut sampai tingkat tidak membahayakan kesehatan, serta mencegah kontak antara zat/ bahan dengan para pekerja. Salah satu cara yang digunakan adalah penghapusan atau pengurangan zat/bahan berbahaya pada sumbernya. Suatu proses yang diduga menghasilkan atau membentuk zat-zat yang berbahaya dapat dipertimbangkan untuk dihentikan.

Pengantian bahan-bahan yang lebih beracun (pelarut, bahan bakar, bahan baku, bahan-bahan lainnya) dapat merupakan cara yang efektif untuk pengendalian pemajanan bahan-bahan berbahaya. Misalnya Trichloroethylene dapat mengantikan carbon tetrachoride (CC14) dalam penggunaanya sebagai bahan pelarut atau pembersih gemuk, juga toluol dan xylol dapat dipakai untuk subsitusi benzene.

Cara Isolasi dapat digunakan terhadap zat-zat yang berbahaya untuk mencegah kontak dengan pekerja. Berbagai cara isolasi yang dapat digunakan antara lain : sistem tertutup untuk bahan-bahan kimia beracun, adanya dinding pemisah antara daerah yang berbahaya dan tidak, penutup terhadap seluruh atau sebagaian dari proses-proses untuk mencegah kontaminasi terhadap udara ruang kerja. Ventelasi ditempat kerja dapat digunakan antara lain untuk menjamin suhu yang nyaman, sirkulasi udara segar diruang kerja sehingga dapat melarutkan zat-zat pencemar ketingkat yang diperkenakan, serta mencegah zat-zat pencemar diudara mencapai pernafasan para pekerja. Cara basah, digunakan untuk mengendalaikan dispersi debu yang mengotori lingkungan kerja dengan menggunakan air atau bahan-bahan basah lainnya. Cara ini banyak digunakan didalam industri-industri kecil misalnya pada industri kayu, peleburan logam, asbes.

b. Pengendalian Perorangan
Penggunaan alat pelindung perorangan merupakan alternatif lain untuk melindungi pekerja dari bahaya-bahaya kesehatan. Namun perlu diperhatikan bahwa alat pelindung perorangan harus sesuai dan adekuat untuk bahaya - bahaya tertentu, resisten terhadap kontaminan-kontaminan udara, mudah dibersihkan dan dipelihara dengan baik, serta sesuai untuk para pekerja yang memakainya. Untuk alat-alat tertentu seperti alat pelindung pernafasan, sumbat/tutup telinga, pakaian kerja kedap air dan lain-lain mungkin tidak nyaman untuk dipakai terutama dicuaca yang panas.

Jadi mungkin diperlukan pengurangan jam kerja paling tidak pada waktu-waktu yang memerlukan pemakaian alat pelindung tersebut. Pembatasan waktu selama pekerja terpapar terhadap zat tetentu yang berbahaya dapat menurunkan resiko terkena nya bahaya-bahaya kesehatan dilingkungan kerja. Hal ini dapat dicapai melalui penerapan cara-cara kerja, rotasi pekerja atau pengendalian administratif. Pengendalian administratif merupakan prosedur yang memungkinkan dilakukan penyusuaian jadwal kerja untuk mengurangi pemajanan Kebersihan perorangan yang meliputi kebersihan diri dan pakaian , merupakan hal yang penting terutama untuk para pekerja yang dalam pekerjaannya berhubungan dengan bahan-bahan kimia serta partikel-partikel lain.
9:13 PM | 0 comments | Read More

PWS Program Imunisasi

Written By Lumajangtopic on Tuesday, December 29, 2015 | 6:34 PM

Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) Imunisasi


Pengertian:
Pemantauan Wilayah Setempat (PWS), merupakan alat pemantauan hasil imunisasi berupa grafik atau gambar pencapaian hasi! imunisasi dan kecenderungannya di masing-masing wilayah (Desa, Posyandu, atau lainnya). Dengan PWS dapat menentukan tindak lanjut yang harus dilakukan, sehingga hasil imunisasi dapat diperbaiki dan akhirnya secara kumulatif dapat mencapai target.

Prinsip PWS

  1. Prinsip PWS dengan memanfaatkan cakupan dari data yang ada
  2. Menggunakan indikator sederhana, seperti jangkauan aksesibilitas seperti cakupan DPT1,HB < 0-7 hr, TT-1, Kualitas program (tingkat perlindungan), seperti Cakupan DPT3, Polio4, Campak, TT2+ Ibu Hamil
  3. Efektifitas/manajemen program, seperti angka Drop Out OPT 1 — Campak.
  4. Dimanfaatkan untuk pengambilan keputusan setempat.
  5. Dimanfaatkan untuk umpan batik.
  6. Teratur dan tepat waktu (setiap bu!an).
  7. Memudahkan analisis.
Langkah dan Cara membuat grafik PWS
Untuk membuat PWS diperlukan beberapa langkah, diantaranya dengan pengumpulan dan Pengolahan Data. Untuk membuat PWS perlu tersedia data-data cakupan imunisasi dari tiap desa. Data ini sudah dikumpulkan dan diolah dalam buku rekapitulasi Puskesmas, serta dikelompokkan ke dalam format pengolahan data PWS berdasarkan wilayah operasional (desa/kelurahan). Untuk mengetahui perkembangan cakupan imunisasi tiap desa, pengolahan data sebaiknya dilakukan untuk semua pelayanan imunisasi :

Yang perlu diperhatikan dalam membuat grafik PWS : Judul Grafik, Waktu dan Tempat
Kolom Vertikal : Target bulanan dan target satu tahun sesuai dengan antigen. Sedangkan Baris Horizontal berisi informasi sebagai berikut:
  • % kumulatif cakupan tiap desa adalah cakupan Januari ski bulan pada waktu PWS dibuat
  • % bulan ini adalah cakupan waktu dibuat PWS
  • % bulan lalu adalah cakupan satu bulan lalu
  • Trend meningkat    : bila cakupan bulan ini lebih tinggi dari bulan lalu
  • Trend sama : bila cakupan bulan ini sama dengan bulan lalu
  • Trend menurun: bila cakupan bulan ini lebih rendah dari bulan lalu
  • Ranking desa : diurut dari desa dengan cakupan yang paling tinggi ke cakupan pang paling rendah.
Sumber: Pedoman Lokakarya Mini Puskesmas, Kemenkes RI, 20016
6:34 PM | 0 comments | Read More

Yang Perlu Kita Ketahui Tentang Morfin

Written By Lumajangtopic on Wednesday, November 25, 2015 | 3:11 AM

Menurut Undang – undang No.22 tahun 1997 tentang Narkotika, morfin merupakan Narkotika golongan II. Penggunaan morfin khusus pada nyeri hebat akut dan kronis seperti pasca bedah, setelah infark jantung, dan pada fase terminal dari kanker.

Resorpsinya di usus baik dan di dalam hati zat ini diubah menjadi glukuronida kemudian diekskresi melalui kemih, empedu dengan siklus enterohepatis, dan tinja. Pada pemakaian yang teratur, morfin dengan cepat akan menimbulkan toleransi dan ketergantungan yang cepat. Morfin bekerja pada reseptor opiate yang sebagian besar terdapat pada susunan saraf pusat dan perut. Dalam dosis lebih tinggi, dapat menghilangkan kolik empedu dan ureter.

Morfin menekan pusat pernafasan yang terletak pada batang otak sehingga menyebabkan pernafasan terhambat yang dapat menyebabkan kematian. Sifat morfin yang lainnya adalah dapat menimbulkan kejang abdominal, mata merah, dan gatal terutama di sekitar hidung yang disebabkan terlepasnya histamine dalam sirkulasi darah, dan konstipasi. Pemakai morfin akan merasa mulutnya kering, seluruh tubuh hangat, anggota badan terasa berat, euphoria, dan lain-lain.
3:11 AM | 0 comments | Read More

Prosedur Analisa Protein

Written By Lumajangtopic on Tuesday, November 24, 2015 | 2:03 AM

Protein merupakan kelompok biomakromolekul yang sangat heterogen. Ketika berada di luar makhluk hidup atau sel, protein sangat tidak stabil. Untuk mempertahankan fungsi dan nya, setiap jenis protein membutuhkan kondisi tertentu ketika diekstraksi dari normal biological milieu. Protein yang diekstraksi hendaknya dihindarkan dari proteolisis atau dipertahankan aktivitas enzimatiknya. Untuk menganalisa protein yang ada di dalam sel tersebut, diperlukan prosedur fraksinasi sel yaitu :
  1. Memisahkan sel dari jaringannya,
  2. Menghancurkan membran sel untuk mengambil kandungan sitoplasma dan organelnya serta
  3. Memisahkan organel­organel dan molekul penyusunnya.
Prosedur (1) dan (2) dinamakan homogenasi dapat dilakukan dengan menggunakan alat yang paling sederhana seperti homogeniser atau mortal sampai alat yang paling mutakhir seperti pemakaian vibrasi dan sonikasi tergantung pada bahan yang akan dihomogenasi. Prosedur (3) dilakukan dengan menggunakan sentrifus dengan kecepatan dan lama sentrifugasi tertentu.Sebagian besar protein merupakan molekul yang mudah rusak bila tidak berada pada kondisi fisiologisnya. Karena itu, untuk mempertahankan struktur dan fungsi protein, fraksinasi dilakukan pada suhu rendah dalam buffer dan pH tertentu (tergantung dari jenis protein yang akan dianalisa).

Beberapa teknik analisa protein membutuhkan prosedur isolasi yaitu memisahkan protein dari makromolekul yang lain atau memisahkan protein dengan sifat tertentu dari protein lain yang tidak diinginkan dalam analisa. Suatu teknik isolasi dan identifikasi protein harus mempertimbangkan sifat­sifat fisik, kimiawi dan kelistrikan suatu protein sedemikian rupa sehingga konformasi dan aktifitasnya tidak berubah. Pada tahap awal isolasi, biasanya digunakan metode yang memiliki daya pemisah terendah seperti pengendapan dengan amonium sulfat. Pengendapan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain jumlah dan posisi gugus polar, berat molekul, pH dan temperatur larutan.
2:03 AM | 0 comments | Read More

Sedikit Kontroversi Imunisasi

Written By Lumajangtopic on Monday, November 23, 2015 | 12:03 AM

Imunisasi dan Upaya mencegah  penyakit menular pada bayi dan balita.

Pencegahan penyakit pada bayi dan balita dapat dilakukan antara lain dengan konsep pencegahan umum, seperti pemberian ASI eksklusif, makanan pendamping ASI dengan gizi lengkap dan seimbang, kebersihan badan, pakaian, mainan,  lingkungan serta penyediaan air bersih untuk makanan & minuman.

Sedangkan konsep lain dengan pencegahan spesifik. Metode ini antra lain dengan pemberian imunisasi lengkap. Dalam waktu 4 – 6  minggu setelah imunisasi akan timbul antibodi spesifik yang efektif mencegah penularan penyakit, sehingga tidak mudah tertular, tidak sakit berat, tidak menularkan pada bayi dan anak lain, sehingga tidak terjadi wabah dan tidak terjadi banyak kematian.

Berikut beberapa pertanyaan seputar imunisasi yang perlu kita ketahui:

Benarkah imunisasi aman untuk bayi dan balita ?
Benar. Saat ini 194 negara terus menerus melakukan imunisasi untuk bayi dan balita. Institusi resmi yang meneliti dan mengawasi  vaksin di  negara tersebut, umumnya terdiri dari dokter ahli penyakit infeksi, imunologi, mikrobiologi, farmakologi, epidemiologi, biostatistika dll. Sampai saat ini tidak ada negara yang melarang imunisasi, justru semua negara berusaha meningkatkan cakupan imunisasi lebih dari 90% (artinya lebih dari 90 % anak/bayi telah mendapat imunisasi) .
Benarkah di semua negara ada institusi resmi yang mengawasi program imunisasi ?
  1. Benar. Seperti di Indonesia terdapat banyak institusi yang mengawasi program imunisasi, antara lain Badan POM (pengawasan obat dan makanan), Litbangkes, Subdit Surveilans dan Epidemiologi Kemkes, Indonesia Technical Advisory Group for Immunization (ITAGI), Komnas / Komda Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia, badan penelitian di Fakultas Kedokteran, Fakultas Kesehatan Masyarakat di beberapa universitas di Indonesia.
  2. Institusi semacam ini yang mengawasi program imunisasi di negara masing-masing. Semua institusi dan badan tersebut menyatakan bahwa imunisasi aman, dan bermanfaat untuk mencegah penularan penyakit berbahaya.
Mengapa ada “ilmuwan” menyatakan bahwa imunisasi berbahaya ?
Tidak benar imunisasi berbahaya. “Ilmuwan”  yang sering dikutip di buku, tabloid, milis ternyata bukan ahli vaksin, melainkan ahli statistik, psikolog, homeopati, bakteriologi, sarjana hukum, wartawan, dan lain-lain  sehingga mereka tidak mengerti tentang vaksin. Sebagian besar mereka  bekerja pada era tahun 1950- 1960, sehingga sumber datanya sangat kuno. Padahal jenis dan teknologi pembuatan  vaksin telah mengalami kemajuan yang pesat dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, sehingga sangat berbeda dengan keadaan di tahun 1950 – 1960an.
Benarkah “ilmuwan” yang sering dikutip buku,  tabloid, milis, ternyata  bukan ahli vaksin ?
Benar, mereka semua bukan ahli vaksin. Seperti Dr Bernard Greenberg (biostatistika tahun 1950), DR. Bernard Rimland (Psikolog),  Dr. William Hay (kolumnis),  Dr. Richard Moskowitz (homeopatik), dr. Harris Coulter,  PhD (penulis buku homeopatik, kanker), Neil Z. Miller,  (psikolog, jurnalis), WB Clark (awal tahun 1950) , Bernice Eddy (Bakteriologis tahun 1954), Robert F. Kenedy Jr (sarjana hukum)  Dr. WB Clarke (ahli  kanker, 1950an), Dr. Bernard Greenberg (1957-1959).
Benarkah “penelitian”  Wakefield “ahli vaksin”, membuktikan  MMR menyebabkan autism ?
Tidak benar.  Wakefield bukan ahli vaksin, dia  dokter spesialis bedah. Penelitian Wakefield tahun 1998 hanya berdasarkan 18 sampel. Banyak penelitian lain oleh ahli vaksin di beberapa negara, menyimpulkan MMR tidak terbukti mengakibatkan autis. Setelah diaudit oleh tim ahli penelitian di Inggeris, terbukti bahwa Wakefield memalsukan data, sehingga kesimpulannya salah. Hal ini telah diumumkan di majalah resmi kedokteran Inggeris British Medical Journal Februari 2011.
Benarkah di semua vaksin terdapat zat-zat berbahaya yang dapat merusak otak ?
Tidak benar. Isu itu karena “ilmuwan” tersebut di atas  tidak mengerti isi vaksin, manfaat dan batas keamanan zat-zat di dalam vaksin.seperti Merkuri yang berbahaya untuk kesehatan adalah METIL merkuri. Di dalam vaksin tidak ada metil merkuri, hanya ada ETIL merkuri yang tidak berbahaya, karena sifat etil merkuri sangat berbeda dari metil merkuri. Jumlah etil merkuri yang ada dalam zat timerosal yang masuk ke tubuh bayi melalui vaksin pun sangat sedikit sekitar 150 mcg/kgbb/6 bulan, atau  sekitar 6 mcg/ kgbb / minggu, sedangkan batas aman menurut WHO adalah jauh lebih banyak (159 mcg/ kgbb/ minggu). Oleh karena itu vaksin yang mengandung etil merkuri dosis sangat rendah dinyatakan aman oleh WHO dan badan-badan pengawasan lainnya.
 
Benarkah isu bahwa “semua zat kimia”  berbahaya bagi bayi ?
Tidak benar. Isu itu beredar karena penulis buku, tabloid, milis, tidak memenahami benar apa yang disebut zat kimia. Oksigen, air, nasi, buah, sayur, jahe, kunyit, lengkuas, semua tersusun dari zat-zat kimia. Oksigen rumus kimianya O2, air H2O, garam NaCl. Buah dan sayur terdiri dari serat selulosa, fruktosa, vitamin, mineral, dll. Telur terdiri dari protein, asam amino, mineral.   Itu semua zat kimia, karena ada rumus kimianya, maka disebut biokimia. Jadi zat-zat kimia umumnya  justru sangat dibutuhkan untuk manusia,  asal bukan zat yang berbahaya atau dalam takaran yang aman.

Benarkah vaksin terbuat dari nanah, dibiakkan di janin anjing, babi,  manusia yang sengaja digugurkan?
Tidak benar. Isu itu bersumber dari “ilmuwan”  50 tahun lalu (tahun 1961-1962). Teknologi pembuatan vaksin berkembang sangat pesat dan sangat jauh berbeda dengan pembuatan vaksin tahun 1950an. Sekarang tidak ada vaksin yang terbuat dari nanah atau dibiakkan embrio anjing, babi atau manusia.

Benarkah vaksin mengandung lemak babi ?
Tidak benar. Pada proses penyemaian induk bibit  vaksin tertentu 15 – 20 tahun lalu,  ketika proses panen bibit vaksin tersebut  bersinggungan dengan tripsin pankreas babi untuk melepaskan induk vaksin dari persemaiannya. Tetapi induk bibit vaksin tersebut kemudian dicuci dan dibersihkan total dengan cara ultrafilterisasi ratusan kali, sehingga pada vaksin yang diteteskan atau disuntikan pada bayi balita tidak mengandung tripsin babi. Hal ini dapat dibuktikan dengan pemeriksaan khusus. Atas dasar itu menurut Majelis Ulama Indonesia vaksin itu boleh dipakai, selama belum ada penggantinya. Contoh : vaksin meningokokus  haji diwajibkan oleh Saudi Arabia bagi semua jemaah haji untuk mencegah radang otak karena meningokokus.
Benarkah vaksin yang dipakai di Indonesia buatan Amerika ?
Tidak benar. Vaksin yang digunakan oleh program imunisasi di Indonesia adalah  buatan PT Biofarma Bandung, pabrik vaksin yang telah berpengalaman selama 120 tahun. Proses penelitian dan pembuatannya mendapat pengawasan ketat dari ahli-ahli vaksin  WHO.  Vaksin-vaksin tersebut juga dieksport ke   120 negara lain, termasuk 36 negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam.
Benarkah program  imunisasi hanya di negara muslim dan miskin  agar menjadi bangsa yang lemah?
Tidak benar. Imunisasi saat ini dilakukan di 194 negara, termasuk negara-negara maju  dengan status sosial ekonomi tinggi, dan negara-negara non-muslim.   Kalau imunisasi bisa melemahkan bangsa, maka mereka juga akan lemah, karena mereka sampai sekarang  juga melakukan program imunisasi, bahkan  lebih dulu dengan jenis vaksin lebih banyak.  Kenyataanya : bangsa dengan cakupan imunisasi lebih tinggi, jumlah bayi/anak yang mendapat imunisasi lebih banyak justru lebih kuat. Jadi terbukti bahwa imunisasi justru memperkuat kekebalan terhadap penyakit infeksi, bukan melemahkan.
Benarkah isu di buku, tabloid dan milis bahwa di Amerika banyak kematian bayi  akibat vaksin ?
  1. Tidak benar. Isu itu karena penulis tidak faham data Vaccine Adverse Event Reporting System (VAERS) dari FDA (Food & Drug Agency, semacam Badan POM Indonesia) di Amerika tahun 1991-1994 mencatat 38.787 laporan  kejadian ikutan pasca imunisasi. Oleh penulis buku, tabloid atau milis  angka tersebut ditafsirkan sebagai angka kematian bayi 1 – 3 bulan.
  2. Kalau memang benar angka kematian begitu tinggi tentu FDA AS akan heboh dan menghentikan vaksinasi. Faktanya Amerika tidak pernah meghentikan vaksinasi bahkan mempertahankan cakupan semua imunisasi di atas 90 %. Angka tersebut adalah semua keluhan effek samping vaksin seperti: nyeri, gatal, merah, bengkak di bekas suntikan, demam, pusing, muntah dan gejala lain. yang memang rutin harus dicatat kalau ada laporan masuk. Bukan angka kematian akibat vaksin. Di Indonesia gejala ikutan pasca imunisasi juga dipantau oleh suatu badan yang disebut Komnas KIPI (Komite Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi)
Benarkah isu bahwa banyak bayi balita meninggal  pada imunisasi masal campak di Indonesia?
Tidak benar. Setiap laporan kecurigaan adanya kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) selalu dikaji oleh Komnas / Komda KIPI yang terdiri dari pakar-pakar penyakit infeksi, imunisasi, imunologi, dll. Setelah dianalisis dari keterangan keluarga, petugas kesehatan yang memberikan imunisasi, dokter yang merawat di rumah sakit, hasil pemeriksaan fisik, laboratorium, ternyata balita tersebut meninggal karena radang otak, bukan karena vaksin campak. Pada bulan itu ada beberapa balita yang tidak imunisasi campak juga menderita radang otak. Berarti kematian balita tersebut bukan karena imunisasi campak, tetapi karena radang otak.

Demam, bengkak, nyeri, kemerahan setelah imunisasi membuktikan bahwa vaksin berbahaya ?
Tidak berbahaya. Demam, nyeri, kemerahan, bengkak, gatal di bekas suntikan adalah reaksi wajar setelah vaksin masuk ke dalam tubuh. Seperti rasa pedas dan berkeringat setelah makan sambal adalah reaksi normal tubuh kita. Umumnya keluhan tersebut akan hilang dalam beberapa hari. Boleh diberi obat penurun panas, dikompres. Bila perlu bisa konsul ke petugas kesehatan yang telah memberikan imunisasi tersebut untuk mendapat pertolongan dan pengobatan.
Benarkah vaksin Program Imunisasi  di Indonesia juga dipakai oleh 36 negara Islam ?
Benar. Vaksin yang digunakan oleh program imunisasi di Indonesia adalah  buatan PT Biofarma Bandung. Vaksin-vaksin tersebut dibeli dan dipakai oleh  120 negara, termasuk 36 negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam.
Benarkah  isu  di tabloid, milis, bahwa  program imunisasi gagal di banyak negara?
Tidak benar. Isu-isu tersebut bersumber dari data yang sangat kuno (50  – 150 tahun  lalu) hanya dari 1 – 2 negara saja, sehingga hasilnya sangat berbeda  dengan hasil penelitian terbaru, karena jenis vaksin dan cara pembuatannya  sangat berbeda.
Contoh :
  • Isu imunisasi cacar variola gagal,  berdasarkan data yang sangat kuno, di Inggeris tahun 1867 – 1880 dan Jepang tahun 1872-1892.  Fakta terbaru sangat berbeda, bahwa dengan imunisasi cacar di seluruh dunia sejak tahun 1980  dunia bebas cacar variola.
  • Isu imunisasi difteri gagal, berdasarkan data di Jerman tahun 1939. Fakta sampai sekarang  vaksin difteri dipakai di seluruh dunia dan mampu menurunkan kasus difteri  95 %.
  • Isu imunisasi pertusis gagal hanya dari data di Kansas dan Nova Scottia tahun 1986. Fakta sampai sekarang vaksin pertusis dipakai di seluruh dunia dan berhasil menurunkan kasus pertusis lebih dari 80 %
  • Isu imuniasi campak berbahaya hanya berdasar penelitian 1989-1991 pada anak miskin berkulit hitam di Meksiko, Haiti dan Afrika. Fakta sampai sekarang vaksin campak dipakai di seluruh dunia dan mampu menurunkan jumlah kasus campak 68 – 90 %.

Benarkah isu program imunisasi gagal, karena setelah diimunisasi bayi balita masih bisa tertular penyakit tersebut ?
Tidak benar program imunisasi gagal.  Perlindungan vaksin memang tidak 100 %. Bayi dan balita yang telah diimunisasi masih bisa tertular penyakit, tetapi jauh lebih ringan dan tidak berbahaya. Sedangkan bayi  balita yang belum diimunisasi lengkap bila tertular penyakit tersebut bisa sakit berat, cacat atau meninggal.
Benarkah imunisasi  bermanfaat mencegah wabah, sakit berat, cacat dan kematian bayi dan balita?
Benar.  Badan penelitian di berbagai negara membuktikan bahwa : dengan meningkatkan cakupan imunisasi, maka penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi berkurang secara bermakna.  Oleh karena itu saat  ini program imunisasi dilakukan terus menerus di 194 negara, termasuk negara dengan sosial ekonomi tinggi dan negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam.  Semua negara berusaha meningkatkan cakupan agar lebih dari 90 %. Di Indonesia, terjadi wabah polio 2005-2006 karena banyak bayi yang tidak diimunisasi polio, maka  menyebabkan 305 anak lumpuh permanen. Setelah digencarkan imunisasi polio, sampai saat ini tidak ada lagi kasus polio baru.
Mengapa di  Indonesia ada buku, tabloid, milis, yang menyebarkan isu bahwa vaksin berbahaya, tidak effektif, tidak dilakukan di negara maju ?
Karena publikasi itu ditulis dan disebarluaskan oleh orang-orang  yang tidak mengerti tentang vaksin dan imunisasi, hanya mengutip dari “ilmuwan” tahun 1950 -1960 yang ternyata bukan ahli vaksin, atau berdasarkan data 30 – 40 tahun lalu (tahun 1970 – 1980an). Beberapa publikasi  hanya berdasar 1 – 2 laporan kasus yang tidak diteliti lebih lanjut secara ilmiah, hanya berdasar dugaan.

Media tersebut sering mengutip “penelitian” Wakefield spesialis bedah, bukan ahli vaksin, yang penelitiannya dibantah oleh banyak tim peneliti lain, dan oleh majalah resmi kedokteran Inggeris British Medical Journal Februari 2011 “penelitian” Wakefield dinyatakan tidak benar, karena mengubah / memalsukan data.
Orangtua harus bersikap bagaimana terhadap isu-isu tersebut ?
Sebaiknya semua bayi dan balita di imunisasi secara lengkap. Saat ini 194 negara di seluruh dunia yakin bahwa imunisasi aman dan bermanfaat mencegah wabah, sakit berat, cacat dan kematian. Terbukti 194 negara tersebut terus menerus melaksanakan program imunisasi, termasuk negara dengan sosial ekonomi tinggi dan negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, dengan cakupan umumnya lebih dari 85 %.

Badan penelitian di berbagai negara membuktikan kalau semakin banyak bayi balita tidak diimunisasi akan terjadi wabah, sakit berat, cacat atau mati, dan telah terbukti di Indonesia : wabah penyakit polio 2005-2006 (305 anak lumpuh permanen), wabah campak 2009 – 2010 (5818 anak dirawat di rumah sakit, meninggal 16), wabah difteri 2010-2011 (816 anak di rawat di rumah sakit, 56 meninggal).
Bisakah  ASI, gizi, suplemen herbal  menggantikan imunisasi ?
Tidak ada satupun badan penelitian di dunia yang menyatakan ASI, gizi, suplemen herba; bisa menggantikan imunisasi, karena kekebalan yang dibentuk sangat berbeda. ASI, gizi, suplemen herbal, kebersihan akan memperkuat pertahanan tubuh secara umum, namun  tidak membentuk kekebalan spesifik terhadap kuman tertentu yang berbahaya. Kalau  jumlah kuman banyak dan ganas, perlindungan umum tidak mampu melindungi bayi, sehingga masih bisa sakit berat, cacat atau mati.
Oleh karena itu di negara-negara dengan gizi baik dan lingkungan bersih tetap melakukan program imunisasi dengan cakupan lebih dari 85 % bayi balita.

Vaksin akan merangsang pembentukan kekebalan yang spesifik (disebut antibodi) terhadap kuman, virus atau racun kuman tertentu. Setelah antibodi terbentuk akan bekerja lebih cepat, effektif dan effisien untuk mencegah penularan penyakit yang berbahaya.
Bolehkah selain diberikan imunisasi, ditambah dengan suplemen gizi, herbal  dan lainnya?
Boleh. Selain diberi imunisasi, bayi tetap diberi ASI eksklusif, makanan pendamping ASI dengan gizi lengkap dan seimbang, kebersihan badan, makanan, minuman, pakaian, mainan,  dan lingkungan. Suplemen diberikan sesuai kebutuhan individual yang bervariasi. Selain itu bayi harus mendapat perhatian dan kasih sayang dan stimulasi bermain untuk mengembangkan kecerdasan, kreatifitas dan perilaku yang baik.
Benarkah bayi dan balita yang tidak diimunisasi lengkap rawan tertular penyakit berbahaya ? 
Benar. Banyak penelitian imunologi dan epidemiologi di berbagai negara membuktikan bahwa bayi balita yang tidak diimunisasi lengkap tidak mempunyai kekebalan spesifik terhadap penyakit-penyakit menular berbahaya.  Mereka mudah tertular penyakit tersebut, akan menderita sakit berat, menularkan ke anak-anak lain, menyebar luas, terjadi wabah, menyebabkan banyak kematian dan cacat.
Benarkah wabah akan terjadi bila banyak bayi dan balita tidak diimunisasi  ?
Benar. Itu sudah terbukti di beberapa negara Asia, Afrika dan di Indonesia.
Benarkah imunisasi rutin  dan imunisasi tambahan  serentak dibeberapa propinsi dapat menghentikan wabah ?
Benar.  Wabah polio di beberapa propinsi tahun 2005-2006  telah berhasil dihentikan dengan imunisasi polio rutin dan tambahan  secara serentak pada semua bayi/balita  melalui beberapa kali Pekan Imunisasi Polio Nasional. Wabah campak di beberapa propinsi tahun 2009- 2011 telah berhasil dihentikan dengan imunisasi campak rutin dan tambahan pada semua bayi balita 9 – 59 bulan di semua propinsi secara terus –menerus. Wabah difteri di beberapa propinsi 2009 – 2011 telah berhasil dihentikan dengan imunisasi DPT rutin dan tambahan pada semua bayi balita  di beberapa propinsi.

Imunisasi terbukti paling efektif untuk mencegah penularan penyakit, wabah, sakit berat, cacat dan kematian bayi dan balita dengan imunisasi dasar lengkap.
12:03 AM | 0 comments | Read More

Manfaat Candu

Written By Lumajangtopic on Sunday, November 22, 2015 | 11:15 PM

Asal dan Manfaat Klinik Candu

Getah tanaman Papaver Somniferum didapat dengan menyadap (menggores) buah yang hampir masak, getah yang keluar berwarna putih dan dinamai “Lates”. Getah ini dibiarkan mengering pada permukaan buah sehingga berwarna coklat kehitaman dan sesudah diolah akan menyerupai aspal lunak dan dinamakan candu mentah atau candu kasar.

Penggunaan candu secara klinik antara lain sebagai analgetika pada penderita kanker, eudema paru akut, batuk, diare, premedikasi anastesia, dan mengurangi rasa cemas.

Penggunaan candu seperti yang terurai di atas adalah khasiat candu pada umumnya, sebenarnya khasiat candu secara lebih spesifik adalh akibat alkoloida yang dikandungnya.
Putus obat dari candu dapat menimbulkan gejala seperti gugup, cemas, gelisah, pupil mengecil, sering menguap, mata dan hidung berair, badan panas dingin dan berkeringat, pernafasan bertambah kencang dan tekanan darah meningkat, diare, dan lain-lain.
11:15 PM | 0 comments | Read More

Pengertian Prenatal

Written By Lumajangtopic on Wednesday, November 18, 2015 | 10:27 PM

Pengertian prenatal ialah lingkungan manusia sebelum lahir ataupun lingkungan embrio / janin yang ada di dalam kandungan ibu. Hal ini penting untuk diutarakan di dalam artikel ini dalam rangka pembinaan sumber daya manusia.
Lingkunagan prenatal menjadi penting karena beberapa hal berikut :
  1. Anak - anak yang akan dilahirkan merupakan generasi penerus bangsa, oleh karenanya perlu ditingkatkan kualitasnya.
  2. Kesehatan anak sangat dipengaruhi oleh kesehatan embrio / janin sewaktu masih di dalam kandungan.
  3. Kesehatan embrio / janin sangat dipengaruhi oleh kesehatan ibu serta lingkungan ibunya.
  4. Investasi yang ditaruh pada janin cukup besar, sehingga perlu dipelihara kesehatannya. Bayi yang dilahirkan diharapkan dapat menjadi orang yang produktif sehingga mampu mengembalikan investasi yang ditaruh padanya.
  5. Kesehatan merupakan syarat utama bagi peningkatan produktivitas, dan produktivitas merupakan prasyarat utama bagi tercapainya tujuan pembangunan.
Lingkungan prenatal terdiri atas beberapa bagian sebagai berikut :
  1. Lingkungan matro atau Lingkungan ibu atau Lingkungan postnatal
  2. Lingkungan embrio / janin yang selanjutnya dibagi lagi menjadi dua bagian : a. Lingkungan makro (tubuh ibu), b. Lingkungan mikro (rahim ibu beserta isinya)
Secara alamiah embrio / janin mendapat perlindungan dari ibu dalam berbagai aspek, oleh karenanya lingkungan prenatal relatif lebih baik daripada lingkungan postnatal, namun demikian masih terdapat banyak faktor - faktor digenik yang perlu diperhatikan.

Lingkungan mikro terdiri atas otot - otot rahim, plasenta, cairan amnion, janin lain pada kehamilan kemar, dan lain - lainnya. Lingkungan mikro ini melidungi embrio (0-2 bulan), dan janin (3-9 bulan) dari berbagai faktor disgenik seperti tekanan mekanis, bakteri patogen, dan lain - lainnya.
Plasenta berbentuk diskoid, berdiameter 15 - 20 cm, tebalnya antara 2 - 3 cm, dan beratnya rata - rata adalah 500 gram.

Plasenta mempunyai dua fungsi utama, yakni (1) mebuat hormon - hormon sehingga lapisan endometrium rahim tetap baik untuk perkembangan embrio / janin, dan (2) merupakan media transfer berbagai zat dari ibu ke anak dan sebaliknya. Segala keperluan nutrisi anak diambil dari ibu dan disalurkan ke anak melalui plasenta.

Makanan yang didapat anak dari ibu adalah makanan yang siap pakai, sehingga anak tidak perlu melakukan pencernaan, karena pada fase ini saluran pencernaan anak belum berfungsi. Begitu pula keperluan akan oksigen untuk pernapasan. Plasenta juga berfungsi untuk menyalurkan berbagai jenis buangan anak, baik yang berbentuk cair maupun gas. Plasenta juga berfungsi sebagai barrier terhadap berbagai zat dan fungsi ini tergantung premeabilitasnya.

10:27 PM | 0 comments | Read More

Metode Penilaian Kinerja

Written By Lumajangtopic on Tuesday, October 20, 2015 | 7:34 AM

Berbagai Metode Penilaian Kinerja

Beberapa metode penilaian kinerja karyawan sebagai berikut:

  1. Esai Tertulis, metode ini menilai kinerja dengan menulis sebuah narasi yang menggambarkan kelebihan, kekurangan, prestasi waktu lampau, potensi dan saran-saran mengenai seorang karyawan untuk perbaikan. Metode ini tidak membutuhkan bentuk format yang rutin, tetapi hasilnya sering menggambarkan kemampuan penulisnya.
  2. Keadaan Kritis, metode ini memfokuskan perhatian si penilai pada perilakuperilaku yang merupakan kunci untuk membedakan antara sebuah pekerjaan efektif atau yang tidak efektif. Si penilai menulis anekdot yang menggambarkan apa-apa saja yang dilakukan para pekerja yang efektif atau tidak efektif. Yang menjadi kunci adalah perilaku yang sifatnya khusus. Sebuah daftar keadaan kritis memuat serangkaian contoh-contoh, di mana dengan daftar ini para pekerja dapat melihat perilaku-perilaku yang diharapkan dan perilaku-perilaku yang membutuhkan pengembangan.
  3. Grafik Skala Penilaian, merupakan metode tertua dan terpopuler dalam penilaian kinerja. Dalam metode ini faktor-faktor kinerja seperti kualitas dan kuantitas kerja, tingkat pengetahuan, kerjasama, loyalitas, kehadiran, kejujuran dan inisiatif dicatat, dan selanjutnya penilai memeriksa daftar tersebut menilai setiap faktor sesuai dengan skala peningkatan berdasarkan lima poin. Metode ini sangat populer karena cara ini tidak menyediakan informasi yang mendalam sifatnya jika dibandingkan dengan metode esai atau metode keadaan kritis, dan membutuhkan sedikit waktu untuk pengembangan dan pengolahannya. Metode ini juga memberikan analisis yang kuantitatif dan analisis pertandingan.
  4. Skala Peningkatan Perilaku, metode ini merupakan metode terbaru dan telah dianggap sebagai pemikiran yang hebat pada tahun-tahun terakhir ini, di mana metode ini mengkombinasikan antara metode keadaan kritis dan metode grafik skala penelitian. Penilai menilai para pekerja berdasarkan kepada hal-hal dalam rangkaian kesatuan, tetapi poin-poinnya merupakan contoh perilaku aktual di dalam pekerjaan, bukan sekedar deskripsi atau ciri - ciri umum.
  5. Perbandingan Multipersonal, metode ini mengevaluasi kinerja individu dengan membandingkan individu satu dengan individu lainnya. cara ini bersifat relatif bukan sebagai alat pengukur yang absolut. Tiga pembanding yang sangat populer adalah peringkat urutan kelompok, peringkat individu, dan perbandingan berpasangan. Peringkat urutan kelompok menuntut si penilai untuk menempatkan pekerja ke dalam sebuah klasifikasi khusus, seperti yang teratas dari lima orang atau peringkat kedua dari lima orang. Pendekatan peringkat individu menggolongkan para pekerja mulai dari yang terbaik hingga yang terburuk. Jika seorang manajer diminta untuk menilai 30 orang bawahan, pendekatan ini menganggap perbedaan antara pekerja pertama dengan kedua sama dengan perbedaan antara pekerja kedua puluh satu dengan pekerja kedua puluh dua. Hasilnya jelas merupakan pengurutan tenaga kerja, mulai dari yang terbaik hingga yang paling jelek. Pendekatan perbandingan berpasangan membandingkan setiap pekerja dengan masing - masing pekerja lainnya dan menilai pekerja mana yang lebih baik atau lebih buruk satu dengan yang lainnya. Setelah semua perbandingan semua dibuat,
Sumber: Robbins (2002) 
7:34 AM | 0 comments | Read More

Faktor Berpengaruh Kinerja

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja

Masalah kinerja selalu mendapat perhatian dalam manajemen karena sangat berkaitan dengan produktivitas lembaga atau organisasi. Kinerja karyawan adalah yang mempengaruhi seberapa banyak mereka memberikan kontribusi kepada organisasi yang antara lain termasuk: kuantitas output, kualitas output, jangka waktu output, kehadiran di tempat kerja, dan sikap kooperatif. Tampaknya dimensi lain dari kinerja mungkin tepat untuk pekerjaan-pekerjaan tertentu, tetapi yang didata ini adalah yang paling umum, yang mengidentifikasikan elemen-elemen yang paling penting suatu pekerjaan.

Pekerjaan hampir selalu memiliki lebih dari satu kriteria atau dimensi untuk dinilai, dan ini berarti bahwa si karyawan mungkin berkinerja lebih baik dalam satu kriteria dibandingkan kriteria lainnya. Beberapa kriteria mungkin memiliki nilai lebih penting daripada kriteria lainnya. Pembobotan adalah suatu cara untuk menunjukkan hal ini. Misalnya, di bagian Perkantoran atau Dinas lainnya merupakan bagian pekerjaan yang memiliki bobot yang lebih besar dibandingkan dengan penelitian atau pengabdian.

Pada saat mengukur kinerja,  penting menentukan kriteria yang relevan. Umumnya, kriteria itu relevan ketika difokuskan pada aspek yang paling penting dari pekerjaan si karyawan. Sebagai contoh, menilai seorang petugas pelayanan kepuasan konsumen dalam suatu perusahaan dari "penampilan", tentu saja kurang relevan dibandingkan dengan jumlah telepon yang ditanganinya. Contoh ini menekankan bahwa kriteria pekerjaan yang terpenting harus diidentifikasikan dan dikaitkan dengan deskripsi pekerjaan.

Pekerjaan umumnya melibatkan beberapa tugas dan tanggung jawab. Jika penilaian kinerja mengabaikan beberapa tanggung jawab yang penting, maka penilaian menjadi tidak efisien. Sebagai contoh, jika kinerja seorang pewawancara hanya dinilai dari jumlah pelamar yang dipekerjakan, dan bukannya kualitas pelamar, maka hal ini bisa jadi tidak efisien. Jika beberapa kriteria yang tidak relevan dimasukkan, maka kriteria bisa dikatakan sudah terkontaminasi. Memang diakui bahwa banyak orang mampu tidak mau sehingga tetap tidak menghasilkan kinerja. Demikian pula halnya banyak orang mau tetapi tidak mampu, juga tetap tidak menghasilkan kinerja apa-apa. Kinerja adalah sesuatu yang dicapai atau prestasi yang diperlihatkan atau kemampuan bekerja, dengan kata lain bahwa kinerja dapat diartikan sebagai prestasi kerja.

Menurut Gibson et al (1997), faktor-faktor individual yang mempengaruhi kinerja meliputi kemampuan fisik, kemampuan mental (intelegensi) dan keterampilan, faktor demografis (misal umur, jenis kelamin, ras, etnik, dan budaya) serta variabel-variabel psikologis (persepsi, atribusi, sikap, dan kepribadian). Variabel lingkungan pekerjaan (job design, peraturan dan kebijakan, kepemimpinan, sumber daya, penghargaan serta sanksi) dan non pekerjaan (keluarga, keadaan ekonomi serta hobi) juga berpengaruh pada perilaku bekerja yang akhirnya membentuk kinerja seseorang.

Kinerja merupakan kuantitas dan kualitas pekerjaan yang diselesaikan oleh individu, maka kinerja merupakan output pelaksanaan tugas. Kinerja mempunyai hubungan yang erat dengan masalah produktivitas, karena merupakan indikator dalam menentukan bagaimana usaha untuk mencapai tingkat produktivitas yang tinggi dalam suatu organisasi.

Hasibuan (2001) menyatakan bahwa: "produktivitas adalah perbandingan antara keluaran (output) dengan masukan (input)". Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja menurut Sedarmayanti (2001) antara lain : "1). Sikap mental (motivasi kerja, disiplin kerja, etika kerja); 2). Pendidikan; 3). Keterampilan; 4). Manajemen kepemimpinan; 5). Tingkat penghasilan; 6) Gaji dan kesehatan; 7). Jaminan sosial; 8). Iklim kerja; 9) Sarana prasarana; 10). Teknologi; 11). Kesempatan berprestasi".
7:26 AM | 0 comments | Read More

Penilaian Kinerja

Written By Lumajangtopic on Sunday, October 18, 2015 | 7:18 PM

Pengertian, Teori, dan Tujuan Penilaian Kinerja

Penilaian kinerja karyawan adalah masalah penting bagi seluruh perusahaan. Untuk mengetahui peningkatkan tentang diri karyawan dalam pelaksanaan pekerjaannya adalah melalui penilaian kinerja. Namun demikian, kinerja yang memuaskan tidak terjadi secara otomatis. Pelaksanaan penilaian kinerja harus mampu memotivasi karyawan sehingga menciptakan rasa puas dan ketenangan bekerja serta mampu menciptakan budaya kerja yang tinggi. Penilaian kinerja harus dilaksanakan secara terus menerus dan sistematis untuk memperoleh hasil penilaian kinerja yang objektif. Selain itu, diperlukan pelaksanaan penilaian kerja yang baik, sehingga program yang disusun dapat berpengaruh terhadap pegawai yang dinilai. Dengan perkataan lain, program tersebut harus dapat memotivasi peningkatan, pengembangan tanggung jawab dan meningkatkan keterikatan karyawan dalam organisasi.

Pengertian Kinerja
Kinerja merupakan terjemahan dari bahasa Inggris, work performance atau job performance tetapi dalam bahasa Inggris sering disingkat menjadi performance saja. Dalam bahasa Indonesia disebut juga prestasi kerja. Kinerja pada dasarnya adalah apa yang dilakukan atau tidak dilakukan karyawan (Hasibuan, 2001). Kinerja organisasi atau kinerja perusahaan merupakan indikator tingkatan prestasi yang dapat dicapai dan mencerminkan keberhasilan manajer/pengusaha. Kinerja karyawan yang dinyatakan Mangkunegara (2002) adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seseorang karyawan dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.

Oleh karena itu output baik kualitas maupun kuantitas yang dicapai sumber daya manusia persatuan periode waktu dalam melaksanakan tugas kerjanya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Masalah kinerja selalu mendapat perhatian dalam manajemen karena sangat berkaitan dengan produktivitas lembaga atau organisasi. Kinerja karyawan adalah yang mempengaruhi seberapa banyak mereka memberi kontribusi kepada organisasi yang antara lain termasuk: kuantitas output, kualitas output, jangka waktu output, kehadiran di tempat kerja, dan sikap kooperatif. Tampaknya dimensi lain dari kinerja mungkin tepat untuk pekerjaan-pekerjaan tertentu, tetapi yang didata ini adalah yang paling umum, yang mengidentifikasikan elemen-elemen yang paling penting suatu pekerjaan.

Pekerjaan hampir selalu memiliki lebih dari satu kriteria atau dimensi untuk dinilai, dan ini berarti bahwa si karyawan mungkin berkinerja lebih baik dalam satu kriteria dibandingkan kriteria lainnya. Beberapa kriteria mungkin memiliki nilai lebih penting daripada kriteria lainnya. Pembobotan adalah suatu cara untuk menunjukkan hal ini. Beberapa perkantoran atau Dinas lainnya merupakan bagian pekerjaan yang memiliki bobot yang lebih besar dibandingkan dengan penelitian atau pengabdian. Pada saat mengukur kinerja, adalah penting menentukan kriteria yang relevan. Umumnya, kriteria itu relevan ketika difokuskan pada aspek yang paling penting dari pekerjaan si karyawan. Sebagai contoh, menilai seorang petugas pelayanan kepuasan konsumen dalam suatu perusahaan dari "penampilan", tentu saja kurang relevan dibandingkan dengan jumlah telepon yang ditanganinya. Contoh ini menekankan bahwa kriteria pekerjaan yang terpenting harus diidentifikasikan dan dikaitkan dengan deskripsi pekerjaan.

Pekerjaan umumnya melibatkan beberapa tugas dan tanggung jawab. Jika penilaian kinerja mengabaikan beberapa tanggung jawab yang penting, maka penilaian menjadi tidak efisien. Sebagai contoh, jika kinerja seseorang pewawancara hanya dinilai dari jumlah pelamar yang dipekerjakan, dan bukannya kualitas pelamar, maka hal ini bisa jadi tidak efisien. Jika beberapa kriteria yang tidak relevan dimasukkan, maka kriteria ini bisa dikatakan terkontaminasi. Memang diakui bahwa banyak orang mampu tetapi tidak mau sehingga tetap tidak menghasilkan kinerja. Demikian pula halnya banyak orang mau tetapi tidak mampu, juga tetap tidak menghasilkan kinerja apa-apa. Kinerja adalah seseuatu yang dicapai atau prestasi yang diperlihatkan atau kemampuan bekerja, dengan kata lain bahwa kinerja dapat diartikan sebagai prestasi kerja.

Kinerja merupakan kuantitas dan kualitas pekerjaan yang diselesaikan oleh individu, maka kinerja merupakan output pelaksanaan tugas. Kinerja mempunyai hubungan yang erat dengan masalah produktivitas, karena merupakan indikator dalam menentukan bagaimana usaha untuk mencapai tingkat produktivitas yang tinggi dalam suatu organisasi. Hasibuan (2001) menyatakan bahwa: "produktivitas adalah perbandingan antara keluaran (output) dengan masukan (input)". Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja menurut Sedarmayanti (2001) antara lain: "1). Sikap mental (motivasi kerja, disiplin kerja, etika kerja); 2). Pendidikan; 3). Keterampilan; 4). Manajemen kepemimpinan; 5) Tingkat penghasilan; 6) Gaji dan kesehatan; 7) Jaminan sosial; 8). Iklim kerja; 9). Sarana prasarana; 10). Teknologi; 11). Kesempatan berprestasi".

Penilaian Kinerja
Pihak-pihak yang dapat menilai kinerja adalah :
  1. Atasan langsung.
  2. Penilaian kinerja mayoritas dilaksakan oleh atasan langsung karena memang merekalah yang bertanggung jawab terhadap kinerja bawahannya. Sekalipun begitu, sejumlah organisasi mengakui mengalami kemunduran dalam hal ini, karena banyak juga pimpinan yang tidak memenuhi persyaratan untuk mengevaluasi. Sementara pimpinan yang lain merasa enggan saat diminta untuk menilai kinerja para pekerja mereka.
  3. Rekan Kerja.
  4. Evaluasi dari rekan kerja (peers) adalah salah satu yang dapat dijadikan sebagai sumber data penelitian yang paling dapat dipercaya, karena: pertama, evaluasi dari rekan kerja sangat erat hubungannya dengan kegiatan. Interaksi sehari-hari memberi mereka sebuah sudut pandang pemahaman yang menyeluruh terhadap kinerja pekerjaan seorang pekerja. Kedua, evaluasi dari rekan kerja sebagai penghitung hasil akan menghasilkan beberapa penilaian yang mandiri.
  5. Pengevaluasian diri sendiri.
  6. Karyawan yang mengevaluasi kinerjanya sendiri (self evaluation), konsisten dengan nilai-nilai seperti swakelola dan pemberdayaan. Evaluasi yang dilakukan sendiri memberi nilai yang tinggi bagi pekerja. Cara ini cenderung mengurangi sifat membela diri yang dilakukan karyawan saat proses penilaian. Dan mereka membuat wahana yang baik untuk merangsang diskusi kinerja pekerjaan antara pekerja dengan atasan mereka.
  7. Bawahan langsung.
  8. Penilaian kinerja dilakukan oleh bawahan langsung seorang pekerja.

Tujuan Penilaian Kinerja
Penilaian kinerja memiliki sejumlah tujuan dalam organisasi (Robbins, 2002), yaitu :
  1. Manajemen menggunakan penilaian untuk mengambil keputusan personalia secara umum, misalnya dalam hal promosi, transfer, ataupun pemberhentian.
  2. Penilaian memberikan penjelasan tentang pelatihan dan pengembangan yang dibutuhkan. Dalam hal ini, penilaian menjelaskan keterampilan dan daya saing para pekerja belum cukup tetapi dapat diperbaiki jika suatu program yang memadai dikembangkan.
  3. Penilaian kinerja dapat dijadikan sebagai kriteria untuk program seleksi dan pengembangan yang disahkan.
  4. Memenuhi tujuan umpan balik yang ada terhadap para pekerja tentang bagaimana organisasi memandang kinerja mereka.
  5. Sebagai dasar untuk mengalokasikan atau menentukan penghargaan.
7:18 PM | 0 comments | Read More

Perilaku Kesehatan

Written By Lumajangtopic on Sunday, October 4, 2015 | 8:24 PM

Faktor yang Mempengaruhi Perilaku 
 
Ada beberapa macam teori perilaku, antara lain menurut Notoatmojo (1993), perilaku dapat diartikan suatu respon organisme atau seseorang terhadap rangsangan (stimulus) dari luar subyek tersebut yang dapat diamati secara langsung maupun secara tidak langsung. Respon ini berbentuk pasif dan aktif, respon pasif yaitu terjadi di dalam diri manusia dan tidak secara langsung dapat terlihat oleh orang lain, misalnya berfikir, tanggapan atau sikap batin dan pengetahuan/persepsi. Sedangkan respon aktif yaitu apabila perilaku itu jelas tampak dalam tindakan yang nyata dan dapat diobservasi secara langsung.

Kurt Lewin merumuskan suatu model hubungan perilaku yang mengatakan bahwa perilaku (B) adalah fungsi karakteristik individu (P) dan lingkungan (E), yaitu B = Æ’(P,E). Karakteristik individu meliputi berbagai variabel seperti motif, nilai-nilai, sifat kepribadian, dan sikap yang saling berinteraksi satu sama lain dan kemudian berinteraksi pula dengan faktor-faktor lingkungan dalam menentukan perilaku. Faktor lingkungan memberikan kekuatan besar dalam menentukan perilaku, bahkan kadang - kadang kekuatannya lebih besar daripada karakteristik individu. Hal inilah yang menjadikan prediksi perilaku lebih kompleks (Azwar, 1995).

Untuk tidak sekedar memahami, tapi juga agar dapat memprediksi perilaku, Fishbein & Ajzen (dalam Azwar, 1995) mengemukakan teori tindakan beralasan, mengatakan bahwa sikap mempengaruhi perilaku lewat suatu proses pengambilan keputusan yang teliti dan beralasan, dan dampaknya terbatas hanya pada tiga hal. Pertama, perilaku tidak banyak ditentukan oleh sikap umum tapi oleh sikap yang spesifik terhadap sesuatu. Kedua, perilaku dipengaruhi tidak hanya oleh sikap tapi juga oleh norma-norma subjektif yaitu keyakinan kita mengenai apa yang orang lain inginkan agar kita perbuat. Ketiga, sikap terhadap suatu perilaku bersama - sama norma-norma subjektif membentuk suatu intensi atau niat untuk berperilaku tertentu. Secara sederhana teori ini mengatakan bahwa seseorang akan melakukan suatu perbuatan apabila ia memandang perbuatan itu positif dan bila ia percaya bahwa orang lain ingin agar ia melakukannya.

Faktor yang mempengaruhi perilaku
Perilaku, secara luas tentu tidak hanya dapat ditinjau dalam kaitannya dengan sikap manusia. Pembahasan perilaku dari sudut pandang yang berbeda memberikan penekanan yang berbeda-beda pula. Namun satu hal selalu dapat disimpulkan, yaitu bahwa perilaku manusia tidaklah sederhana untuk difahami dan diprediksikan. Begitu banyak faktor-faktor internal dan eksternal dari dimensi masa lalu, saat ini dan masa datang yang ikut mempengaruhi perilaku manusia.

Azwar (1995), mengatakan selain berbagai faktor penting seperti hakikat stimulus itu sendiri, latar belakang pengalaman individu, motivasi, status kepribadian dan sebagainya, sikap individu ikut memegang peranan dalam menentukan bagaimana perilaku seseorang di lingkungannya. Lingkungan secara timbal balik akan mempengaruhi sikap dan perilaku. Interaksi antara situasi lingkungan dengan sikap, dengan berbagai faktor di dalam maupun di luar diri individu akan membentuk suatu proses kompleks yang akhirnya menentukan bentuk perilaku seseorang.

Perilaku dalam hubungannya dengan kesehatan menurut Notoatmojo (1993), adalah respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus atau rangsangan yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan serta lingkungan. Perilaku terhadap lingkungan kesehatan adalah respon seseorang terhadap lingkungan sebagai determinan kesehatan manusia, antara lain mencakup perilaku sehubungan dengan air bersih, termasuk di dalamnya komponen, manfaat dan penggunaan air bersih untuk kepentingan kesehatan.

Menurut Slamet (1994 & 2000), perilaku dalam hubungannya dengan lingkungan air, termasuk kepercayaan dan kebiasaan masyarakat dalam memanfaatkan air. Bagaimana mereka memperlakukan air, akan menentukan kualitas air tersebut. Wiyono & Agustjik (1992), menyebutkan bahwa air yang sudah memenuhi persyaratan kesehatan kadang-kadang masih juga mendapat pencemaran baik pada waktu pengambilan, pengangkutan sampai pada saat penyimpanan air yang sudah dimasak. Masing-masing tahap di atas mempunyai risiko rekontaminasi. Rekontaminasi ini amat tergantung pada tingkah laku/kebiasaan masyarakat (orang) dalam penanganan air.
8:24 PM | 0 comments | Read More

Narkoba dan Dampak Serius pada Kesehatan

Written By Lumajangtopic on Monday, July 13, 2015 | 12:27 AM

DAMPAK PENYALAHGUNAAN NARKOTIK DAN BAHAN ADIKTIF LAINNYA (NARKOBA)

Korban penyalahgunaan narkotika dan zat adiktif lainnya khususnya di Indonesia makin lama makin meningkat. Kalau di awal merebaknya penyalahgunaan bahan tersebut hanya melanda mereka yang sudah remaja, sekarang sudah mulai digunakan oleh anak - anak yaitu mereka yang masih duduk di sekolah dasar. Saat ini Indonesia sudah menjadi Negara tujuan penjualan obat - obatan terlarang tersebut bukan hanya merupakan tempat transit saja. Oleh karena itu penanggulangan masalahnya harus dilakukan secara simultan dan berkesinambungan.

Narkotika diperlukan dalam dunia pengobatan, untuk kepentingan. Dalam Undang - undang No. 22 tahun 1997 tentang narkotika dibuka kemungkinan untuk mengimport narkoba maupun mengekspor obat - obatan yang mengandung narkotika. Di samping manfaatnya dalam dunia pengobatan disayangkan sering disalahgunakan yang dapat menimbulkan bahaya bagi kehidupannya. Penyalahgunaan pemakaian narkotik dapat berakibat jauh dan fatal serta menyebabkan yang bersangkutan menjadi kecanduan, sehingga untuk mendapatkannya dapat melakukan berbagai cara tanpa mengindahkan norma - norma sosial agama, maupun hukum yang berlaku.

Penggolongan narkotik menurut asal usul pembuatannya dibagi dalam : (1) Golongan Narkotika Alam, (2) Golongan Devirat Semi Sintetik, (3) Golongan Narkotika Sintetik. Yang dimaksud dengan bahan Psikotropika adalah semua bahan alam maupun buatan yang mempunyai sifat-sifat dapat menyebabkan ketergantungan (kecanduan), menurunkan aktifitas otak atau merangsang susunan saraf pusat dan menimbulkan kelainan kelakuan disertai oleh timbulnya halusinasi, ilusi, gangguan cara berpikir dan perubahan alam perasaan.

Salah satu henis psikotropika anti depresi yang sering disalahgunakan adalah amphetamine yang dikenal dengan shabu - shabu. Di dalam undang - undang obat keras, psikotropika adalah juga termasuk dalam daftar obat keras. Penyalahgunaan dan bahan - bahan psikotropika dapat menimbulkan dampak baik fisik maupun mental bagi si pemakai.

Gejala Penyalahgunaan Narkotika / Psikotropika

Narkotika

  1. Jenis opium antara lain morfin, heroin yang paling sering digunakan adalah dengan cara penyuntikan. Setelah pemakaian opium timbul gejala gembira berlebihan dan kemudian muncul sikap tidak peduli dengan sekitar, dan mengantuk, kemampuan daya penilaian menjadi berkurang dan sering bersikap kasar/rusuh/melakukan hal - hal yang melawan hukum.
  2. Jenis Kokain, penggunaan lebih sering adalah dengan cara menaruh bubuk kokain pada selaput lender hidung kemudian diisap tap kadang kala menggunakan alat suntik. Setelah pemakaian timbul gejala hiperaktif, rasa gembira, serta percaya diri meningkat, banyak bicara. Rasa mual timbul, muntah dan berkeringat dan juga pecandu dapat berperilaku lain yang menyimpang.
  3. Jenis ganja, penggunaanya lebih sering dengan cara seperti merokok dan menimbulkan gejala-gejala antara lain seolah - olah waktu berlalu dengan lambat, apatis seolah - olah bunyi musik menjadi lebih asyik, mata menjadi merah, mulut kering dan rasa lapar. Juga dapat terjadi kecurigaan yang tidak beralasan sama sekali dan hal ini dapat menimbulkan akibat suatu tindakan pidana.

Dampak Penyalahgunaan Narkoba

Penyalahgunaan Narkoba dapat memberikan dampak bagi si pemakai dalam bentuk gangguan kesehatan psikis, kesehatan jiwa, gangguan fungsi social / pekerjaan dan gangguan keamanan masyarakat. Gangguan kesehatan phisik salah satu ciri dari ketergantungannya, dapat berupa adanya sindrom putus obat (Whitdrawal Symptoms) yang akan menimbulkan gejala baik yang ringan maupun berat sampai dengan kematian bila tidak ditangani dengan cepat. Penyakit - penyakit yang timbul akibat penyalahgunaan jenis narkotik tertentu antara lain : radang hati, radang ginjal, radang jantung, radang paru - paru dan radang pembuluh darah balik (Vena). Akibat lain dengan penggunaan yang berlebihan (Over Dosis) dapat menyebabkan kematian.

Gangguan kesehatan jiwa bervariasi mulai dengan gangguan konsentrasi, penurunan daya ingat sampai pada proses berpikir dan gangguan perilaku. Gangguan fungsi social / pekerjaan dalam bentuk sering timbulnya kerusuhan dirumah, hubungan antara orang tua dan saudara - saudaranya menjadi renggang. Bila pemakai masih sekolah tidak jarang yang putus sekolah atau berhenti untuk sementara dan bila sudah bekerja tidak jarang yang dikeluarkan dari pekerjaanya. Pemakai narkoba sering membuat kerusuhan, mencuri, menjambret, mnodong dan perbuatan - perbuatan melanggar hukum lainnya. Disamping itu bila menggunakan kendaraan bermotor dijalan raya sering menggangu ketertiban lalu litas dengan mulai yang ringan sampai yang berat / meninggal. Dengan timbulnya berbagai dampak dari narkoba tersebut di atas sudah waktunya semua tidak mempunyai kepedulian untuk menanggulangi masalah tersebut secara bersama - sama mengingat penyalahgunaan narkoba ini makin lama makin meningkat jumlahnya.
12:27 AM | 0 comments | Read More

Tugas Kader Posyandu Lansia

Written By Lumajangtopic on Thursday, October 16, 2014 | 8:49 PM

Tugas dan Peran Kader Posyandu Lansia

Posyandu lansia adalah pos pelayanan terpadu untuk masyarakat usia lanjut di suatu wilayah tertentu yang sudah disepakati, yang digerakkan oleh masyarakat dimana mereka bisa mendapatkan pelayanan kesehatan.

Pengertian Kader Posyandu menurut Depkes RI (2003) merupakan anggota masyarakat yang dipilih dari dan oleh masyarakat, mau dan mampu bekerja bersama dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan secara sukarela. Sementara  menurut WHO (1998) merupakan  laki-laki atau wanita yang dipilih oleh masyarakat dan dilatih untuk menangani, masalah-masalah kesehatan perorangan maupun yang amat dekat dengan tempat-tempat pemberian pelayanan kesehatan. 

Terdapat beberapa peran kader pada kegiatan Posyandu Lansia (Lanjut Usia), antara lain:
Melakukan kegiatan penggerakan masyarakat:
  1. Mengajak usia lanjut untuk hadir dan berpartisipasi dalam kegiatan dikelompok usia lanjut
  2. Memberikan penyuluhan/penyebarluasan informasi kesehatan, antara lain: cara hidup bersih dan sehat, gizi usia lanjut, kesehatan usia lanjut.
  3. Menggali dan menggalang sumberdaya, termasuk pendanaan bersumber masyarakat.
Melaksanakan kegiatan dikelompok usia lanjut :
  1. Menyiapkan tempat, alat-alat dan bahan
  2. Memberikan pelayanan usia lanjut, seperti  Mengukur tinggi dan berat badan, Mencatat hasil pelayanan dalam buku register dan KMS, Memberikan penyuluhan perorangan sesuai hasil layanan, Melakukan rujukan kepada petugas kesehatan / sarana kesehatan (bila petugas kesehatan tidak hadir), Mengunjungi sasaran yang tidak hadir dikelompok usia lanjut, serta Melakukan pencatatan.
8:49 PM | 0 comments | Read More

Pengertian dan Peran Posyandu

Written By Lumajangtopic on Saturday, August 16, 2014 | 4:08 PM

Pengertian, Syarat, dan Peran Posyandu

Posyandu atau Pos Pelayanan Terpadu merupakan program Puskesmas melalui kegiatan peran serta masyarakat yang ditujukan pada masyarakat setempat, khususnya balita, wanita usia subur, maupun lansia. Pelayanan kesehatan di posyandu lanjut usia metiputi pemeriksaan kesehatan fisik dan mental emosional yang dicatat dan dipantau dengan Kartu Menuju Sehat (KMS) untuk mengetahui lebih awal penyakit yang diderita atau ancaman salah satu kesehatan Pyang dihadapi. Jenis pelayanan kesehatan yang diberikan di posyandu lansia antara lain pemeriksaan aktivitas kegiatan sehari-hari, pemeriksaan status inental, pemeriksaan status gizi, pengukuran tekanan darah, pemeriksaan hemoglobin, kadar gula dan protein dalam urin, pelayanan rujukan ke puskesmas dan penyuluhan kesehatan. Kegiatan lain yang sesuai kebutuhan dan kondisi setempat seperti

Menurut Effendy (1998), Posyandu merupakan pusat kegiatan masyarakat dalam upaya pelayanan kesehatan dan keluarga berencana. Posyandu adalah pusat pelayanan keluarga berencana dan kesehatan yang dikelola dan diselenggarakan untuk dan oleh masyarakat dengan dukungan teknis dari petugas kesehatan dalam rangka pencapaian NKKBS.

Menurut Aritonang (2000), Posyandu merupakan perpanjangan tangan puskesmas yang memberikan pelayanan dan pemantauan kesehatan yang dilaksanakan secara terpadu. Kegiatan posyandu dilakukan oleh dan untuk masyarakat. Posyandu sebagai wadah peran serta masyarakat yang menyelenggarakan sistem pelayanan pemenuhan kebutuhan dasar, peningkatan kualitas manusia secara empirik telah dapat meratakan pelayanan bidang kesehatan. Kegiatan tersebut meliputi pelayanan imunisasi, pendidikan gizi masyarakat serta pelayanan kesehatan ibu dan anak.

Kegiatan bulanan di Posyandu merupakan kegiatan rutin yang bertujuan antara lain untuk memantau pertumbuhan berat badan balita dengan menggunakan Kartu Menuju Sehat (KMS), memberikan konseling gizi, serta memberikan pelayanan gizi dan kesehatan dasar.
4:08 PM | 0 comments | Read More

Kepuasan Pelayanan Kesehatan

Written By Lumajangtopic on Sunday, December 2, 2012 | 8:34 PM

Kepuasan Pelanggan pada Pelayanan Kesehatan

Penelitian akan konsep kepuasan pada saat ini menjadi salah satu prioritas penelitan dalam literatur pemasaran jasa. Studi McDougall dan Levesque (2000) menyatakan bahwa kepuasan merupakan kunci keberhasilan dalam industri jasa. Karena kepuasan merupakan tahapan akhir mencapai loyalitas pelanggan. Perusahaan harus memperhatikan keseluruhan layanan yang ditawarkan dari sudut pandang pelanggan. Kepuasan pelanggan yang dibentuk dari sudut pandang pelanggan mampu untuk memberikan nilai lebih terhadap kualitas pelayanan yang ditawarkan. Lebih lanjut menurut Robledo (2001) aspek yang paling penting dalam manajemen strategik pemasaran perusahaan jasa adalah pengukuran kepuasan pelanggan. Saat ini menurut Bejou et.al., (1998) kepuasan pelanggan merupakan faktor penting bagi perusahaan dan menjadi tuntutan utama pelanggan. Perusahaan yang tidak dapat memberikan kepuasan yang diharapkan oleh pelanggan akan ditinggalkan pelanggan (Donovan et al., 2004).

Kepuasan pelanggan adalah bagian yang berhubungan dengan penciptaan nilai pelanggan. Karena terciptanya kepuasan pelanggan berarti memberikan manfaat bagi perusahaan yaitu, diantaranya hubungan antara perusahaan dengan pelanggannya menjadi harmonis, memberikan dasar yang baik atau terciptanya kepuasan pelanggan serta membentuk suatu rekomendasi dari mulut ke mulut yang menguntungkan bagi perusahaan, sehingga timbul minat dari pelanggan untuk membeli atau menggunakan jasa perusahaan tersebut. Kepuasan pelanggan dihasilkan dari kualitas baik barang maupun jasa yang ditawarkan kepada pelanggan oleh perusahaan.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa tingginya derajat kepuasan pelanggan dipengaruhi oleh tingginya derajat kualitas produk (barang dan jasa yang ditawarkan) kepada pelanggan (Lee et.al.,2000; Lee et.al.,2001). Penelitian Bebko (2000) mengemukakan bahwa kepuasan timbul dari apa yang diterima (dirasakan) dan apa yang diharapkan oleh pelanggan atas produk (jasa) yang ditawarkan perusahaan kepada nilai pelanggan. Dan hal ini didukung oleh Carman et.al., (2000) bahwa kepuasan adalah wujud nyata dari respon pelanggan terhadap kesesuaian yang dirasakan atas kinerja aktual sebuah produk (jasa) dan sebuah pengharapan pelanggan atas produk (jasa) tersebut. Kepuasan tergantung pada bagaimana pelayanan itu diberikan. Karena kepuasan tersebut merupakan tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja (hasil) yang dirasakan dibandingkan dengan harapannya. Kepuasan yang dirasakan oleh pelanggan merupakan sebuah keunggulan atas nilai yang telah dibangun oleh perusahan. Untuk mencapai tujuan bisnis atau tujuan suatu perusahaan, seorang manajer harus memberikan pelayanan yang memadai atau berkualitas, sehingga pelanggan merasa puas (Caruana, et.,al., 2000).


Nilai Pelanggan (Customer Value)

Konsep dari nilai pelanggan adalah pengambilan keputusan dan tindakan yang penting, harus menunjukkan prioritas perusahaan berkaitan dengan kepuasan pelanggan. Nilai pelanggan merupakan salah satu konsep pemasaran dalam meningkatkan kepuasan pelanggan, dengan nilai pelanggan yang tepat akan membantu produk tersebut selangkah lebih maju dibanding dengan pesaing. Kualitas dari nilai memainkan peran kunci dalam memantau apakah tujuan jangka panjang, menengah, dan pendek organisasi sesuai dengan aspirasi yang diinginkan. Tolok ukur nilai pelanggan adalah lamanya waktu adopsi terhadap harapan dan kebutuhan pelanggan dan banyaknya informasi yang diadopsi oleh perusahaan, untuk membangun nilai pelanggan (Lam et.al., 2004;Evans 2002).

Nilai pelanggan merupakan sebuah rasio dari manfaat yang didapat oleh pelanggan dengan pengorbanan. Perwujudan pengorbanan yang dilakukan oleh pelanggan sejalan dengan proses pertukaran adalah biaya transaksi, dan risiko untuk mendapatkan produk (barang dan jasa) yang ditawarkan oleh perusahaan. Ketika nilai yang dirasakan dari rasio yang dipersepsikan oleh pelanggan atas sejumlah pengorbanan ekomomi dengan produk yang ditawarkan perusahaan tidak sesuai dengan harapan pelanggan, maka akan memuncullah sikap tidak puas. Sebaliknya apabila sama atau melebihi harapan pelanggan maka pelanggan akan merasa puas (Budiman 2003; Yang dan Peterson 2004).

Pada suatu studi, Wang et.al.,(2004) membagi dimensi nilai pelanggan menjadi nilai fungsional, nilai ekonomi, nilai emosional dan nilai pengorbanan. Apabila keempat komponen tersebut dapat berjalan secara terintegrasi dengan baik, maka semakin tinggi nilai pelanggan akan berdampak terhadap peningkatan kepuasan pelanggan. Keempat komponen tersebut di atas akan benar-benar menjadi komponen penting dan dipercaya mampu menghasilkan kepuasan pelanggan apabila perusahaan lebih baik dalam mengelola aktivitas orientasi pelanggan. Lebih lanjut kepuasan pelanggan menciptakan fungsi yang terintergrasi dan memberi sesuatu yang baik melalui nilai pelanggan. Fungsi dan dukungan tersebut berdasarkan pada karangka kerja yang dibangun berlandaskan hubungan dan interaksi yang tercipta dari nilai pelanggan pemahaman atas apa yang menjadi keinginan dan harapan pelanggan, sehingga tercapai strategy yang dapat dihandalkan untuk dapat memenangkan persaingan.

Kualitas Pelayanan (Service Quality)

Tujuan dari perusahaan adalah menciptakan dan menjaga pelanggannya. Ini bermakna dalam mencapai kesuksesan, perusahaan harus mampu memastikan kebutuhan dan keinginan pelanggannya dan semua itu tergambar dalam service yang dilakukan atau dihasilkan oleh perusahaan. Kualitas pelayanan adalah pemahaman yang cukup dari perusahaan tentang pelanggan agar mampu menciptakan nilai unggul bagi nilai pelanggan secara terus-menerus. Oleh sebab itu, perusahaan yang berkualitas dapat disebut sebagai sebuah perusahaan dengan kemampuan dan kemauan untuk mengidentifikasi, menganalisis, memahami dan menjawab kebutuhan-kebutuhan pelanggan. Kualitas pelayanan juga membantu perusahaan mempelajari bagian yang besar dari masalah-masalah teknis pasar dan menyediakan evaluasi segmen-segmen yang mungkin, pentingnya pasar dan nilai pertumbuhan (Taylor, 2001).

Kualitas pelayanan bermakna mencapai nilai yang superior bagi perusahaan. Untuk menciptakan penghalang yang kuat dibutuhkan strategi SERVQUAL dengan kompetensi yang memadai. Kualitas pelayanan dapat diartikan sebagai pertanda bahwa pelanggan akan lebih loyal, menggunakan lebih banyak lagi program SERVQUAL, dan Wold Of Mouth bagi perusahaan. Oleh karena itu penerapan kualitas pelayanan merupakan salah satu faktor kunci sukses bagi banyak perusahaan. Keberhasilan meningkatkan penerapan kualitas pelayanan merupakan persoalan hidup mati bagi perusahaan. Penerapan kualitas pelayanan sangat berperan bagi perusahaan dalam penciptaan nilai pelanggan (Wang et.al.,2004; Donovan et.al.,2004).

Berdasarkan pendapat Sivadas dan Prewitt (2000) kualitas pelayanan merupakan penilaian pelanggan tentang nilai superior atau kesempurnaan sebuah produk (jasa) dari nilai kegunaan atau manfaat yang diterima (dirasakan) pelanggan atas dasar sebuah perbandingan apa yang diberikan (pelanggan) dan apa yang diterima (pelanggan). Pada literatur hubungan pemasaran khususnya konsep kualitas pelayanan di mana secara jangka panjang, kunci hubungan antara perusahaan dan pelanggan serta nilai pelanggan terbentuk dan berlangsung secara jangka panjang adalah SERVQUAL dan kepuasan pelanggan. Kualitas pelayanan merupakan awal sebuah pengukuran atas hubungan dan pengaruh antara kualitas pelayanan dengan kepuasan pelanggan. Sejauh ini kualitas pelayanan membagi pengukuran SERVQUAL atas apa yang diharapkan (expectation) dan apa yang diterima pelanggan (perceived).

Merujuk pada implikasi manajerial dalam penelitian Dabholkar et.al.,(2000) di mana, secara tegas disarankan pada pihak manajemen yang bergerak pada industri jasa bahwa, andai saja pihak manajemen mau berupaya mencari kompetensi teknis dan sosial tentang apa yang menjadi harapan pelanggan dan nilai pelanggan khususnya atas SERVQUAL, maka dapat dipastikan kinerja perusahaan secara jangka panjang akan meningkat secara signifikan. Hal tersebut disebabkan, dengan memenuhi kualitas pelayanan yang menjadi harapan pelanggan akan membuat pelanggan menjadi puas, dan setelah puas pelanggan akan menjadi setia yaitu dengan terus-menerus mempergunakan jasa yang ditawarkan perusahaan.

Kualitas pelayanan atas apa yang diharapkan (expectation) sebagai sebuah harapan pelanggan dari sebuah jasa dalam kerangka yang normatif dan diprediksi tentang seberapa tinggi kualitas pelayanan yang diberikan kepada pelanggan oleh perusahaan. Berwujud, kehandalan, responsip, dan jaminan serta empati sebagai dimensi kualitas pelayanan berpengaruh positip terhadap nilai pelanggan khususnya pada industri jasa, maka berwujud, kehandalan, responsip, dan jaminan serta empati merupakan kunci perusahaan untuk tetap bertahan dan berkelanjutan. Untuk memenangkan pelanggan saat ini, perusahaan harus merengkuh apa yang menjadi kebiasaan bisnis dan berfokus pada pembangunan dan mempertahankan berwujud, kehandalan, responsip, dan jaminan serta empati dalam kualitas pelayanan (Malhotra et.al., 2004; Pfeifer, et.al., 2004).
8:34 PM | 0 comments | Read More

Program Pokok Puskesmas

Written By Lumajangtopic on Friday, November 30, 2012 | 2:43 PM

Konsep Dasar Manajemen Puskesmas

Indonesia dengan visinya: “Indonesia sehat 2010” menggambarkan bahwa masyarakat Indonesia di masa depan yang penduduknya hidup dalam lingkungan dan perilaku sehat, mampu menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu, adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tinggi nya. Hal ini sesuai dengan Tujuan nasional Bangsa Indonesia sebagaimana yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 adalah melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Pembangunan kesehatan adalah bagian dari pembangunan nasional yang bertujuan meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Untuk mencapai pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau, maka perlu diselenggarakan upaya pelayanan kesehatan yang sesuai dengan standart profesi serta pelayanan yang memuaskan pelanggan.


Hal itu perlu segera diwujudkan untuk memenuhi tuntutan masyarakat yang semakin meningkat akan pelayanan kesehatan yang bermutu. Tuntutan masyarakat tersebut perlu mendapatkan perhatian yang serius bagi semua kalangan yang berkompeten, khususnya Dinas Kesehatan dan Puskesmas.

Pada bagian ini akan dipaparkan konsep Puskesmas sebagai unit populasi dalam penelitian ini. Puskesmas adalah pusat pembangunan kesehatan di kecamatan yang mandiri. Dalam bidang organisasi, sesuai dengan PP 8 tahun 2000 pasal 8 ayat 4, Puskesmas dipimpin oleh seorang kepala yang berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Kepala Dinas Kabupaten/Kota dan secara operasional dikoordinasikan oleh camat.

Pengertian Puskesmas

Suatu kesatuan organisasi fungsional yang merupakan pusat pengembangan kesehatan masyarakat yang juga membina peran serta masyarakat disamping memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di wilayah kerjanya dalam bentuk kegiatan pokok

Fungsi Puskesmas

Fungsi utama Puskesmas adalah sebagai : 1) pusat pembangunan berwawasan kesehatan, 2) pusat pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan dan 3) pusat pelayaan kesehatan tingkat dasar. Pada fungsi pertama, Puskesmas diharapkan dapat bertindak sebagai motor, motivator dan memantau terselenggaranya proses pembangunan di wilayah kerjanya agar berdampak positif terhadap kesehatan. Pada fungsi kedua, Puskesmas ikut memberdayakan masyarakat agar masyarakat tahu, mau dan mampu menjaga dan mengatasi masalah kesehatan secara mandiri. Sedangkan sebagai pusat pelayanan kesehatan tingkat pertama di wilayah kerjanya, Puskesmas wajib melaksanakan program pokok yang bersifat nasional dan bersifat lokal sesuai dengan permasalahan dan kebutuhan daerah.

Program Pokok Puskesmas
  1. KIA
  2. KB
  3. Usaha Kesehatan Gizi
  4. Kesehatan Lingkungan
  5. Pemberantasan dan pencegahan penyakit menular
  6. Pengobatan termasuk penaganan darurat karena kecelakaan
  7. Penyuluhan kesehatan masyarakat
  8. Kesehatan sekolah
  9. Kesehatan olah raga
  10. Perawatan Kesehatan
  11. Masyarakat
  12. Kesehatan kerja
  13. Kesehatan Gigi dan Mulut
  14. Kesehatan jiwa
  15. Kesehatan mata
  16. Laboratorium sederhana
  17. Pencatatan dan pelaporan dalam rangka SIK
  18. Pembinaan pemgobatan tradisional
  19. Kesehatan remaja
  20. Dana sehat
2:43 PM | 0 comments | Read More

Manajemen Pelaksanaan PHBS

Written By Lumajangtopic on Wednesday, November 14, 2012 | 5:47 AM


Tahapan Pelaksanaan manajemen PHBS

Untuk mewujudkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) ditiap tatanan, diperlukan pengelolaan manajemen program PHBS melalui tahap pengkajian, perencanaan, penggerakan pelaksanaan sampai dengan pemantauan dan penilaian.Penjelasan dari tahapan tersebut sebagai berikut :

1. Pengkajian
Dalam Tahapan ini dikenal dengan program promosi kesehatan yang terdapat model pengkajian dan penindaklanjutan (precede proceed model) yang diadaptasi dari konsep L W Green. Model ini mengkaji masalah perilaku manusia dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, serta cara menindaklanjutinya dengan berusaha mengubah, memelihara atau meningkatkan perilaku tersebut kearah yang lebih positif. Proses pengkajian mengikuti anak panah dari kanan ke kiri, sedang proses penindaklanjutan dilakukan dari kiri ke kanan. Dengan demikian manajemen PHBS adalah penerapan keempat proses manajemen pada umumnya ke dalam model pengkajian dan penindaklanjutan. Kualitas hidup adalah sasaran utama yang ingin dicapai di bidang Pembangunan sehingga kualitas hidup ini sejalan dengan tingkat sesejahteraan. Diharapkan semakin sejahtera maka kualitas hidup semakin tinggi. kualitas hidup ini salah satunya dipengaruhi oleh derajat kesehatan. Semakin tinggi derajat kesehatan seseorang maka kualitas hidup juga semakin tinggi.

Derajat kesehatan adalah sesuatu yang ingin dicapai dalam bidang kesehatan, dengan adanya derajat kesehatan akan tergambarkan masalah kesehatan yang sedang dihadapi. Yang paling besar pengaruhnya terhadap derajat kesehatan seseorang adalah faktor perilaku dan faktor lingkungan. Contoh seseorang menderita diare karena minum air yang tidak dimasak (masalah perilaku), seseorang menderita kanker paru padahal orang itu tidak merokok tetapi kehidupannya tidak lepas dari lingkungan kerja yang merokok (masalah lingkungan).

Faktor lingkungan adalah faktor fisik, biologis dan sosial budaya yang langsung/tidak mempengaruhi derajat kesehatan. Faktor perilaku dan gaga hidup adalah suatu faktor yang timbul karena adanva aksi dan reaksi seseorang atau organisme terhadap lingk-umgannya. Faktor perilaku akan terjadi apabila ada rangsangan, sedangkan gaga hidup merupakan pola kebiasaan seseorang atau sekelompok orang yang dilakukan karena jenis pekerjaannya mengikuti trend yang berlaku dalam kelompok sebayanya, ataupun hanya untuk meniru dari tokoh idolanya. Contoh seseorang yang mengidolakan aktor atau artis yang tidak merokok.

Dengan demikian suatu rangsangan tertentu akan menghasilkan reaksi atau perilaku tertentu. Ada 3 faktor penyebab mengapa seseorang melakukan perilaku tertentu yaitu faktor pemungkin, faktor pemudah dan faktor penguat.Penjelasan tentang ketiga faktor tersebut adalah sebagai berikut :

Faktor pemungkin adalah faktor pemicu terhadap perilaku yang memungkinkan suatu motivasi atau aspirasi terlaksana. Ternasuk didalamnya keterampilan petugas kesehatan, ketersediaan sumber daya dan komitmen masyarakat atau pemerintah terhadap kesehatan. Contoh petugas penyuluhan menyarankan agar masyarakat dapat mengkonsumsi tempe, karena selain murah juga mengandung gizi yang tinggi. Tetapi karena di daerah tersebut tidak ada produsen tempe, maka hal tersebut tidak dapat diterapkan.
Faktor pemudah adalah faktor pemicu atau anteseden terhadap perilaku yang menjadi dasar atau motivasi bagi perilaku. Misalnya pengetahuan, sikap, keyakinan dan nilai yang dimiliki oleh seseorang. Contoh seseorang tidak merokok karena mereka yakin bahwa rokok dapat membahayakan kesehatan.


Faktor penguat adalah faktor yang menentukan apakah tindakan kesehatan memperoleh dukungan atau tidak. Faktor ini terwujud dalam bentuk sikap dan perilaku petugas kesehatan atau petugas lainnya yang merupakan kelompok yang dipercaya oleh masyarakat. Contoh petugas kesehatan memberikan keteladanan dengan melakukan cuci tangan sebelum makan, atau selalu minum air yang sudah dimasak.

Ketiga faktor penyebab tersebut di atas dipengaruhi oleh faktor penyuluhan dan faktor kebijakan. peraturan serta organisasi. Semua faktor faktor tersebut merupakan ruang lingkup promosi kesehatan. Faktor lingkungan adalah segala faktor bail: fisik. biologis maupun sosial budaya yang langsung atau tidak langsung dapat mempengaruhi derajat kesehatan.

Promosi kesehatan adalah -proses memandirikan masyarakat agar dal memelihara dan meningkatkan kesehatannya (Ottawa Charter 1986).Prom kesehatan lebih menekankan pada lingkungan untuk terjadinya perubahan perilaku. Contohnya masyarakat dihimbau untuk membuang sampah di tempatnya, selanjutnya diterbitkan peraturan dilarang membuang sampah sembarangan. Himbauan dan peraturan tidak akan berjalan, apabila tidak diikuti dengan penyediaan fasilitas tempat sampah yang memadai.

Demikian penjelasan singkat mengenai precede proceed model yang dikaitkan dengan program PHBS. Selanjutnya sebelum melaksanakan langkah-langkah manajemen PHBS, terlebih dahulu dilakukan kegiatan persiapan yang meliputi :
1. Persiapan sumber daya manusia, tujuannya untuk meningkatkan pemahaman dan komitmen pengelola program Promkes, bentuk kegiatanya yaitu :
a. Pemantapan program PHBS bagi pengelola program Promkes (internal)
b. Sosialisasi dan advokasi kepada para pengambil keputusan
c. Pertemuan lintas program dan pertemuan lintas sektor
d. Pelatihan PHBS
e. Lokakarya PHBS
f. Pertemuan koordinasi dengan memanfaatkan forum yang sudah benjalan baik resmi maupun tidak resmi.

2. Persiapan teknis dan administratif, tujuannya untuk mengidentifikasi kebutuhan sarana baik jumlah, jenis maupun sumbernya serta dana yang, diperlukan.
Persiapan administrasi, dilakukan melalui :
a. Surat menyurat, membuat surat undangan, dll.
b. Penyediaan ATK, transportasi, AVA, dana, dll.
c. Pencatatan dan pelaporan.
d. Pemantauan.

Tujuan pengkajian adalah untuk mempelajari, menganalisis dan merumuskan masalah perilaku yang berkaitan dengan PHBS. Kegiatan pengkajian meliputi pengkajian PHBS secara kuantitatif, pengkajian PHBS secara kualitatif dan pengkajian sumber daya (dana, sarana dan tenaga)
1. Pengkajian masalah PHBS secara kuantitatif. Langkah-langkah kegiatan sebagai berikut :
a. Pengumpulan Data Sekunder
Kegiatan ini meliputi data perilaku dan bukan perilaku yang berkaitan dengan 5 program prioritas yaitu KIA, Gizi, Kesehatan lingkungan, gaya hidup, dan JPKM dan data lainnya sesuai dengan kebutuhan daerah. Data tersebut dapat dipefoleh dari Puskesmas, Rumah Sakit dan sarana pelayanan kesehatan lainnya. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif sebagai informasi pendukung untuk memperkuat permasalahan PHBS yang ditemukan di lapangan. Selanjutnya dibuat simpulan hasil analisis data sekunder tersebut.

Hasil yang diharapkan pada tahap pengkajian ini adalah :

  • Teridentifikasinya masalah perilaku kesehatan di wilayah tertentu
  • Dikembangkannya pemetaan PHBS pertatanan
  • Teridentifikasinya masalah lain yang berkaitan (masalah kesehatan, faktor penyebab perilaku, masalah pelaksanaan dan sumber daya penyuluhan, masalah kebijakan, administrasi, organisasi.
  • Dan lain-lain.


b. Cara Pengambilan Sampel PHBS Tatanan Rumah Tangga
Dalam melaksanakan pengumpulan data perilaku sehat di tatanan rnunah tangaa secara keseluruhan terlalu berat untuk dilaksanakan, hal ini disebabkan karena keterbatasan dana, waktu dan sumber daya yang ada. Untuk mengatasi hal tersebut perlu diambil sampel yang dapat mewakili populasi. Metoda Pengambilan sampel perilaku sehat di tatanan nunah tangga adalah dengan rapid survai atau survai cepat (terlampir). Sedangkan untuk tatanan lainnya dapat dilakukan keseluruh populasi. Berikut ini cara pengambilan sampel tatanan rumah tangga di tingkat kabupaten/kota.

Di tingkat kabupaten/kota kluster dapat disetarakan dengan kelurahan atau desa. Ada 2 tahapan kluster yang digunakan untuk tatanan rumah tangga, tahap pertama dapat dipilih sejumlah kluster (kelurahan /desa), tahap kedua ditentukan rumah tangganya. Langkah-langkah cara pengambilan sampel tatanan rumah tangga :
Langkah 1 : List kecamatan yang ada di wilayah Kabupaten
Langkah 2 : Tulis jumlah desa yang berada pada masingmasing kecamatan
Langkah 3 : Beri nomor urut desa mulai no 1 sampai terakhir
Langkah 4 : Hitung interval desa dengan cara total desa / 30 = X
Langkah 5 : Tentukan nomor Muster pertama desa. dengan mengundi nomor unit desa.
Selanj utnya desa kedua dapat ditentukan dengan menambahkan interval. Demikian seterusnya hingga diperoleh 30 kluster.
Langkah 6 : Dan desa yang terpilih diambil secara acak 7 rumah tangga.

c. Analisis dan Pemetaan PHBS
Berdasarkan hasil pendataan, data tersebut diolah dan dianalisis dengan cara manual atau dengan menggunakan program EPI INFO. Selanjutnya dapat dibuat pemetaan nilai IPKS (Indeks Potensi Keluarga Sehat) dan nilai PHBS sehat I, sehat II. sehat III dan sehat IV. Berdasarkan hasil pemetaan, diharapkan semua masalah PHBS dapat diintervensi dengan tepat dan terarah.

Pemetaan ini berguna sebagai potret untuk mengetahui permasalahan yang ada di masyarakat dan memotivasi pengelola program untuk meningkatkan klasifikasi PHBS. Diharapkan masyarakat yang bersangkutan, lintas sektor. LSM peduli kesehatan, swasta khususnya Pemda kabupaten / kota dan TP PKK mempunyai komitmen untuk mendukung PHBS. Berdasarkan kajian perilaku dan pemetaan wilayah, maka dihasilkan Pemetaan PHBS, ditentukan prioritas masalah perilaku kesehatan, dan ditentukan alternatif intervensi penyuluhan.

d. Menentukan Prioritas Masalah
Berdasarkan rumusan masalah yang ada kemudian dilakukan analisis yang akan menjadi dasar pembuatan rencana intervensi. Caranya dengan memberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan dibawah ini :
  • Dari masalah yang ada mana yang dapat dipecahkan dengan mudah ?
  • Mengapa terjadi demikian ?
  • Bagaimana penanggulangannya ?
  • Apa-rencana tindakannya ?
  • Berapa sumber dana yang tersedia ?
  • Siapa yang mengerjakan ?
  • Berapa lama mengerjakannya ?
  • Bagaimanakah jadwal kegiatan pelaksanaannya ?
Selanjutnya dilakukan strategi komunikasi PHBS, yang meliputi antara lain pesan dan media yang akan dikembangkan, metode apa saja yang digunakan. pelatihan yang perlu dilaksanakan dan menginventarisasi sektor mana saja yang dapat mendukung PHBS.

2. Pengkajian PHBS secara kualitatif
Setelah ditentukan prioritas masalah perilaku, selanjutnya dilakukan pengkajian kualitatif Tujuannya untuk memperoleh informasi yang lebih mendalam tentang kebiasaan, kepercayaan, sikap, norma, budaya perilaku masyarakat yang tidak terungkap dalam kajian kuantitatif PHBS. Ada dua metoda untuk melakukan pengkajian PHBS secara kualitatif, yaitu :

a. Diskusi Kelompok Terarah (DKT).
b. Wawancara Perorangan Mendalam (WPM).

Untuk lebih jelasnya diuraikan sebagai berikut :
a. DISKUSI KELOMPOK TERARAH, adalah diskusi informal bersama 6 s/d 10 orang, tujuannya untuk mengungkapkan infonnasi yang lebih mendalam tentang masalah perilaku PHBS. Dalam diskusi kelompok terarah ini diperlukan seorang pemandu yang terampil mendorong orang untuk saling bicara dan memperoleh pemahaman tentang perasaan dan pikiran peserta yang hadir terhadap masalah tertentu.
Melibatkan dan memberikan kebebasan peserta untuk mengungkapkan pendapat dan perasaannya.
Memperoleh informasi tentang nilai-nilai kepercayaan dan perilaku seseorang yang mungkin tidak terungkap melalui wawancara biasa.

b. WAWANCARA PERORANGAN MENDALAM , adalah wawanncara antara pewancara yang trampil dengan perorangan selaku sumber informasi kunci, melalui serangkaian tanyajavvab (dialog) yang bersifat terbuka dan mendalam. Dalam Wawancara Perprangan Mendalam ini pewawancara adalah seorang yang terampil dalam menggali informasi secara mendalam tentang perasaan dan pikiran tentang masalah tertentu.
Sumber informasi kunci adalah peserta wawancara yang dianggap mampu dan dipandang menguasai informasi tentang masalah tertentu. Tanya jawab dilakukan secara terbuka dan mendalam

3. Pengkajian sumber daya (dana, tenaga dan sarana)
Pengkajian sumber daya dilakukan mark mendukung pelaksanaan program PHBS, bentuk kegiatannya :

  • a. Kajian tenaga pelaksana PHBS, secara kuantitas (jumlah) dan pelatihan yang pernah diikuti oleh lintas program maupun lintas sektor.
  • b. Penjajagan dana yang tersedia di lintas program dan lintas sektoral dalam jurnlah dan sumbernya.
  • c. Penjajagan jenis media dan sarana yang dibutuhkan dalam jumlah dan sumbernya.

Tahap Perencanaan.
Penyusunan rencana kegiatan PHBS gunanya untuk menentukan tujuan, dan strategi komunikasi PHBS Adapun langkah-langkah perencanaan sebagai berikut :
1. MenentukanTujuan
Berdasarkan kegiatan pengkaj ian PHB S dapat ditentukan klasifikasi PHBS wilayah maupun klasifikasi PHBS tatanan, maka dapat ditentukan masalah perilaku kesehatan masyarakat di tiap tatanan dan wilayah. Selanjutnya berdasarkan masalah perilaku kesehatan dan hash pengkajian sumber daya PKM. ditentukan tujuan yang akan dicapai untuk mengatasi masalah PHBS yang ditemukan. Contoh hasil pengkajian PHBS secara kuantitatifditemukan masalah merokok pada tatanan rumah tangga, maka ditentukan tujuannya. Tujuan Umum : Menurunkan prosentase keluarga yang tidak merokok selama satu tahun. Tujuan Khusus : Menunuikan prosentase tatanan rumah tangga yang merokok. dari 40% menjadi 20%.

2. Menentukan jenis kegiatan intervensi
Setelah ditentukan tujuan, selanjutnya ditentukan jenis kegiatan Intervensi yang akan dilakukan. Caranya adalah dengan mengembangkan berbagai alternatif intervensi, kemudian dipilih intervensi mana yang bisa dilakukan. dengan dikaitkan pada ketersediaan sumber daya. Penentuan kegiatan intervensi terpilih didasarkan pada :

  • Prioritas masalah PHBS, yaitu dengan memilih topik penyuluhan yang sesuai dengan urutan masalah PHBS.
  • Wilayah garapan, yaitu mengutamakan wilayah yang mempunyai PHBS hasil kajian rendah.
  • Penentuan tatanan yang akan diintervensi , yaitu menentukan tatanan yang akan digarap, baik secara menyeluruh atau sebatas pada tatanan tertentu. Kemudian secara bertahap dikembangkan ke tatanan lain.
  • Penentuan satu jenis sasaran untuk tiap tatanan, yaitu mengembangkan PHBS pada tiap tatanan, tetapi hanya satu jenis sasaran untuk tiap tatanan. Misalnya, satu unit tatanan sekolah. satu unit pasar untuk tatanan tempat umum, satu unit industri rumah tangga untuk tatanan tempat kerja. Rumusan rencana kegiatan intervensi terpilih pada intinya menipakan operasionalisasi strategi PHBS, yaitu :

Advokasi. kegiatan pendekatan pada para tokoh / pimpinan Wilayah.
Bina Suasana. kegiatan mempersiapkan kerjasama lintas pro Gram. limas sektor. organisasi kemasyarakatan. LSM. dunia usaha. swasta dan lain-lain.

Gerakan masyarakat, merupakan kegiatan mempersiapkan dan menggerakkan sumber daya. mulai mempersiapkan petugas. pengadaan media dan sarana.

Kegiatan ini secara komprehensif harus ada dalam perencanaan, namun untuk menentukan kegiatan apa yang lebih besar daya ungkitnya ditentukan dari hasil pengkajian. Contoh, dari hasil pengkaj ian diperoleh data bahwa masih banyak keluarga yang membuang sampah sembarangan. Setelah dilakukan analisis data kualitatif melalui FGD ternyata penyebabnya adalah tidak adanya tempat sampah. Pada situasi ini kegiatan yang bernuansa bina suasana akan lebih banyak porsinya dibanding dengan kegiatan lainnya, Contoh lain, dari hasil pengkaj ian diperoleh data bahwa masih banyak keluarga yang tidak memeriksakan kehamilannya. Setelah dilakukari analisis kualitatif, diperoleh kesimpulan bahwa mereka tidak mengerti manfaat pemeriksaan kehamilan. Kondisi seperti ini kegiatan gerakan masyarakat akan lebih banyak dilakukan dibanding kegiatan lainnya. Serangkaian altematif lain yang dapat dikembangkan berdasarkan hasil pengkajian PHBS adalah :

  • Rancangan intervensi penyuluhan massa dan kelompok. Penyuhan massa dilakukan dengan topik umum, yaitu PHBS yang secara keseluruhan merupakan masalah di wilayah kerj a tersebut. Penyuluhan kelompok dilakukan untuk mengatasi masalah PHBS yang lokal sifatnya
  • Rancangan intenvensi penyuluhan terpadu lintas program/sektor. Pemetaan wilayah menghasilkan rumusan masalah PHBS antar wilayah, sehingga bisa dirancang " Paket Penyuluhan Terpadu " di vvilayah tersebut Misal : di desa A terdapat 3 masalah utama. yaitu JPKM. Air bersih dan KIA/KB . maka dapat dilakukan penyuluhan terpadu yang berisi 3 hal tersebut. Disini petugas kesehatan berfungsi sebagai penggerak lintas prograpi dan lintas sektor. untuk selanjutnya bersama-sama melaksanakan penyuluhan diwilayah tersebut.


Tahap Perencanaan.
1. Advokasi (Pendekatan pada para pengambil keputusan)
Ditingkat keluarga/rumah tangga, strategi ini ditujukan kepada para kepala keluarga/ bapak/suami, ibu, kakek, nenek. Tuiuannya agar para pengambil keputusan di tingkat keluarga/nunah tangga dapat meneladani dalam berperilaku sehat. memberikan dukungan, kemudahan, pengayoman dan bimbingan kepada anggota keluarga dan lingkungan disekitarnya. Ditingkat petugas, strategi ini ditujukan kepada para pimpinan atau pengambil keputusan, seperti Kepala Puskesmas, pejabat di tingkat kabupaten/kota, yang secara fungsional maupun struktural pembina program kesehatan di wilayahnya.

Tujuannya adalah agar para pimpinan atau pengambil keputusan mengupayakan kebijakan, program atau peraturan yang berorientasi sehat, seperti adanya peraturan tertulis, dukungan dana, komitmen, termasuk memberikan keteladanan. Langkah-langkah Advokasi dapat dilihat sebagai berikut :

  • Tentukan sasaran yang akan diadvokasi, baik sasaran primer, sekunder atau tersier
  • Siapkan informasi data kesehatan yang menyangkut PHBS di 5 tatanan.
  • Tentukan kesepakatan dimana dan kapan dilakukan advokasi.
  • Lakukan advokasi dengan cara yang menarik dengan menggunakan teknik dan metoda yang tepat.
  • Simpulkan dan sepakati hasil advokasi.
  • Buat ringkasan eksekutif dan sebarluaskan kepada sasaran.

2. Mengembangkan Dukungan Suana
Di tingkat keluarga/RT, strategi ini ditujukan kepada para kepala keluarga/suami/bapaL ibu. kakek. nenek. dan lain-lain.Tujuannva adalah agar kelompok ini dapat mengembangkan atau menciptakan suasana yang mendukung dilaksahakannva PHBS di lingkungan keluarga. Caranya antara lain melalui anjuran untuk selalu datang ke Posyandu mengingatkan anggota keluarga untuk tidak merokok di dekat ibu hamil dan balita. Di tingkat petugas, strategi ini ditujukan kepada kelompok sasar sekunder, seperti petugas kesehatan, kader, lintas sektor, lintas progra Lembaga Swadaya Masyarakat, yang peduli kesehatan, para pembuat op dan media masa. Tujuannya adalah agar kelompok ini dapat mengembangkan atau menciptakan suasana yang mendukung dilaksanakannya PHBS. Caranya antara lain melalui penyuluhan kelompok, lokakarya, semin studi banding, pelatihan, dan sebagainya.

Langkah-langkah Pengembangan Dukungan Suasana :

  • Menganalisis dan mendesain metode dan teknik kegiatan dukungan suasana, seperti : demonstrasi, pelatihan, sosialisasi, orientasi.
  • Mengupayakan dukungan pimpinan, program, sektor terkait pada tiap tatanan dalam bentuk adanya komitmen, dan dukungan sumber daya.
  • Mengembangkan metoda dan teknik dan media yang telah diuji coba dan disempurnakan.Membuat format penilaian dan menilai hasil kegiatan.

3. Gerakan Masyarakat.
Di tingkat keluarga/Rt, strategi ini ditujukan kepada anggota keluar seperti bapak, ibu yang mempunyai tanggung jawab sosial untuk lingkungannya dengan cara menjadi kader posyandu, aktif di LSM peduli kesehatan dll. Tujuannya agar kelompok sasaran meningkat pengetahuannya kesadaran maupun kemampuannya, sehingga dapat berperilaku sehat Caranya dengan penyuluhan perorangan. kelompok, membuat gerak Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Ditingkat petugas strateai ini ditujuk kepada sasaran primer. meliputi pimpinan puskesmas. kepala din kesehatan, pemuka masyarakat. Tujuannya meningkatkan motivasipetuq untuk membantu masyarakat untuk menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan Caranva antara lain melalui penyuluhan kelompok, lokakarya, seminar, studi banding, pelatihan, dan lain-lain.

Langkah-langkah kegiatan gerakan masyarakat adalah sebagai berilut :

  1. Peningkatan pengetahuan masyarakat melalui berbagai kegiat pembinaan.
  2. Menganalisis dan mendisain metode dan teknik kegiatan pemberdaya seperti pelatihan, pengembangan media komunikasi untuk penyuluh individu, kelompok dan massa, lomba, sarasehan dan lokakarya.
  3. Mengupayakan dukungan pimpinan, program, sektor terkait pada ti tatanan dalam bentuk komitmen dan sumber daya.
  4. Mengembanakan metoda dan teknik dan media yang telah diujicoba d disempurnakan.
  5. Membuat format pen] laian dan menilai hasil kegiatan bersama-sama deng; lintas program dan lintas sektor pada tatanan terkait.
  6. Menyusun laporan serta menyajikannya dalam bentuk tertulis (ringkasan, eksekutif).

Berdasarkan uraian tersebut, maka yang perlu dilakukan dalam penggerak; pelaksanaan adalah menerapkan AIC, yaitu :

  • A (Apreciation) : penghargaan kepada para pelaksana kegiatan.
  • I (Involvement) : keterlibatan para pelaksana dalam tugasnya.
  • C (Commitment) : kesepakatan para pelaksana untuk melaksanakan, tugasnya.

Hasil yang dicapai dalam tahap penggerakan pelaksanaan adalah adanya kegiatan yang dilaksanakan sesuai rencana, khususnya dalam :

  1. Penyuluhan perorangan, kelompok dan masyarakat
  2. Kegiatan pengembangan kemitraan dengan program dan sektot terkait serta dunia usaha.
  3. Kegiatan pendekatan kepada pimpinan/pengambil keputusan Kegiatan pembinaan, bimbingan dan supervisi.
  4. Mengembangkan daerah kajian atau daerah binaan.
  5. Melaksanakan pelatihan, baik untuk petugas kesehatan, lintas sektor. organisasi kemasyarakatan dan kelompok profesi.
  6. Mengembangkan pesan dan media spesifik.
  7. Melaksanakan uji coba media dll.

E. Tahap Pemantauan dan Penilaian

  1. Pemantauan - Untuk mengetahui program PHBS telah berjalan dan memberikan hasil atau dampak seperti yang diharapkan, maka perlu dilakukan pemantauan. Waktu pemantauan dapat dilakukan secara berkala atau pada pertemuan bulanan, topik bahasannya adalah kegiatan yang telah dan akan dilaksanakan dikaitkan dengan jadwal kegiatan yang telah disepakati bersama. Selanjutnya kendala-kendala yang muncul perlu dibahas dan dicari solusinya. Cara pemantauan dapat dilaksanakan dengan melakukan kunjungan lapangan ke tiap tatanan atau dengan melihat buku kegiatan/laporan kegiatan intervensi penyuluhan PHBS.
  2. Penilaian - Penilaian dilakukan dengan menggunakan instrumen yang sudah dirancang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Penilaian dilaksanakan oleh pengelola PHBS lintas program dan lintas sektor. Penilaian PHBS meliputi masukan, proses dan luaran kegiatan. Misalnya jumlah tenaga terlatih PHBS media yang telah dikembangkan, frekuensi dan cakupan penyuluhan. Waktu penilaian dapat dilakukan pada setiap tahun atau setiap dua tahun Caranya dengan membandingkan data dasar PHBS dibandingkan dengan data PHBS hasil evaluasi selanjutnya menilai kecenderungan masing-masing indikator apakah mengalami peningkatan atau penurunan, mengkaji penyebab masalah dan melakukan pemecahannya, kemudian merencanakan intervensi berdasarkan data hasil evaluasi PHBS.

Cara melakukan penilaian melalui :

  • Pengkajian ulang tentang PHBS
  • Menganalisis data PHBS oleh kader/koordinator PHBS
  • Melakukan analisis laporan rutin di Dinas Kesehatan kabupaten/kota (SP2TP)
  • Observasi. wawancara mendalam. diskusi kelompok terarah kepada petugas, kader dan keluarga.


5:47 AM | 0 comments | Read More
 
berita unik