Bioremediasi oleh Bakteri Indonesia

Written By Lencir Kuning on Monday, January 14, 2013 | 5:21 PM

 
Bioremediasi Dengan Bakteri Endogenous
 
Berbeda dengan produk bioremediasi yang banyak beredar di pasaran, teknik bioremediasi yang satu ini punya kelebihan menggunakan bakteri endogenous—bakteri asli dari Indonesia. Teknik ini diperkenalkan Dr Tri Widiyanto, peneliti limnologi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Bakteri-bakteri endogenous diyakini mempunyai efektivitas yang lebih baik dalam memperbaiki tambak-tambak udang windu yang mangkrak. Pengujian di lapang pun telah dilakukan di Karawang. Hasilnya, dari dua kali pengujian, teknik bioremediasi ini mampu mempertahankan umur udang windu hingga 120 hari (umur siap panen) dengan SR masing-masing 80% dan 70%. Padahal secara konvensional, udang windu yang ditanam oleh para pembudidaya di Karawang, rata-rata hanya mampu bertahan antara 40-60 hari. Setelah itu kolaps!. Teknik bioremediasi yang dikembangkan mengandalkan empat jenis bakteri dengan masing-masing fungsi berbeda, yaitu mengendalikan senyawa amoniak, nitrit, H2S dan membasmi bakteri vibrio yang dapat menimbulkan penyakit pada udang windu. “Awalnya kita hanya ingin mengendalikan senyawa-senyawa nitrogen saja, seperti amoniak dan nitrit yang ada di tambak. Belakangan muncul H2S di sedimen dan bakteri-bakteri yang dapat menimbulkan penyakit. Tak urung ini pun harus kita kendalikan.

Mengendalikan Amoniak dan Nitrit

Salah satu faktor penting yang harus dilakukan oleh para pembudidaya udang windu adalah mengendalikan senyawa-senyawa nitrogen seperti amoniak, nitrat dan nitrit yang terdapat di tambak. Pasalnya, ketiga senyawa tersebut bersifat metabolitoksik dan sangat berbahaya bagi udang windu. “Senyawa nitrit yang berlebih di tambak akan menyebabkan menurunnya kemampuan darah udang untuk mengikat O2, karena nitrit akan bereaksi lebih kuat dengan hemoglobin. Akibatnya tingkat kematian udang tinggi,” kata Widiyanto. Selain itu, tingginya senyawa amoniak dan nitrit di tambak juga akan menganggu proses pengeluaran senyawa amoniak dan nitrit yang ada dalam tubuh udang, sehingga akan terakumulasi di dalam tubuh udang. Untuk mengendalikan senyawa amoniak di tambak perlu dilakukan proses nitrifikasi dengan cara menambahkan bakteri nitrifikasi. “Saya menggunakan Pseudomonas strain tertentu untuk proses nitrifikasi ini,” imbuh Widiyanto. Hal ini memang agak aneh, pasalnya Pseudomonas merupakan jenis bakteri denitrifikasi. Meski demikian, Widiyanto menjamin bakteri temuannya ini mampu melakukan proses nitrifikasi dengan sangat baik. Ini dibuktikan dengan tidak ditemukannya senyawa amoniak di tambak setelah bakteri Pseudomonas tersebut dimasukkan. Ditambahkan Widiyanto, keunggulan lain dari Pseudomonas dapat tumbuh dengan baik pada media yang tergolong miskin. Sedangkan untuk menghilangkan senyawa nitrit yang ada di tambak, Widiyanto mengunakan bakteri denitrifikasi dari kelompok Alkaligenous. Hasilnya, senyawa nitrit juga tidak ditemukan setelah bakteri Alkaligenous ini dimasukkkan ke tambak. Menurut analisis Widianto, senyawa-senyawa nitrogen baik amoniak dan nitrit yang hilang dari tambak, telah berubah menjadi N2. “N2 ini tidak berbahaya bagi udang windu,” ungkapnya.

Hilangkan H2S, Basmi Bakteri Vibrio

Tidak hanya mengendalikan senyawa amoniak dan nitrit, teknik bioremediasi temuan Widiyanto juga bertujuan untuk mengendalikan senyawa H2S yang banyak menumpuk di sedimen tambak. “H2S sangat beracun bagi udang windu,” katanya. Karena itu, Widiyanto menggunakan bakteri fotosintetik dari jenis Rhodobakter untuk menghilangkan senyawa H2S. “Hasilnya H2S tidak terdeteksi sama sekali di tambak,” serunya. Selain kadar zat kimia dalam tambak, timbulnya dominasi bakteri vibrio penyebab penyakit pada udang windu di tambak juga tak luput dari perhatian Widiyanto. Untuk mengatasinya dia menggunakan bakteri dari jenis Bacillus. “Karena bakteri Bacillus yang saya gunakan merupakan bakteri endogenous, maka efektivitasnya lebih baik jika dibandingkan dengan produk bioremediasi dengan menggunakan bakteri dari luar Indonesia,” terangnya. Meski demikian, Widiyanto mengingatkan agar penggunaan Bacillus ini tidak berlebihan karena akan membunuh bakteri-bakteri yang masih bermanfaat.

Berlangganan Artikel Kesmas Disini

 
berita unik