Pencegahan Sick Building Syndrome (SBS)

Written By Lencir Kuning on Friday, December 27, 2013 | 3:53 PM

Pengertian, Faktor Resiko, Gejala, Penyebab, dan Upaya Pencegahan Sick Building Syndrome (SBS)


Sick building syndrome merupakan suatu kumpulan gejala yang diderita oleh pekerja suatu perkantoran, laboratorium, supermarket dan bangunan lainnya dengan beberapa gejala seperti sakit kepala, kelelahan, kesulitan konsentrasi dan gangguan pernafasan. Beberapa hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi antara kualitas udara dalam ruangan dengan kejadian sick building syndrome di dalam suatu gedung perantoran, laboratorium dan bangunan lainnya. Beberapa gej ala yang sering dirasakan pada 20-30% pekerja dalam suatu gedung dengan adanya kejadian sick building syndrome adalah kelelahan, sakit kepala, adanya gejala iritasi mata, hidung dan iritasi tenggorokan, iritasi kulit, batuk kering, iritabilitas meningkat dan sukar konsentrasi, perasaan nausea (mual), mengantuk dan adanya hipersensitivitas terhadap bau.

Sick Building Syndrome merupakan suatu gangguan kesehatan berupa sekumpulan gej ala yang disertai dengan ketidaknyamanan terhadap lingkungan dan keluhan odor (bau) yang diakibatkan oleh kondisi lingkungan yang tidak memenuhi syarat dan adanya pencemar dalam ruangan yang dapat berupa bahan kimia ataupun jamur dan mikroba. Istilah SBS sudah digunakan selama lebih dari 20 tahun tanpa definisi yang jelas. Beberapa gej ala yang sering dikeluhkan penghuni suatu gedung atau personil laboratorium meliputi gejala iritasi membran mukosa, gejala Central Nervous System (CNS), perasaan sesak di dada dan gej ala iritasi kulit. Syndroma ini pada umumnya dialami oleh minimal 20% penghuni gedung dan semua gejala akan hilang atau berkurang pada saat keluar dari gedung. Mendel dan Smith telah melakukan suatu penelitian meta analisis dari suatu survey gedung dan menemukan bahwa gejala SBS pada umumnya muncul akibat adanya ventilasi mekanik dalam ruangan atau dalam gedung. Beberapa gejala yang muncul yaitu iritasi membrana mukosa yaitu mata, hidung dan tenggorokan, Gej ala CNS yang meliputi : sakit kepala, kelelahan dan lethargi, perasaan sesak di dada dan gejala iritasi kulit yang meliputi kulit kering, gatal dan kemerahan.

Kondisi fisik gedung sangat berpengaruh terhadap terjadinya SBS. Kelembaban relatif akan sangat efektif dalam konsentrasi yang rendah serta akan meningkatkan ventilasi sekurang-kurangnya 20 CFM-OA (cubic foot per minute outside air) per penghuni dimana kondisi ini sangat efektif untuk mengurangi gejala SBS. Pada umumnya 70% masalah SBS akan muncul dalam kondisi suplai udara yang tidak memenuhi syarat, distribusi udara dalam ruang yang dihuni tidak memenuhi syarat, filtrasi untuk udara luar tidak memenuhi syarat, adanya kelembaban suatu gedung yang cukup tinggi untuk pertumbuhan bakteri dan jamur.

Faktor Risiko Sick Building Syndrome pada Manusia
Pada manusia, karakteristik biologik dan praktek kerja atau lingkungan kerja sangat berhubungan dengan gejala SBS. Faktor risiko individual adalah dermatitis seborrheic, gatal-gatal yang luas pada kulit dan adanya atopy merupakan faktor risiko terbesar. Pada individu yang terpapar oleh pencemaran bahan kimia di lingkungan kerja akan mengalami gej ala iritasi mata, saluran pernafasan sampai adanya perasaan lelah dan lesu yang menahun akibat adanya anemia dan beberapa kelainan pada sistem Hem atopoietik.

Faktor risiko yang lain adalah faktor individual dimana stress kerja juga
merupakan suatu faktor risiko yang besar untuk terjadinya gejala SBS. Faktor risiko SBS meliputi : ventilasi, suhu, kelembaban, pencahayaan, kadar debu, VOC, NH3, Bakteri, Jamur, Aspek Psikhososial di Lingkungan kerja, dan bau (odor).

Gejala Sick Building Syndrome (SBS).

Umumnya gejala dan keluhan SBS tidak cukup spesifik bahkan biasanya tidak dianggap serius sehingga memerlukan pengobatan khusus atau perawatan rumah sakit. Keluhan itu hanya dirasakan pada saat bekerja di gedung dan menghilang secara wajar pada hari minggu atau hari libur, keluhan tersebut lebih sering dan lebih bermasalah pada individu yang mengalami perasaan stress, kurang diperhatikan dan kurang mampu dalam mengubah situasi pekerjaan atau penghidupannya.

Keluhan SBS antara lain iritasi mata (mata merah, pedih, gatal), kerongkongan kering, sakit kepala, kehilangan konsentrasi, sinusitis, iritasi mata, iritasi kulit, sesak nafas, batuk, cepat mengantuk, gangguan pada perut, bersin-bersin dan iritasi saluran pernafasan.

Penyebab Sick Building Syndrome.

Lingkungan bekerja perkantoran biasanya berbeda dari lingkungan kerja di Pabrik. Perkantoran menangani kegiatan administrasi atau merangkap kegiatan pelayanan dan jasa kepada masyarakat umum, sedangkan pada Pabrik menangani produksi barang atau komoditi. Umumnya lingkungan kerja administrasi lebih baik daripada keadaan lingkungan kerja produksi. Hal ini karena adanya anggapan bahwa pekerjaan administrasi dan jasa lebih menggunakan pikiran dinilai lebih berat daripada pekerjaan produksi yang menggunakan kekuatan fisik. Dengan demikian para eksekutif yang menangani administrasi dan jasa memerlukan tempat yang nyaman untuk meningkatkan produktifitas kerja.

Dalam lingkungan kerja pabrik dikenal dua jenis penyakit yang berkaitan dengan pekerjaan seseorang yaitu Occupational Disease (penyakit akibat kerja) dan Occupational related disease (penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan). Fenomena SBS berkaitan dengan kondisi gedung, terutama rendahnya suhu udara ruangan. Sumber penyakit SBS biasanya merupakan gabungan sejumlah kontaminasi secara bersama-sama dengan konsentrasi kecil (aman) yang apabila sendiri-sendiri tidak dapat atau kurang cukup untuk menimbulkan penyakit/ gangguan kesehatan. Sebagai contoh mesin fotocopy menyumbang adanya polutan amonia, papan plywood dan gabus yang dipasang sebagai penyekat dinding menyumbang formaldehyde dan pelarut organic, penggunaan bahan kimia pestisida, pembersih ruangan, pewangi ruangan, pengawet. Faktor penyebab ditemukan sebagai kandungan sangat rendah yang digambarkan dengan adanya aroma tertentu, kondisi kenyamanan tertentu atau timbulnya rangsangan tertentu yang tidak biasa.

Upaya Pencegahan Sick Building Syndrome

Pencegahan SBS harus dimulai dari sejak perencanaan sebuah gedung untuk suatu pekerjaan atau kegiatan tertentu, penggunaan bahan bangunan mulai dari fondasi bangunan, dinding, lantai, penyekat ruangan, cat dinding yang dipergunakan, tata letak peralatan yang mengisi ruangan sampai operasional peralatan tersebut.

Perlu kewaspadaan dalam penggunaan bahan bangunan terutama yang berasal dari hasil tambang, termasuk asbes. Dianjurkan agar bangunan gedung didesain berdinding tipis serta memiliki sistem ventilasi yang baik. Pengurangan konsentrasi sejumlah gas/partikel dan micro organisme di dalam ruangan dapat dilakukan dengan pemberian tekanan yang cukup besar di dalam ruangan. Peningkatan sirkulasi udara seringkali menjadi upaya yang sangat efektif untuk mengurangi polusi di dalam ruangan. Dalam kondisi tertentu yaitu konsentrasi polutan sangat tinggi, dapat diupayakan dengan ventilasi pompa keluar.

Bahan-bahan kimia tertentu yang merupakan polutan sumbernya dapat berada didalam ruangan itu sendiri. Bahan-bahan polutan sebaiknya diletakan di dalam ruangan-ruangan khusus yang berventilasi dan di luar area kerja. Sedangkan karpet yang dipergunakan untuk pelapis dinding maupun lantai secara rutin perlu di bersihkan dengan penyedot debu dan apabila dianggap perlu dalam jangka waktu tertentu dilakukan pencucian. Demikian pula pembersihan AC secara rutin harus selalu dilakukan.

Tata letak peralatan elektronik memegang peranan penting. Tata letak yang terkait dengan jarak pajanan peralatan penghasil radiasi elektromagnetik ini tidak hanya dipandang dari segi ergonomic tetapi juga kemungkinan memberikan andil dalam menimbulkan SBS. Kebutuhan para penghuni ruangan untuk merokok tidak dapat dihindari. Perlu disediakan ruangan khusus yang berventilasi cukup, jika tidak memungkinkan untuk meninggalkan gedung. Hal ini untuk mencegah kumulasi asap rokok yang mempunyai andil dalam menimbulkan SBS.

Sumber :
  • Burge, P.S. 2004. Sick Building Syndrome. Education. BMJ Publishing Group Ltd. Occupational and Evironmental Medicine
  • Enviromental Health Center (EHC). 2003. Sick Building Syndrome. IAQ Fact Sheet: Sick Building Syndrome. Enviromental Health Center. A Division of National Safety Caoncil. Washington DC
  • Fisk, WJ. 2000. Health And Productifity Gains from Better Indoor Enviroments and their Relationship with Building Energy Efficiency. Annu.REV.Energy Environ
  • Gorny, Rafa L, et al. 2002. Fungal Fragments as Indoor Air Biocontaminant. Applied and Enviromental Microbiology.
  • Adeeb, S, et.al. 2003. Emission and Evolution of Air borne Microflora in Slaugher Houses. Original Paper. Indoor and Built Enviroment
  • Kaiser, Manfred. Haw Indoor Air Quality Affects Your Health, And What You Can Do About It. McPherson’s Printing Group. Melbourne, Australia.

Berlangganan Artikel Kesmas Disini

 
berita unik