Aspek Lingkungan Malaria

Written By Lencir Kuning on Wednesday, October 7, 2015 | 5:52 PM

Faktor Lingkungan pada Penularan Penyakit Malaria

Aspek lingkungan pada penularan malaria antara lain sebagai berikut:

A. Lingkungan Fisik

Tata guna lahan akan menciptakan tempat perindukan seperti lahan untuk pertanian yang tersedia air sepanjang tahun, adanya rawa-rawa atau kolam yang tidak terawat, pemanfaatan lahan perkebunan, peternakan (Sushanti et al, 1998). Perilaku nyamuk dalam berkembangbiak tiap-tiap spesies tidak sama seperti, Anopheles barbirostris senang pada air yang tidak mangalir (statis) dan sedikit mengalir, Anopheles balabacensis pada lokasi perkebunan, Anopheles minimus suka pada air yang mengalir cukup deras dan Anopheles latifer tempat perindukan pada air yang tergenang, Anopheles aconitus pada areal persawahan, pola tanam yang tidak serentak, sumber air yang terus menerus tersedia dan mengalir perlahan (Carnevale dalam Saepudin, 2001).

Beberapa faktor iklim seperti curah hujan tinggi akan mendukung terciptanya tempat perindukan, menyebabkan terjadinya peningkatan jentik dan vektor, karena tersedianya tempat perkembangan Anopheles (Barodji et al, 1999). Kelembaban udara yang rendah akan memperpendek umur nyamuk, kelembaban yang sesuai untuk tumbuh dan berkembangnya nyamuk adalah diatas 63% (Faye dalam Saepudin, 2001). Temperatur udara juga mempengaruhi kecepatan berkembangbiak, kebiasaan menggigit dan istirahat. Kecepatan dan arah angin akan mempengaruhi jarak terbang nyamuk, sehingga vektor akan menyebar ke berbagai tempat.

B. Lingkungan biologis

  1. Tumbuhan bakau, lumut, ganggang da n berbagai jenis tumbuhan lainnya dapat mempengaruhi kehidupan jentik nyamuk khususnya An. Sundaicus karena menghalangi sinar matahari dan melindungi dirinya dari makhluk hidup lain atau predator. Berbagai jenis ikan pemangsa jentik yang hidup di tempat perindukan akan membantu menekan pertumbuhan nyamuk vektor. Peranan usaha perikanan darat tidak dapat diabaikan dalam upaya mengurangi timbulnya epidemi penyakit malaria, seperti ikan nila yang mempunyai kemampuan adaptasi di berbagai jenis air. Di Indonesia ikan nila merah pernah dicoba di Lampung, ternyata sangat efektif menurunkan kepadatan jentik An. sundaicus di kolam rakyat (Nurisa, 2004).
  2. Keberadaan ternak seperti sapi, kerbau, dan kambing (Source of blood meals) dapat mempengaruhi frekuensi gigitan pada manusia, makin besar proporsi ternak makin kecil frekuensi kontak antara nyamuk dengan manusia (Barodji et al, 1999).
C. Lingkungan Sosial Ekonomi

Lingkungan sosial ekonomi antara lain; perumahan dengan konstruksi bangunan yang tidak kedap nyamuk (mosquito proof) memberi peluang terhadap nyamuk untuk hinggap di dalam rumah (Gunawardena dalam Sumantri 2001). Hal ini akan mempengaruhi kontak antara nyamuk dengan manusia. Jarak antara perumahan dengan tempat perindukan dan tempat istirahat, juga akan mempengaruhi frekuensi kontak antara manusia dengan nyamuk. Hal ini erat kaitannya dengan terjadinya transmisi penularan malaria (Faye dalam Saepudin, 2001).

D. Perilaku Masyarakat

Perilaku manusia di bidang kesehatan pada dasarnya adalah respon seseorang terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan, serta lingkungan (Notoatmojo, 1993). Respon atau reaksi manusia, baik bersifat pasif (pengetahuan, persepsi, dan sikap) maupun bersifat aktif (tindakan atau praktek). Perilaku terhadap sakit dan penyakit sesuai dengan tingkat pencegahan penyakit, yakni :

  1. health promotion behavior, yaitu perilaku yang berhubungan dengan peningkatan dan pemeliharaan kesehatan;
  2. health prevention behavior, yaitu respon untuk melakukan pencegahan penyakit;
  3. health seeking behavior, yaitu perilaku yang berkaitan dengan pencarian pengobatan;
  4. health rehabilitation behavior, yaitu perilaku yang berhubungan dengan pemulihan kesehatan setelah sembuh dari suatu penyakit.
Perilaku manusia memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap tingkat kontak dengan vektor. Kontak dapat terjadi jauh maupun dekat dengan lingkungan domestik. Kontak di lingkungan penduduk sering menimbulkan jumlah penderita lebih cepat meluas diantara kelompok umur dan jenis kelamin pada suatu wilayah tertentu, misalnya kontak antara seorang anggota keluarga terhadap anggota keluarga yang lain (Saepudin, 2001).

Nalim (1989), menyatakan bahwa manusia secara langsung maupun tidak langsung memberi peluang pada kelangsungan hidup nyamuk. Secara langsung manusia menyediakan sumber darah, antara lain perilaku keluar rumah pada malam hari, tidur tidak menggunakan kelambu. Peluang tidak langsung seperti pembukaan lahan baru untuk persawahan dan transmigrasi, pembuatan bendungan, sebagai tempat perindukan nyamuk yang semakin luas.

Dengan demikian perilaku masyarakat sangat mempengaruhi derajat kesehatan terutama yang erat hubungannya dengan penularan malaria meliputi kebiasaan tidur di luar rumah, kebiasaan tidak memakai kelambu sewaktu tidur, kebiasaan bekerja di kebun, kebiasaan keluar rumah atau kumpul-kumpul pada malam hari.

E. Pengetahuan
Pengetahuan masyarakat tentang malaria meliputi pengetahuan tentang vektor malaria, cara penularan, cara pemberantasan dan pencegahan, pengobatan serta fungsi unit pelayanan kesehatan (Hongvivatana et al dalam Saepudin,2001). Pengetahuan tentang penyakit malaria akan mempengaruhi perilaku seseorang dalam menghindari kontak dengan vektor. apa yang menularkan malaria sekitar 83,4% menyatakan dengan benar (Santoso, 1989). Dengan demikian bahwa masyarakat pada umumnya sudah mengenal malaria, tetapi penyebab malaria secara mendasar belum diketahui.

Berlangganan Artikel Kesmas Disini

 
berita unik