Tahap Penyelidikan dan Penanggulangan KLB

Written By Lencir Kuning on Sunday, December 14, 2014 | 8:37 PM

Tahap Awal Penyelidikan dan Penanggulangan KLB

Terdapat beberapa tahapan dalam melakukan penyelidikan dan penanggulangan KLB penyakit menular dan keracunan pangan. Tahapan ini tidak harus berurutan, misalnya terdapat beberapa tahapan yang dapat dilakukan secara bersamaan.

Beberapa tahap dimaksud, diantaranya adalah:

Menegakkan atau Memastikan Diagnosis.

Tahap ini bertujuan untuk dapat membuat penghitungan kasus secara teliti guna keperluan analisis di tahapan berikutnya. Tahap ini menjadi penting, antara lain karena:
  1. Adanya kemungkinan kesalahan dalam diagnosis
  2. Anda mungkin tidak dilapori tentang adanya kasus, melainkan adanya tersangka atau adanya orang yang mempunyai sindroma tertentu.
  3. Informasi dari yang bukan kasus (yaitu kasus-kasus yang dilaporkan tetapi diagnosisnya tidak dapat dipastikan) harus dikeluarkan dari informasi kasus yang digunakan untuk memastikan ada/tidaknya suatu KLB.
Diagnosis yang didasarkan atas pemeriksaan klinis saja mudah salah, sering tanda atau gejala dari banyak penyakit adalah tidak begitu khas untuk dapat menegakkan suatu diagnosis. Beberapa faktor penyulit lain seperti banyak penderita tidak memperlihatkan sindroma yang khas bagi penyakit mereka, serta dimungkinkan banyak serotipe dari spesies penyebab penyakit menular terdapat secara bersamaan di masyarakat.

Oleh karena itu, bila mungkin harus dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan diagnosis. Namun karena beberapa konfirmasi laboratorium membutuhkan waktu, maka kriteria tanda-tanda dan gejala-gejala suatu penyakit seperti pada daftar dibawah dapat dipertimbangkan untuk menetapkan diagnosis lapangan. Selanjutnya dapat ditetapkan orang-orang yang memenuhi kriteria/gejala seperti dalam tabel 1 dapat dikategorikan sebagai kasus, sebaliknya orang-orang yang tidak memenuhi kriteria/gejala dapat dikeluarkan dari kasus.

Bila diagnosis lapangan telah ditetapkan, maka langkah selanjutnya adalah menghitung jumlah kasus dengan cara menghitung distribusi frekuensi dari tanda-tanda dan gejala-gejala yang ada pada kasus. Ini dilakukan dengan cara: pertama, mendaftarkan semua tanda dan gejala yang dilaporkan kasus. Kedua, menghitung jumlah kasus yang mempunyai tanda dan gejala tertentu. Kemudian menghitung persen kasus yang mempunyai tanda atau gejala itu. Untuk memudahkan penafsiran hasilnya, tanda-tanda dan gejala¬gejala itu sebaiknya disusun ke bawah menurut urutan frekuensinya seperti tabel dibawah.

Memastikan terjadinya KLB

Tahap ini bertujuan untuk memastikan apakah adanya peningkatan kasus yang tengah berjalan memang benar-benar berbeda dibandingkan dengan kasus yang "biasa" terjadi pada populasi yang dianggap mempunyai risiko terinfeksi. Apabila insidens yang tengah berjalan secara menonjol melebihi insidens yang "biasa", maka biasanya dianggap terjadi KLB. Perbedaan-perbedaan kecil antara insidens yang "biasa" dan yang tengah berjalan dapat menimbulkan ketidakpastian, sehingga peneliti harus selalu waspada mencari kasus-kasus baru yang dapat memastikan dugaan adanya KLB.

Apabila suatu KLB baru tersangka, seringkali populasi yang mempunyai risiko tidak diketahui secara jelas. Oleh karena itu pada taraf permulaan, populasi yang mempunyai risiko biasanya diasumsikan saja sama dengan keseluruhan populasi dari daerah geografis atau wilayah pelayanan institusi tertentu tempat penyakit itu berjangkit. Apabila tersangka KLB diketahui atau diduga berjangkit di suatu populasi yang sangat terbatas misalnya suatu sekolah, rumah perawatan, tempat pemeliharaan anak bayi disiang hari atau kelompok sosial tertentu, maka intormasi yang ada tentang angka insidens yang "biasa" dan yang tengah berjalan pada kelompok yang bersangkutan dapat digunakan untuk menetapkan terjadi atau tidaknya KLB.

Menghitung jumlah kasus/angka insidens yang tengah berjalan

Apabila dicurigai terjadi suatu KLB, harus dilakukan penghitungan awal dari kasus-kasus yang tengah berjalan (orang-orang yang infeksinya atau keracunannya terjadi di dalam periode KLB) untuk memastikan adanya trekuensi kasus baru yang "berlebihan".

Pada saat penghitungan awal itu mungkin tidak terdapat cukup informasi mengenai setiap kasus untuk memastikan diagnosis. Dalam keadaan ini, yang paling baik dilakukan adalah memastikan bahwa setiap kasus benar-benar memenuhi kriteria kasus yg telah ditetapkan.

Laporan kesakitan yang diterima oleh dinas kesehatan segera dapat diolah untuk penghitungan kasus. Di samping catatan Dinas Kesehatan, sumber-sumber tambahan lain seperti dokter, rumah sakit atau klinik, dan laboratorium penting untuk diperhitungkan. Hubungan dengan dokter-dokter praktek kadang¬kadang menyingkapkan kasus-kasus yang didiagnosis tetapi tidak dilaporkan, dan juga kasus-kasus tersangka yang diagnosisnya belum dapat ditegakkan. Rumah sakit dan klinik dapat memberikan informasi klinis dan laboratorium mengenai kasus-kasus yang dirawat. Mereka harus didorong untuk melaporkan hasil tes diagnosis para tersangka secepatnya. Kasus-kasus yang telah diketahui beserta orang-orang di sekitarnya merupakan sumber informasi yang penting untuk mendapatkan kasus-kasus tambahan yang tidak didiagnosis atau tidak dilaporkan.

Kasus¬kasus yang diwawancarai mungkin memberikan petunjuk ke arah adanya kasus-kasus subklinis maupun klinis di antara anggota keluarganya, sanak saudaranya atau kenalannya. Wawancara itu mungkin dapat menuntun kepada penemuan sumber inteksi, atau kontak yang menjadi sakit karena penularan dari kasus yang diwawancarai.

Menggambarkan karakteristik KLB

Suatu KLB sebaiknya dapat digambarkan menurut variabel waktu, tempat dan orang. Penggambaran ini harus dibuat sedemikian rupa sehingga dapat disusun hipotesis mengenai sumber, cara penularan, dan lamanya KLB berlangsung.

Sumber:: Buku Pedoman Penyelidikan Dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa Penyakit Menular Dan Keracu Nan Pangan (Pedoman Epidemiologi Penyakit). Edisi Revisi Tahun 2011, Katalog Terbitan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Berlangganan Artikel Kesmas Disini

 
berita unik