Prosedur Fogging

Written By Lencir Kuning on Tuesday, May 19, 2015 | 2:13 AM

Definisi, Cara Kerja, Keuntungan, Kelemahan’ Bahaya, dan Cara- Cara Pelaksanaan Fogging


DBD merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang penularannya dari satu penderita ke penderita lain disebarkan oleh nyamuk Ae. aegypti.Kebanyakan menyerang pada anak-anak dengan ciri-ciri demam tinggi mendadak 2 sampai 7 hari tanpa penyebab yang jelas, lesu/lemas , nyeri ulu hati, disertai pendarahan di kulit berupa bintik merah, kadang-kadang mimisan, berak darah, pada keadaan yang lebih berat terjadi muntah darah dan kesadaran menurun dan bertendensi menimbulkan shock dan kematian.

Menurut WHO, secara garis besar derajat DBD diklasifikasikan menjadi 4 derajat sebagai berikut :
  1. Derajat I : Demam dan Uji tornigguet positif
  2. Derajat II : Demam dan pendarahan spotan, pada umumnya dikulit dan atau manifestasi lain yaitu mimisan, pendarahan gusi, muntah darah dan kadang disertai berar darah
  3. Derajat III : Demam, pendarahan spotan disertai atau tidak disertai hepatomegah dan ditemukan gejala-gejala kegagalan sirkulasi meliputi nadai yang cepat dan lemah, tekanan nadi menurun (<20 anak="" atau="" dan="" dingin="" disertai="" ekstremitas="" gelisah.="" hipotensi="" li="" mmhg="">
  4. Derajat IV : Demam, perdarahan spotan disertai atau tidak disertai hepatomegali dan ditemukan gej ala renjatan hebat nadi tak teraba dan tekanan darah tak terukur.
Aspek lingkungan nyamuk aedes nyamuk Ae. aegypti secara singkat dapat dijelaskan sebagai berikut:
  1. Tempat Perindukan / Perkembangbiakan; Nyamuk Ae. aegypti menyukai tempat-tampat yang berisikan air jernih dan tidak langsung beralaskan tanah, tempat perindukan atau perkembangbiakan tersebut dibedakan menjadi 3 yaitu, yaitu:  a.Tempat perindukan sementara, Terdiri dari berbagai macam tempat penampungan air, misalnya; kaleng bekas, pecahan botol, pecahan gelas, talang air, pot bunga dan tempat-tempat penampungan genangan air bersih; b. Tempat perindukan permanen, Adalah tempat penanpungan air untuk keperluan rumah tangga seperti; bak penanpungan air bersih (reservoir, bak mandi, gentong-gentong air, dan bak cuci di kamar mandi); c.Tempat perindukan alamiah; Berupa genangan air pada lubang pohon, seperti misalnya terdapat pada celah-celah atau lubang-lubang pohon; pisang, kelapa, aren atau juga pada bekas potongan pohon bambu dan lubang bekas batang atau cabang pohon yang tumbang dan lain-lain.
  2. Perilaku makanan; Ae . aegypti sangat antropofilik, walaupun ia juga bisa makan dari hewan berdarah panas lainya. Sebagai hewan diurnal nyamuk betina memiliki dua periode aktifitas menggigit, pertama dipagi hari selama beberapa jam matahari terbit dan sore hari selama beberapa jam sebelum matahari gelap. 19
  3. Perilaku istirahat; Ae. aegypti suka istirahat di tempat yang gelap, lembab dan tersembunyi di dalam rumah atau bangunan, termasuk di kamar tidur, kamar mandi, kamar kecil dan dapur. Nyamuk ini jarang di temukan di luar rumah.19
  4. Jarak terbang; Penyebaran nyamuk Ae. aegypti betina dewasa dipengaruhi oleh beberapa faktor termasuk ketersediaan tempat bertelur dan darah, tetapi sepertinya terbatas 100 meter dari lokasi kemunculan. Akan tetapi penelitian baru di Puerto Rico menunjukkan bahwa nyamuk ini dapat menyebar sampai lebih dari 400 meter terutama untuk mencari tempat bertelur. 19
  5. Lama hidup; Nyamuk Ae. aegypti dewasa memiliki rata-rata lama hidup hanya delapan hari. Selama musim hujan saat bertahan hidup lebih panjang, resiko penyebaran virus makin besar.
Fogging

Secara Definisi, fogging merupakan upaya untuk menekan laju penularan penyakit DBD salah satunya ditunjukan untuk menguranggi kepadatan vektor DBD secara kimiawi yang dikenal dengan istilah pengasapan (fogging). Fogging adalah untuk membunuh sebagian besar vektor infektif dengan cepat, sehingga rantai penularan segera dapat diputuskan. Selain itu kegiatan ini juga bertujuan untuk menekan kepadatan vektor selama waktu yang cukup sampai dimana pembawa virus tumbuh sendiri. Alat yang digunakan untuk fogging terdiri dari portable thermal fog machine dan ultra low volume ground sprayer mounted.7

Cara kerja fogging, dilakukan pada pagi hari sekitar pukul 07.00 sampai pukul 10.00 dan sore hari pukul 15.00 sampai 17.00, bila dilakukan pada siang hari nyamuk sudah tidak beraktifitas dan asap fogging mudah menguap karena udara terlalu panas. Fogging sebaiknya jangan dilakukan pada keadaan hujan karena sia¬sia saja melakukan pengasapan.

Keuntungan fogging, dapat memutuskan rantai penularan DBD dengan membunuh nyamuk dewasa yang mengandung virus. Namun, fogging hanya efektif 1-2 hari. Selain itu, jenis insektisida yang digunakan untuk fogging juga harus diganti-ganti untuk menghindari resistensi dari nyamuk.

Sedangkan kelemahan fogging, berupa terjadinya resistensi terhadap bahan insektisida yang umum digunakan, antara lain : malathion, temephos, tenthion, permethrin, profoxur, dan fenithrothion.
Cara itu sangat lazim dilakukan pada saat outbreak terutama pada bulan-bulan kritis serangan DBD. Walaupun bahan aktif yang digunakan itu tidak selalu efektif mengendalikan vaktor karena di beberapa tempat, Aedes sudah menunjukkan resistrensi terhadap beberapa insektisda yang digunakan. Hampir semua populasi Ae. aegypti menunjukkan ketahanan terhadap insektisida pyrethroid, permethrin, dan deltamethrin. Kalaupun pengasapan masih digunakan hasilnya hanya dapat menghalau atau membunuh nyamuk dewasa tetapi tidak termasuk larvanya. Pengasapan dengan Malathion 4 persen dengan pelarut solar, yang dinilai masih efektif hanya mampu membunuh nyamuk dewasa pada radius 100-200 meter dari jarak terbang nyamuk yang hanya efektifitas satu sampai dua. Dalam kondisi seperti itu, penggunaan insekstisda selain kurang efektif dan mahal juga berbahaya terhadap kesehatan dan lingkungan.

Bahaya fogging, antara lain dapat menggangu saluran pernapasan, jika dilakukan fogging terus menenurus nyamuk dapat kebal terhadap bahan kimia, serta dapat mengakibatkan keracunan terhadap makanan yang terkena asap fogging.

Prosedur Pelaksanaan Fogging
  1. Fogging hanya efektif untuk membasmi vektor atau nyamuk Aedes dewasa saja karena itu, upaya fogging saja tidaklah telalu efektif untuk menekan laju penularan penyakit DBD di masyarakat meski tidak berarti upaya melakukan fogging sia-sia.
  2. Efek fogging hanya efektif bertahan selama dua hari.
  3. Selain itu, jenis insektisida yang dipergunakan mesti diganti secara periodik untuk menghidari kekebalan (resistensi nyamuk Aedes)
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan fogging dengan swing fog untuk mendapatkan hasil yang optimal, antara lain :
  1. Konsentrasi larutan dan cara pembuatannya. Untuk malation, konsentrasi larutan adalah 4 5 %
  2. Nozzle yang dipakai harus sesuai dengan bahan pelarut yang digunakan dan debit keluaran yang diinginkan.
  3. Jarak moncong mesin dengan target maksimal 100 m.
  4. Kecepatan berjalan ketika memfogging, untuk swing fog kurang lebih 500 m2 atau 2 3 menit untuk s atu r umah dan halamannya.
  5. Waktu fogging disesuaikan dengan kepadatan/aktivitas puncak dari nyamuk, yaitu jam 06.00 10.00.

Berlangganan Artikel Kesmas Disini

 
berita unik