Blog Kesmas

happu diet photo Diets250x150.gif

Inspeksi Sanitasi

Weight Loss Diet

Update Tablet

info-ponselhp photo InfoHOFlash_zpsc6939bc5.gif

Public Health Blog

daftar isi sanitasi photo DAFTARISIBLOG2.gif
Showing posts with label Pengendalian Penyakit Tidak Menular. Show all posts
Showing posts with label Pengendalian Penyakit Tidak Menular. Show all posts

Pencegahan Kanker Serviks

Written By Lumajangtopic on Tuesday, February 16, 2016 | 1:25 AM

Pencegahan dan Pengobatan Kanker Serviks

Berikut beberapa saran untuk mencegah kanker serviks (mencegah infeksi virus HPV) :
  1. Jaga kesehatan dan daya tahan tubuh dengan cara konsumsi makanan bergizi. Jalani pola hidup sehat dengan cara makan sayuran, buah dan sereal. Perbanyak makanan yang mengandung vitamin A, C dan E serta asam folat untuk mengurangi risiko kanker leher rahim.
  2. Sebelum menggunakan toilet di tempat umum, selalu bersihkan bibir kloset dengan alkohol. Jangan membersihkan genital dengan air kotor.
  3. Hindari hubungan seks di usia dini. Hindari berhubungan badan dengan banyak partner karena HPV menular melalui hubungan seksual. Hindari berhubungan sex selama masa haid/menstruasi.
  4. Hindari merokok, karena penggunaan tembakau dapat menyebabkan kanker.
  5. Rutin melakukan screening berupa pap smear atau IVA untuk deteksi kanker serviks secara dini.
  6. Vaksinasi dapat dilakukan pada perempuan usia 10-55 tahun dengan jadwal suntikan sebanyak 3 kali, yaitu pada bulan 0, 1 dan 6. Vaksin HPV akan meningkatkan daya imun anak sehingga lebih resistan terhadap virus.
Jika Anda sudah dideteksi menderita kanker serviks, saat ini sudah ada sejumlah metode untuk mengobati kanker serviks. Pada stadium awal, pengobatan kanker serviks dilakukan dengan cara menyingkirkan bagian yang sudah terkena kanker. Misalnya dengan pembedahan listrik, laser atau cyrosurgery (membekukan dan membuang jaringan abnormal).

Untuk pengobatan kanker serviks stadium lanjut, dilakukan terapi kemoterapi dan radioterapi. Pada stadium akhir atau kasus yang parah maka terpaksa dilakukan histerektomi, yaitu bedah pengangkatan rahim (uterus) secara total agar sel-sel kanker yang sudah berkembang dalam kandungan tidak menyebar ke bagian lain dalam tubuh.
1:25 AM | 0 comments | Read More

Higiene Perorangan

Written By Lumajangtopic on Tuesday, September 22, 2015 | 10:45 AM

Pengertian Higiene Perorangan 

Kesehatan pribadi adalah badan diri seseorang yang bersih dari segala penyakit yaitu berasal dari dalam tubuh manusia maupun luar tubuh manusia tersebut. Pribadi yang sehat bisa dikatakan sehat bila luar dan dalam tubuh pribadi seseorang itu sudah bersih dari segala penyakit yang dapat mempengaruhi kesehatan pribadi tersebut.

Cara Pemeliharaan Kesehatan
Cara pemeliharaan kesehatan pribadi dapat dibagi menjadi 2 bagian, yaitu :

1.Memelihara Kesehatan Jasmani
Dengan cara pemeliharaan kesehatan pribadi khususnya dengan cara memelihara kesehatan jamani dapat dilakukan dengan syarat-syarat sebagai berikut : a. Makan, minum 4 sehat 5 sempurna 
Makan, minum 4 sehat 5 sempurna dapat diperoleh dari :
  1. Makanan pokok antara lain : nasi, jagung, roti, gandum dan lain-lain 
  2. Lauk pauk antara lain daging yang berprotein tinggi, tahu, tempe, dan sebagainya
  3. Sayuran, dan
  4. Buah-buahan Ditambah 5 sempurna
  5. Susu 
Namun pada kaitannya makan, minum 4 sehat 5 sempurna seringkali penambahan 5 sempurna yaitu susu, sering tidak terpenuhi karena pemahaman bahwa susu adalah kebutuhan yang mewah. Namun sekarang sudah ada solusi cerdas dengan menggantinya dengan susu kedelai yang tidak kalah nilai gizinya dengan susu-susu pada umumnya.
b.Berolah raga
Olah raga yang cukup akan memperlancar aliran dalam tubuh, karena berolah raga bisa dilakukan dimana saja dan kapanpun dengan cara sering bergerak saja kita sudah bisa dikatakan berolah raga karen aprinsip dasar olah raga adalah mengolah tubuh dengan kata lain bergerak. Namun pada umumnya berolah raga dilakukan dengan permainan-permainan seperti :
1  Sepak bola.
2. Renang
3. Bola basket
4. Boling
5. Bola voli
6. Lomba lari, dsb

Diantara dua syarat-syarat kesehatan pribadi di atas, sangat diperlukan Belencing (keseimbangan) diantara dua syarat tersebut. Karena bila tubuh sudah memenuhi syarat pertama yaitu makan, minum 4 sehat 5 sempurna tetapi tidak menjalankan syarat yang kedua, maka akan ada gangguan dalam pribadi tersebut dan begitu pula sebaliknya.

Cara Pemeliharaan Kesehatan Rohani
Kesehatan rohani dapat diperoleh dengan selalu berfikir positif disetiap waktu dan juga bisa menjaga perasaan dan tak terombang-ambing oleh perasaan tersebut. Maka dalam mencari pikiran yang posiyif tersebut kita dihadapkan dengan suatu yang dapat membimbing kita ke arah positif yaitu agama. Agama yang kita peluk akan memberi pencerahan dan siraman-siraman rohani yang membuat kita selalu berfikir positif.
10:45 AM | 0 comments | Read More

Standar Asuhan Pelayanan Antenatal

Written By Lumajangtopic on Wednesday, September 9, 2015 | 9:06 PM

Kualitas Pelayanan Antenatal

Pelayanan antenatal adalah pelayanan kesehatan yang diberikan kepada ibu selama masa kehamilannya sesuai dengan standar pelayanan antenatal yang mencakup anamnesis, pemeriksaan fisik umum dan kebidanan, pemeriksaan laboratorium atas indikasi tertentu serta indikasi dasar dan khusus. Selain itu aspek yang lain yaitu penyuluhan, Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE), motivasi ibu hamil dan rujukan.

Tujuan asuhan antenatal adalah memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang bayi, meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental dan sosial ibu dan bayi, mengenali secara dini adanya ketidaknormalan atau komplikasi yang mungkin selama kehamilan, termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan dan pembedahan, mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat,ibu maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin, mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian ASI eksklusif, mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerimakelahiran bayi agar dapat tumbuh kembang secara normal serta optimalisasi kembalinya kesehatan reproduksi ibu secara wajar. Keuntungan layanan antenatal sangat besar karena dapat mengetahui resiko dan komplikasi sehingga ibu hamil dapat diarahkan untuk melakukan rujukan ke rumah sakit. Layanan antenatal dilakukan sehingga dapat dilakukan pengawasan yang lebih intensif, pengobatan agar resiko dapat dikendalikan, serta melakukan rujukan untuk mendapat tindakan yang adekuat.

Pelayanan yang dilakukan secara rutin juga merupakan upaya untuk melakukan deteksi dini kehamilan beresiko sehingga dapat dengan segera dilakukan tindakan yang tepat untuk mengatasi dan merencanakan serta memperbaiki kehamilan tersebut. Kelengkapan antenatal terdiri dari jumlah kunjungan antenatal dan kualitas pelayanan antenatal.

Pelayanan antenatal mempunyai pengaruh yang baik terhadap pertumbuhan janin atau lama waktu mengandung, baik dengan diagnosis maupun dengan perawatan berkala terhadap adanya komplikasi kehamilan. Pertama kali ibu hamil melakukan pelayanan antenatal merupakan saat yang sangat penting, karena berbagai faktor resiko bisa diketahui seawal mungkin dan dapat segera dikurangi atau dihilangkan. Kualitas pelayanan Antenatal erat hubungannya dengan penerapan. Standar pelayanan kebidanan, yang mana standar pelayanan berguna dan penerapan norma dan tingkat kinerja yang diperlukan untuk mencapai hasil yang diinginkan. Penerapan standar pelayanan akan sekaligus melindungi masyarakat, karena penilaian terhadap proses dan hasil penilaian dapat dilakukan dengan dasar yang jelas. Mengukur tingkat kebutuhan terhadap standar yang baik input, proses pelayanan dan hasil pelayanan khususnya tingkat pengetahuan pasien terhadap pelayanan antenatal yang dikenal standar mutu yaitu :

1. Standar pelayanan Antenatal

Terdapat enam standar dalam standar pelayanan antenatal seperti berikut ini :

a. Standar : Identifikasi Ibu Hamil

Standar ini bertujuan mengenali dan memotivasi ibu hamil untuk memeriksakan kehamilannya. Pernyataan standar : Bidan melakukan kunjungan rumah dan berinteraksi dengan masyarakat secara berkala untuk memberikan penyuluhan dan memotivasi ibu, suami dan anggota keluarganya agar mendorong ibu untuk memeriksakan kehamilannya sejak dini dan secara teratur.

b. Standar : Pemeriksaan dan Pemantauan Antenatal

Pemeriksaan dan pemantauan antenatal bertujuan memberikan pelayanan antenatal berkualitas dan diteliti dalam komplikasi. Bidan memberikan sedikitnya 4 x pelayanan antenatal. Pemeriksaan meliputi anamnesa dan pemantauan ibu dan dan janin dengan seksama untuk menilai apakah perkembangan berlangsung normal. Bidan juga harus mengenal kehamilan risti/ kelainan, khususnya anemia, kurang gizi, hipertensi, PMS/ Infeksi HIV ; memberikan pelayanan imunisasi, nasehat dan penyuluhan kesehatan serta tugas terkait lainnya yang diberikan oleh Puskesmas. Mereka harus mencatat data yang tepat padu setiap kunjungan. Bila ditemukan kelainan, mereka harus mampu mengambil tindakan yang diperlukan dan merujuknya untuk tindakan selanjutnya.

c. Standar : Palpasi Abdominal

Standar palpasi abdominal bertujuan memperkirakan usia, kehamilan, pemantauan pertumbuhan jenis, penentuan letak, posisi dan bagian bawah janin. Bidan melakukan pemeriksaan abdomen dengan seksama & melakukan palpasi utk memperkirakan usia kehamilan. Bila umur kehamilan bertambah, memeriksa posisi, bagian terendah, masuknya kepala janin ke dlm rongga panggul, untuk mencari kelainan serta melakukan rujukan tepat waktu.

Secara tradisional perkiraan tinggi fundus dilakukan dengan palpasi fundus dan membandingkannya dengan beberapa patokan antara lain simfisis pubis, umbilikus atau prosesus sifoideus. Cara tersebut dilakukan dengan tanpa memperhitungkan ukuran tubuh ibu. Sebaik-baiknya pemeriksaan (perkiraan) tersebut, hasilnya masih kasar dan dilaporkan hasilnya bervariasi. Dalam upaya standardisasi perkiraan tinggi fundus, para peneliti saat ini menyarankan penggunaan pita ukur untuk mengukur tinggi fundus dari tepi atas simfisis pubis karena memberikan hasil yang lebih akurat dan dapat diandalkan.

Pengukuran tinggi fundus uteri tersebut bila dilakukan pada setiap kunjungan oleh petugas yang sama, terbukti memiliki nilai prediktif yang baik, terutama untuk mengidentifikasi adanya gangguan pertumbuhan intrauterin yang berat dan kehamilan kembar. Walaupun pengukuran tinggi fundus uteri dengan pita ukur masih bervariasi antar operator, namun variasi ini lebih kecil dibandingkan dengan metoda tradisional lainnya. Oleh karena itu penelitian mendukung penggunaan pita ukur untuk memperkirakan tinggi fundus sebagai bagian dari pemeriksaan rutin pada setiap kunjungan.

d. Standar : Pengelolaan Anemia pada Kehamilan

Standar ini bertujuan menemukan anemia pada kehamilan secara dini dan melakukan tindakan lanjut yang memadai untuk mengatasi anemia sebelum persalinan berlangsung. Bidan melakukan tindakan pencegahan, penemuan, penanganan dan/atau rujukan semua kasus anemia pada kehamilan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pemeriksaan Hemoglobin (Hb) secara rutin selama kehamilan merupakan kegiatan yang umumnya dilakukan untuk mendeteksi anemia. Namun ada kecendurungan bahwa kegiatan ini tidak dilaksanakan secara optimal selama masa kehamilan. Perubahan normal ini di kenal sebagai Hemodilusi (Mahomed & hytten 1989) dan biasanya mencapai titik terendah pada kehamilan minggu ke-30. Oleh karena itu pemeriksaan Hb dianjurkan untuk dilakukan pada awal kehamilan dan diulang kembali pada minggu ke- 30 untuk mendapat gambaran akurat tentang status Hb.

e. Standar :Pengelolaan Dini Hipertensi pada Kehamilan

Standar ini bertujuan mengenali dan menemukan secara dini hipertensi pada kehamilan dan melakukan tindakan diperlukan. Bidan menemukan secara dini setiap kenaikan tekanan darah pada kehamilan dan mengenali tanda serta gejala preeklamsia lainnya, serta mengambil tindakan yang tepat dan merujuknya.

f. Standar : Persiapan Persalinan.

Standar Persiapan Persalinan dengan tujuan untuk memastikan bahwa persalinan direncanakan dalam lingkungan yang aman dan memadai dengan pertolongan bidan terampil. Bidan memberikan saran yang tepat Kepada ibu hamil, suami/ keluarganya pada trisemester III memastikan bahwa persiapan persalinan bersih dan aman dan suatu suasana yang menyenangkan akan direncanakan dengan baik, di samping persiapan transportasi dan biaya untuk merujuk, bila tiba-tiba terjadi keadaan gawat darurat. Bidan mengusahakan untuk melakukan kunjungan ke setiap rumah ibu hamil untuk hal ini.

Kebijakan Program Pelayanan Antenatal

Pelayanan Antenatal merupakan cara untuk memonitor dan mendukung kesehatan ibu hamil normal dan mendeteksi komplikasi. Pelayanan Antenatal penting untuk menjamin bahwa proses alamiah dari kehamilan berjalan normal dan tetap demikian seterusnya. Kehamilan dapat berkembang menjadi masalah atau komplikasi setiap saat. Sekarang ini sudah umum diterima bahwa setiap kehamilan membawa resiko bagi ibu. Kebijakan program dalam pelayanan antenatal yaitu kunjungan antenatal sebaiknya dilakukan paling sedikit 4 kali selama kehamilan, satu kali pada triwulan pertama, satu kali pada triwulan kedua dan dua kali pada triwulan ketiga..

Penerapan operasionalnya dikenal standar minimal (7T) yang terdiri atas :
  1. Timbang berat badan dan pengukuran tinggi badan, suatu teknologi tepat guna yang dapat dimanfaatkan untuk menilai status gizi ibu bila tidak tersedia timbangan pada waktu pemeriksaan kehamilan yang pertama, adalah pengukuran lingkar lengan atas (LLA).
  2. Ukur (Tekanan) darah.
  3. Ukur (Tinggi) fundus uteri.
  4. Pemberian imunisasi (Tetanus Toxoid) / TT lengkap.
  5. Pemberian (Tablet besi), minimal 90 tablet selama kehamilan.
  6. Tes terhadap Penyakit Menular Seksual.
  7. Temu wicara dalam rangka persiapan rujukan.
Kebijakan teknis pelayanan antenatal setiap kehamilan dapat berkembang menjadi masalah atau komplikasi setiap saat. Itu sebabnya mengapa ibu hamil memerlukan pemantauan selama kehamilannya. Penatalaksanaan ibu hamil secara keseluruhan meliputi komponen-komponen sebagai berikut : mengupayakan kehamilan yang sehat, melakukan penatalaksanaan awal serta rujukan bila diperlukan, persiapan persalinan yang bersih dan aman, perencanaan antisipatif dan persiapan dini untuk melakukan rujukan jika terjadi komplikasi.

Pelaksanaan Asuhan Kebidanan pada Ibu Hamil

a. Mengumpulkan Data Dasar / Pengkajian Data


Mengumpulkan data subyektif dan data obyektif,berupa data fokus yang dibutuhkan untuk menilai keadaan ibu sesuai dengan kondisinya, menggunakan anamnesis,pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium.

1) Data Subyektif terdiri dari :
  • (a) Biodata ibu dan suami
  • (b) Alasan ibu memeriksakan diri
  • (c) Riwayat kehamilan sekarang
  • (d) Riwayat kebidanan yang lalu
  • (e) Riwayat menstruasi
  • (f) Riwayat KB
  • (g) Riwayat kesehatan
  • (h) Riwayat bio-psikososial-spiritual
  • (i) Pengetahuan tentang tanda bahaya persalinan

Tehnik yang digunakan untuk mengumpulkan data subyektif adalah dengan dengan melakukan anamnesis.

2) Data objektif terdiri dari :
  • (a) Hasil pemeriksaan umum (tinggi badan, berat badan,lingkar lengan, suhu, nadi, tekanan darah, pernapasan).
  • (b) Hasil pemeriksaan kepala dan leher
  • (c) Hasil pemeriksaan tangan dan kaki
  • (d) Hasil pemeriksaan payudara
  • (e) Hasil pemeriksaan abdomen
  • (f) Hasil pemeriksaan denyut jantung janin
  • (g) Hasil pemeriksaan darah dan urine
Sumber data baik data subyektif maupun data obyektif yang paling akurat adalah ibu hamil yang diberi asuhan, namun apabila kondisi tidak memungkinkan dan masih diperlukan data bisa dikaji dari status ibu yang menggambarkan pendokumentasian asuhan sebelum ditangani dan bisa juga keluarga atau suami yang mendampingi ibu saat diberi asuhan.

b. Menginterpretasikan /menganalisa data /merumuskan diagnosa

alasan yang mencerminkan pikiran rasional yang mendukungPada langkah ini data subyektif dan obyektif yang dikaji dianalisis menggunakan teori fisiologis dan teori patologis sesuai dengan perkembangan kehamilan berdasarkan umurkehamilan ibu pada saat diberi asuhan, termasuk teori tentang kebutuhan fisik dan psikologis ibu hamil. Hasil analisis dan interpretasi data menghasilkan rumusan diagnosis kehamilan. Rumusan diagnosis kebidanan pada ibu hamil disertai dengan munculnya diagnosis selanjutnya.

c. Menyusun rencana asuhan yang menyeluruh


Dalam menyusun rencana asuhan yang menyeluruh mengacu pada diagnosis mengacu pada diagnosis, masalah asuhan serta kebutuhan yang telah sesuai dengan kondisi klien saat diberi asuhan.

d. Melaksanakan asuhan sesuai perencanaan secara efisien dan aman

Pelaksanaan rencana asuhan bisa dilaksanakan bidan langsung, bisa juga dengan memberdayakan ibu.

e. Melaksanakan evaluasi terhadap rencana asuhan yang telah dilaksanakan.


Evaluasi ditujukan terhadap efektivitas intervensi tentang kemungkinan pemecahan masalah, mengacu pada perbaikan kondisi/kesehatan ibu dan janin. Evaluasi mencangkup jangka pendek, yaitu sesaat setelah intervensi dilaksanakan, dan jangka panjang, yaitu menunggu proses sampai kunjungan berikutnya / kunjungan ulang.

f. Pendokumentasian dengan SOAP

Pendokumentasian asuhan kebidanan menggunakan teknik pencatatan Subjectif Objective Assessment Planing ( SOAP ) meliputi langkah-langkah sebagai berikut :
  1. Mencatat data subyektif dan objektif
  2. Mencatat data hasil pengkajian,diagnosis,masalah klien/ibu hamil yang diberi asuhan berdasarkan masalahnya.
  3. Mencatat perencanaan asuhan yang meliputi perencanaan tindakan asuhan, pelaksanaan tindakan asuhan. Adapun tujuannya adalah : 1) Sebagai bahan komunikasi antar petugas/bidan;2) Sebagai bahan evaluasi; 3) Sebagai bahan tindak lanjut; 4) Sebagai bahan laporan;5) Sebagai bahan pertanggungjawaban dan tanggung gugat; 6) Meningkatkan kerja sama antar tim; 7) Sebagai bahan acuan dalam pengumpulan data
9:06 PM | 0 comments | Read More

Tanda Kanker Serviks

Written By Lumajangtopic on Tuesday, June 23, 2015 | 10:47 PM

Ciri dan Tanda Kanker Serviks

Pada stadium dini, gejala kanker serviks tidak terlalu kentara. Butuh waktu 10-20 tahun dari infeksi untuk menjadi kanker. Walau demikian, ciri-ciri berikut dapat dijadikan tanda kanker serviks:
  1. Terasa sakit saat berhubungan seksual,
  2. Mengeluarkan sedikit darah setelah melakukan hubungan badan,
  3. Keluar darah yang berlebihan saat menstruasi,
  4. Keputihan yang tidak normal (berwarna tidak bening, bau atau gatal),
  5. Pada stadium lanjut: kurang nafsu makan, sakit punggung atau tidak bisa berdiri tegak, sakit di otot bagian paha, salah satu paha bengkak, berat badan naik-turun, tidak dapat buang air kecil, bocornya urin / air seni dari vagina, pendarahan spontan setelah masa menopause, tulang yang rapuh dan nyeri panggul.
Infeksi HPV memang tidak mengakibatkan gejala yang kentara. Selain memperhatikan tanda-tanda kanker serviks di atas, ada baiknya Anda melakukan deteksi kanker serviks sejak dini. Ada sejumlah metode untuk mendeteksi atau mengetahui apakah Anda terkena kanker servik, antara lain:
  1. IVA - Inspeksi Visual dengan Asam asetat. Merupakan deteksi dini yang dapat Anda lakukan di klinik. Caranya dengan mengoleskan larutan asam asetat 3%-5% ke leher rahim, kemudian mengamati apakah ada perubahan warna, misalnya muncul bercak putih. Jika ada, berarti kemungkinan terdapat infeksi pada serviks dan harus dilakukan pemeriksaaan lanjutan.
  2. Pap Smear atau dikenal juga dengan sebutan Papanicolaou test, Pap test, cervical smear, smear test. Pemeriksaan pap smear memiliki berbagai kelebihan: biaya murah, waktu cepat dan hasil akurat. Tes ini dapat dilakukan kapan saja kecuali saat masa haid atau menstruasi; setidaknya satu tahun sekali. Pemeriksaan dilakukan di atas meja periksa kandungan oleh dokter/bidan yang sudah terlatih dengan menggunakan spekulum untuk membantu membuka alat kelamin wanita. Setelah vagina terbuka, bagian leher rahim diusap dengan spatula secara melingkar untuk mengambil contoh sel endoserviks. Kemudian hasil usapan tersebut diperiksa dengan mikroskop untuk mengetahui apakah ada sel abnormal, infeksi atau radang. Melakukan pap smear secara teratur dapat mengurangi risiko kematian akibat kanker serviks.
  3. Thin prep, merupakan metode berbasis cairan yang lebih akurat dari pap smear, karena pap smear hanya mengambil sebagian sel dari leher rahim, sedangkan thin prep memeriksa seluruh bagian serviks. Sampel yang diambil dari leher rahim dimasukkan ke dalam vial / botol yang berisi cairan, kemudian dibawa ke laboratorium untuk diperiksa. Di lab, sampel tersebut dijadikan slide dan diberi pewarna khusus agar lebih jelas. Membran khusus digunakan untuk membuat preparat dengan irisan tipis, yang akan memperlihatkan infeksi atau jaringan abnormal. Tingkat akurasi metode ini hampir mencapai 100%.
10:47 PM | 0 comments | Read More

Risiko Kanker Serviks

Written By Lumajangtopic on Sunday, June 21, 2015 | 10:42 PM

Faktor Penyebab Kanker Serviks

Kanker serviks merupakan jenis kanker yang paling banyak nomor tiga di dunia. Bahkan di Indonesia saja, setiap satu jam seorang wanita meninggal karena kanker ini. Kanker servik disebut juga "silent killer" karena perkembangan kanker ini sangat sulit dideteksi. Perjalanan dari infeksi virus menjadi kanker membutuhkan waktu cukup lama, sekitar 10-20 tahun. Proses ini seringkali tidak disadari hingga kemudian sampai pada tahap pra-kanker tanpa gejala. Oleh karena itu pengertian kanker serviks mutlak dipahami oleh kaum wanita di Indonesia.

Penyebab utama kanker serviks adalah infeksi Human Papilloma Virus (HPV atau virus papiloma manusia). Sekitar 70% kejadian kanker serviks merupakan akibat dari HPV 16 dan HPV 18. Awalnya sel kanker berkembang dari serviks / mulut rahim yang letaknya berada di bawah rahim dan di atas vagina. Oleh sebab itu kanker serviks disebut juga kanker leher rahim atau kanker mulut rahim. Di mulut rahim ada dua jenis sel, yaitu sel kolumnar dan sel skuamosa. Sel skuamus ini sangat berperan dalam perkembangan kanker serviks. Lihat gambar di bawah untuk mendapat gambaran tentang stadium kanker serviks:

Kanker serviks dapat terjadi jika infeksi HPV tidak sembuh dalam waktu yang lama. Apalagi dengan sistem imun atau kekebalan tubuh yang rendah, infeksi akan mengganas dan menyebabkan sel kanker. Virus ini dapat menyebar melalui sentuhan: misalnya, ada virus HPV di tangan Anda, lalu Anda menyentuh daerah genital, maka daerah serviks Anda dapat terinfeksi. Atau bisa juga dari kloset di WC umum yang sudah terkontaminasi virus (jadi sebelum duduk, Anda harus selalu membersihkan dengan alkohol). Selain itu, ada sejumlah faktor risiko atau penyebab kanker serviks:
  • Wanita berusia di atas 40 tahun lebih rentan terkena kanker serviks. Semakin tua maka semakin tinggi risiko.
  • Faktor genetik tidak terlalu berperan dalam terjadinya kanker serviks. Namun hal ini bukan berarti jika keluarga Anda bebas kanker serviks maka Anda tidak akan terkena! Anda harus tetap berhati-hati dan melakukan tindakan pencegahan.
  • Hubungan seksual di usia yang terlalu muda, berganti-ganti partner seks, atau berhubungan seks dengan pria yang sering berganti pasangan. Virus HPV dapat menular melalui hubungan seksual. Seandainya seorang pria berhubungan seks dengan seorang wanita yang menderita kanker servik, kemudian pria tersebut berhubungan sex dengan Anda, maka virus HPV dapat menular dan menginfeksi Anda.
  • Memiliki terlalu banyak anak (lebih dari 5 anak). Pada saat Anda melahirkan secara alami, janin akan melewati serviks dan menimbulkan trauma pada serviks, yang dapat memicu aktifnya sel kanker. Semakin sering janin melewati serviks, semakin sering trauma terjadi, semakin tinggi resiko kanker serviks.
  • Keputihan yang berlangsung terus-menerus dan tidak diobati. Ada dua macam keputihan, yaitu normal dan tidak normal. Pada keputihan yang normal, lendir berwarna bening, tidak bau dan tidak gatal. Jika salah satu dari ketiga syarat tersebut tidak terpenuhi, artinya keputihan Anda tidak normal. Segera konsultasi dengan dokter!
  • Membasuh atau membersihkan genital dengan air yang tidak bersih, misalnya air sungai atau air di toilet umum yang tidak terawat. Air yang kotor banyak mengandung kuman dan bakteri.
  • Pemakaian pembalut wanita yang mengandung bahan dioksin (bahan pemutih yang dipakai untuk memutihkan pembalut hasil daur ulang dari barang bekas).
  • Daya tahan tubuh yang lemah, kurangnya konsumsi vitamin C, vitamin E dan asam folat. Kebiasaan merokok juga menambah risiko kanker serviks.
10:42 PM | 0 comments | Read More

Kepmenkes Standar Asuhan Kebidanan

Written By Lumajangtopic on Tuesday, June 2, 2015 | 10:48 PM

Kepmenkes 938 Tahun 2007 Standar Asuhan  Kebidanan
 
Dalam rangka mewujudkan visi departemen kesehatan untuk mewujudkan mayarakat yang mandiri dalam hidup sehat, mempunyai misi membuat rakyat sehat, salah satu strateginya antara lain: meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas.

Adapun sasaran pembangunan kesehatan jangka menengah tahun 2005 sampai tahun 2009 adalah : umur harapan hidup :UHH) meningkat dari 66,2 menjadi 70,6 tahun; angka kematian bayi (AKB) menurun dari 35 per 1000 kelahiran hidup (KH) menjadi 26 per 100000 kh; malnutrisi pada balita menurun dari 25,8% menjadi 20%

Bidan merupakan salah satu tenaga kesehatan yang memiliki posisi penting dan strategi terutama dalam penurunan AKI dan AKB. Bidan memberikan pelayanan kebidanan yang berkesinambungan dan paripurna , berfokus pada aspek pencegahan, promosi dengan berlandaskan kemitraan dan pemberdayaan masyarakat bersama-sama dengan  tenaga kesehatan lainnya untuk senantiasa siap melayani siapa saja yang membutuhkannya.

Untuk mewujudkan pelayanan kebidanan yang berkualiatas diprlukan adanya standar sebagai acuan bagi bidan  dalam memberikan asuhan kepada klien disetiap tingkat fasilitas pelayanan kesehatan. Sehubung dengan hal tersebut diatas perlu adanya standar asuhan kebidanan yang ditetapkan oleh menteri kesehatan

Tujuan penetapan Standar Asuhan  Kebidanan antara lain:
  1. Adanya standar sebagai acuan dan landasan dalam melaksanakan tindakan/ kegiatan  dalam lingkup tanggung jawab bidan.
  2. Mendukung terlaksananya asuhan kebidanan berkualitas.
  3. Parameter tingkat kualitas dan keberhsilan asuhan yang diberikan bidan.
  4. Perlindungan hukum bagi bidan dan klien/pasien.
Sedangkan ruang lingkup Standar Asuhan  Kebidanan
  1. Asuhan kebidanan pada ibu hamil.
  2. Asuhan kebidanan pada ibu bersalin.
  3. Asuhan kebidanan pada ibu nifas dan masa antara.
  4. Asuhan kebidanan pada bayi
  5. Asuhan kebidanan pada anak balita sehat
  6. Asuhan kebidanan pada masa reproduksi
Pengertian standar asuhan kebidanan, merupakan acuan proses pengambilan keputusan dan tindakan yang dilakukan oleh bidan sesuai dengan wewenang dan ruang lingkup praktiknya berdasarkan ilmu dan kiat kebidanan, perumusan diagnosa dan atau masalah kebidanan, perencanaan, implementasi, evaluasi, dan pencatatan asuhan kebidanan.

Beberapa standar tersebut antara lain:

Standar I : Pengkajian
A.    Pernyataan standar
Bidan mengumpulkan semua informasi yang akurat, relevan, dan lengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan kondidi klien.
B.   Kriteria pengkajian.
  1. Data tepat, akurat dan lengkap
  2. Terdiri dari data subyektif (hasil anamnesa; biodata,keluhan utama, riwayat obstetric, riwayat kesehatan dan latar belakang social budaya).
  3. Data obyektif  (hasil pemeriksaan fisik, psikologi dan pemeriksaan penunjang).
Standar II: Perumusan diagnose dan atau masalah kebidanan.
A.   Pernyataan standar.
Bidan menganalisa data yang diperoleh pada pengkajian, menginterpretasikan secara akurat dan logis untuk menegakkan diagnose dan masalah kebidanan yang tepat.
B.  Criteria perumusan diagnose dan atau masalah kebidanan.
  1. Diagnose sesuai dengan nomenklatur kebidanan
  2. Masalah dirumuskan sesuai dengan kondisi klien.
  3. Dapat diselesaikan dengan asuhan kebidanan secara mandiri, kolaborasi dan rujukan.
Standar III: perencanaan
A.   Pernyataan standar.
Bidan merencanakan asuhan kebidanan berdasarkan diagnose dan masalah yang ditegakan.
B.   Criteria perencanaan
  1. Rencana tindakan disusun berdasarkan prioritas masalah dan kondisi klien, tindakan segera, tindakan antisipasi  dan asuhan secara komperehensif.
  2. Melibatkan klien/pasien dan atau keluarga
  3. Mempertimbangan kondisi psikologi social budaya klien/keluarga
  4. Memilih tindakan yang aman sesuai kondisi dan kebutuhan klien berdasarkan evidence based dan memastikan bahwa asuhan yang diberikan bermanfaat untuk klien.
  5. Mempertimbangkan kebijakan dan peraturan yang berlaku, sumber daya serta fasilitas yang ada.
Standar IV: implementasi
A.   Pernyataan standar.
Bidan melaksanakan rencana asuhan kebidanan secara komperehensif, efektif, efisien dan aman berdasarkan evidence based kepada klien/pasien, dalam bentuk upaya promotif, preventif kuratif dan rehabilitataif. Dilaksanakan secara mandiri, kolaborasi dan rujukan.
B.   Criteria evaluasi.
  1. Penilaian dilakukan segera setelah melaksanakan asuhan sesuai kondisi klien.
  2. Hasil evaluasi segera di catat dan dikomunikasikan kepada klien/ keluarga
  3. Evaluasi dilakukan sesuai dengan standar.
  4. Hasil evaluasi ditindak lanjuti sesuai dengan kondisi klien/pasien.
Standar VI:Pencatatn asuhan kebidanan.
A.   Pernyataan standar: Bidan melakukan pencatatan secara lengkap, akurat singkat dan jelas mengenai  keadaa/kejadian yang ditemukan dan dilakukan dalam memberikan asuhan kebidanan.
B.   Criteria pencatatan asuhan kebidanan..
  1. Pencatatan dilakukan segera setelah melaksanakan asuhan pada formuilir yang tersedia (rekam medis/KMS/status pasien/buku KIA).
  2. Ditulis dalam bentuk catatan pengembangan SOAP
  3. S adalah data subjektif, mencatat hasil anamnesa
  4. O adalah data Obyektif, mencatat hasil pemeriksaan
  5. A adalah hasil analisa, mencatat diagnose dan masalah kebidanan.
  6. P adalah penatalaksanaan, mencatat seluruh perencanaan dan pelaksanaan yang sudah dilakukan seperti tindakan antisipatif , tindakan segera, tindakan secara komperehensif, penyuluhan, dukungan, kolaborasi, evaluasi, follow up dan rujukan.
Standar asuhan kebidanan ini diharapakan dapat menjadi acuan dan landasan untuk melaksanakan tindakan/kegiatan dalam lingkup tanggung jawab bidan , dalam memberikan asuhan kebidanan , di semua fasilitas pelayanan kesehatan. Sehingga dapat dicapai asuhan pelayanan kebidanan yang berkualitas dan berstandar. Selain hal tersebuat standar ini dapat digunakan sebagai parameter tingkat kualitas dan keberhasilan asuhan yang diberikan bidan  dan merupakan perlindungan hukum bagi bidan dank lien/pasien.
Agar bidan-bidan di fasilitas kesehatan dapat mencapai hal tersebut maka perlu adanya persamaan  persepsi dalam penerapannya. Untuk mencapai hal tersebut perlu dukungan kebijakan dalam menyebarluaskan dari standar ini.

Secaraaktif dalam organisasi dan mampu melaksanakan tugas dan kewajibannya sesuaidengan etika profesi Dari ciri-ciri tsb dapat disimpulkan pelayanan kesehatan memberikanpelayanan, dengan sifat ikhtiar, pasien/klien dengan penuh kepercayaan dankeyakinan, pasrah akan penderitaanya. Dan itu adalah syarat mutlak untukmemperoleh hasil yang terbaik. Jujur profesi medis penuh dengan resiko, dalamberikhtiar dapat timbul kelalaian/kesalahan menimbulkan cacat, kerugian, bahkankematian. Resiko ini oleh orang-orang/pihak-pihak lain diartikan sebagaikesalahan profesi dan tudingan adalah MALPRAKTIK.

Sumber referensi:
  1. Depkes. 2007. Kepmenkes Nomor 938 Tahun 2007. Standar Asuhan Kebidanan. Kemenkes. Jakarta
  2. Eko,Nurul W,S.Sit.(2010).etika profesi dan hukum kebidanan,sewon bantul Yogyakarta,penerbit:pustaka rihama



10:48 PM | 0 comments | Read More

Seri Penyakit Tidak Menular

Written By Lumajangtopic on Thursday, May 28, 2015 | 8:26 PM


Faktor Risiko, Gejala, dan Cara Pencegahan Beberapa Penyakit penyakit Jantung dan Pembuluh Darah 


PENYAKIT JANTUNG KORONER (PJK)
Penyakit jantung koroner adalah penyakit jantung yang terjadi akibat penyempitan pembuluh darah koroner dan dapat menyebabkan serangan jantung

Faktor Risiko
  1. Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi : Umur, Jenis kelamin, Riwayat keluarga
  2. Faktor risiko yang dapat dimodifikasi : Hipertensi, Diabetes melitus,Dislipidemia (metabolisme lemak tidak normal yang ditandai dengan gangguan pada satu atau lebih fraksi lemak darah terukur),-Obesitas/kegemukan,Kura ng aktivitas fisik, Pola makan tinggi lemak dan rendah serat,Merokok,-Konsumsi minuman beralkohol,Stres
Gejala dan Tanda
  1. Rasa tertekan seperti ditimpa beban berat , rasa sakit, terjepit, atau terbakar di dada
  2. Nyeri ini menjalar ke seluruh dada, bahu kiri, lengan kiri, punggung (di antara kedua belikat), leher dan rahang bawah ,terkadang di ulu hati sehingga dianggap sakit maag
  3. Dirasakan seperti tercekik atau rasa sesak
  4. Lamanya 20 menit bahkan lebih.
  5. Disertai keringat dingin, rasa lemah, berdebar
Pertolongan Pertama, dengan memanggil dokter atau segera bawa ke puskesmas/rumah sa kit terdekat.
Pencegahan, dengan mengurangi dan memodifikasi faktor risiko dengan:
  1. Tidak merokok
  2. Olahraga/aktifitas fisikteratur
  3. Pola makan sehat dan seimbang : rendah garam dan lemak, tinggi serat (sayur dan buah)
  4. Melakukan pemeriksaan kesehatan rutin : pemeriksaan tekanan
  5. darah, laboratorium darah, rekam jantung (EKG), foto rontgen dada
PENYAKIT JANTUNG REMATIK
Merupakan penyakit jantung akibat radang tenggorokan yang disebabkan oleh kuman Streptokokus 13 hemolitikus grup A yang tidak mendapat pengobatan optimal

Gejala dan Tanda
•    Sering radangtenggorokan
•    Demam tinggi
•    Sesak nafas
•    Berdebar-debar
•    Pembengkakan yang berpindah-pindah pada sendi-sendi besar
•    Benjolan di bawah kulit
•    Bercak-bercak merah pada kulit

Pengobatan dan Pencegahan
a.    Mengobati radangtenggorokan sampai sembuh
b.    Menjaga kebersihan mulut dan gigi

PENYAKIT JANTUNG HIPERTENSI
Penyakit jantung yang diakibatkan karena hipertensi atau tekanan darah tinggi (> 140/90 mmHg). Kondisi ini terjadi akibat peningkatan tekanan darah secara terus menerus menyebabkan Jantung bekerja keras, membesar dan akhirnya terjadi payah jantung

Faktor Risiko
Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi : Umur, Jenis kelamin, iwayat keluarga
Faktor risiko yang dapat dimodifikasi :
  • Hipertensi
  • Diabetes melitus
  • Dislipidemia (metabolisme lemak tidak normal yang ditandai dengan gangguan pada satu atau lebih fraksi lemak darah terukur)
  • Obesitas/kegemukan
  • Kurang aktivitas fisik
  • Pola makan tinggi lemak dan rendah serat
  • Merokok
  • Konsumsi minuman beralkohol
  • Stres
Gejala dan Tanda
  1. Sesak nafas terutama pada saat aktifitas
  2. Bila penyakit jantung memberat sesak napas dapat terjadi meskipun tidak melakukan aktifitas
  3. Nyeri dada
  4. Pada Pemeriksaan Foto Rontgen dada tampak pembesaran jantung (cardiomegali)
Pengobatan, dengan pemberian secara teratur dengan obat anti hipertensi, Sedangkan pencegahan dengan :
  1. Mengurangi dan memodifikasi faktor risiko dengan : Tidak merokok; Pola makan sehat dan seimbang: rendah garam dan lemak, tinggi serat (sayur dan buah); Olah raga/aktifitas fisik secara teratur
  2. Memeriksa dan mengontrol tekanan darah secara teratur
PENYAKIT PEMBULUH DARAH TEPI
Merupakan suatu kelainan klinis akibat adanya penyempitan atau sumbatan pada pembuluh darah perifer di tangan atau kaki.

Faktor risiko: Merokok, Hipertensi, Obesitas, Dislipidemia (metabolisme lemak tidak normal yang ditandai dengan gangguan pada satu atau lebih fraksi lemak darah terukur), Diabetes Mellitus

Gejala dan tanda
  1. rasa nyeri, kram, baal, atau letih pada otot yang muncul dalam penggunaan otot untuk aktivitas
  2. membaiksaat istira hat, biasanya setelah 2-5 menit
Pencegahan :
  1. Tidak merokok
  2. Periksa kesehatan secara rutin
  3. Mengontrol faktor risiko seperti hipertensi, obesitas, dislipidemia, dan diabetes mellitus
  4. Makan makanan bergizi seimbang, tinggi serat dan rendah lemak
  5. Lakukan aktifitas fisik 30 menit setiap hari
  6. Tidak merokok
  7. Mengelola stress
  8. Berobat teratur (Hipertensi, Diabetes, Penyakit Paru, Hiperkolesterol, Aritmia)
  9. Kebersihan lingkungan dapat mencegah peny.Jantung paru dan PenyakitJantung rematik
  10. Wanita hamil jaga kesehatan, cukup gizi, obat yg diminum setahu dokter, antenatal care.
  11. Diet yang baik untukjantung;Garam (natrium klorida); Batasi sampai < 6 gram (1 sendokteh) per hari; Kurangi garam saat memasak; Membatasi makanan olahan dan cepat saji; Buah-buahan dan sayuran'  5 porsi (400-500 gram) buah-buahan dan sayuran per hari (1 porsi setara dengan 1 buah jeruk, apel, mangga, pisang atau 3 sendok makan; sayuran dimasak; Makanan berlemak; Batasi daging berlemak, lemak susu dan minyak goreng (< 2 sendok makan perhari); Ganti sawit dan minyak kela pa dengan zaitun, kedelai, jagung, lobak atau minya k flower; Ganti daging lainnya dengan ayam (tanpa kulit)
PENYAKIT PEMBULUH DARAH OTAK (STROKE)

Stroke merupakan keadaan gawat darurat, Disebut sebagai "serangan otak", disebabkan oleh kurangnya aliran darah yang mengalir ke otak yang terkadang menyebabkan pendarahan di otak. Aliran darah ke daerah otak terputus karena gumpalan darah, endapan plak atau karena pecahnya pembuluh darah otak sehingga sel-sel otak mengalami kekurangan oksigen serta energi dan menyebabkan kerusakan otak permanen yang berakibat kecacatan-kematian dini.

Faktor risiko 
  1. Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi : Umur, Jenis kelamin, Riwayat keluarga
  2. Faktor risiko yang dapat dimodifikasi :
  • Hipertensi
  • Diabetes melitus
  • Dislipidemia (metabolisme lemaktidak normal yang ditandai dengan gangguan pada satu atau lebih fraksi lemak darah terukur) Obesitas/kegemukan
  • Kurangaktivitasfisik
  • Pola makan tinggi lemak dan rendah serat
  • Merokok
  • Konsumsi minuman beralkohol
  • Stres
Gejala dan Tanda
  • Alat penilaian Serangan Stroke "SEGERA" yaitu:
  • Senyum yang tidak simetris
  • Gerak anggota tubuh yang melemah atau tidak dapat digerakkan secara tiba-tiba
  • Suara yang pelo, parau, atau menghilang
Pertolongan pertama
  • Secepatnya bawa ke puskesmas/rumah sa kit terdekat
  • Pengobatan sesegeranya dapat menyelamatkan nyawa atau meningkatkan kesempatan untuk pulih sepenuhnya
Pencegahan
Mengurangi dan memodifikasi faktor risiko dengan:
•    Tidak merokok
•    Olahraga/aktifitas fisik teratur
•    Pola makan sehat dan seimbang
•    Melakukan pemeriksaan kesehatan rutin

HIPERTENSI
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah peningkatan tekanan darah secara menetap >140/90 mmHg.

Faktor Risiko
  1. Keturunan.
  2. Gaya hidup yang tidaksehat :
  • Diet yang tidak sehat (kurang buah dan sayuran, tinggi lemak jenuh, tinggi kolesterol, tinggi garam dan gula)
  • Kurang aktivitasfisik/olah raga,
  • Kegemukan (obesitas)
  • Alkohol
  • Stress
  • Merokok
     3. Sekitar 5 -10% penderita hipertensi berhubungan dengan penyakit ginjal, 1-2% berhubungan
         dengan  kelainan hormonal atau pemakaian obattertentu (misalnya pil KB).

Gejala dan Tanda
Seringkali hipertensi terjadi tanpa gejala, sehingga penderita tidak merasa sakit. Pada umumnya sebagai berikut;
  1. Sakit kepala
  2. Kelelahan
  3. Mual dan muntah
  4. Sesak napas
  5. Napas pendek (terengah-engah)
  6. Pandangan menjadi kabur
  7. Mata berkunang-kunang
  8. Mudah marah
  9. Telinga berdengung
  10. Sulit tidur
  11. Rasa berat di tengkuk
Jika mengalami tanda-tanda di atas sarankan penyandang hipertensi agar :
  1. Hentikan kegiatan terutama bila sedang mengemudi
  2. Minta pertolongan orang terdekat atau hubungi tenaga kesehatan terdekat
  3. Jika memungkinkan kunjungi pelayanan kesehatan terdekat
Pertolongan pertama
  • Secepatnya bawa ke puskesmas/rumah sakitterdekat
  • Pengobatan sesegeranya dapat menyelamatkan nyawa atau meningkatkan kesempatan untuk pulih sepenuhnya
Pencegahan
Mengurangi dan memodifikasi faktor risiko dengan:
  1. Tidak merokok
  2. Olahraga/aktifitas fisikteratur
  3. Pola makan sehat dan seimbang
  4. Melakukan pemeriksaan kesehatan rutin

Sumber: Buku Pintar Kader Posbindu PTM Kementerian Kesehatan RI, tahun 2015.
8:26 PM | 0 comments | Read More
 
berita unik