Blog Kesmas

happu diet photo Diets250x150.gif

Inspeksi Sanitasi

Weight Loss Diet

Update Tablet

info-ponselhp photo InfoHOFlash_zpsc6939bc5.gif

Public Health Blog

daftar isi sanitasi photo DAFTARISIBLOG2.gif
Showing posts with label Kebijakan Kesehatan. Show all posts
Showing posts with label Kebijakan Kesehatan. Show all posts

Aspek Lingkungan Remaja

Written By Lumajangtopic on Wednesday, November 11, 2015 | 1:51 AM

Aspek Lingkungan dan Permasalahan Remaja

Masa remaja seringkali dihubungkan dengan mitos dan stereotip mengenai penyimpangan dan tidakwajaran. Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya teori-teori perkembangan yang membahas ketidakselarasan, gangguan emosi dan gangguan perilaku sebagai akibat dari tekanan-tekanan yang dialami remaja karena perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya maupun akibat perubahan lingkungan.

Sejalan dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam diri remaja, mereka juga dihadapkan pada tugas-tugas yang berbeda dari tugas pada masa kanak-kanak. Sebagaimana diketahui, dalam setiap fase perkembangan, termasuk pada masa remaja, individu memiliki tugas-tugas perkembangan yang harus dipenuhi. Apabila tugas-tugas tersebut berhasil diselesaikan dengan baik, maka akan tercapai kepuasan, kebahagian dan penerimaan dari lingkungan. Keberhasilan individu memenuhi tugas-tugas itu juga akan menentukan keberhasilan individu memenuhi tugas-tugas perkembangan pada fase berikutnya.

Hurlock (1973) memberi batasan masa remaja berdasarkan usia kronologis, yaitu antara 13 hingga 18 tahun. Menurut Thornburgh (1982), batasan usia tersebut adalah batasan tradisional, sedangkan alran kontemporer membatasi usia remaja antara 11 hingga 22 tahun.

Perubahan sosial seperti adanya kecenderungan anak-anak pra-remaja untuk berperilaku sebagaimana yang ditunjukan remaja membuat penganut aliran kontemporer memasukan mereka  dalam kategori remaja. Adanya peningkatan kecenderungan para remaja untuk melanjutkan sekolah atau mengikuti pelatihan kerja (magang) setamat SLTA, membuat individu yang berusia 19 hingga 22 tahun juga dimasukan dalam golongan remaja, dengan pertimbangan bahwa pembentukan identitas diri remaja masih terus berlangsung sepanjang rentang usia tersebut.

Lebih lanjut Thornburgh membagi usia remaja menjadi tiga kelompok, yaitu:

  1. Remaja awal : antara 11 hingga 13 tahun
  2. Remaja pertengahan: antara 14 hingga 16 tahun
  3. Remaja akhir: antara 17 hingga 19 tahun.

Pada usia tersebut, tugas-tugas perkembangan yang harus dipenuhi adalah sebagai berikut:

  1. Mencapai hubungan yang baru dan lebih masak dengan teman sebaya baik sesama jenis maupun lawan jenis
  2. Mencapai peran sosial maskulin dan feminin
  3. Menerima keadaan fisik dan dapat mempergunakannya secara efektif
  4. Mencapai kemandirian secara emosional dari orangtua dan orang dewasa lainnya
  5. Mencapai kepastian untuk mandiri secara ekonomi
  6. Memilih pekerjaan dan mempersiapkan diri untuk bekerja
  7. Mempersiapkan diri untuk memasuki perkawinan dan kehidupan keluarga
  8. Mengembangkan kemampuan dan konsep-konsep intelektual untuk tercapainya kompetensi sebagai warga negara
  9. Menginginkan dan mencapai perilaku yang dapat dipertanggungjawabkan secara sosial
  10. Memperoleh rangkaian sistem nilai dan etika sebagai pedoman perilaku (Havighurst dalam Hurlock, 1973).

Tidak semua remaja dapat memenuhi tugas-tugas tersebut dengan baik. Menurut Hurlock (1973) ada beberapa masalah yang dialami remaja dalam memenuhi tugas-tugas tersebut, yaitu:

  1. Masalah pribadi, yaitu masalah-masalah yang berhubungan dengan situasi dan kondisi di rumah, sekolah, kondisi fisik, penampilan, emosi, penyesuaian sosial, tugas dan nilai-nilai.
  2. Masalah khas remaja, yaitu masalah yang timbul akibat status yang tidak jelas pada remaja, seperti masalah pencapaian kemandirian, kesalahpahaman atau penilaian berdasarkan stereotip yang keliru, adanya hak-hak yang lebih besar dan lebih sedikit kewajiban dibebankan oleh orangtua.



Bellak (dalam Fuhrmann, 1990) secara khusus membahas pengaruh tekanan media terhadap perkembangan remaja. Menurutnya, remaja masa kini dihadapkan pada lingkungan dimana segala sesuatu berubah sangat cepat. Mereka dibanjiri oleh informasi yang terlalu banyak dan terlalu cepat untuk diserap dan dimengerti. Semuanya terus bertumpuk hingga mencapai apa yang disebut information overload. Akibatnya timbul perasaan terasing, keputusasaan, absurditas, problem identitas dan masalah-masalah yang berhubungan dengan benturan budaya.

Tugas-tugas perkembangan pada masa remaja yang disertai oleh berkembangnya kapasitas intelektual, stres dan harapan-harapan baru yang dialami remaja membuat mereka mudah mengalami gangguan baik berupa gangguan pikiran, perasaan maupun gangguan perilaku. Stres, kesedihan, kecemasan, kesepian, keraguan pada diri remaja membuat mereka mengambil resiko dengan melakukan kenakalan (Fuhrmann, 1990).

Uraian di atas memberikan gambaran betapa majemuknya masalah yang dialami remaja masa kini. Tekanan-tekanan sebagai akibat perkembangan fisiologis pada masa remaja, ditambah dengan tekanan akibat perubahan kondisi sosial budaya serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat seringkali mengakibatkan timbulnya masalah-masalah psikologis berupa gangguan penyesuaian diri atau ganguan perilaku. Beberapa bentuk gangguan perilaku ini dapat digolongkan dalam delinkuensi.

Perkembangan pada remaja merupakan proses untuk mencapaikemasakan dalam berbagai aspek sampai tercapainya tingkat kedewasaan. Proses ini adalah sebuah proses yang memperlihatkan hubungan erat antara perkembangan aspek fisik dengan psikis pada remaja.

1.    Perkembangan fisik remaja

Menurut Imran (1998) masa remaja diawali dengan masa pubertas, yaitu masa terjadinya perubahan-perubahan fisik (meliputi penampilan fisik seperti bentuk tubuh dan proporsi tubuh) dan fungsi fisiologis (kematangan organ-organ seksual). Perubahan fisik yang terjadi pada masa pubertas ini merupakan peristiwa yang paling penting, berlangsung cepat, drastis, tidak beraturan dan terjadi pada sisitem reproduksi. Hormon-hormon mulai diproduksi dan mempengaruhi organreproduksi untuk memulai siklus reproduksi serta mempengaruhi terjadinya perubahan tubuh. Perubahan tubuh ini disertai dengan perkembangan bertahap dari karakteristik seksual primer dan karakteristik seksual sekunder. Karakteristik seksual primer mencakup perkembangan organ-organ reproduksi, sedangkan karakteristik seksual sekunder mencakup perubahan dalam bentuk tubuh sesuai dengan jenis kelamin misalnya, pada remaja putri ditandai dengan menarche (menstruasi pertama), tumbuhnya rambut-rambut pubis, pembesaran buah dada, pinggul, sedangkan pada remaja putra mengalami pollutio (mimpi basah pertama), pembesaran suara, tumbuh rambut-rambut pubis, tumbuh rambut pada bagian tertentu seperti di dada, di kaki, kumis dan sebagainya.

Menurut Mussen dkk., (1979) sekitar dua tahun pertumbuhan berat dan tinggi badan mengikuti perkembangan kematangan seksual remaja. Anak remaja putri mulai mengalami pertumbuhan tubuh pada usia rata-rata 8-9 tahun, dan mengalami menarche rata-rata pada usia 12 tahun. Pada anak remaja putra mulai menunjukan perubahan tubuh pada usia sekitar 10-11 tahun, sedangkan perubahan suara terjadi pada usia 13 tahun (Katchadurian, 1989). Penyebab terjadi makin awalnya tanda-tanda pertumbuhan ini diperkirakan karena faktor gizi yang semakin baik, rangsangan dari lingkungan, iklim, dan faktor sosio-ekonomi (Sarwono, dalam JEN, 1998).

Pada masa pubertas, hormon-hormon yang mulai berfungsi selain menyebabkan perubahan fisik/tubuh juga mempengaruhi dorongan seks remaja. Menurut Bourgeois dan Wolfish (1994) remaja mulai merasakan dengan jelas meningkatnya dorongan seks dalam dirinya, misalnya muncul ketertarikan dengan orang lain dan keinginan untuk mendapatkan kepuasan seksual.

Selama masa remaja, perubahan tubuh ini akan semakin mencapai keseimbangan yang sifatnya individual. Di akhir masa remaja, ukuran tubuh remaja sudah mencapai bentuk akhirnya dan sistem reproduksi sudah mencapai kematangan secara fisiologis, sebelum akhirnya nanti mengalami penurunan fungsi pada saat awal masa lanjut usia (Myles dkk, 1993). Sebagai akibat proses kematangan sistem reproduksi ini, seorang remaja sudah dapat menjalankan fungsi prokreasinya, artinya sudah dapat mempunyai keturunan. Meskipun demikian, hal ini tidak berarti bahwa remaja sudah mampu bereproduksi dengan aman secara fisik. Menurut PKBI (1984) secara fisik, usia reproduksi sehat untuk wanita adalah antara 20 – 30 tahun. Faktor yang mempengaruhinya ada bermacam-macam. Misalnya, sebelum wanita berusia 20 tahun secar fisik kondisi organ reproduksi seperti rahim belum cukup siap untuk memelihara hasil pembuahan dan pengembangan janin. Selain itu, secara mental pada umur ini wanita belum cukup matang dan dewasa. Sampoerno dan Azwar (1987) menambahkan bahwa perawatan pra-natal pada calon ibu muda usia biasanya kurang baik karena rendahnya pengetahuan dan rasa malu untuk datang memeriksakan diri ke pusat pelayanan kesehatan.

2.    Perkembangan Psikis Remaja

Ketika memasuki masa pubertas, setiap anak telah mempunyai sistem kepribadian yang merupakan pembentukan dari perkembangan selama ini. Di luar sistem kepribadian anak seperti perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi, pengaruh media massa, keluarga, sekolah, teman sebaya, budaya, agama, nilai dan norma masyarakat tidak dapat diabaikan dalam proses pembentukan kepribadian tersebut. Pada masa remaja, seringkali berbagai faktor penunjang ini dapat saling mendukung dan dapat saling berbenturan nilai.
1:51 AM | 0 comments | Read More

Sanitasi Lingkungan Terminal

Written By Lumajangtopic on Friday, March 21, 2014 | 7:53 PM


Aspek-Aspek Pengukuran Kinerja Terminal 

Kajian efisiensi pelayanan pada terminal dapat digunakan pendekatan demand side, yaitu pendekatan yang menitikberatkan pencapaian layanan terminal pada moda transportasi dan penumpang. Pengukuran dan proyeksi kinerja terminal dapat digunakan berbagai basis fungsi tujuan pencapaian tujuan, kenyamanan, murah dan layak. Pengukuran kemanfaatan terminal dalam proses perkembangannya, ditinjau dari perkembangan lingkungan, perkembangan transportasi dan ekonomi masyarakat. Selain dengan data langsung yang berkaitan dengan terminal, efisiensi atau kemampuan layanan sebuah terminal dapat diukur dari beberapa variable antara lain :
  1. Biaya dan waktu transport (cost and timeliness of transport)
  2. Demand transport.
  3. Compliance cost.
  4. Energy cost saving, and
  5. City cost transport efficiency.
Kelayakan sebuah terminal ditinjau dari aspek manajemen strategic yaitu “key success factors” antara lain mencakup (Surface Transportation, Anonim, 2004) :
  1. Meningkatkan keselamatan dan keamanan system transportasi untuk pengendara kendaraan bermotor ataupun bukan.
  2. Meningkatkan aksesabilitas dan pilihan moda dan jurusan.
  3. Meningkatkan dan melindungi lingkungan, meningkatkan penghematan BBM, dan meningkatkan kualitas hidup.
  4. Meningkatkan konektivitas system transportasi, antar wilayah, antar moda maupun transit manusia dan barang.
  5. Mengurangi / memecah kemacetan lalu-lintas dengan memberikan fasilitas lebih baik kepada kendaraan umum.
  6. Mendukung kebijakan transportasi, tata guna lahan dan pekembangan wilayah.
  7. Mendukung pencapaian / konektivitas (accessability and connectivity) area, maupun jaringan transportasi yang sedang / akan dibangun.
Pembangunan dan perkembangan sebuah terminal ataupun system jaringan transportasi selalu memerlukan monitoring dan pengkajian yang sustainable untuk keperluan pengembangan ataupun keperluan menyesuaikan / penyempurnaan manajemen dan infrastruktur. Penyempurnaan dan penyesuaian ini diperlukan karena adanya perkembangan tuntutan dan perkembangan lingkungan. Menurut Omar Hassan (2001) penyempurnaan sebuah project dimaksudkan agar sesuai / selaras (match) dengan anggaran,pencapaian criteria dan kondisi lingkungan yang berkembang. Sedangkan kebijakan-kebijakan yang perlu diambil mencakup : penyempurnaan organisasi yang “ramping” dan efisien; peningkatan kemampuan layanan; pencapaian tujuan secara konsisten di tengah berbagai perubahan.

Berbagai issue strategis yang menjadi bahan pembahasan internasional pada kajian tentang infrastruktur transportasi (Anonim, 2002, Conference Territorial Development Policy : The Role of Infrastructures) :
  • pilihan-pilihan infrastruktur;
  • hubungan antara wilayah pedesaan dan perkotaan;
  • pengembangan infrastruktur untuk merangsang factor endogen wilayah;
  • kendala pembangunan dan pengembangan infrastruktur;
  • peran lembaga swasta dalam infrastruktur system transportasi.
Pengukuran Kinerja Terminal

Berdasarkan basis pendekatan manajemen transportasi, Tridib Banerjee dan Deepak Bahl et. al. (2005) menentukan faktor penting untuk dikaji berdasarkan “transit user perception” adalah sebagai berikut :
  1. Penggunaan dan aktivitas yang tertampung saat ini dan harapan-harapannya di masa mendatang. Harapan ini berkaitan dengan peningkatan kegiatan dan kehidupan masyarakat sehubungan dengan penyediaan jasa transportasi.
  2. Kenyamanan dan kesan positif. Terminal sebagai unit pusat transportasi diukur menurut persepsi pengguna (stakeholder) pada aspek keamanan, kebersihan dan daya tarik.
  3. Kemudahan pencapaian dan keterkaitan (access and linkage) pusat transportasi mampu mengakomodasi dan menjawab tantangan permasalahan dalam sikap, kaidah dasar transportasi (pedoman),permasalahan aksesabilitas, dan peluang serta ancaman di masa depan.
  4. Terminal sebagai pusat pelayanan transportasi harus mampu mengintegrasikan berbagai aktivitas masyarakat dan sosialisasi masyarakat yang ada di dalam dan sekitar terminal
7:53 PM | 0 comments | Read More

Teori Sikap dan Perilaku

Written By Lumajangtopic on Friday, March 29, 2013 | 12:07 AM

Berbagai Teori Tentang Sikap dan Perilaku Menurut Beberapa Referensi
 

Pengertian perilaku

Menurut Green dan Kreuter (2000), perilaku merupakan hasil dari seluruh pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungannya yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan. Perilaku dibentuk melalui suatu proses dan berlangsung dalam interaksi manusia dan lingkungan. Faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya perilaku dibedakan menjadi dua, yaitu faktor intern dan ekstern. Faktor intern mencakup pengetahuan, kecerdasan, emosi, inovasi. Faktor ekstern meliputi lingkungan sekitar, baik fisik maupun non fisik seperti iklim, sosial ekonomi, kebudayaan dan sebagainya.

Skinner (cit Notoatmodjo, 2005), menyatakan bahwa perilaku merupakan respons atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Oleh karena itu perilaku terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme dan kemudian organisme tersebut merespon, maka teori Skinner disebut teori ”S-O-R” atau Stimulus-Organism-Response. Berdasarkan teori S-O- R ini perilaku manusia dikelompokkan menjadi dua, yaitu :
  1. Perilaku tertutup (covert behaviour): Perilaku tertutup terjadi bila respon terhadap stimulus masih belum dapat diamati orang lain (dari luar) secara jelas. Respon seseorang masih terbatas dalam bentuk perhatian, perasaan, persepsi, pengetahuan dan sikap terhadap stimulus yang bersangkutan. Bentuk covert behaviour yang diukur adalah pengetahuan dan sikap.
  2. Perilaku terbuka (overt behaviour): Perilaku terbuka ini terjadi bila respon terhadap stimulus sudah berupa tindakan atau praktek yang dapat diamati orang dari luar. Perilaku adalah suatu fungsi dari interaksi antara individu dengan lingkungannya. Perilaku seseorang ditentukan oleh banyak faktor. Adakalanya perilaku seseorang dipengaruhi oleh kemampuannya, adapula karena kebutuhannya dan ada juga yang dipengaruhi oleh pengharapan dan lingkungannya (Thoha, 2005). Perilaku merupakan respon seseorang terhadap stimulus yang berasal dari dalam maupun luar dirinya. Respon ini dapat bersifat pasif atau tanpa tindakan seperti berpikir, berpendapat, bersikap maupun aktif atau melakukan tindakan (Sarwono, 2004).

Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku

Pengetahuan (knowledge)


Menurut Notoatmodjo (1993), pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung, telinga). Dengan sendirinya, pada waktu penginderaan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek. Sebagian besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui indera pendengaran dan penglihatan. Pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai intensitas atau tingkat yang berbeda-beda. Secara garis besar dibagi dalam enam tingkat pengetahuan, yaitu :

  1. Tahu (know): Tahu diartikan hanya sebagai recall (memanggil) memori yang telah ada sebelumnya setelah mengamati sesuatu.
  2. Memahami (comprehension): Memahami suatu objek bukan sekedar tahu terhadap objek tersebut, tidak sekedar dapat menyebutkan, tetapi orang tersebut harus dapat menginterpretasikan secara benar tentang objek yang diketahuinya tersebut.
  3. Aplikasi (application): Aplikasi diartikan apabila orang yang telah memahami objek yang dimaksud dapat menggunakan atau mengaplikasikan prinsip yang diketahui tersebut pada situasi yang lain.
  4. Analisis (analysis): Analisis adalah kemampuan seseorang menjabarkan dan atau memisahkan, kemudian mencari hubungan antara komponen - komponen yang terdapat dalam suatu masalah atau objek yang diketahui. Indikasi bahwa pengetahuan seseorang sudah sampai pada tingkat analisis adalah apabila orang tersebut telah dapat membedakan, memisahkan, mengelompokkan, membuat diagram (bagan) terhadap pengetahuan atas objek tersebut.
  5. Sintesis (synthesis): Sintesis menunjukkan suatu kemampuan seseorang untuk merangkum atau meletakkan adalam suatu hubungan yang logis dari komponen- komponen pengetahuan yang dimiliki. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi - formulasi yang telah ada.
  6. Evaluasi (evaluation): Evaluasi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu objek tertentu. Penilaian ini dengan sendirinya didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau norma-norma yang berlaku di masyarakat.

Pengetahuan merupakan hasil stimulasi informasi yang diperhatikan dan diingat. Informasi dapat berasal dari berbagai bentuk termasuk pendidikan formal/non formal, percakapan harian, membaca, mendengar radio, menonton televisi dan dari pengalaman hidup lainnya. Pengetahuan merupakan fungsi dari sikap. Menurut fungsi ini manusia mempunyai dorongan dasar untuk ingin tahu, untuk mencari penalaran dan untuk mengorganisir pengalamannya (Simon-Morton, 1995). Hasil penelitian Zaini (1998) menyebutkan bahwa faktor pengetahuan pada ibu rumah tangga mempengaruhi perilaku masyarakat dalam memberantas sarang nyamuk demam berdarah.

Teori Sikap (attitude)

Notoatmodjo (2005) berpendapat bahwa sikap merupakan reaksi yang masih tertutup, tidak dapat dilihat langsung. Sikap hanya dapat ditafsirkan pada perilaku yang nampak. Sikap dapat diterjemahkan dengan sikap terhadap objek tertentu diikuti dengan kecenderungan untuk melakukan tindakan sesuai dengan objek. Azwar (2005) mengatakan bahwa sikap yang diperoleh lewat pengalaman akan menimbulkan pengaruh langsung terhadap perilaku berikutnya. Pengaruh langsung tersebut lebih berupa predisposisi perilaku yang akan direalisasikan apabila kondisi dan situasi memungkinkan. Menurut Notoatmodjo (2005), sikap itu terdiri dari tiga komponen pokok yaitu :
  1. Kepercayaan atau keyakinan, ide dan konsep terhadap objek, artinya bagaimana keyakinan dan pendapat atau pemikiran seseorang terhadap objek.
  2. Kehidupan emosional atau evaluasi orang terhadap objek, artinya bagaimana penilaian (terkandung di dalam faktor emosi) orang tersebut terhadap objek.
  3. Kecenderungan untuk bertindak, artinya sikap merupakan komponen yang mendahului tindakan atau perilaku terbuka. Sikap adalah ancang-ancang untuk bertindak atau berperilaku terbuka.
Ketiga komponen tersebut secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh (total attitude). Dalam menentukan sikap yang utuh ini pengetahuan, pikiran, keyakinan dan emosi memegang peranan penting. Sikap

sosial terbentuk oleh adanya interaksi sosial yang dialami oleh individu. Dalam interaksi sosial terjadi hubungan yang saling mempengaruhi antara individu yang satu dengan individu yang lain. Dalam interaksi ini individu membentuk pola sikap tertentu terhadap objek psikologis yang dihadapinya.

Diantara berbagai faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap adalah pengalaman pribadi, kebudayaan orang lain yang dianggap penting, media massa, institusi atau lembaga pendidikan dan lembaga agama serta faktor emosi dari diri individu. Faktor-faktor tersebut dapat dibedakan menjadi faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi jenis kelamin, umur, pendidikan dan pengalaman. Faktor eksternal meliputi media massa, institusi pendidikan, institusi agama dan masyarakat (Azwar, 2005).

Tindakan atau praktek (practice)
Notoatmodjo (2005) menyatakan bahwa sikap belum tentu terwujud dalam bentuk tindakan, sebab untuk mewujudkan tindakan perlu faktor lain, yaitu adanya fasilitas atau sarana dan prasarana sebagai mediator agar sikap dapat meningkat menjadi tindakan. Fishbein dan Ajzen (1988), berdasarkan teori tindakan beralasan (Theory of Reasond Action), menyatakan bahwa sikap mempengaruhi perilaku lewat suatu proses pengambilan keputusan yang diteliti dan beralasan dan dampaknya terbatas pada tiga hal, yaitu: pertama, perilaku tidak banyak ditentukan oleh sikap umum tetapi oleh sikap spesifik terhadap sesuatu; kedua, perilaku tidak hanya dipengaruhi oleh sikap spesifik tetapi juga oleh norma-norma subjektif yaitu keyakinan seseorang terhadap yang inginkan orang lain agar ia berprilaku; ketiga, sikap terhadap suatu perilaku bersama norma-norma subjektif membentuk suatu intensi atau niat untuk berperilaku tertentu.

Menurut Green et al (1980) faktor perilaku dibentuk oleh tiga faktor utama yaitu :
  1. Faktor predisposisi (predisposing factors), yaitu faktor yang mempermudah atau mempredisposisi terjadinya perilaku seseorang antara lain pengetahuan, sikap, keyakinan, kepercayaan, nilai-nilai dan tradisi.
  2. Faktor pemungkin (enabling factors), yaitu faktor yang memungkinkan atau yang memfasilitasi perilaku atau tindakan antara lain umur, status sosial ekonomi, pendidikan, prasarana dan sarana serta sumber daya.
  3. Faktor pendorong atau penguat (reinforcing factors), faktor yang mendorong atau memperkuat terjadinya perilaku misalnya dengan adanya contoh dari para tokoh masyarakat yang menjadi panutan. Hasil penelitian yang dilakukan Zaini (1998) menyebutkan bahwa upaya penyuluhan yang dilakukan secara perseorangan ternyata dapat meningkatkan perubahan perilaku PSN masyarakat. Selain itu, dampak nyata dari perubahan perilaku PSN masyarakat adalah dapat menurunkan angka jentik di lingkungannya berdasarkan angka House Index (HI). Perubahan perilaku masyarakat ini akan berdampak pada terbebasnya lingkungan dari penyakit DBD.
12:07 AM | 0 comments | Read More

Sikap dan Perilaku Kesehatan

Written By Lumajangtopic on Friday, March 15, 2013 | 8:40 PM

Beberapa Pengertian Teori Sikap dan Perilaku Kesehatan


Perilaku merupakan refleksi dari berbagai kejiwaan seperti keinginan, minat, pengetahuan, emosi, berfikir, sikap, motivasi dan sebagainya. Bila ditelusuri lebih lanjut maka gejala kejiwaan yang tercermin di dalam tindakan atau perilaku manusia tersebut antara lain adalah pengalaman, keyakinan, sarana-sarana fisik, budaya masyarakat. Bila dihubungan dengan perilaku mengelola sampah dapat diuraikan sebagai berikut: perilaku manusia merupakan hasil dari segala macam pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungannya yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan yang dilakukan dengan mengelola sampah sebagai wujud dari kebersihan lingkungan.

Menurut Sudibyo (2006), perilaku adalah segala sesuatu yang dikatakan dan dilakukan oleh seseorang. Antara pelaku dan aksi terdapat hubungan yang implisit, sehingga perilaku dapat diubah melalui proses belajar. Sikap mempunyai pengaruh penting terhadap perilaku. Sikap tidak dapat diamati secara langsung tetapi sikap hanya dapat diraba melalui perilaku. Perilaku merupakan salah satu aspek dari perkembangan anak yang memancarkan kondisi psikisnya dalam kehidupan sehari-hari. Triyadi (2006) menyatakan bahwa perilaku yang baik adalah perilaku yang tidak merugikan bagi dirinya sendiri maupun orang lain, misalnya sopan, ramah, jujur, rendah hati, bertanggung jawab dan sebagainya. Secara psikologis, diakui adanya individual differences, artinya setiap individu berbeda, baik dalam fisik, psikis maupun perilakunya. Oleh karena itu, tidak ada manusia yang sama persis, walaupun mereka saudara kembar. Pasti ada perbedaannya walaupun sedikit.

Perilaku adalah suatu kemampuan yang bukan bersifat bawaan, melakukan diperoleh lewat latihan. Dengan demikian tingkah laku yang baik dapat dilatihkan kepada setiap anak, dan tentu saja latihan akan mendapatkan hasil yang lebih baik, dalam hal ini perilaku mengelola sampah. Menurut Kurniawan (2002), perilaku dipengaruhi oleh berbagai faktor individual, seperti kecakapan, kepribadian, persepsi dan pengalaman. Karakteristik perilaku adalah perilaku adalah akibat, perilaku diarahkan oleh tujuan, perilaku dapat diamati dan diukur, perilaku dapat dimotivasi. Menurut Soewarta (2008) perilaku manusia pada dasarnya berorientasi pada tujuan artinya perilaku umumnya di motivasi oleh keinginan untuk memperoleh tujuan tertentu.

Putra (2008) menyebutkan bahwa bentuk dari operasional perilaku dapat dikelompokkan dalam tiga jenis yaitu : 1) Perilaku dalam bentuk pengetahuan, yakni dengan mengetahui situasi atau rangsangan dari luar, 2) Perilaku dalam bentuk sikap, yakni tanggapan batin terhadap keadaan atau rangsangan dari luar diri subjek, dan 3) Perilaku dalam bentuk tindakan yang sudah konkrit, berupa perbuatan atau aksi terhadap situasi atau rangsangan dari luar. Pratiwi (2010) mengemukakan bahwa kemungkinan seseorang akan berbuat sesuatu tergantung pada hasil perpaduan dari keinginan bahwa kegiatan yang dilakukan akan bisa mencapai tujuan yang diinginkan , pentingnya tujuan tersebut menurut yang bersangkutan dan sarana maupun usaha yang diperlukan.

Menurut Ratih (2006) perilaku manusia dapat diukur melalui tiga ranah, yaitu: kognitif (pengetahuan), afektif (sikap) dan psikomotor (praktek). Pengetahuan (knowledge) adalah hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman. Pengetahuan merupakan domain yang penting, sehingga seseorang yang melakukan tindakan perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif terdiri atas enam tingkatan yaitu : a) Tahu (know) sebagai tingkatan yang paling rendah, b) Memahami (comprehension) adalah kemampuan untuk menjelaskan secara benar, c) Aplikasi (application) adalah kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi yang sebenarnya, d) Analisis (analysis) adalah kemampuan untuk menjabarkan materi/objek ke dalam komponen-komponen, e) Sintesis (synthesis) adalah kemampuan untuk meletakkan atau menghubungakan bagian-bagian ke dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru ataupun menyusun suatu formula, dan f) Evaluasi (evaluation) adalah kemampuan untuk melakukan justifikasi. Sikap (attitude) merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek.

Menurut Handayani (2010), sikap adalah suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan mendukung atau memihak (favorable) maupun perasaan tidak mendukung atau tidak memihak (unfavorable) pada objek tersebut. Sikap masih bersifat tertutup, tidak dapat dilihat langsung dan belum terwujud, Menurut Mulyono (2005), sikap terdiri terdiri dari beberapa tingkatan, Yaitu :

a) Menerima (receiving), artinya bahwa orang atau subjek mau memperhatikan stimulus atau objek yang diberikan, b) Merespon (responding) artinya bahwa orang akan memberi jawaban bila ditanya atau mengerjakan/menyelesaikan tugas yang diberikan, c) Menghargai (valuing) artinya bahwa orang mau mengajak orang lain untuk mendiskusikan atau mengerjakan sesuatu hal, dan d) Bertanggung jawab (responsible) sebagai tingkatan sikap yang paling tinggi dimana orang bertanggung jawab atas suatu hal yang sudah dipilihnya dengan segala risiko.

Menurut Handayani (2010) sikap atau attitude adalah pernyataan evaluatif positif atau negatif tentang objek, orang ataupun peristiwa. Sikap terdiri atas tiga komponen yaitu: a) Komponen kognitif yang berisi persepsi, pendapat/ide kepercayaan terhadap seseorang/objek, b) Komponen afektif yaitu emosi atau perasaan, dan c) Kecenderungan untuk bertindak. Proses pembentukan sikap menurut Eviandaru (2003) berlangsung secara bertahap, kemampuan untuk bersikap diperoleh melalui proses belajar. Perubahan sikap bisa berupa penambahan, pengalihan atau modifikasi dari satu atau lebih dari ketiga komponen sikap dengan kemungkinan satu atau dua komponen sikap berubah tetapi komponen yang lain tetap. Praktek atau tindakan suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan. Untuk terwujudnya sikap agar menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas. Terbentuknya suatu perilaku baru dimulai dari domain kognitif, yaitu si subjek tahu terlebih dahulu terhadap stimulus yang berupa materi, sehingga menimbulkan pengetahuan baru pada subjek dan selanjutnya menimbulkan respon batin dalam bentuk sikap. Akhirnya, objek yang telah diketahui dan didasari sepenuhnya akan menimbulkan respon berupa tindakan (praktek).

Menurut Pratiwi (2010), perilaku manusia cenderung bersifat holistik (menyeluruh) dari tiga aspek, yaitu: fisiologi, psikologi dan sosial yang saling mempengaruhi dan sulit untuk dibedakan. Oleh karena itu, faktor penentu/ determinan perilaku sulit dibatasi, karena perilaku merupakan resultante dari berbagai jenis faktor, baik internal maupun eksternal. Bila masalah perilaku ini dianalisis lebih lanjut, maka terdapat faktor lain yang secara tidak langsung turut berpengaruh. Faktor-faktor tersebut di antaranya adalah pengetahuan/ pengalaman, keyakinan, fasilitas, dan sosial budaya.

Notoatmodjo (2003) telah memberikan batasan tentang pengertian perilaku sebagai suatu aktivitas pada manusia, baik yang dapat diamati secara langsung atau secara tidak langsung seperti berfikir, persepsi dan emosi. Perilaku adalah hasil hubungan antara perangsang (stimulus) dan tanggapan (respon). Menurut Budi (2001), perilaku manusia (human behavior) sebagai reaksi yang dapat bersifat sederhana maupun bersifat kompleks. Karakter individu meliputi berbagai variabel seperti motif, nilai-nilai, sifat kepribadian dan sikap yang saling berinteraksi satu sama lain dan kemudian berinteraksi pula dengan faktor-faktor lingkungan dalam menentukan perilaku. Faktor lingkungan memiliki kekuatan besar dalam menentukan perilaku, bahkan kadang-kadang kekuatannya lebih besar dari pada karakteristik individu Green (2000) mengemukakan pendapat Gerace bahwa komponen perilaku dapat dilihat dalam dua aspek perkembangan penyakit. Pertama, perilaku mempengaruhi faktor penyakit tertentu, faktor risiko adalah ciri kelompok individu yang menunjuk mereka sebagai at high risk terhadap penyakit tertentu Kedua, perilaku itu sendiri dapat berupa faktor risiko, sebagai contoh petugas pengangkut sampah yang bekerja tanpa memakai alat pelindung diri seperti sarung tangan, alat pengumpul sampah dan lain-lain dianggap sebagai faktor risiko untuk terpapar penyakit yang disebabkan oleh sampah

Menurut Oktarina (2009), perilaku manusia merupakan hasil dari segala macam pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungannya yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan. Dengan kata lain perilaku merupakan respon reaksi seorang individu terhadap stimulus yang berasal dari luar maupun dari dalam dirinya. Respon ini dapat bersifat pasif (tanpa tindakan: berpikir, berpendapat, bersikap) maupun aktif (melakukan tindakan). Perilaku aktif dapat dilihat (overt), sedangkan perilaku pasif tindakan tidak nampak (convert), seperti misalnya pengetahuan, persepsi dan motivasi Mila (2006) mendefinisikan perilaku sebagai suatu respon individu terhadap stimulus baik yang berasal dari luar maupun dari dalam dirinya.

Perilaku ini dibagi dalam tiga jenis yaitu : 1) Perilaku ideal (ideal behavior), perilaku ini merupakan tindakan yang bisa diamati yang menurut para ahli perlu dilakukan oleh individu atau masyarakat untuk mengurangi atau membantu memecahkan masalah, 2) Perilaku yang sekarang, perilaku ini dapat diidentifikasi dengan observasi dan wawancara di lapangan. Perilaku ini merupakan yang dilaksanakan pada saat ini dan, 3) Perilaku ini diharapkan bisa dilaksanakan oleh sasaran oleh karena itu disebut juga target behavior Menurut Panjaitan (2010), perilaku memiliki tiga domain atau bidang. Ketiga bidang domain tersebut adalah: 1) cognitive domain (bidang pengetahuan), 2) affective domain (bidang sikap), dan 3) psychomotoric domain (bidang praktek/tindakan). Masing-masing mempunyai tingkat kemampuan (level of competency).

Domain pengetahuan adalah perilaku terjadi karena pertumbuhan perkembangan bakat, belajar/pengalaman. Pengetahuan atau kognitif ini merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behavior). Domain sikap adalah perilaku, dibentuk oleh tiga komponen pokok yaitu berpikir, keyakinan dan emosi. Domain praktek atau tindakan adalah wujud dari sikap menjadi perbuatan nyata yang memerlukan faktor pendukung. Handayani (2010) mengatakan bahwa perilaku manusia merupakan hasil dari segala macam pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungannya yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan. Dengan kata lain, perilaku merupakan respon/reaksi seorang individu terhadap stimulus yang berasal dari luar maupun dari dalam dirinya. Respon ini dapat bersifat pasif (tanpa tindakan: berpikir, berpendapat, bersikap) maupun aktif (melakukan tindakan), Perilaku aktif dapat dilihat (overt), sedangkan perilaku pasif tidak dapat dilihat (covert),seperti misalnya pengetahuan, persepsi dan motivasi.

Menurut Soewarta (2008), proses pembentukan dan perubahan perilaku dipengaruhi oleh beberapa faktor internal dan eksternal, Faktor internal tersebut meliputi kecerdasan, persepsi, motivasi , minat, emosi dan sebagainya untuk mengolah pengaruh-pengaruh dari luar. Faktor eksternal meliputi objek, orang, kelompok dan hasil-hasil kebudayaan yang dijadikan sasaran dalam mewujudkan bentuk perilakunya. Kedua faktor tersebut akan dapat terpadu menjadi perilaku yang selaras dengan lingkungannya apabila perilaku yang terbentuk dapat diterima oleh lingkungannya, dan dapat diterima oleh individu yang bersangkutan.

Faktor yang dapat mempengaruhi perilaku menurut Mulyono (2005), tindakan maupun sikap manusia adalah gabungan dari berbagai faktor yang ada dalam kehidupan seseorang. Faktor tersebut adalah pendidikan, penghasilan, keadaaan sosial budaya, norma atau nilai-nilai serta pengalaman sejak kecil. Menurut Sasongko (2005), manusia sebagai individu membutuhkan unsur yang diperlukan agar bisa melakukan sesuatu adalah yaitu : 1) Pengertian atau pengetahuan (knowledge) tentang yang akan dilakukan (cognitive), 2) Sikap (affective), yaitu keyakinan atau kepercayaan tentang manfaat dan kebenaran dari yang akan dilakukan (attitude yang positif); 3) Sarana yang diperlukan untuk melakukannya, dan 4) Dorongan atau motivasi untuk berbuat yang dilandasi oleh kebutuhan yang dirasakan. Pada kenyataannya, hubungan antara unsur-unsur perilaku tersebut tidak sepenuhnya seperti yang telah dijelaskan, yaitu pengetahuan dan sikap yang positif tidak selalu diikuti oleh tindakan,

Namun demikian, jika menghendaki suatu perilaku melembaga atau lestari jelas diperlukan pengetahuan dan sikap yang positif tentang yang akan dikerjakan. Pratiwi (2010) menyebutkan bahwa perilaku manusia secara individu, kelompok masyarakat dan komunitas, dapat dipengaruhi oleh faktor persiapan, faktor pemungkin dan faktor pendorong. Strategi pendidikan dan organisasinya yang memungkinkan untuk dipekerjakan dalam program promosi kesehatan untuk menghasilkan perubahan perilaku dan lingkungan yang mendukung memiliki tiga faktor sebagai: 1) Faktor persiapan (predisposing factors), meliputi pengetahuan individu, sikap, sosiodemografi, tradisi, kepercayaan, norma sosial, persepsi serta unsur-unsur lain yang terdapat didalam diri individu dan masyarakat yang memfasilitasi atau menunda motivasi atas perubahan, 2) Faktor pemungkin atau pendukung (enabling fakctors) adalah keterampilan, sumber daya atau rintangan yang bisa membantu perubaha- perubahan perilaku yang dikehendaki seperti juga perubahan lingkungan, dan 3) Faktor pendorong (reinforcing factors), yaitu penghargaan yang diterima dan umpan-balik lainnya berikut adopsi perilaku, mungkin mendukung atau melemahkan keseimbangan perilaku.

Terbentuknya perilaku baru, terutama pada orang dewasa menurut Pratiwi (2010) dimulai pada domain kognitif dalam arti subjek tahu terlebih dahulu terhadap stimulus yang berupa materi atau objek di luarnya sehingga menimbulkan pengetahuan baru pada subjek tersebut dan selanjutnya menimbulkan respon batin dalam bentuk sikap subjek terhadap objek yang diketahui tersebut. Akhirnya, rangsangan yakni objek yang telah diketahui dan disadari sepenuhnya tersebut akan menimbulkan respon lebih jauh lagi, yaitu berupa tindakan (action) terhadap atau sehubungan dengan stimulus atau objek tersebut. Namun demikian, d idalam kenyataannya, stimulus yang diterima oleh subjek dapat menimbulkan tindakan. Artinya, seseorang dapat bertindak atau berperilaku baru tanpa mengetahui terlebih dahulu makna stimulus yang diterimanya. Dengan kata lain, tindakan (practice) seseorang harus didasari oleh pengetahuan atau sikap.

Pengetahuan (knowledge) adalah hasil tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Agnes (2002) mengemukakan bahwa komponen kognitif merupakan representasi yang dipercaya oleh individu. Menurutnya, komponen kognitif berisi persepsi dan kepercayaan yang dimiliki individu mengenai sesuatu kepercayaan datang dari yang telah dilihat, kemudian terbentuk suatu ide atau gagasan mengenai sifat atau karakteristik umum suatu objek. Sekali kepercayaan telah terbentuk, akan menjadi dasar pengetahuan seseorang mengenai yang dapat diharapkan dari objek tertentu. Namun kepercayaan sebagai komponen kognitif tidak terlalu akurat.

Kadang-kadang kepercayaan tersebut terbentuk justru dikarenakan kurang atau tiadanya informasi yang benar mengenai objek yang dihadapi. Seringkali komponen kognitif ini dapat disamakan dengan pandangan (opini), terutama apabila menyangkut masalah isu atau problem yang kontroversial. Perubahan perilaku, menurut Sudibyo (2006), yang didasari oleh pengetahuan, kesadaran dan sikap yang positif, akan bersifat lenggeng (long lasting). Sebaliknya apabila perilaku tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran akan tidak berlangsung lama. Sebagai contoh, misalnya para siswa SMA yang selalu diingatkan untuk membuang sampah pada tempatnya, selalu mencuci tangan sebelum makan, disarankan untuk memakai pelindung diri saat bekerja di laboratorium atau bengkel, tanpa adanya pengetahuan akan makna dan tujuan dari kebiasaan hidup sehat, siswa tersebut hanya beberapa saat saja mematuhi saran atau peraturan tersebut. Sikap (attitude) merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek.

Komponen afektif merupakan perasaan individu terhadap objek sikap yang menyangkut aspek emosional. Aspek emosional inilah yang biasanya berakar paling dalam sebagai komponen sikap dan merupakan aspek yang paling bertahan terhadap pengaruh-pengaruh yang mungkin akan mengubah sikap seseorang. Menurut Handayani (2010), sikap merupakan suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan. Sikap seseorang terhadap suatu objek adalah perasaan mendukung atau memihak (favorable) maupun perasaan tidak mendukung atau tidak memihak (unfavorable) pada objek. 
Sikap merupakan semacam kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu objek dengan cara-cara tertentu. Dapat dikatakan bahwa kesiapan yang dimaksudkan merupakan kecenderungan potensi untuk bereaksi dengan cara tertentu apabila individu dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki adanya respon. Ratih (2006) mengatakan bahwa sikap mempunyai tiga komponen pokok, yaitu: 1) kepercayaan (keyakinan), ide dan konsep terhadap suatu objek, 2) kehidupan emosional atau evaluasi emosional terhadap suatu subjek, dan 3) kecenderungan untuk bertindak (trend to behave). Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh (total attitude). 
Suatu contoh, misalnya siswa yang sudah mendapatkan atau mendengar tentang risiko sampah, akan berpikir dan berusaha supaya tidak terserang penyakit akibat pengaruh sampah. Dalam berpikir ini komponen emosi dan keyakinan ikut bekerja/aktif, sehingga para siswa berniat untuk melakukan pencegahan. Dengan demikian, para siswa mempunyai sikap tertentu terhadap objek yang berupa pengaruh sampah. Praktek atau tindakan (practice), merupakan komponen kognitif dalam struktur sikap yang menunjukkan bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku yang ada dalam diri seseorang berkaitan dengan objek sikap yang dihadapinya. Kaitan ini didasari oleh asumsi bahwa kepercayaan dan perasaan banyak mempengaruhi perilaku. 
Komponen perilaku berisi tendensi atau kecenderungan untuk bertindak atau bereaksi terhadap sesuatu dengan cara-caratertentu. Pengertian kecenderungan berperilaku menunjukkan kognitif. Berdasarkan uraian di atas, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa perilaku manusia merupakan hasil dari segala macam pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungannya yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan. Dengan kata lain, perilaku merupakan respon/reaksi seorang individu terhadap stimulus yang berasal dari luar maupun dari dalam dirinya. Respon ini dapat bersifat pasif (tanpa tindakan: berfikir, berpendapat, bersikap) maupun aktif (melakukan tindakan). Perilaku aktif dapat dilihat (overt), sedangkan perilaku pasif tidak dapat dilihat (covert), seperti misalnya pengetahuan, persepsi dan motivasi.
8:40 PM | 0 comments | Read More

Jenis dan Konsep Gaya Hidup

Written By Lumajangtopic on Saturday, February 16, 2013 | 10:03 PM


Konsep Gaya Hidup AIO - Activity, Interest, Opinion
 
Gaya hidup menurut Kotler (2002, p. 192) adalah pola hidup seseorang di dunia yang iekspresikan dalam aktivitas, minat, dan opininya. Gaya hidup menggambarkan “keseluruhan diri seseorang” dalam berinteraksi dengan lingkungannya.

Gaya hidup menggambarkan seluruh pola seseorang dalam beraksi dan berinteraksi di dunia. Menurut Assael (1984, p. 252), gaya hidup adalah “A mode of living that is identified by how people spend their time (activities), what they consider important in their environment (interest), and what they think of themselves and the world around them (opinions)”.

Secara umum dapat diartikan sebagai suatu gaya hidup yang dikenali dengan bagaimana orang menghabiskan waktunya (aktivitas), apa yang penting orang pertimbangkan pada lingkungan (minat), dan apa yang orang pikirkan tentang diri sendiri dan dunia di sekitar (opini). Sedangkan menurut Minor dan Mowen (2002, p. 282), gaya hidup adalah menunjukkan bagaimana orang hidup, bagaimana membelanjakan uangnya, dan bagaimana mengalokasikan waktu. Selain itu, gaya hidup menurut Suratno dan Rismiati (2001, p. 174) adalah pola hidup seseorang dalam dunia kehidupan sehari-hari yang dinyatakan dalam kegiatan, minat dan pendapat yang bersangkutan. Gaya hidup mencerminkan keseluruhan pribadi yang berinteraksi dengan lingkungan.

Dari berbagai di atas dapat disimpulkan bahwa gaya hidup adalah pola hidup seseorang yang dinyatakan dalam kegiatan, minat dan pendapatnya dalam membelanjakan uangnya dan bagaimana mengalokasikan waktu. Faktor-faktor utama pembentuk gaya hidup dapat dibagi menjadi dua yaitu secara demografis dan psikografis. Faktor demografis misalnya berdasarkan tingkat pendidikan, usia, tingkat penghasilan dan jenis kelamin, sedangkan faktor psikografis lebih kompleks karena indikator penyusunnya dari karakteristik konsumen.

Gaya Hidup AIO (Activity, Interest, Opinion)

Psikografik (Psychographic) adalah ilmu tentang pengukuran dan pengelompokkan gaya hidup konsumen (Kotler, 2002, p. 193). Sedangkan psikografik menurut Sumarwan (2003, p. 58), adalah suatu instrumen untuk mengukur gaya hidup, yang memberikan pengukuran kuantitatif dan bisa dipakai untuk menganalisis data yang sangat besar. Analisis psikografik biasanya dipakai untuk melihat segmen pasar. Analisis psikografik sering juga diartikan sebagai suatu riset konsumen yang menggambarkan segmen konsumen dalam hal kehidupan, pekerjaan dan aktivitas lainnya. Psikografik berarti menggambarkan (graph) psikologis konsumen (psyco).

Psikografik adalah pengukuran kuantitatifgaya hidup, kepribadian dan demografik konsumen. Psikografik sering diartikan sebagai pengukuran AIO (activity, interest, opinions), yaitu pengukuran kegiatan, minat dan pendapat konsumen. Psikografik memuat beberapa pernyataan yang menggambarkan kegiatan, minat dan pendapat konsumen. Pendekatan psikografik sering dipakai produsen dalam mempromosikan produknya, seperti yang dinyatakan oleh Kotler bahwa psikografik senantiasa menjadi metodologi yang valid dan bernilai bagi banyak pemasar (2002, p. 193). Solomon dalam Sumarwan (2003, p. 59) menjelaskan studi psikografik dalam beberapa bentuk seperti diuraikan berikut.
  1. Profil gaya hidup (a lifestyle profile), yang menganalisis beberapa karakteristik yang membedakan antara pemakai dan bukan pemakai suatu produk.
  2. Profil produk spesifik (a product-specific profile) yang mengidentifikasi kelompok sasaran kemudian membuat profil konsumen tersebut berdasarkan dimensi produk yang relevan.
  3. Studi yang menggunakan kepribadian ciri sebagai faktor yang menjelaskan, menganalisis kaitan beberapa variabel dengan kepribadian ciri, misalnya kepribadian ciri yang mana yang sangat terkait dengan konsumen yang sangat memperhatikan masalah lingkungan.
  4. Segmentasi gaya hidup (a general lifestyle segmentation), membuat pengelompokkan responden berdasarkan kesamaan preferensinya.
  5. Segmentasi produk spesifik, adalah studi yang mengelompokkan konsumen berdasarkan kesamaan produk yang dikonsumsinya.
Orang-orang yang berasal dari sub-budaya, kelas sosial, dan pekerjaan yang sama dapat memiliki gaya hidup yang berbeda. Gaya hidup adalah pola hidup seseorang di dunia yang diekspresikan dalam aktivitas, minat, dan opininya. Gaya hidup menggambarkan “keseluruhan diri seseorang” yang berinteraksi dengan lingkungannya. Pemasar mencari hubungan antara produknya dengan kelompok gaya hidup konsumen. Contohnya, perusahaan penghasil komputer mungkin menemukan bahwa sebagian besar pembeli komputer berorientasi pada pencapaian prestasi. Dengan demikian, pemasar dapat dengan lebih jelas mengarahkan mereknya ke gaya hidup orang yang berprestasi.
10:03 PM | 0 comments | Read More

Air Minum dari Air laut

Written By Lumajangtopic on Friday, February 1, 2013 | 8:06 PM

Proses Produksi Air Bersih dari Bahan Baku Air Laut
 
Dua pertiga wilayah Indonesia adalah laut. namun, sedikit orang yang mau meminum air langsung dari laut, karena memang buknaya  menghilagkan rasa haus, justru air itu membuat kering tenggorokan, bahkan bagai terbakar rasanya, tapi kini, berkat teknologi, air asin pun bakal sebening dan sesejuk air pegunugan serta siap untuk di minum.

 "Pemanfaatan teknologi pengolahan air asin harus disesuaikan dengan kondisi air baku, biaya yang tersedia, kapasitas dan kualitas yang diinginkan oleh pemakai"

Teknologinya memang tengah dikembangkan kelompok Teknologi Pengolahan Air Bersih dan Limbah Cair, Direktorat Teknologi Informasi, Energi dan Material BPPT. Dan lembaga ini telah melakukan beberapa uji coba yang secara nyata  telah dirasakan oleh masyarakat pantai di indonesia seperti di Kepulauan  Serribu dan Sulawesi.

Menurut Arie Herlambang teknologi alat pengolahan air asin dikenal dengan cara destilasi, pertukaran ion, elektrodialisasi dan Osmosaa Balik. Namun, masing - masing teknologi mempunyai keunggulan dan kelemahan. Pemanfaatan teknologipengolahan air asin harus disesuaikan  dengan kondisi  air baku,biaya yang tersedia, kapasitas dan kualitas yang diinginkan oleh pemakai air.
 

Diantara berbagai macam teknologi tersebut yang banyak dipakai adalah teknologi destilasi dan Osmosa Balik. Tejnologi destilasi umumnya banyak dipakai di tempat yang mempunyai energi, terbuang (pembakaran gas minyak pada kilang minyak), sehingga dapat menghemat biaya operasi daan skala produksinya besar (lebih 500 m3 /hari ). Sedangkan teknologi Osmosa Balik banyak dipakai dalam skala yang lebih kecil.

Aliran Osmosa Balik adalah kecepatannya dalam memproduksi air, karena menggunakan tenaga pompa. Kelemahanya adalah penyumbatan pada selaput membran oleh bakteri dan kerak kapur atau fosfat  yang umum terhadap dalam air asin atau laut. Untuk mengatasi kelemahannya pada unit pengolahan air Osmosa  Balik selalu dilengkapi dengan unit anti pengerakan dan anti penyumbatan oleh bakteri. Sistem membran reserve  yang dipakai dapat berupa membran hollow fibre, lempengan /plate atau berupa spiral Wound. Membran ini mampu menurunkan kadar garam hingga 90 - 98%. Air hasil olahan sudah bebas dari bakteri dan dapat langsung diminum.


Untuk penerapan teknologi pengolahan air asin sistem Osmosa Balik, menurut Arie, banyak dipakai di banyak negara seperti Amerika , Jepang, Jerman dan Arab. Teknologi ini banyak dipakai untuk memasok kebutuhan air tawar bagi kota - kota tepi pantai yang langka sumber air tawarnya. Pemakaianlain adalah kapal Laut, Industri farmasi industri elektronika dan rumah sakit. 

Lebih jelasnya, Unit Bergerak Pengolahan Asin itu dimaksudkan sebagai Unit Emergency yang dapat membantu dalam penyediaan Air bersih  pada keadaan bencana alam, wabah diare atau muntaber pada suatu wilayah, kekurangan air tawar selama musim kemarau terutama pada daerah pantai.

Penjelasnnya, pada proses dengan membrab, pemisah air dari pengotorannya didasarkan pada proses  penyaringan dengan skala molekul. Di dalam proses desalinasi  air laut dengan sistem Osmosa Balik, tidak memungkinkan untuk memisahkan seluruh garam dengan air lautnya, karena akan membutuhkan tekanan yang sangat tinggi Sekali. Pada prakteknya untuk menghasilkan air tawar, air asin atau air laut dipompa dengan tekanan tinggi kedalam  suatu modul membran Osmosi Balik yang mempunyai dua buah PIPA keluaran , yakni piapa keluaran  untuk air tawar yang dihasilkan dan pipa keluaran untuk air garam yang telah dipekatkan.

Konkritnya, didalam membran Osmosa Balik tersebut terjadi proses penyaringan dengan ukuran molekul, yakni partikel yang molekulnya lebih besar dari pada molekul air, misalnya molekul garam dan lainya, akan terpisah dan akan ikut kedalam air buangan . Oleh karena itu air yang akan amsuk ke dalam membran Osmosa Balik harus mempunyai persyaratan tertentu, misalnya kekeruhan harus nol, kadar besi harus <0,1 mg/i, pH harus dikontrol agar tidak terjadi  pergerakan kalsium karnat dan lainnya.

Pengolahan air minum dengan sistem Osmosa Balik terdiri dari  dua bagian, yakini unit pengolahan awal daan unti Osmosa Balik. Salah satu contoh diagram  proses pengolahan air laut terutama  yang dekat dengan pantai masih mengandung  partikel padatan tersuspensi, ineral, plankton dan lainya, maka air beku tersebut perlu dilakukan pengolahan awal sebelum diproses di dalam unit Osmosa Balik.

Unit bergerak Pengolahan asin itu dimaksudkan sebagai Unit Emergency yang dapat membantu dalam penyediaan air bersih pada keadaan bencanan alam, wabah diare atau muntaber pada suatu wilayah, kekurangan air tawar selama musim kemarau terutama pada daerah pantai

Unit pengolahan pendahuluan tersebut terdiri dari  beberaapa peralatan utama yakni pompa air baku, tangki reaktor (kontraktor), saring pasir, filter untuk penghilang warna  (color removal) serta filter cartridge ukuran 0,5 m. sedangkan  unit Osmosa Balik terdiri  dari pompa tekanan tinggi  dan membran Osmosa Balik serta  pompa dosing  klorine dan sterilisator ultra violet (UV).
  

Proses Pengolahan

Proses  pengolahan air laut dengan teknologi ini adalah  air baku (air laut) di pompa ketangki reaktor (kontraktor), sambil diinjeksi dengan larutan Klorin atau Kalium permanganat agar Zat Besi atau  mangan yang larut dalam air baku. Selain itu pembubuhan Klorin atau  Kalium  permanganat berfungsi untuk  membunuh mikro organisme  yang dapat menyebabkan biofouling penyumbatan oleh bakteri) di dalam membran  Osmosa Balik.  

Dari tangki reaktor, air dialirkan  ke saringan pasir cepat agar senyawa Besi atau mangan yang telah  teeroksidasi dan juga padatan tersuspensi (SS) yang berupa partikel halu, plankton dan dari saringan pasir selanjutnya dialirkan ke filter Mangan Ziolet. Dengan adanya filter mangan Ziolet ini, zat Besi atau Mangan yang belum ter Osmosa Baliksidasi di dalam tangki reaktor dapat dihilangkan sampai. konsebtrasi <0,1 mg/1. Zat Besi dan mangan ini harus dihilangkan  terllebih dahulu  karena zat - zat tersebut dapat menimbulkan kerak (scale) di dalam membran Osmosa Balik.

"Sebaiknya sir hasil olahan dijual kepada masyarakat yang  membutuhkan dengan harga Rp. 25 tiap liter Harga ini masih bersaing jika dibandingkan dengan harga air bersih di daerah yang sulit, yaitu antara Rp. 500 - 1000,- tiap 20 liter atau berkisra 25 - 50 rupiah tiap liter air yang masih  belum siap untuk diminum".

Dari filter Mangan Zeolit,air dialirkan ke filter penghilang warna. Filter  ini mempunyai fungsi untuk menghilangkan senyawa warna dalam air baku  yang dpat mempercepat penyumbatan membran Osmosa Balik. Setelah memulai filter penghilang warna, air dialirkan ke filter cartridge yang dapat menyaring partkel dengan ukuran 0,5 m. setelah memulai filter cartridge, air dialirkan ke unit Osmosa Balik dengan mengunakan pompa tekanan tinggi sambil diinjeksi dengan zat anti kerak (antiskalant) dan zat anti biofouling. Air yang keluar dari modul  membran Osmosa Balik yakni air tawarnya dipompa ketangki penampungan sambil dibubuhi dengan Klorine dengan konsentrasi tertentu oleh mikroba, sedangakan air garamnya dibuang lagi ke laut.
  
Untuk pengoperasian unit ii memerlukan bahan bakar, pelumas, bahan kimia, pergantian cartridge filter dan media filter. Oleh sebab itu, sebaiknya air hasil olahan dijual kepada masyarakat yang membutuhkan dengan harga Rp. 25 per liter. Harga ini masih bersaing jika dibandingkan dengan harga air bersih di daerah yang sulit antara Rp. 500 -1000.- tiap 20 liter atau berkisra 25 - 50 rupiah tiap liter air yang masih  belum siap untuk diminum. Jika di asumsikan unit dioperasikan dengan 75% kapasitasnya, maka dalam  setahun diproduksi sebesar 2700 m3. air bersih siap minum.

Namun demikian, Unit bergerak Pengolah Air Payau Osmosa Balik ini merupakan unit darurat, yang hanya dipergunakan dalam keadaan musim kemarau, sehingga perhitungan ekonomi tertentu menjadi berkurang, kecuali unit tersebut dipergunakan sepanjang tahun seperti  yang terdapat di Kepulauan Seribu.

8:06 PM | 0 comments | Read More

Sistem Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Written By Lumajangtopic on Tuesday, January 29, 2013 | 8:47 AM

Tujuan dan Sasaran Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Suatu perusahaan yg aman adalah perusahaan yg teratur dan terpelihara dg baik ; cepat menjadi terkenal sebagai tempat naungan buruh yang baik Program keselamatan kerja yg baik adalah program yg terpadu dg pekerjaan sehari-hari (rutin), sehg sukar utk dipisahkan satu sama lainnya Pelajaran ini dimaksudkan utk memberi bimbingan kearah pencegahan kecelakaan pd waktu kita bekerja, pertolongan pertama pd kecelakaan dll .Jenis keselamatan kerja


1. Keselamatan kerja dalam industri (Industrial Safety)
2. Keselamatan kerja di pertambangan (Mining Safety)
3. Keselamatan kerja dalam bangunan (Building & Construction Safety)
4. Keselamatan kerja lalu lintas (Traffic Safety)
5. Keselamatan kerja penerbangan (Fligh Safety)
6. Keselamatan kerja kereta api (Railway Safety)
7. Keselamatan kerja di rumah (Home Safety)
8. Keselamatan kerja di kantor (Office Safety)

Arti dan tujuan keselamatan kerja
Menjamin keadaan, keutuhan & kesempurnaan baik jasmaniah maupun rohaniah Manusia serta Hasil Karya & Budayanya, tertuju pd Kesejahteraan Masyarakat pd umumnya & manusia pd khususnya. Yg dimaksud keselamatan kerja ialah keselamatan yg berhubungan dg peralatan, tempat kerja & lingkungan, serta cara-cara melakukan pekerjaan

Tujuan keselamatan kerja
  1. Melindungi tenaga kerja atas hak keselamatannya dlm melaksanakan pekerjaan
  2. Menjamin keselamatan setiap orang yg berada di tempat kerja
  3. Sumber produksi dipelihara & dipergunakan secara aman & efisien

Sasaran keselamatan kerja :
  1. Mencegah terjadinya kecelakaan
  2. Mencegah timbulnya penyakit akibat pekerjaan
  3. Mencegah/mengurangi kematian
  4. Mencegah/mengurangi cacat tetap
  5. Mengamankan material, konstruksi, pemakaian, pemeliharaan bangunan, alat2 kerja, mesin2, pesawat2, instalasi2 dan sebagainya
  6. Meningkatkan produktifitas kerja tanpa memeras tenaga kerja & menjamin kehidupan produktifnya
  7. Mencegah pemborosan tenaga kerja, modal, alat2 & sumber2 produksi lainnya sewaktu kerja dan sebagainya
  8. Menjamin tempat kerja yg sehat, bersih, nyaman & aman shg dpt menimbulkan kegembiraan semangat kerja
  9. Memperlancar, meningkatkan & mengamankan produksi, industri serta pembangunan

Kecelakaan-kecelakaan akibat kerja dpt dicegah dengan :
  1. Peraturan perundangan
  2. Standarisasi
  3. Pengawasan
  4. Penelitian bersifat teknis
  5. Riset medis
  6. Penelitian psikologis
  7. Penelitian secara statistik
  8. Pendidikan & latihan2
  9. Penggairahan
  10. Asuransi, &
  11. Usaha keselamatan pd tingkat perusahaan

Tenaga kerja
Adalah tiap orang yg mampu melakukan pekerjaan baik di dalam maupun di luar hubungan kerja guna menghasilkan jasa atau barang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat
Catatan : Arti tenaga kerja disini sangatlah luas, meliputi semua pejabat negara seperti Presiden, MPR, DPR, TNI, pengusaha, buruh, pekerja dsb.

Tempat kerja
ialah ruangan atau lapangan, tertutup atau terbuka, bergerak atau tetap, dimana tenaga kerja untuk suatu keperluan suatu usaha dan dimana terdapat sumber atau sumber-sumber bahaya, termasuk tempat kerja ; semua ruangan, lapangan, halaman dan sekelilingnya yg merupakan bagian atau yg berhubungan dg tempat kerja tsb

Tempat kerja meliputi darat, laut, dalam tanah & air serta udara Pekerja harus :
  1. Menaati peraturan dan instruksi
  2. Memperhatikan instruksi untuk bekerja benar dan aman
  3. Bertindak benar, tepat pada waktu terjadi kecelakaan
  4. Segera melapor kepada instruktur bila terjadi kecelakaan
  5. Menerangkan penyebab terjadinya kecelakaan atau kerusakan
Syarat-syarat keselamatan kerja
  • a. Mencegah dan mengurangi kecelakaan
  • b. Mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran
  • c. Mencegah dan mengurangi bahaya peledakan
  • d. Memberi kesempatan atau jalan menyelamatkan diri pada waktu kebakaran atau kejadian lain yg berbahaya
  • e. Memberi pertolongan pada kecelakaan
  • f. Memberi alat perlindungan diri kepada para pekerja
  • g. Mencegah dan mengendalikan timbul atau menyebar luasnya suhu, kelembaban, debu, kotoran, asap, uap, gas, hembusan angin, cuaca sinar atau radiasi, suara dan getaran
  • h. Mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja, baik fisik maupun psikis, peracunan infeksi dan penularan
  • i. Memperoleh penerangan yg cukup & sesuai
  • j. Menyelenggarakan udara yg cukup
  • k. Menyelenggarakan suhu & lembab udara yg baik
  • l. Memelihara kebersihan, keselamatan & kebersihan
  • m. Memperoleh keserasian antara tenaga kerja dan alat kerja
  • n. Mengamankan & memperlancar pengangkutan orang, hewan, tanaman dan barang
  • o. Mengamankan dan memelihara segala jenis bangunan
  • p. Mengamankan dan memperlancar pekerjaan bongkar muat, perlakuan dan penyimpanan barang
  • q. Mencegah terkena aliran listrik yang berbahaya
  • r. Menyesuaikan dan mempergunakan pengamanan pada pekerjaan yg berbahaya
 Pengaruh buruk lingkungan terhadap keselamatan kerja
  1. Perkembangan dan kemajuan industri mengakibatkan bertambahnya pencemaran lingkungan
  2. Pencemaran tersebut adalah akibat pembuangan sisa-sisa pabrik selama atau sesudah proses industri berlangsung
  3. Buangan ini dapat berbentuk gas, air, padat, panas, radiasi, bunyi dll
Pada permulaan perkembangan industri belum terasa pengaruh buruk yg timbul. Akan tetapi makin lama makin terasa kerugian-kerugian yg ditimbulkan akibat makin banyaknya zat buangan dari pabrik-pabrik (Industri). Pabrik-pabrik membuang kotoran & zat-zat kimia ke sungai. Sungai tercemar yg mengakibatkan kehidupan ganggang, ikan & hewan-hewan terganggu dan seterusnya mempengaruhi penyediaan makanan bagi umat manusia. Pengotoran udara menyebabkan kesehatan manusia terganggu. Begitu pula tumbuh-tumbuhan dapat dirusak oleh gas-gas buangan tersebut.

Menurut pengalaman, pengotoran air dan udaralah yang paling buruk bagi kesehatan makhluk yg hidup. Seperti pepatah mengatakan, ‘lebih baik mencegah daripada mengobatinya’, begitu pula dengan pencemaran, lebih baik mencegahnya daripada memperbaiki yg diakibatkannya. Akibat dari pencemaran industri menjadi sangat serius, sehingga setiap pencemaran yg dilakukannya lambat atau cepat harus dibayar akibatnya. Pada dasarnya pemulihan kerusakan oleh pencemaran industri memakan waktu yg lam; biaya yg besar. Oleh karena itu adalah lebih baik kita memikirkan hal tersebut, jauh-jauh sebelum terlanjur, agar dengan mempergunakan pengalaman negari-negara lain yg perindustriannya lebih maju kita dapat mengurangi kesalahan-kesalahan yg diperbuat oleh mereka yg industrinya telah berkembang.


Besarnya sumber pencemaran di AS pada tahun 1968
    * Batu bara 454 juta metrik ton
    * Minyak residu 92 juta M3
    * Minyak destilasi 94 juta M3
    * Gas alam 566.000 juta M3
Pada tahun 1971 untuk proses industri digunakan air sebanyak 50.000 milyar galon atau kurang lebih 12,5 milyar M3. setiap detik 6,3 M3 air yg dikotori oleh industri dan dibuang melalui sungai ke danau dan ke muara sungai (laut) di seluruh AS.
  • Pada pembakaran batu bara, bahan bakar residu, bahan bakar destilasi, dan gas alam akan menghasilkan penyebaran gas-gas beracun CO,CO2,NO2,CH3,HF,H2S
  • Dan sebagainya yg kesemuanya akan meracuni kehidupan manusia, hewan dan tumbuhtumbuhan
  • Dalam hal ini masih perlu ditambahkan sumber-sumber lainnya dari berbagai macam industri seperti: industri baja, industri pengecoran, industri pelapisan logam, industri pabrikan logam, industri kimia (pabrik kertas, industri makanan & minuman, industri farmasi dll), industri tekstil, elektronika dlsebagainya.
Ukuran-ukuran yg biasa dipakai dalam menilai adanya polusi :1. TLV (thresold limit value) adalah konsentrasi rata-rata dari suatu unsur pencemar dalam ruang kerja dimana pekerja selama delapan jam per hari selama waktu bekerja tidak mengalami gangguan kesehatan. TLV dinyatakan dalam mg/m3 udara, ppm atau mppf. Koreksi karena adanya fluktuasi dapat dihitung dengan Exursion Factor (EF). Exursion Factor (EF) sebagai berikut :
· 0 – 1 (ppm atau mg/m3) – EF = 3
· 1 – 10 “ – EF = 2
· 10-100 “ – EF = 1,5
· 100-1000 “ – EF = 1,25
TLV dari bermacam-macam unsur telahditetapkan oleh American Conference of Govermental Industry Hygienist (ACGIH) yg berkumpul pada tiap tahun dan kalau perlumengadakan perubahan-perubahan
2. Mac (maximum allowable concentration) adalah konsentrasi tertinggi yg diperbolehkan untuk sesuatu unsur pencemar dalam ruang kerja dimana pekerja selama delapan jam per hari selama waktu kerja tidak menderita gangguan kesehatan
3. Standard Mutu Udara adalah konsentrasi pencemar dalam udara atau atmosfir (air quality standard) yg tidak boleh dilampaui
4. Standad Emisi adalah konsentrasi sesuatu pencemar yg dikeluarkan dari suatu sumber yg tidak boleh dilebihi
5. Ppm adalah singkatan dari part per million yg berarti berapa suatu satuan (mg, ml) air atau udara
6. Mpccf adalah singkatan dari millions of particles per cubic feet yg berarti berapa juta butiran partikel dalam setiap kubik kaki
7. Karena pengontrolan pencemaran bertujuan untuk meningkatkan mutu lingkungan hidup, maka yang menjadi ukuran adalah pengaruhnya terhadap kehidupan dan kesehatan manusia dan mahlukmahluk hidup lainnya
Berikut ini akan dibahas mengenai pencemaran air dan udara oleh industri :
Pencemaran Udara
    * Masalah utama yg dihadapi dalam pencegahan pencemaran udara terutama berpusat pada bagian-bagian industri yg berhubungan dengan pengolahan besi dan baja
    * Proses ini menyebabkan pengeluaran partikel-partikel dan gas-gas seperti oksida belerang (SO2), karbon dioksida (CO2), karbon monoksida (CO) dan hidrokarbon (CxHx), karena banyaknya kemungkinan keluarnya asap dari proses yg memakai suhu tinggi ini
    * Butiran-butiran partikel yg ukurannya lebih kecil dari molekul gas akan dikeluarkan selama proses ini, Sehingga pengontrolan menjadi lebih sukar dari pada pengontrolan pengeluaran gas
    * Untuk mencegah butiran partikel mengotori udara sekeliling perlu dihilangkan sumber atau diberikan aliran udara sebelum aliran tersebut ke atmosfir.
Supaya asap yg mengandung butiran-butiran partikel yg akan dikeluarkan ke atmosfir tidak mengotori udara sekitarnya, maka perlu terlebih dahulu dilakukan pengurangan jumlah butiran partikel dalam asap dg memakai alat pembersih butiran partikel.
Empat macam alat pembersih butiran partikel yg dikenal adalah
1. Cyclone (siklon)
2. Wet scrubers (Penyikat basah)
3. Electrostatic preccipitator (Pengendap elektrostatis)
4. Fabric filters (saringan kain)
a. Efisiensi masing-masing alat ini akan tergantung pada ukuran butiran partikel dan beberapa parameter operasi alat tersebut
b. Juga dikenal alat pembersih udara lainnya seperti saringan kertas berefisiensi tinggi,
c. Penyemprotan uap yg diikuti oleh densasi, serta lapisan kerikil
d. Cyclone mempunyai efisiensi yg sangat rendah sehingga hanya dipakai sebelum dipergunakannya alat-alat yg lebih efisien atau bila ukuran partikel besar-besar
e. Penyikat basah, pengendap elektrostatis & saringan kain merupakan alat-alat pengontrol pencemaran udara oleh butiran-butiran partikel
Beberapa cara untuk mencegah pengontrolan udara, antara lain :
1. Ventilasi biasa dibantu dengan kipas angin (fan) yg ditempatkan di tempat-tempat yg strategis untuk menyedot udara luar yg lebih bersih serta meniupkan udara yg tercemar ke arah yg tidak ada karyawannya
2. Pemakaian pelindung pernafasan (respiratori protection), yg bersifat mekanis untuk karyawankaryawan tertentu sehubungan dengan pekerjaannya
3. Wet dust collector / wet spray chambers
4. Cerobong-cerobong asap dengan atau tanpa alat pengisap (blower), keduanya tanpa saringan pembersih debu
Pengotoran debu serta pengaruhnya terrhadap manusia
a. Dr. Arthur M. Bueche, Reserch and Development Center General Electric Co, Scanectady, NY menyatakan bahwa belum diketahui banyak tentang debu-debu yg sangat halus mengelilingi kita.
b. Yg dimaksud dengan debu disini adalah partikel-partikel dengan diameter kurang dari seperjuta sentimeter dan yg sangat mengejutkan adalah bahwa partikel-partikel yg lebih kecil dari 0,1 mikron ini merupakan 90% dari berat seluruh debu, akan tetapi jumlah 95% dari semua partikel
c. Yg lebih lagi adalah jumlah seluruh permukaan dari debu yg halus paling tidak sama dengan seluruh permukaan debu yg kasar
d. Pada permukaan-permukaan partikel yg halus inilah gas-gas buangan diserap; lebih halus partikel-partikel tadi lebih mudah masuk ke paru-paru dan dapat mengakibatkan gejala-gejala yang tidak diinginkan, seperti :
a). Pneumoconiosis ialah penyakit paru-paru yg disebabkan oleh infeksi partikel debu.
Partikel debu selalu terdapat dalam udara yg diisap waktu pernafasan, akan tetapi tidak selalu menimbulkan pneumoconiosis.
Karena tubuh mempunyai daya pencegahnya, seperti :
    * rambut hidung yg dpt menahan kira-kira 50% debu
    * rambut getar dan selaput lendir bronkus
    * transudasi melalui dinding alveolus
    * fagsitisis sel makrofag ke kelenjar limpa
Bila udara mengandung partikel debu terlalu banyak, maka debu itu mencapai jaringan paru-paru dalam jumlah banyak, sehingga Menimbulkan kerusakan-kerusakan yg biasa dikenal dengan pneumocosis. Hal ini biasanya dijumpai pada tempat tertentu dan penyakit ini termasuk penyakit jabatan (occupational).
Terdapat berbagai jenis pneumoconiosis berdasarkan jenis debu yg diisapnya, yaitu :
1. Anthracosis, yg disebabkan oleh debu arang (coal) dapat menyebabkan emfisema sentrilobuler
2. Byassunosis, karena debu kapas (cotton). Kelainan anatomic biasanya sedikit. Kadang-kadang dapat menimbulkan gangguan pernafasan
3. Bagassosis, karena debu batang debu. Dapat menimbulkan bronkhiolitis & bronkhoneumosis mirip dengan ‘silofiller’s disease’
4. Fibrosis paru-paru disebabkan oleh debu yg mengandung aluminium, besi, talk & mika
5. Silicosis, yg disebabkan oleh debu silica (SiO2)
6. Asbestosis, karena debu yg mengandung serabut (serat) asbes
7. Berylliosis, karena debu baryllium
Hingga kini belum diketahui tepat bagaimana cara partikel debu itu menimbulkan perubahan atau kerusakan pada paru-paru. Yg sudah diketahui bahwa pengaruh debu itu pada paru-paru akan menimbulkan hal-hal sbb:
- Mengadakan penetrasi pada histiosit,
- Menimbulkan dislokasi sitoplasma histiosit,
- Menyebabkan degenerasi dan kematian histiosit tsb
Kematian histiosit dapat diikuti dengan keluarnya zat yg bersifat sitotoksik atau dapat menimbulkan reaksi imun. Mungkin inilah dasar terjadinya perubahan pada jaringan paru-paru. Perubahan pada paruparu pada umumnya bersifat proliferatif fibratik
b). Silicosis
Adalah penyakit yg disebabkan oleh debu silika yg terdapat dalam bentuk kristal atau koloid amorf. Debu ini dapat ditemukan pada daerah industri, misalnya tambang emas, besi, batu bara, pembelahan batu pasir & industri keramik
c). Patogenesis
Adalah penyakit yg disebabkan oleh partikel debu yg berukuran kecil, yaitu kurang dari 3 mikron yg dapat menimbulkan kelainan. Makin kecil ukurannya makin besar daya perusaknya. Biasanya dibutuhkan waktu 10 sampai 15 tahun sebelum timbul kerusakan yg nyata gejala kliniknya
d). Kikroskopis
Adalah penyakit yg disebabkan debu silika. Mula-mula tampak tonjolan yg keras pada daerah subpleural, peribronchioler & perivaskuler dalam paru-paru. lama- kelamaan tonjolan itu menjadi lebih besar & tersebar rata, terutama daerah hilus. Tampak tonjolan itu berbatas tegas, berlapis seperti daun bawang, keras & berwarna kelabu hitam (karena bercampur dengan amthracosis)

PENGOTORAN KARENA GAS-GAS BERACUN
Beberapa proses pengolahan mengakibatkan terdapatnya pencemaran berbentuk gas seperti oksida belerang, oksida nitrogen, karbon monoksida & hidro karbon. Tiga yg pertama merupakan gas yg paling banyak dikeluarkan karena gas tersebut terbentuk oleh pemakaian bahan bakar fosil dengan proses suhu tinggi Konsentrasi tertinggi pencemar berbentuk gas untuk setiap negara berbeda tergantung keperluannya.

BEBERAPA CARA PENCEGAHAN PENCEMARAN AIR
1. NETRALISASI air buangan dengan kapur NaOH; air yg sudah netral perlu dengan pengenceran dibuang ke sungai/kali. Endapan yg terbentuk dikumpulkan di halaman dekat pabrik
2. OIL REMOVAL (menghilangkan minyak) dengan cara memasukkan kedalam bak-bak, kemudian menyapu permukaan yg terdapat dimana air dan setelah partikel-partikel (butir-butir) terak turun, air dipergunakan lagi sebagai pendingin.
Berdasarkan pemakaiannya air dibagi atas lima kelompok
1. Air kebutuhan masyarakat
2. Air untuk memelihara ikan atau binatang lainnya
3. Air untuk pertanian
4. Air untuk industri
5. Air untuk rekreasi
Warna, bau dan rasa
    * Untuk kebutuhan masyarakat, warna air tidak boleh lebih dari 75 color unit ( Standard Platium Cobalt)
    * Untuk perikanan dan kehidupan tidak boleh lebih dari 50 color unit
    * Tidak boleh menaikkan temperatur sungai atau danau tempat membuang air melebihi 5ºF
    * Kadar tertentu dari zat kimia dapat menyebabkan bau tidak enak atau rasa air yg kurang sedap. Hal ini dapat mengakibatkan rasa ikan atau kerang menjadi kurang sedap/enak
    * Kekeruhan air dibatasi, tidak boleh mengeruhkan air sungai atau danau melebihi batas yg mengganggu kehidupan air dan untuk air minum
Pencemaran kimia dan organik
Khusus untuk air bagi kebutuhan masyarakat dan yg dipergunakan untuk pertanian ditentukan batas jenis unsur kimia yg boleh dikandung didalamnya

GANGGUAN SUARA
    * Gangguan suara merupakan suatu kebisingan yg sulit untuk diatasi
    * Bising adalah suara yg kita dengar akibat adanya getaran udara yg berasal dari sumber getaran dan sampai pada telinga kita
    * Tidak semua getaran dapat kita terima menjadi suara yg bisa kita dengar
    * Adanya batas-batas jumlah frekuensi dan amplitudo tertentu
    * Bila seseorang sering mendapat gangguan bising yg tingkat bunyinya tinggi, maka makin cepatlah pengurangan pendengarannya
    * Demikian pula halnya pada frekuensi tinggi yg sangat pekak bagi telinga, pengurangan pendengaran akan lebih cepat terjadi
    * Disamping itu bising juga sangat mempengaruhi manusia baik secara psikologis maupun fisiologis
    * Penyelidikan telah menunjukkan bahwa disekitar bandara udara, prosentase timbulnya penyakit lebih besar dibandingkan dengan daerah yg jauh dari daerah bandara udara (penyakit jantung, keguguran dan kemerosotan prestasi kerja)
Ada empat cara mengatasi kebisingan
1. Perencanaan tata ruang yg baik
2. Penggunaan bahan-bahan bangunan dan akustika yg tepat
3. Pembuatan bangunan penahan kebisingan
4. Penggunaan getaran suara

ALAT-ALAT KESELAMATAN KERJA

1. ALAT-ALAT PELINDUNG ANGGOTA BADAN
a). Pakaian Kerja
b). Pelindung Tangan dan Pelindung Kaki
c). Alat Pelindung Mata
d). Pelindung Hidung dan Mulut
e). Kaca Pengaman
f). Pelindung Pada Mesin
g). Pelindung Rambut Kepala
2. ALAT-ALAT DAN ALAT PENOLONG
a). Sudut & pinggir yg tajam
b). Beram
c). Kepala Martil
d). Terbangnya Bilah-bilah kayu
e). Keselamatan terhadap jatuh
f). Kikir
g). Tangga
h). Mengangkat benda yg berat dg tangan
i). Mengangkat benda berat

MENGATASI BAHAYA KEBAKARAN
Bahaya kebakaran adalah suatu bencana api yg sangat berbahaya & tidak kita kehendaki karena dapat memusnahkan harta benda ataupun jiwa manusia.
Menanggulangi bahaya kebakaran
1. Jenis api kebakaran
2. Jenis benda (bahan) yg dapat terbakar
3. Alat-alat & bahan pemadam kebakaran
4. Orang-orang yg mendapat tugas pada regu-regu keamanan pemadam kebakaran serta petugas P3K
Yang perlu diketahui
1. Adanya tanda-tanda bahaya kebakaran
2. Letak alat-alat untuk memberi isyarat tanda-tanda kebakaran
3. Letak alat-alat pemadam kebakaran
4. Cara-cara menghubungi yg berwajib, petugas pemadam kebakaran, dokter, rumah sakit, ambulance dll baik dg telpon maupun secara langsung
Menguasai Kebakaran
1. Menghindarkan bahaya kebakaran
2. Bertindak cepat, cekatan, tepat, tetapi tenang & hati-hati
3. Jangan panik, tidak berarti boleh lamban
4. Menyelamatkan jiwa manusia, barang-barang/dokumen berharga, alat bangunan, mesin-mesin dll
5. Mencegah terjadinya kebakaran
6. Mencegah api menjalar ke tempat lain
7. Memadamkan api yg menyala
Jenis-jenis api kebakaran
1. Api kelas A : yaitu api dari kebakaran bahan-bahan benda padat (misal; kayu, tekstil, dll)
2. Api kelas B : yaitu api dari kebakaran bahan cairan (misalnya, bensin, minyak, dll)
3. Api kelas C : yaitu api dari kebakaran bahan-bahan gas, acetyleen dll
4. Api kelas D : yaitu api dari akibat kebakaran aliran listrik
5. Api kelas E : yaitu api dari kebakaran logam
Jenis-jenis benda (bahan) yg mudah terbakar
1. Bahan padat ; kayu, bambu, tekstil, kertas, karet, aspal, lilin, sampah, dll
2. Bahan cairan ; bensin, minyak lampu, solar, asam belerang dll
3. Bahan gas ; gas acetyleen, gas hydrogen dll
Sebab-sebab kebakaran
1. Penyalaan sendiri (tanpa sengaja)
2. Perbuatan sengaja
3. Alat-alat (mesin-mesin) yg sedang dipergunakan
4. Kortsluiting listrik (hubungan pendek arus listrik)
5. Gerakan alam
6. Disambar petir
Cara pemadaman kebakaran
1. Cara Isolasi; yaitu dengan memutuskan (menutup) hubungan antara udara luar dengan benda terbakar
2. Cara Pendinginan; yaitu dengan menyerap panas antara, antara lain dengan air, lumpur
3. Cara Urai; yaitu dengan memindahkan sejauh mungkin benda-benda yg belum terbakar, sehingga api tidak dapat menjalar lebih lanjut.
Yg perlu diperhatikan pada waktu memadamkan kebakaran harus mengenal (mengetahui) jenis benda (bahan) yg terbakar dengan adanya:
    * bau asap; yaitu dari macamnya bau yg tercium, misalnya; antara bau karet & bau tekstil
    * warna asap; yaitu dari permulaan warna yg terlihat, misalnya; kebakaran minyak akan mengeluarkan warna hitam, kebakaran pospor akan mengeluarkan warna putih
    * arah pada waktu memadamkan api kebakaran, pancaran dari zat pemadam harus searah dengan arah angin, baik dari samping kiri maupun dari samping kanan
Usaha pencegahan kebakaran pada waktu bekerja :
1. Dapur tempa
2. Kompor (kompor penyalaan gas-gas, elpiji)
3. Motor bensin, motor diesel
4. Las karbid, las listrik
5. Listrik
6. Diesel/generator
7. Lampu minyak, lilin
8. Pemusnahan (pembakaran) sampah
9. Obat nyamuk
10. Tempat yg banyak orang, misalnya api dari rokok

ALAT-ALAT (BAHAN-BAHAN) UNTUK PEMADAM KEBAKARAN
1. Batang Pengait :
Gunanya untuk merobohkan bagian-bagian bangunan yg belum terbakar & terdekat dengan api kebakaran dengan maksud untuk memisahkan (memutuskan) api jangan sampai meluas (menjalar) ke bagian-bagian lain yg belum terbakar
2. Tangga
Gunanya untuk membantu, apabila ada bagian-bagian yg tinggi perlu dirobohkan yg belum terbakar & tidak terjangkau oleh batang pengait agar terputus tidak menjalar ke bagian lain
3. Karung
Yang telah dimasukkan ke dalam air : gunanya untuk memadamkan api kebakaran yg masih agak kecil & karena kebakaran pada umumnya, caranya dengan menutup bagian yg terbakar
4. Pasir
Gunanya untuk memadamkan api kebakaran yg masih kecil, pasir dapat disimpan di suatu tempat bak pasir dengan terisi ± 0,25 m3 pasir. Dalam bak itu disediakan sekop pada ember. Pasir itu dapat juga disimpan dalam kantong-kantong plastik (kira-kira 3 kg). Penggunaan karung basah, juga dapat membantu agar api tidak meluas (menjalar) ke tempat-tempat lain
5. Alat-alat Hidrant
Gunanya untuk memadamkan api kebakaran yg telah membesar & tidak boleh dipergunakan untuk memadamkan api yg diakibatkan kebakaran cairan (bahan kimia) misalnya bensin, solar, minyak lampu dll
Caranya : dapat disiramkan dengan menggunakan ember atau dapat disemprotkan dengan menggunakan hydrant (pakai slang panjang & kran) baik yg ada pada mobil pemadam kebakaran maupun yg telah tersedia di masing-masing bangunan kerja
6. Alat-alat Penyembur
Alat pemadam api ini antara lain alat yg dibuat oleh suatu pabrik & berbentuk tabung
Alat ini biasanya mempunyai :
- Cairan racun api
- Cairan berbentuk busa, yg macamnya seperti busa sabun
- Cairan soda ocsid
- Bubuk kimia kering
Biasanya alat semacam ini di setiap perusahaan, ruang kantor, gedung besar selalu tersedia & dipasang di tempat yg mudah dipergunakan Alat ini digunakan untuk memadamkan api kebakaran yg ditimbulkan oleh kebakaran dari segala macam & cara mempergunakannya.
Cara mempergunakan alat penyembur Multy Purpose Dry Chemical Fire Extinguisher
1. Lepaskan kunci pengaman
2. Peganglah alat dalam keadaan tegak
3. Lepaskan pipa dari klip
4. Pijitlah pengatup
5. Arahkan corong ke pangkal api dengan menyapu dan merata
6. Hati-hatilah dalam menggunakan alat ini, jangan sampai semburan cairan ini mengenai anggota badan
7. Pengatup tidak boleh dipijit, kecuali untuk memadamkan
Keselamatan kerja untuk mencegah bahaya kebakaran Untuk mencegah terjadinya bahaya kebakaran di perusahaan, maka semua personil, karyawan, pekerja harus mentaati dan melaksanakan petunjuk & ketentuan yg diberikan oleh perusahaan sesuai tugas dan kewajibannya masing-masing.
Mencegah kebakaran didalam perusahaan yg menggunakan gas, bensin, solar dll
1. Dilarang merokok didalam ruang yg terdapat gas, bensin & solar
2. Tutup rapat semua kran gas, tempat drum bensin/solar setelah selesai dipakai
3. Periksa kemungkinan kebocoran dari sambungan pipa gas & dari drum bensin/minyak
4. Segera membuka pintu/jendela sebelum bekerja dimulai agar ada pergantian udara didalam ruangan selama kurang lebih 15-30 menit (terutama gas elpiji yg lebih berat dari udara dan akan berada ditempat yg terendah)
5. Simpanlah tangki gas atau drum bensin (minyak) ditempat yg tersedia, tersendiri & tertutup
6. Dilarang membuka kran gas & tutup drum sebelum digunakan

STRATEGI DAN PROGRAM PENDEKATAN KESELAMATAN KERJA
Tidak jarang karyawan yang mengalami kecelakaan kerja bukan karena kelalaian dari dirinya saja tetapi juga karena perusahaan kurang memahami dan tidak melindungi karyawan dengan alat pengaman ketika mereka bekerja. Kalau ini dibiarkan maka motivasi dan kinerja karyawan bakal semakin menurun. Karena itu setiap perusahaan sewajarnya memiliki strategi memperkecil dan bahkan menghilangkan kejadian kecelakaan kerja di kalangan karyawan sesuai dengan kondisi perusahaan. Strategi yang perlu diterapkan perusahaan meliputi: Pihak manajemen perlu menetapkan bentuk perlindungan bagi karyawan dalam menghadapi kejadian kecelakaan kerja. Misalnya karena alasan finansial, kesadaran karyawan tentang keselamatan kerja dan tanggung jawab perusahaan dan karyawan maka perusahaan bisa jadi memiliki tingkat perlindungan yang minimum bahkan maksimum.

Pihak manajemen dapat menentukan apakah peraturan tentang keselamatan kerja bersifat formal ataukah informal. Secara formal dimaksudkan setiap aturan dinyatakan secara tertulis, dilaksanakan dan dikontrol sesuai dengan aturan. Sementara secara informal dinyatakan tidak tertulis atau konvensi dan dilakukan melalui pelatihan dan kesepakatan-kesepakatan. Pihak manajemen perlu proaktif dan reaktif dalam pengembangan prosedur dan rencana tentang keselamatan dan kesehatan kerja karyawan. Proaktif berarti pihak manajemen perlu memperbaiki terus menerus prosedur dan rencana sesuai kebutuhan perusahaan dan karyawan. Sementara arti reaktif, pihak manajemen perlu segera mengatasi masalah keselamatan dan kesehatan kerja setelah suatu kejadian timbul.

Pihak manajemen dapat menggunakan tingkat derajad keselamatan dan kesehatan kerja yang rendah sebagai faktor promosi perusahaan ke khalayak luas. Artinya perusahaan sangat peduli dengan keselamatan dan kesehatan kerja. Sesuai dengan strategi di atas maka program yang diterapkan untuk menterjemahkan strategi itu diantara perusahaan biasanya dengan pendekatan yang berbeda. Hal ini sangat bergantung pada kondisi perusahaan. Secara umum program memperkecil dan menghilangkan kejadian kecelakaan kerja dapat dikelompokkan : telaahan personal, pelatihan keselamatan kerja, sistem insentif, dan pembuatan aturan penyelamatan kerja.

Telaahan Personal
Telaahan personal dimaksudkan untuk menentukan karakteristik karyawan tertentu yang diperkirakanfaktor usia; apakah karyawan yang berusia lebih tua cenderung lebih lebih aman dibanding yang lebih  muda ataukah sebaliknya, ciri-ciri fisik karyawan seperti potensi pendengaran dan penglihatan cenderung berhubungan derajad kecelakaan karyawan yang kritis, dan tingkat pengetahuan dan kesadaran karyawan tentang pentingnya pencegahan dan penyelamatan dari kecelakaan kerja. Dengan mengetahui ciri-ciri personal itu maka perusahaan dapat memprediksi siapa saja karyawan yang potensial untuk mengalami kecelakaan kerja. Lalu sejak dini perusahaan dapat menyiapkan upaya-upaya pencegahannya.

Sistem Insentif
Insentif yang diberikan kepada karyawan dapat berupa uang dan bahkan karir. Dalam bentuk uang dapat dilakukan melalui kompetisi antarunit tentang keselamatan kerja paling rendah dalam kurun waktu tertentu, misalnya selama enam bulan sekali. Siapa yang mampu menekan kecelakaan kerja sampai titik terendah akan diberikan penghargaan. Bentuk lain adalah berupa peluang karir bagi para karyawan yang mampu menekan kecelakaan kerja bagi dirinya atau bagi kelompok karyawan di unitnya.

Pelatihan Keselamatan Kerja
Pelatihan keselamatan kerja bagi karyawan biasa dilakukan oleh perusahaan. Fokus pelatihan umumnya pada segi-segi bahaya atau resiko dari pekerjaan, aturan dan peraturan keselamatan kerja, dan perilaku kerja yang aman dan berbahaya. Peraturan Keselamatan Kerja Perusahaan perlu memiliki semacam panduan yang berisi peraturan dan aturan yang menyangkut apa yang dapat dan tidak dapat dilakukan oleh karyawan di tempat kerja. Isinya harus spesifik yang memberi petunjuk bagaimana suatu pekerjaan dilakukan dengan hati-hati untuk mencapai keselamatan kerja maksimum. Sekaligus dijelaskan beberapa kelalaian kerja yang dapat menimbulkan bahaya individu dan kelompok karyawan serta tempat kerja.

Dalam pelaksanaannya perlu dilakukan melalui pemantauan, penumbuhan kedisiplinan dan tindakan tegas kepada karyawan yang cenderung melakukan kelalaian berulang-ulang.
Untuk menerapkan strategi dan program di atas maka ada beberapa pendekatan sistematis yang dilakukan secara terintegrasi agar manajemen program kesehatan dan keselamatan kerja berjalan efektif berikut ini.
  • Pendekatan Keorganisasian
  • Merancang pekerjaan,
  • Mengembangkan dan melaksanakan kebijakan program,
  • Menggunakan komisi kesehatan dan keselamatan kerja,
  • Mengkoordinasi investigasi kecelakaan.
  • Pendekatan Teknis
  • Merancang kerja dan peralatan kerja,
  • Memeriksa peralatan kerja,
  • Menerapkan prinsip-prinsip ergonomi.
  • Pendekatan Individu
  • Memperkuat sikap dan motivasi tentang kesehatan dan keselamatan kerja,
  • Menyediakan pelatihan kesehatan dan keselamatan kerja,
  • Memberikan penghargaan kepada karyawan dalam bentuk program insentif.
  • Tidak hanya upah besar yang mejadi tolok ukur dalam menentukan jenis pekerjaan.
  • Keselamatan kerja adalah hal yang seharusnya juga menjadi prioritas.
Apalah artinya gaji yang besar jika keselamatan diri tergadaikan? Bukankah kita tidak akan menikmatinya jika nyawa atau kesehatan kita terancam? Perlu Anda ketahui, dua hal terbesar yang menjadi penyebab kecelakaan kerja antara lain :     * Perilaku yang tidak aman dan    * Kondisi lingkungan yang tidak aman

Meski demikian, berdasarkan data dari Biro Pelatihan Tenaga Kerja, penyebab kecelakaan yang pernah terjadi hingga menyebabkan keselamatan kerja terganggu, hingga saat ini lebih diakibatkan oleh perilaku yang tidak aman dengan factor sebagai berikut :
    * Sembrono dan tidak hati - hati
    * Tidak mematuhi peraturan
    * Tidak mengikuti standar prosedur kerja
    * Tidak memakai alat pelindung diri
    * Kondisi badan yang lemah
 
Persentase penyebab kecelakaan kerja yaitu 3% dikarenakan sebab yang tidak bisa dihindarkan, seperti bencana alam. Faktor lain yang mengganggu keselamatan kerja 24% disebabkan lingkungan atau peralatan yang tidak memenuhi syarat dan 73% karena perilaku yang tidak aman.Tentu saja, cara yang paling efektif untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja adalah dengan menghindari terjadinya lima perilaku tidak aman yang telah disebutkan di atas. Oleh karena itu, harus diambil tindakan yang tepat terhadap tenaga kerja dan perlengkapan, agar tenaga kerja memiliki konsep keselamatan dan kesehatan kerja demi mencegah terjadinya kecelakaan. Jika demikian, pendidikan akan kesehatan dan keselamatan kerja sangat penting artinya. Tujuannya antara lain untuk melindungi kesehatan tenaga kerja, meningkatkan efisiensi kerja, mencegah terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit. Berikut berbagai arah keselamatan dan kesehatan kerja     * Mengantisipasi keberadaan faktor penyebab bahaya dan melakukan pencegahan sebelumnya.     * Memahami jenis-jenis bahaya yang ada di tempat kerja    * Mengevaluasi tingkat bahaya di tempat kerja    * Mengendalikan terjadinya bahaya atau komplikasi.

Terkait keselamatan kerja, faktor penyebab berbahaya yang paling sering ditemukan antara lain adalah :
  1. Bahaya jenis kimia: terhirup atau terjadinya kontak antara kulit dengan cairan metal, cairan non-metal, hidrokarbon dan abu, gas, uap steam, asap dan embun yang beracun.
  2. Bahaya jenis fisika: lingkungan yang bertemperatur panas dan dingin, lingkungan yang beradiasi pengion dan non pengion, bising, vibrasi dan tekanan udara yang tidak normal.
  3. Bahaya yang mengancam manusia dikarenakan jenis proyek: pencahayaan dan penerangan yang kurang, bahaya dari pengangkutan, dan bahaya yg ditimbulkan oleh peralatan.
Adapun cara pengendalian ancaman bahaya kesehatan kerja adalah :
  • Pengendalian teknik: mengganti prosedur kerja, menutup mengisolasi bahan berbahaya, menggunakan otomatisasi pekerjaan, menggunakan cara kerja basah dan ventilasi pergantian udara.
  • Pengendalian administrasi : mengurangi waktu pajanan, menyusun peraturan kesehatan dan keselamatan kerja, memakai alat pelindung, memasang tanda-tanda peringatan, membuat daftar data bahan-bahan yang aman, melakukan pelatihan sistem penangganan darurat. Berdasarkan UU Perlindungan Tenaga Kerja dan Kecelakaan Kerja, pemilik usaha pada saat mulai memakai tenaga kerja, harus membantu tenaga kerjanya untuk mendaftar keikutsertaan asuransi tenaga kerja, demi menjamin keselamatan kerja. Selain itu, setelah terjadi kecelakaan kerja, pemilik usaha wajib memberikan subsidi kecelakaan kerja. Apabila pemilik usaha tidak mendaftarkan tenaga kerjanya ikut serta asuransi tenaga kerja sesuai dengan UU Standar Ketenagakerjaan, maka pemilik usaha akan dikenakan denda.
8:47 AM | 0 comments | Read More

Konteks Kebijakan Kesehatan

Written By Lumajangtopic on Thursday, January 24, 2013 | 4:48 PM

Faktor Kontekstual yang Berpengaruh Pada Kebijakan Kesehatan

Konteks mengacu ke faktor sistematis – politk, ekonomi dan social, national dan internasional – yang mungkin memiliki pengaruh pada kebijakan kesehatan. Ada banyak cara untuk mengelompokkan fakto-faktor tersebut, tetapi Leichter (1979) memaparkan cara yang cukup bermanfaat :
  • Faktor situasional, merupakan kondisi yang tidak permanen atau khusus yang dapat berdampak pada kebijakan (contoh: perang, kekeringan). Hal-hal tersebut sering dikenal sebagai ‘focusing event’. Event ini bersifat satu kejadian saja, seperti: terjadinya gempa yang menyebabkan perubahan dalam aturan bangunan rumah sakit, atau terlalu lama perhatian publik akan suatu masalah baru. Contoh : terjadinya wabah HIV/AIDS (yang menyita waktu lama untuk diakui sebagai wabah internasional) memicu ditemukannya pengobatan baru dan kebijakan pengawasan pada TBC karena adanya kaitan diantara kedua penyakit tersebut – orang-orang pengidap HIV positif lebih rentan terhadap berbagai penyakit, dan TBC dapat dipicu oleh HIV.
  • Faktor struktural, merupakan bagian dari masyarakat yang relatif tidak berubah. Faktor ini meliputi sistem politik, mencakup pula keterbukaan sistem tersebut dan kesempatan bagi warga masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembahasan dan keputusan kebijakan; faktor struktural meliputi pula jenis ekonomi dan dasar untuk tenaga kerja. Contoh, pada saat gaji perawat rendah, atau terlalu sedikit pekerjaan yang tersedia untuk tenaga yang sudah terlatih, negara tersebut dapat mengalami perpindahan tenaga professional ini ke sektor di masyarakat yang masih kekurangan. Faktor struktural lain yang akan mempengaruhi kebijakan kesehatan suatu masyarakat adalah kondisi demografi atau kemajuan teknologi. Contoh, negara dengan populasi lansia yang tinggi memiliki lebih banyak rumah sakit dan obat-obatan bagi para lansianya, karena kebutuhan mereka akan meningkat seiring bertambahnya usia. Perubahan teknologi menambah jumlah wanita melahirkan dengan sesar dibanyak negara. Diantara alasan-alasan tersebut terdapat peningkatan ketergantungan profesi kepada teknologi maju yang menyebabkan keengganan para dokter dan bidan untuk mengambil resiko dan ketakutan akan adanya tuntutan. Dan tentu saja, kekayaan nasional suatu negara akan berpengaruh kuat tehadap jenis layanan kesehatan yang dapat diupayakan.
  • Faktor budaya, dapat mempengaruhi kebijakan kesehatan. Dalam masyarakat dimana hirarki menduduki tempat penting, akan sangat sulit untuk bertanya atau menantang pejabat tinggi atau pejabat senior. Kedudukan sebagai minoritas atau perbedaan bahasa dapat menyebabkan kelompok tertentu memiliki informasi yang tidak memadai tentang hak-hak mereka, atau menerima layanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan khusus mereka. Di beberapa negara dimana para wanita tidak dapat dengan mudah mengunjungi fasilitas kesehatan (karena harus ditemani oleh suami) atau dimana terdapat stigma tentang suatu penyakit (missal: TBC atau HIV), pihak yang berwenang harus mengembangkan sistem kunjungan rumah atau kunjungan pintu ke pintu. Faktor agama dapat pula sangat mempengaruhi kebijakan, seperti yang ditunjukkan oleh ketidak-konsistennya President George W. Bush pada awal tahun 2000-an dalam hal aturan sexual dengan meningkatnya pemakaian kontrasepsi atau akses ke pengguguran kandungan. Hal tersebut mempengaruhi kebijakan di Amerika dan negara lain, dimana LSM layanan kesehatan reproduksi sangat dibatasi atau dana dari pemerintah Amerika dikurangi apabila mereka gagal melaksanakan keyakinan tradisi budaya President Bush.
  • Faktor internasional atau exogenous, yang menyebabkan meningkatnya ketergantungan antar negara dan mempengaruhi kemandirian dan kerjasama internasional dalam kesehatan. Meskipun banyak masalah kesehatan berhubungan dengan pemerintahan nasional, sebagian dari masalah itu memerlukan kerjasama organisasi tingkat nasional, regional atau multilateral. Contoh, pemberantasan polio telah dilaksanakan hampir di seluruh dunia melalui gerakan nasional atau regional, kadang dengan bantuan badan internasional seperti WHO.

Namun, meskipun satu daerah telah berhasil mengimunisasi polio seluruh balitanya dan tetap mempertahankan cakupannya, virus polio tetap bisa masuk ke daerah tersebut dibawa oleh orang-orang yang tidak diimunisasi yang masuk lewat perbatasan. Seluruh faktor tersebut merupakan faktor yang kompleks, dan tergantung pada

waktu dan tempat. Contoh, pada abad 19, Inggris mengeluarkan kebijakan kesehatan mengenai penyakit menular seksual diseluruh Kerajaan Inggris Raya. Berdasar asumsi kolonial yang dominan, meskipun melihat bagaimana suku dan jenis kelamin diterapkan dalam masyarakat Inggris, tetap mempertimbangkan kebijakan yang mencerminkan prasangka dan asumsi kekuasaan penjajah, daripada kebijakan yang sesuai dengan budaya setempat. Levine (2003) menggambarkan keadaan di India, pekerja seks wanita harus mendaftarkan diri kepada pihak kepolisian sebagai pekerja prostitusi, suatu kebijakan yang didasarkan pada kepercayaan Inggris bahwa prostitusi tidak membawa tabu atau stigma tertentu di India. Kepolisian kolonial yang mengurusi prostitusi mengharuskan rumah-rumah pelacuran untuk mendaftar kepada pihak berwenang setempat. Asumsi bahwa pemilik rumah pelacuran kejam dan tidak mengakui kebebasan para pekerjanya menyebabkan pihak colonial yang berwenang memaksakan suatu pendaftaran yang mewajibkan pemilik rumah pelacuran bertanggung jawab untuk memeriksakan pekerja mereka. Di Inggris sendiri, rumah pelacuran illegal dan kebijakan mengenai pekerja seks wanita yang ada adalah yang khusus mengurusi mereka “yang berkeliaran di jalan”.

Contoh menarik bagaimana konteks mempengaruhi kebijakan dipaparkan oleh Shiffman dan rekannya (2002). Mereka membandingkan hak reproduksi di Serbia dan Croatia, dimana, setelah pemerintahan federal Yugoslavia terpecah, pemerintah menganjurkan para wanitanya untuk memiliki lebih banyak anak. Penulis berpendapat bahwa kebijakan yang mendukung kelahiran disebabkan oleh keyakinan para elit dikedua negara bahwa ketahanan nasional sedang diujung tanduk. Keyakinan para elit ini disebabkan oleh beberapa faktor: salah satunya adalah pergeseran dari filosofi sosialis mengenai emansipasi wanita ke ideologi yang lebih nasionalis. Faktor yang lain adalah perbandingan yang dibuat oleh kalangan elit antara tingkat kesuburan yang rendah diantara suku Serb di Serbia dan suku Croats di Croatia, dengan tingkat kesuburan yang lebih tinggi di kelompok suku lain yang terdapat di dua negara.

Untuk memahami bagaimana kebijakan kesehatan berubah, atau tidak, mempunyai arti kemampuan untuk mengkaji kontek dimana kebijakan tersebut dibuat, dan mencoba menilai sejauh mana jenis-jenis faktor tersebut dapat mempengaruhi kebijakan yang dihasilkan.
4:48 PM | 0 comments | Read More
 
berita unik