Sanitasi Daging

Written By Lencir Kuning on Saturday, December 20, 2014 | 8:23 PM

Beberapa Standar Sanitasi Daging Sapi

Daging merupakan sumber protein yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat dan dengan demikian diperlukan suatu pengawasan. Pengawasan juga dilakukan karena karakteristik daging yang mudah membusuk, hewan potong menderita penyakit infeksi yang dapat ditularkan kepada manusia, dan karena daging mudah terkena infeksi (dalam hal ini daging berfungsi sebagai media perkembangbiakkan atau perantara). Di Indonesia, pengawasan dilaksanakan oleh Dinas Pertanian atau Dinas Peternakan setempat. Pengawasan sanitasi daging sapi dilakukan terhadap :

Hewan Potong: Pelaksanannya adalah dokter hewan yang ditunjuk. Pemeriksaan dilakukan terhadap kelainan - kelainan yang ditemukan pada hewan potong. Pemeriksaan yang dilakukan, antara lain :

  1. Pemeriksaan antemortem (pemeriksaan sebelum hewan dipotong): Tujuan pemeriksaan ini adalah mengamati ada tidaknya gejala penyakit paa hewan yang akan dipotong. Jika hewan tersebut terbukti sakit, pemotongan dilakukan terpisah dari pemotongan hewan sehat dan bangkainya dimusnahkan dengan cara dibakar. Peralatan yang digunakan harus menjalani proses sterilisasi atau pemanasan pada suhu 90 derajat celsius dan proses desinfeksi.
  2. Pemeriksaan Postmortem (pemeriksaan sesudah hewan dipotong): Pada pemeriksaan ini, perhatian difokuskan pada kelenjar - kelenjar tertentu, jantung, ginjal, dan limpa.

Rumah Potong
Daerah yang berpenduduk lebih dari 8.000 jiwa, harus memiliki minimal 1 rumah potong, yang harus pula memenuhi syarat sanitasi.

Pemasaran Daging
Dalam pemasarannya, daging dijaga agar jangan sampai terkontaminasi debu dan ditempatkan pada wadah yang tidak terlalu terbuka, selain daging juga jangan terlalu banyak dipegang. Upaya sanitasi juga dilakukan terhadap pasar dan alat - alat yang digunakan.

Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk mengetahui apakah daging yang kita beli baik atau tidak :
  1. Warna daging, kerbau berwarna gelap dan sapi berwarna lebih muda
  2. Baunya khas sesuai dengan hewannya. Bila dilihat persendiannya, permukaannya tampak berlendir.
  3. Konsistensinya baik, konsistensi masif atau elastis, memiliki targor dan terasa basah.

Berlangganan Artikel Kesmas Disini

 
berita unik