Epidemiologi Cacing Tambang

Written By Lumajangtopic on Saturday, December 21, 2013 | 4:41 PM

Morfologi dan daur hidup. Gejala klinik,Diagnosis, Epidemiologi dan Pencegahan Cacing Tambang


Morfologi dan daur hidup.

Terdapat dua macam cacing tambang, yaitu N. americanus  dan A. duodenale . Hospes parasit cacing tambang adalah manusia. Cacing dewasa hidup di rongga usus halus dengan giginya melekat pada mucosa usus. Cacing betina menghasilkan 9.000-10.000 butir telur sehari. Cacing betina panjang 1 cm, cacing jantan kira-kira 0,8 cm. Bentuk badan N. americanus menyerupai huruf S sedangkan A. duodenale menyerupai huruf C dan di dalam mulutnya ada sepasang gigi.

Telur cacing akan keluar bersama tinja, setelah 1- 1,5 hari dalam tanah, telur tersebut menetas menjadi larva rabditiform. Dalam waktu sekitar 3 hari larva tumbuh menjadi larva filariform yang dapat menembus kulit dan dapat bertahan hidup 7-8 minggu di tanah. Telur cacing tambang yang besarnya kira-kira 60 x 40 mikron, berbentuk oval dan mempunyai dinding tipis. Di dalamnya terdapat beberapa sel, larva rabditiform panjangnya kurang lebih 250 mikron, sedangkan larva filariform panjang kurang lebih 600 mikron.

Larva setelah menembus kulit, larva ikut aliran darah ke jantung terus ke paru-paru. Di paru larva menembus pembuluh darah masuk ke bronchus lalu ke trachea dan laring. Dari laring, larva ikut tertelan dan masuk kedalam usus halus dan menjadi dewasa. Infeksi terjadi bila larva filariform menembus kulit atau ikut tertelan serta menurunkan produktifitas. Kekurangan darah akibat cacingan sering terlupakan karena adanya penyebab lain yang lebih terfokus.

Gejala klinik dan Diagnosis
Infeksi cacing tambang menimbulkan gejala antara lain: lesu, tidak bergairah, konsentrasi belajar kurang, pucat, rentan terhadap penyakit, prestasi kerja menurun, dan anemia merupakan manestasi klinis yang sering terjadi, disamping itu juga terdapat eosinofilia. Diagnosis dapat ditegakkan dengan adanya telur cacing pada tinja penderita.

Epidemiologi

Insiden Ancylostomiasis di Indonesia sering ditemukan pada penduduk yang bertempat tinggal di pedesaan khususnya di perkebunan atau pertambangan yang langsung berhubungan dengan tanah, mendapat infeksi lebih dari 70%. Cacing ini menghisap darah hanya sedikit namun luka-luka gigitan yang berdarah akan berlangsung lama, setelah gigitan dilepas perdarahan masih terjadi sehingga dapat menyebabkan anemia yang lebih berat. Kebiasaan buang air besar ditanah dan pemakaian tinja sebagai pupuk kebun mempunyai peranan yang besar dalam penyebaran infeksi penyakit ini. Tanah yang baik untuk pertumbuhan larva adalah tanah gembur (pasir, humus) dengan suhu optimum 32oC - 38oC.

Pencegahan

Pencegahan dapat dilakukan degan mengobati sumber infeksi yaitu orang atau anak yang terjangkit penyakit kecacingan (Pirantel palmoat memberikan pengobatan dengan hasil cukup baik jika digunakan beberapa hari berturut-turut), menghilangkan kebiasaan buruk dari penderita, yang dapat mendukung terjadinya penularan dan penyebaran penyakit kecacingan. Perilaku buruk yang menyebabkan infeksi kecacingan antara lain: 1) Membuang tinja sembarang tempat, 2) tidak mengelola makanan dan minuman secara bersih dan sehat, 3) tidak mencuci tangan sebelum makan, dan 4) tidak memakai alas kaki bila keluar rumah. Disamping itu perlu perbaikan dan peningkatan sanitasi lingkungan.
 
berita unik