Blog Kesmas

happu diet photo Diets250x150.gif

Inspeksi Sanitasi

Weight Loss Diet

Update Tablet

info-ponselhp photo InfoHOFlash_zpsc6939bc5.gif

Public Health Blog

daftar isi sanitasi photo DAFTARISIBLOG2.gif

Standard Operational Procedure Sanitarian

Written By Lencir Kuning on Monday, May 31, 2010 | 3:41 PM

SOP Mengukur Sampel Kebisingan, Kepadatan Lalat, Kualitas Fisik Limbah Cair, dan Pemeriksaan

Sampel Sampah dan Tanah

Beberapa teman Sanitarian tidak lulus uji kompetensi. Beberapa dari mereka memenyinggung transparansi nilai. Apakah memang kualifikasi nilai yang didapat dibawah standard kompetensi atau ada faktor (?) lain. Sementara banyak teman mereka “lulus-lulus saja”. Jangan-jangan kita memang sudah terlalu tua untuk mengingat teori-teori, sementara keseharian kerja kita disibukkan dengan sistem dan pola yang “aplikatif”, dan celakanya itu jauh dari aplikasi teori yang kita dapatkan saat sekolah dulu. Sebagai awam, kalau boleh bertanya, kenapa sih mesti ada uji kompetensi? Bukankah status “berkompeten” sudah kita dapatkan bersamaan dengan wisuda dari sekolah yang “sangat berkompeten” menyelenggarakan pendidikan kita dulu? Namun orang bilang, pada era ISO dan era Sertifikasi sekarang, para kuli bangunan-pun harus punya sertifikat uji kompetensi. Ah, jangan-jangan (lagi), kita memang selalu suka menggunakan jargon “Kalau bisa dipersulit, mengapa harus dipermudah ?” Semoga itu sekedar “Su’udhon” orang yang kalah perang pada wadah baru “uji kompetensi ini”.

Perdebatan diatas harus saya akhiri. Tulisan ini mungkin sekedar mengingatkan kita pada beberapa teori terkait SOP pengambilan sampel lingkungan. Tulisan-tulisan berikutnya Insya Allah akan lebih banyak lagi.

Mengukur Kebisingan
Cara menentukan titik lokasi untuk pengambilan sampel kebisingan sebagai berikut : Soun Level Meter
  •     Ditentukan pada jarak terjauh dari sumber bising
  •     Jarak terdekat dari sumber kebisingan
  •     Jarak antara jarak terjauh dan terdekat dengan sumber bising.
Sedangkan peralatan yang digunakan adalah Sound Level Meter dan Form Pencatatan. Hasil pengukuran kemudian dilakukan analisa dengan membandingkan hasil pengukuran dengan standard.

Mengukur Kepadatan Lalat

Alat yang digunakan untuk mengukur tingkat kepadatan lalat antara lain fly grill, formulir, counter dan stop watch. Sedangkan prosedur pengukuran kepadatan lalat :
  1.     Fly grill diletakkan mendatar pada titik lokasi pengukuran
  2.     Setiap titik lokasi dilakukan 10x pengukuran
  3.     Selama 30 detik lalat yang hinggap di fly grill dihitung

The InfoVisual.info site uses images to explain objects. Setelah prosedur diatas dilakukan, kepadatan lalat dicatat dalam lembar isian. Formulir ini diisi tiap kali pengukuran dengan lama waktu 30 detik.Penentuan tingkat kepadatan lalat dihitung dengan cara diambil 5 dari 10 pengukuran yang paling banyak, selanjutnya hasil di rata-rata. Hasil ini dibandingkan dengan standard berikut. Berikut kriteria Index Kepadatan lalat :
  •     Jarang : ≤ 2
  •     Sedang : diantara 2-20
  •     Tinggi : lebih  20
Pengukuran Kualitas Fisik Limbah Cair

Peralatan yang digunakan untuk mengukur kualitas fisik limbah cair sebagai berikut :
  1.     Termometer – digunakan untuk mengukur suhu
  2.     DHL Meter – digunakan untuk mengukur kadar DHL
  3.     Dry Oven – digunakan untuk pemanasan sampel
  4.     Desikator – digunakan untuk menyerap kadar air
  5.     Timbangan analitik – digunakan untuk menimbang
  6.     Cawan Porselen – digunakan sebagai wadah kertas saring saat di oven
  7.     Beker Glass – wadah sampel saat akan diukur
Sedangkan bahan yang digunakan :
  1.     Aquades – sebagai pelarut dan pengencer
  2.     Kertas saring – untuk menyaring suspended solid
  3.     Tissue – untuk membersihkan atau mengeringkan alat
Selain alat dan bahan diatas juga diperlukan peralatan penunjang seperti pena/pensil, kertas kerja, penghapus, serta kalkulator. Sebagai catatn, identifikasi limbah cair berfungsi sebagai informasi tentang identitas sampel agar tidak tertukar dengan sampel lain, juga untuk kepentingan analisis hasil pemeriksaan. Sedangkan komponen identitas sampel minimal terdiri dari beberapa informasi :
  1.     Nama/alamat pengirim
  2.     Tempat pengambilan sampel
  3.     Tanggal pengambilan
  4.     Waktu pengambilan
  5.     Tujuan pemeriksaan
Jenis parameter kualitas fisik limbah cair yang harus diukur adalah suhu, Daya Hantar Listrik (DHL), serta Total Suspended Solid (TSS).

Pemeriksaan Sampel Tanah Dan Sampah

Sebelum melakukan uji/pemeriksaan sampel tanah dan sampah, penting dipersiapkan Alat Pelindung Diri (APD) seperti masker, sepatu boot, sarung tangan, dan helm kerja. Sedangkan alat yang digunakan dalam pengambilan sampel tanah dan sampah untuk kepentingan pemeriksaan kualitas fisik adalah :

  1.     Bor tangan
  2.     Sekop kecil dari bahan metal, plastik, dan kayu
  3.     pH soil tester
  4.     Termometer
  5.     Higro meter
  6.     Wadah sampel
  7.     Alat tulis
  8.     Checklist pengambilan sampel
  9.     Rol meter
Komponen / unsur fisik yang harus dicatat dakam pengambilan sampel tanah adalah :
  1.     Jenis sampel
  2.     Spesifikasi pemeriksaan (fisik/kimia/mikrobiologi)
  3.     Lokasi sampling
  4.     Teknik sampling yang dilakukan

to be continued  …..
3:41 PM | 0 comments | Read More

Software Klinik Sanitasi

Written By Lencir Kuning on Wednesday, May 26, 2010 | 12:35 AM

Software Klinik Sanitasi Berbasis Surveilans


Software ini dibuat oleh Tim MIT Sanitasi Dinkes Kab. Lumajang dengan basis aplikasi menggunakan bahasa program Delphi. Spesifikasi komputer yang diperlukan termasuk minimal, yaitu Pentium III ke atas, OS windows xp,vista,windows 7, RAM minimum, VGA minimum, serta LAN yang bersifat optional.


Latar belakang dibuatnya program aplikasi klinik sanitasi ini dimulai ketika tahun 2008 dilakukan survey sanitasi dasar (lebih tepatnya sensus, karena dilakukan secara total sampling). Dengan lebih 250 ribu rumah sasaran penilaian, kegiatan ini menghasilkan data base sanitasi dasar yang sangat menggiurkan, sehingga sangat “eman” jika tidak dimaksimalkan.

Survey sanitasi dasar dengan sasaran rumah ini menggunakan acuan Pedoman Teknis Penilaian Rumah Sehat Depkes RI Tahun 2007. Sehingga survey ini pada dasarnya selain bertujuan untuk memperoleh data dasar rumah sehat yang valid, juga diperolehnya gambaran prosentase rumah sehat, gambaran status sanitasi rumah (yang meliputi aspek komponen rumah, aspek sarana sanitasi, serta aspek perilaku), serta diketahuinya gambaran potensi resiko penyakit berbasis lingkungan dalam kaitan dengan kondisi rumah.

Tujuan diatas menjadi penting, karena sebagian besar penyakit berbasis lingkungan masuk dalam 10 besar penyakit, sehingga dengan aplikasi ini diharapkan dapat mengembangkan kemampuan petugas dalam identifikasi, analisa dan upaya pemecahan masalah kesehatan lingkungan dan penyakit berbasis lingkungan

Gambaran singkat software klinik sanitasi berbasis surveilans ini dapat anda lihat pada video berikut :

Dengan output pada software klinik sanitasi ini akan diketahui kondisi sanitasi serta perilaku sanitasi pada sasaran serta dapat dilakukan analisa berdasarkan data cakupan analisa pada masing-masing kondisi. Kondisi yang dimaksud adalah kriteria dan indikator sesuai data base Survey Sanitasi Dasar dan checklist inspeksi sanitasi.

Data base survey sanitasi dasar meliputi berbagai item data sanitasi dasar rumah antara lain :
Indikator komponen rumah yang di survey meliputi :
1. Langit-langit
2. Dinding
3. Lantai
4. Jendela kamar tidur
5. Jendela ruang keluarga
6. Ventilasi
7. Lubang asap dapur
8. Pencahayaan
9. Kandang
10. Pemanfaatan Pekarangan
11. Kepadatan penghuni.

Indikator sarana sanitasi meluputi :
1. Sarana air bersih
2. Jamban
3. Sarana pembuangan air limbah
4. Sarana pembuangan sampah.

Indikator perilaku penghuni :
1. Kebiasaan mencuci tangan
2. Keberadaan vektor tikus
3. Keberadaan Jentik.

Sedangkan data base lain menggunakan acuan hasil inspeksi sanitasi pada lebih dari 34 checklist sasaran.
Check List Inspeksi Sanitasi Rumah
Check List Inspeksi Sanitasi Tempat Pengelolaan Makanan (TPM)
1. Rumah Makan
2. Audit Hygiene Sanitasi MakananJasa Boga
3. Laporan Pemeriksaan Jasa Boga
4. Kantin Sekolah

Check List Inspeksi Sanitasi Sarana Air Bersih
1. Sumur Gali
2. Sumur Pompa Tangan
3. Perlindungan Mata Air
4. Penampungan Air Hujan
5. Kran Umum
6. Terminal Air

Check List Inspeksi Sanitasi Tempat-Tempat Umum (TTU)
1. Kolam Renang/Pemandian Umum
2. Depot Air Minum Isi Ulang
3. Pasar
4. Pusat Perbelanjaan
5. Salon
6. Pangkas Rambut
7. Masjid
8. Gereja
9. Hotel Melati

Check List Inspeksi Sanitasi Institusi
1. Kes lingkungan kerja Industri
2. Kes lingkungan kerja perkantoran
3. Sekolah


Berbagai macam checklist tersebut telah dibukukan lengkap dengan bobot dan nilai serta kriteria akhir. Dengan berbagai tool dan data base diatas maka intervensi dan tindak lanjut lapangan dapat dilakukan secara lebih tepat dan terarah.

12:35 AM | 0 comments | Read More

Pemeriksaan E Coli Dengan Metode H2S

Written By Lencir Kuning on Wednesday, May 19, 2010 | 11:27 PM

PEMERIKSAAN KUALITAS BAKTERIOLOGIS AIR METODE H2S

Menjawab permintaan mas Putut dalam kolom shoutmix tentang artikel yang terkait laboratorium, berikut artikel tentang Pemeriksaan Kualitas Bakteriologis Air dengan menggunakan metode H2S. Tulisan ini mengacu pada Pedoman Pemeriksaan Kualitas Bakteriologis Air Untuk Daerah Perdesaan Departemen Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman Tahun 1997.

Latar belakang pemeriksaan bakteriologis air dengan metode H2S antara lain bahwa keberadaan bakteri coliform didalam air diasosiasikan dengan organisme penghasil hidrogen sulfide/H2 S (Allen & Geldreich-1975). Berdasarkan kepastian adanya H2s dalam air tersebut sekaligus merupakan indikator adanya bakteri coliform (Manya dkk, 1982).

Terdapat cara sederhana yang dapat dilakukan untuk mengetahui kepastian tersebut (adanya coliform karena faktor H2S ini). Mengapa sederhana? Karena pengambilan dan pemeriksaan sampel dapat langsung dilakukan dengan tabung reaksi/botol yg telah berisi media yang sudah dipersiapkan. Botol dengan media ini selanjutnya dieramakan/inkubasi pada suhu ruangan (26oc – 37oc) selama 1 – 3 hari (mulai dari 18 jam). Untuk menilai hasil pekerjaan ini digunakan indikator dengan adanya perubahan warna botol media yang menjadi hitam.

clip_image002Pemeriksaan kualitas bakteriologis air dengan menggunakan metode H2S ini mempunyai beberapa keuntungan sekaligus kerugian. Beberapa keuntungan dapat kita sebutkan antara lain sederhana, mudah, cepat, murah, peralatan dan media mudah diperoleh, serta tidak memerlukan keahlian khusus, karena cukup dengan pelatihan sederhana petugas sudah mampu melakukan pemeriksaan.

Selain beberapa keuntungan tersebut, juga terdapat kerugian, diantaranya metode ini bersifat kualitatif, sehingga tidak terukur percise dalam bentuk satuan (range atau angka). Berdasarkan uji coba, hasil yang didapat kurang sensitif dibanding dengan metode tabung ganda. Walaupun persentasenya kecil, masih terdapat satu sampel yang sama didapat, namun berbeda hasil dengan menggunakan ke-dua metode ini. Metode H2S ini mempunyai sensitivitas yang baik (>80%), jika digunakan pada uji sampel air dengan kadar bakteri tinggi, namun kurang sensitif jika frekuensi keberadaan bakteri dalam air rendah.

Peralatan dan media pemeriksaan bakteriologis kualitas air dengan metode H2S antra lain :
  • Kompor
  • Tabung reaksi dg tutup ulir / botol bertutup tahan panas
  • Sterilisator (autoclave, drying oven)
  • Lampu spiritus
  • Timbangan
  • Pipet (1 ml , 10 ml )
  • Gelas ukur, erlenmeyer
  • Rak tabung
  • Botol media
  • Lain-lain (Ph lakmus, spidol, label)
  • Sodium thiosulfate
  • Kertas saring
  • Pepton (bakteriological peptone)
  • Dipotasium hydrogen phospate
  • Ferric ammonium citrate
  • Teepol
  • Aquadest/aquabi dest

Prosedur pembuatan Media pemeriksaan
  1. Pepton : 40,0 GR ; K2HPO4 : 3,0 GR ; FAC : 1,5 GR ; NA2S2SO4 : 1,0 GR ; dan aquabidest 1.000 ml.
  2. Tambahkan Teepol 2,0 ml
  3. Dipanaskan sambil diaduk perlahan lahan sampai larutan homogen/merata, kemudian diamkan sampai dingin.
  4. Masukan kertas saring berlipat (8 x 8 cm) kedlm tabung/botol media, kemudian pipet larutan media 1 ml untuk sampel 20 ml, & 2,5 ml untuk sampel 100 ml.
  5. Tabung-tabung tersebut disteril pada suhu 121 oc selama 15’ kemudian dikeringkan (oven 60 oc selama 30’).
  6. Dinginkan, simpan media pada suhu 4 – 8 oc.
Prosedur pemeriksaan dan pembacaan hasil
  • Ambil 1 tabung media.
  • Masukan sampel air 20 cc atau sampai tanda batas kedalam tabung/botol media (lewat mulut tabung diatas nyala api ,agar tetap steril).
  • Simpan di rak tabung pada suhu ruangan selama 1 – 3 hari.
Jika tahapan diatas sudah dilakukan, maka pembacaan hasil untuk memastikan keberadaan bakteri coliform dalam air bersih pada sampel pemeriksaan dapat dilakukan dengan dua cara, kualitatif dan semi kualitatif.

Dengan cara kualitatif, hasil negatif jika tidak terjadi perubahan warna, hasil positif (+), jika terjadi perubahan warna pada media menjadi hitam / ke-hitaman. Sedangkan dengan cara Semi kualitatif, dpat dijelaskan sebagai berikut :

Botol 100 ml :
  • Warna hitam dalam waktu 1 – 3 hari berarti mengandung 1 bakteri/100 ml.
  • Warna hitam pekat dalamwaktu < 24 jam berarti mengandung > banyak bakteri/100 ml.
Tabung 20 ml :
  • Warna hitam dalam waktu 1 – 3 hari berarti mengandung > 5 bakteri/100 ml.
  • Warna hitam pekat dalam waktu < 24 jam berarti mengandung > 50 bakteri/100 ml.
11:27 PM | 0 comments | Read More

Deklarasi ODF Kec. Padang

Written By Lencir Kuning on Tuesday, May 18, 2010 | 10:20 PM

Deklarasi Open Defecation Free (ODF) Kecamatan Padang Kab. Lumajang

Satu lagi Deklarasi penting dilakukan di Kabupaten Lumajang, Deklarasi Kecamatan Padang, sebagai Kecamatan ke tiga dengan 100% masyarakat telah bebas dari buang air besar sembarangan. Deklarasi ini dilakukan oleh masyarakat dengan penanda tanganan prasasti dilakukan oleh Bupati Lumajang (Dr. Sjahrazad Masdar, MA), pada Tanggal 18 Mei 2010, di Kantor Kecamatan Padang Kabupaten Lumajang.

Pada tingkat lokal Deklarasi ini menjadi cukup bermakna karena beberapa hal, antara lain :

Deklarasi ini merupakan first step dari banyak deklarasi serupa yang ditargetkan akan dilakukan di Kabupaten Lumajang. Sebagaimana komitmen Pemerintah Kabupaten Lumajang bahwa target Kabupaten Lumajang pada tahun 2013 seluruh wilayah Kabupaten sudah mnecapai status ODF. Sebagaimana kita ketahui bahwa target Nasional kondisi ini akan dicapai sampai tahun 2014 (100 % Stop BAB sembarangan).
100_5983

Deklarasi yang dihadiri oleh (tidak lebih) dari 500 undangan, dari kalangan Legislatif, Kementerian Kesehatan, Birokrasi (Kepala Dinas/Kantor/Intansi Vertikal, Camat, Danramil, Kapolsek, se Kabupaten Lumajang, serta masyarakat Kecamatan padang. Secara implisit, tingkat kehadiran dengan beragam latar belakang ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa Gerakan STBM telah menjadi sebuah totalitas gerakan di masyarakat. Sebagai catatan, bahwa peran Lintas Sektor khususnya Koramil sangat mewarnai Gerakan STBM di Kabupaten Lumajang, sehingga secara bermakna berperan dalam percepatan pencapaian target ODF.
100_5985 
Sebagai informasi perkembangan pelaksanaan STBM di Kabupaten Lumajang telah menunjukkan trend menjanjikan, sebagaimana data berikut :
Kec gucialit : 9 Desa (Kecamatan ODF)
Kecamatan Senduro : 12 Desa (Kecamatan ODF)
Kecamatan Padang (odf) : 9 Desa (Kecamatan ODF)
Kecamatan Kedungjajang : 12 Desa (Rencana Deklarasi pada bulan juni
Kecamatan Pronojiwo : 2 Desa ODF
Kecamatan Pasirian : 2 Desa ODF
Kecamatan Yosowilangun : 4 Desa ODF
Sedangkan kecamatan lainnya telah menunjukkan trend ke arah jalan yang lurus dan telah mempunyai beberapa wilayah ODF ditingkat Posyandu, serta mempunyai target Kecamatan ODF serta perkembangan terakhir yang on schedulle :DSCN0902
  1. Kecamatan Pasrujambe, rencana Deklarasi ODF pada bulan Juni 2010, mulai bergerak serta telah terbentuk jejaring sanitasi.
  2. Kecamatan Yosowilangun, rencana Deklarasi ODF pada bulan Juli 2010, Muspika bergerak 2 kali seminggu turun ke desa.
  3. Kecamatan Tempursari, rencana Deklarasi ODF pada bulan Agustus 2010.
  4. Kecamatan Jatiroto, rencana Deklarasi ODF pada bulan Desember 2010, target ini dapat lebih cepat terealisasi mengingat totalitas dukungan Danramil dengan gerakan karya bhakti-nya.
  5. Kecamatan Pronojiwo, rencana Deklarasi ODF pada bulan September 2010, gerakan muspika dan lintas sektor 2 kali seminggu turun ke desa
  6. Kecamatan Tekung, rencana Deklarasi ODF pada bulan Desember 2010, gerakan muspika turun ke desa juga telah dilakukan
Jika target diatas terwujud, maka sepanjang tahun 2010 ini Kabupaten Lumajang akan mempunyai 10 Kecamatan ODF. Selanjutnya tantangan masih menanti  …. mempertahankan perilaku Buang Air Besar Masyarakat hanya di jamban, agar tidak kembali menjadi OD lagi ….
10:20 PM | 0 comments | Read More

Kandungan Cholesterol Makanan

Written By Lencir Kuning on Friday, May 14, 2010 | 3:29 PM

Waspadai Cholesterol pada Makanan Kita

 Sebagaimana kita ketahui, akhir-akhir ini kata cholesterol menjadi momok yang menakutkan banyak pihak. Cholesterol menjadi kata yang menjadikan wisata kuliner kita menjadi tidak nyaman.  Cholesterol menjadi menakutkan saat usia menginjak 40-an. Mungkin banyak rekan Sanitarian telah menjadikan cholesterol sesuatu yang dibenci tapi rindu, karena banyak jenis makanan dengan taste menggiurkan, justru dengan kandungan cholesterol tinggi. So  ..  back to nature, kembali ke alam sepertinya akan jauh lebih baik, karena dikebun kita masih banyak kenikir, bayam, kecipir, pare, genjer, kemangi, daun ketela, ….   
Berikut saya kutipkan catatan beberapa jenis makanan dengan kandungan cholesterol per 10 gr-nya (sumber General Hospital Singapura). 

clip_image001
Kandungan Kolesterol Per 10 gr makanan
clip_image002
No
Nama makanan
Per 10 gr
Kolesterol
(Mg)
Katagori
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
Putih telor ayam
Taripang (halsom)
Ubur-ubur
Susu sapi non-fat
Daging ayam tanpa kulit
Daging bebek tanpa kulit
Ikan sungai biasa
Daging sapi tanpa fat
Babi tanpa fat
Daging kelinci
Daging kambing tanpa fat
Ikan ekor kuning
Daging asap (ham)
Iga sapi
Iga babi
Daging sapi
Burung dara
Ikan bawal
Daging sapi berlemak
Gajig sapi
Gajig kambing
Daging babi berlemak
Keju
Sosis daging
Kepiting
Udang
Kerang/Siput
Belut
Santan kelapa
Gajih babi
Susu sapi
Susu sapi cream
Coklat
Mentega/margarin
Jeroan sapi
Jeroan babi
Kerang putih/.Tiram
Telor ayam
Jeroan kambing
Cumi-cumi
Kuning telor ayam
Otak sapi
Otak babi
Telor burung puyuh
0
0
0
0
50
50
55
60
60
65
70
85
98
100
105
105
110
120
125
130
130
130
140
150
150
160
160
185
185
200
250
280
300
300
380
420
450
500
610
1.170
2.000
2.300
3.100
3.640
Sehat
Sehat
Sehat
Sehat
Sehat
Sehat
Sehat
Sehat
Sehat
Sehat
Sehat
Sehat
Sekali-kali
Sekali-kali
Sekali-kali
Sekali-kali
Sekali-kali
Sekali-kali
Sekali-kali
Hati-hati
Hati-hati
Hati-hati
Hati-hati
Hati-hati
Hati-hati
Hati-hati
Hati-hati
Hati-hati
Berbahaya
Berbahaya
Berbahaya
Berbahaya
Berbahaya Berbahaya
Berbahaya
Berbahaya
Berbahaya
Berbahaya
Berbahaya
Pantang
Pantang
Pantang
Pantang
Pantang

clip_image004
 Kolesterol normal dalam darah 160-200 mg. Kolesterol tinggi dapat mengakibatkan penyakit mendadak seperti hipertensi, stroke, dan bahkan kematian.
3:29 PM | 0 comments | Read More

Konstruksi Jamban Pada Kondisi Khusus

Written By Lencir Kuning on Sunday, May 9, 2010 | 1:08 AM

Konstruksi Jamban Pada Daerah Pasang Surut Pantai, Daerah Banjir, serta Rumah Panggung

Tulisan ini sebetulnya memenuhi permintaan Mas Faidul - Kendari , saat chatting di media sillaturrahim facebook kemarin. Saya menggunakan acuan yang dibuat WSP dan UP3D LPPM-ITS. Pada dasarnya perencanaan jamban pada daerah khusus ini tetap mengacu pada teori hydrogeology – penyebaran dan pergerakan air akibat resapan alamiah sesuai tinggi rendagnya Muka Air Tanah (MAT). Berbagai Aspek MAT terhadap letak dan konstruksi jamban, akan saya sampaikan dilain kesempatan.

Pada kondisi khusus ini, kontruksi jamban dapat dibuat dengan dua model :
  1. Jamban dengan permukaan ditinggikan. Jamban model ini dapat dilihat sebagaimana gambar dibawah ini. Dengan meninggikan permukaan dasar bangunan jamban sehingga dapat menampung rumah jamban sekaligus penampungan tinja di bawahnya. Jamban Ditinggikan
  2. Jamban untuk daerah banjir/pasang surut, atau rumah panggung. Jamban model ini dirancang untuk digunakan pada daerah yang biasa terkena dampak banjir selama musim hujan. Juga cocok digunakan pada daerah pasang surut serta rumah panggung. Jamban Daerah Banjir dan PantaiJika kita lihat gambar diatas, sumur penampung tinja berada diatas tanah. Sumur ini dihubungkan dengan slab dan closet melalui sejumlah ring beton dan pipa. Jumlah ring beton dan panjang pipa dapat disesuaikan dengan ketinggian air selama banjir atau pasang surut.  Karena sumur akan penuh selama banjir atau pasang, maka bagian satu-satunya yang “dapat digunakan” dari tangki adalah bagian yang melewati permukaan banjir atau pasang. Rumah jamban perlu ditinggikan melebihi permukaan air yang tertinggi. Jamban model ini akan lebih mahal biaya pembuatannya daripada jamban jenis lain. Juga harus diperhitungkan semakin berkurangnya kekuatan bahan bangunan yang digunakan akibat terendam air. Akan sangat disarankan jika menggunakan bahan dengan spesifikasi tahan air.
Persyaratan Teknis Konstruksi
Persyaratan Teknis Konstruksi model jamban diatas antara lain :
  1. Tangki septic menggunakan pasangan batu bata biasa dengan adukan 1ps:2sm:3kp, sedangkan untuk adukan kedap air/plester menguunakan adukan 1sm:3ps
  2. Tangki septic harus dilengkapi dengan pipa udara dengan diameter 50 mm (2”) dan tinggi 25 m dari permukaan tanah.
  3. Tangki septic harus dilengkapi dengan lubang periksa yang berukuran 40 cm x 40 cm.
Persyaratan Teknis Resapan
  1. Konstruksi sumur resapan merupakan sumuran yang berdiameter 80 cm dengan kedalaman 160 cm
  2. Sumur resapan menggunakan pasangan batu bata system sarang lebah pada bagian bawah (daerah yang terendam air), dan konstruksi bata dengan adukan kapur untuk bagian atas (daerah kering).
Pengurasan jamban jenis ini menjadi tidak mudah untuk dilakukan. Dampak dari pengerjaan tukang yang kurang baik, akan dapat menyebabkan runtuh atau ring bergeser, sehingga nasehat ahli pertukangan sangat disarankan selama pengerjaan.

Tulisan ini mungkin masih jauh dari detail yang dibutuhkan rekan sanitarian. Namun setidaknya (harapannya) dapat menjadi sedikit acuan (semoga ….
1:08 AM | 0 comments | Read More

Indoor Airborne Disease

Written By Lencir Kuning on Wednesday, May 5, 2010 | 4:19 PM

Pencemaran Udara di Dalam Ruangan (indoor pollution

Sebagaimana kita ketahui, udara kita sudah tidak perawan lagi, jauh ketika revolusi industri dimulai di Eropa sana beberapa abad silam. Dan saat ini kualitas udara diluar rumah kita yang sudah sangat mengkawatirkan, sangat pasti juga berlaku pada udara dalam ruangan kita. Jenis udara yang berada di dalam ruangan bangunan- bangunan seperti perumahan, sekolah, rumah sakit, sumur, tambang, perkantoran, dan lain- lain, semakin hari semakin tidak mendukung kehidupan sehat kita (?).

Sumber dan Jenis Pencemaran di Dalam Ruangan
Sumber dan jenis pencemar dari dalam ruang dibagi dalam 2 bagian:
  1. Pencemar yang dilepas dari bangunan dan isinya. Seperti asbestos, formaldehyde, senyawa organic mudah menguap (Volatile Organic Compounds= VOC), ozon.
  2. Pencemar akibat aktivitas manusia, seperti yang berasal dari asap tembakau, kegiatan memasak di dapur, insektisida dan pestisida, pembersihan ruang. Adapun tipe pencemar yang umum adalah karbondioksida, karbon monoksida, partikulat (Pudjiastuti et al., 1998).sickBuilding
Bahan Pencemar Udara dan Dampaknya Terhadap Kesehatan
Asbestos
Asbes atau asbestos adalah sebutan yang diberikan kepada sekelompok mineral yang ada di alam yang bersifat kuat, berupa benang fiber yang halus. Benang fiber tersebut tidak dipengaruhi oleh panas atau pun zat kimia dan bukan penghantar listrik. Karena sifatnya yang tangguh tersebut, maka asbes banyak dipakai di banyak industri. Ada empat jenis asbes yang ada di pasaran. Yang paling banyak diperjualbelikan adalah chrysotile atau asbes putih. Kedua adalah asbes biru atau crocidolite, kemudian asbes coklat atau amosite, serta asbes abu-abu atau antophyllite. asbes dipakai untuk membangun gedung guna memperkuat semen, plastik untuk isolasi, genteng yang tahan api, dan untuk membuat ruangan yang sound proof. Asbes juga banyak dipakai di industri perkapalan, misalnya untuk membuat pipa uap, dan pipa untuk air panas. Industri otomotif memakainya untuk membuat rem dan kopling (Zubairi, 2002).

Benang asbes cenderung mudah patah, menjadi debu yang terdiri dari partikel-partikel halus, mengambang di permukaan air, dan lengket pada baju. Benang asbes yang patah tersebut mudah tertelan dan dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius. Pertama, menyebabkan asbestosis, suatu penyakit paru menahun yang ditandai dengan sesak napas, batuk, batuk darah, nyeri dada, badan menjadi kurus, dan kerusakan paru menetap. Kedua, asbes dapat menyebabkan kanker paru, kanker mesotelioma (kanker pada diafragma, pembatas rongga dada, dan perut), kanker pada larynx dan oropharynx (tenggorokan), serta kanker pada saluran cerna dan ginjal (Zubairi, 2002).

Asap Rokok
Asap rokok yang dihirup seorang perokok mengandung komponen gas dan partikel. Komponen gas terdiri dari karbon monoksida, karbon dioksida, hidrogen sianida, amoniak, oksida dari nitrogen dan senyawa hidrokarbon. Adapun komponen partikel terdiri dari tar, nikotin, benzopiren, fenol, dan kadmium. Telah ditemukan 4.000 jenis bahan kimia dalam rokok, dengan 40 jenis di antaranya bersifat karsinogenik yaitu zat yang dapat menyebabkan kanker (Tjandra, 2003).
Dalam jumlah tertentu asap rokok ini sangat mengganggu bagi kesehatan, seperti: mata pedih, timbul gejala batuk, pernafasan terganggu, dan sebagainya (Pudjiastuti et al., 1998).

Senyawa Organik Volatil (VOC)
Volatile Organic Compounds (VOC) atau senyawa organik yang mudah menguap adalah senyawa organik dengan titik uap di dalam rentang 50-260°C. Di antara banyak senyawa yang dimasukkan ke dalam golongan VOC ini, EPA (Environmental Protection Agency) memasukkan sedikitnya 11 macam senyawa VOC yang patut diwaspadai. Senyawa-senyawa itu di antaranya adalah trichloroethylene, toluene, benzene, chloroform, tetrachloroethylene, 1,1,1 - trichloroethane, ethylbenzene, trans-1 ,2-dichloroethane, xylene, dichloromethane, and vinyl chloride. Semua elemen masyarakat ini bisa terpajan oleh VOC. Misalnya, siswa dapat menerima pajanan VOC dari correction pen yang digunakannya; ibu rumah tangga dapat terpajan VOC dari kosmetiknya; pekerja kantoran dapat terpajan dari correction pen, larutan pembersih kantor, pewangi ruangan, dan furnitur kantornya.

Beberapa senyawa organik volatil yang ditemukan di dalam ruangan telah menunjukkan adanya hubungan dengan sejumlah gej ala penyakit, diantaranya adalah sakit kepala, iritasi mata dan selaput lendir, iritasi sistem pernafasan, drowsiness (mulut kering), kelelahan, dan malaise umum. Aldehyde, dan mungkin banyak senyawa organik lainnya seperti alkohol dan hidrokarbon merupakan penyebab dari iritasi mata dan sistem pernafasan (Pudjiastuti et al., 1998).

Formaldehyde
Tumpukan kertas, karpet, serta aneka furniture yang memenuhi ruangan kantor diduga sebagai sumber utama penghasil formaldehid. Zat kimia yang mengandung karbondioksida ini memiliki potensi bahaya bagi kesehatan. Zat ini dapat menyebabkan gangguan mata, tenggorokan, dan organ dalam manusia.

Selain itu, formaldehyde merupakan molekul yang reaktif dan kovalen dengan protein serta formaldehyde dapat menimbulkan alergi dengan kontak dermatitis (Pudjiastuti et al., 1998).

Mikroorganisme
Muslimin (1995) menyatakan bahwa udara sebenarnya bukan merupakan habitat untuk mikroorganisme. Sel- sel mikroorganisme dalam udara bersama kontaminan bersama debu atau dengan tetesan ludah. Mikroorganisme yang banyak terdapat di udara adalah bakteri, dan jamur atau khamir. Mikroba tersebut ada di udara dalam bentuk vegetatif atau dalam bentuk generatif. Mikroorganisme yang berada di atmosfer merupakan spesies yang ada dari sumber dimana mikroorganisme tersebut sebelumnya. Mikroorganisme yang berasal dari tanah terbawa debu angin, demikian juga dengan mikroorganisme yang berasal dari perairan, mikroba terbawa tetesan air atau angin ke udara. Bakteri yang mampu hidup di lingkungan udara umumnya bakteri gram positif berbentuk batang berspora dan kokus, sedangkan bakteri dari lingkungan laut yang mampu berada di udara adalah bakteri gram negatif berbentuk batang, sebagian adalah yang membentuk spora.

Menurut Pudjiastuti, et al. (1998), mikroorganisme dalam ruangan dapat berasal dari lingkungan luar (seperti serbuk sari, jamur, dan spora) dan dapat pula berasal dari dalam ruang (seperti serangga, jamur pada ruang lembab, kutu binatang peliharaan, dan bakteri). Mikroorganisme dapat menyebabkan alergi pernafasan, seperti infeksi pernafasan, dan asma. Mikrooganisme yang tersebar bersama- sama dengan aeosol yang ada di udara dikenal dengan istilah bioaerosol. Dampak kesehatan dari bioaerosol, pada dasarnya berbeda-beda tergantung dari bahan- bahan kimia di dalamnya. Kebanyakan dari bioaerosol adalah non patogen dan hanya dirasakan oleh orang yang sensitif. Setiap mikroorganisme patogen, selalu dapat menulari hanya pada keadaan tertentu. Selain itu, tingkatan penyakit yang dihasilkan baik oleh saprofit atau patogen itu berbeda, tergantung dari masing- masing tipe partikel dan kebanyakan tidak diketahui.
Sumber- sumber mikroorganisme yang menyebabkan kualitas udara di dalam ruangan tercemar mikroorganisme adalah:
  1. Pemeriksaan berkala dari pembersihan sederhana pada komponen pemanas, ventilasi, AC (HVAC) ke replacement total pada keseluruhan sistem pemanas ruangan.
  2. Sistem pemanas udara yang terkontaminasi.
  3. Kelembaban yang terkontaminasi (Pudjiastuti et al., 1998).
Menurut Hariadi (1993), ada beberapa hal yang mempengaruhi tingkat kepadatan jasad renik yaitu bersifat meningkatkan pertumbuhan jasad renik antara lain ruang tertutup dan gelap, kelembaban udara, dan orang yang tinggal di tempat tersebut sedangkan yang bersifat mengurangi pertumbuhan jasad renik antara lain adanya sinar matahari, perputaran udara bebas dengan udara luar, pemberian sinar UV, tindakan aseptik setiap orang di dalamnya dan suhu udara.

Penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme yang ada di udara sering diklasifikasikan sebagai penyakit yang menular lewat udara (airborne disease). Beberapa mikroba yang disebabkan airborne disease ditampilkan dalam tabel berikut ini.

Beberapa penyakit bawaan udara (airborne disease)
Jenis mikroba
Agent
Penyakit
Batang gram negatif 1. Pseudomonas Infeksi telingga yang berat, infeksi mata
2. Salmonella dan Shigela,
vibrio
Enteritis, enterokolitis
3. Klebsiella pneumoniae Pnemonia
4. Proteus Infeksi saluran kemih
5. Brucella Bruselosis
6. Bordetella Pertusis
7. Bakteriodes fragilis dan E. coli Abses hati
8. Haemophilus Epiglotitis, sinusitis, laringo trakheitis, otitis, meningitis
9. 9. Legionella Legionnaire’s disease
Batang gram positif 1. Bacillus fragilis
2. Bacillus anthracis
3. Clostridium
4. Corynebacterium diphteriae
5. Mycobacterium tuberculosis
Kholesistis
Antraks
Diare
Diphteri, infeksi kulit
Tuberculosa
Kokus gram positif 1. Stafilokokus
a. S. epidermidis
b. S. saprophyticus
c. S. aureus
2. Streptokokus
a. Beta hemolitikus
1) S. pyogenes
2) S. agalactiae
b. Alfa hemolitikus 1) S. pneumoniae
Bakteriemia
Infeksi saluran kemih Infeksi luka, bisul,
impetigo, osteomielitis,
septikemia, pneumonia
Tonsilitis, impetigo Sepsis pada neonatus
Pneumonia, meningitis, septikemia
Kokus gram negatif 1. Neisseria meningitidis
2. Moraxella catarrhalis
Meningitis, septikemia Pneumonia
Jamur 1. Candida
2. Histoplasma capsulatum
3. Sporothrix schenckii
Endokarditis, infeksi mata, infeksi pada kulit,
sariawan
Pneumonia
Infeksi granulomatosa menahun
4. Aspergilus, Penicillium, Cladosporium Mata gatal, gangguan saluran pernafasan, sakit kepala.
4:19 PM | 0 comments | Read More

Sharing Pelaksanaan STMB

Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) Dalam Praktek

Berikut kami sampaikan beberapa catatan perjalanan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) di Kabupaten Lumajang. Sebagian catatan ini sebetulnya sudah disampaikan sebagai bahan laporan pada Penilaian The Jawa Pos Institute of Pro Otonomi (JPIP) pada Katagori Sanitasi Total Berbasis Masyarakat.

Pada aspek pembangunan kesehatan lingkungan dan sanitasi, sebagaimana kondisi umum di Indonesia, pada awalnya cakupan sarana sanitasai dasar (khususnya jamban) masih relatif rendah. Cakupan jamban s/d tahun 2005 rata-rata Nasional, yaitu terdapat 47% masyarakat masih berperilaku buang air besar ke sungai, sawah, kolam, kebun dan tempat terbuka (Hasil studi Indonesia Sanitation Sector Development Program (ISSDP) tahun 2006)

Banyak jenis program dan intervensi telah dicoba untuk meningkatkan akses pada fasilitas sanitasi ini, namun hasil yang dicapai belum secara bermakna dapat menyelesaikan persoalan. Keadaan ini membawa persoalan baru seperti masih tingginya kejadian penyakit berbasis lingkungan seperti diare. Sebagaimana data WHO, penyakit diare membunuh satu anak di dunia ini setiap 15 detik, karena access pada sanitasi masih terlalu rendah. Dampak buruk dari keadaan ini sangat dirasakan bagi kesehatan masyarakat maupun secara ekonomi.

Belajar dari pengalaman-pengalaman tersebut, kemudian dikenalkan metode Community Led Total Sanitation (CLTS). Metode menjadikan masyarakat sebagai subyek, dan dilakukan stimulasi kepada mereka untuk melakukan self assesment terhadap kondisi sanitasi pada komunitas mereka. Tahap selanjutnya adalah memicu mereka untuk berubah pada kondisi sanitasi yang lebih baik.

Pasca pemicuan yang berhasil pada berbagai komunitas di Kecamatasn Gucialit dengan menggunakan metode CLTS, sebanyak 4.427 jamban swadaya, baik jamban baru maupun pemberian tutup berhasil dibangun masyarakat (jika diestimasi, jumlah jamban ini hampir setara dengan Rp.1,3 M). Akses jamban masyarakat Kecamatan Gucialit menjadi 100%. Dengan hasil tersebut maka pada tahun 2007 Kecamatan Gucialit mendeklarasikan diri sebagai kercamatan yang 100% masyarakatnya telah menggunakan sarana sanitasi jamban.

Setelah Kecamatan Gucialit, menyusul kemudian Kecamatan Senduro. Di Kecamatan Senduro, metode ini mendapatkan penguatan pada kerjasama lintas sektor. Kiprah mereka sebagai motivator gotong royong masyarakat dalam membangun jamban, secara signifikan ikut mempercepat ikut mempercepat gerakan di masyarakat, sehingga pada tahun 2008 Kecamatan Senduro berhasil mendeklarasikan diri sebagai Kecamatan ke dua yang mencapai status Open Defecation Free (ODF).

Selain Kecamatan Gucialit dan Kecamatan Senduro, wilayah-wilayah lain terus bergerak dan berlomba untuk mencapai status ODF di wilayah mereka, dengan kecepatan dan hasil yang bervariasi. Kemudian Pemerintah Kabupaten Lumajang bergerak lebih luas dengan komitmen besar mewujudkan status ODF di seluruh wilayah Kabupaten Lumajang.

Komitmen ini semakin realistis untuk dapat dicapai, karena sampai dengan saat ini sudah 2 Kecamatan berhasil melakukan deklarasi status ODF yaitu Kec. Gucialit dan Kec. Senduro. Pada tahun 2010 sebanyak 8 (delapan) Kecamatan lain berpacu untuk mencapai status ODF, dengan 2 (dua) Kecamatan segera menyusul pada bulan April/Mei 2010 (saat ini proses verifikasi sedang dilakukan), yaitu Kec. Padang dan Kec. Kedungjajang.

Sebanyak 6 (enam) Kecamatan lainnya optimis dapat mencapai itu sampai dengan akhir tahun 2010. Sementara mewujudkan ODF Kabupaten menjadi komitmen besar, pencapai pilar-pilar Sanitasi Total lainnya tetap terus bergerak sesuai tujuan dan target yang telah direncanakan.

Pengembangan pilar-pilar lain STBM pasca pencapaian status ODF, contohnya di wilayah Kecamatan Senduro, dapat dilihat pada beberapa kegiatan antara lain :
  1. Pertemuan stakeholder untuk pengembangan kegiatan Cuci tangan pakai Sabun (CTPS).
  2. Untuk mempertahankan status ODF, setiap bulan Agustus diadakan penilaian aspek lingkungan dan sanitasi termasuk kebersihan kantor dan lingkungan.
  3. Beberapa desa berinisiatif melakukan kegiatan lomba tersediri di lingkungan masing-masing.
  4. Adanya kegiatan paguyuban kader menyelenggarakan lomba Balita.
  5. Kegiatan massal bagi kelompok-kelompok Lansia.
Berbagai kegiatan tersebut pada dasarnya merupakan bentuk pengembangan dan dampak dari rasa kebersamaan dan gotong royong masyarakat.

Upaya Peningkatan Akses
Peningkatan akses sarana sanitasi dasar, khususnya jamban, dilakukan dengan berbagai macam pendekatan. Pola pendekatan ini jika dikelompokan akan tampak sebagaimana uraian berikut :

Peran Stakeholder : Peran stakeholder ini pada dasarnya merupakan kegiatan dan kebijakan Pemerintah Kab. Lumajang guna menciptakan lingkungan yang mendukung (enabling environment) pencapaian target Lumajang ODF serta perbaikan sanitasi masyarakat dan pencapaian sanitasi total.

Penerbitan Instruksi Bupati Lumajang Nomor 01 Tahun 2010 Tentang Pelaksanaan Program STBM Dalam Rangka Mewujudkan Status Bebas Buang Air Besar Sembarangan Di Kabupaten Lumajang.
Sebagai tindak lanjut komitmen Pemerintah dan masyarakat Kabupaten Lumajang pada Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat, untuk mewujudkan status Open Defecation Free (ODF) pada seluruh wilayah Kecamatan dI Kabupaten Lumajang, ditetapkan Instruksi Bupati Nomor 01 Tahun 2010, tentang Pelaksanaan Program STBM. Intruksi ini khususnya ditujukan kepada Camat dan Kepala Desa/Lurah se – Kabupaten Lumajang.

Dengan instruksi ini diharapkan dapat lebih mengoptimalkan berbagai usaha untuk menggerakkan masyarakat agar berperilaku hanya Buang Air Besar di Jamban, sehingga dapat tercapai status Bebas Buang Air Besar Sembarangan (ODF) di tingkat Kecamatan dan Desa/Kelurahan di seluruh wilayah Kabupaten Lumajang

Dengan Instruksi ini Camat dan Kepala Desa/Lurah bergerak cepat dengan tindak lanjut penerbitan Instruksi serupa untuk pada tingkat dibawahnya. Camat dan Kepala Desa/Lurah ini bertugas meningkatkan peran seluruh pemangku kepentingan dalam perencanaan dan pelaksanaan penggerakan masyarakat di tingkat Kecamatan untuk menetapkan target ODF, menyusun rencana kegiatan, menetapkan kegiatan, strategi serta mekanisme/jaringan kerja dalam rangka mewujudkan wilayah Kecamatan Bebas dari Buang Air Besar Sembarangan (ODF),

Kampanye Peningkatan Akses Sanitasi
Kampanye / sosialisasi program dilakukan antara lain melalui kampanye ODF melalui media massa dan elektronik (radio, website) yang dilakukan oleh Bagian Humas Pemda, serta penerbitan Kalender. Untuk lebih mensosialisasikan target ODF Kabupaten pada seluruh stakeholder, baik ditingkat Kabupaten maupun ditingkat Kecamatan dan Desa, pada penerbitan kalender Pemda edisi tahun 2010, dicantumkan target ODF ini. Cara ini relatif efektif mengingat distribusi calender ini menjangkau hampir diseluruh wilayah Kabupaten.

Program Sanitasi Total khususnya usaha untuk mewujudkan Lumajang ODF ini, juga mendapatkan dukungan dari pihak swasta dan dunia usaha. Keterlibatan mereka antara lain terlihat dari pembuatan spanduk ODF yang tersebar di Desa-Desa yang sudah mencapai status ODF.
Kampanye juga dilakukan melalui pemutaran film ODF di pelosok desa dengan menggunakan mobil multi media si GEMES (Gemar Mengajak Masyarakat Sehat)
FILM ODF
Kerjasama dengan TNI dan Polri
Belajar dari keberhasilan Kecamatan Senduro, dimana pendekatan penggerakan gotong royong masyarakat terbukti lebih efektif dengan peran aktif Tim STBM/SToPS dari unsur Koramil, Bupati berinisiatif mengirimkan surat kepada Dandim dan Kapolres. Surat ini pada dasarnya meminta bantuan personil Koramil dan Polsek untuk membantu penggerakan gotong royong masyarakat dalam pembuatan jamban sehat. Sebagaimana diketahui Peran unsur Koramil dan Polsek pada Tim Sanitasi Total dan Pemasaran Sanitasi (SToPS) Kecamatan Senduro sangat dominan dan berhasil menfasilitasi penggerakan gotong royong masyarakat, sehingga berhasil terbangun ribuan jamban sehat swadaya masyarakat.

Pelatihan fasilitator STBM
Upaya-upaya untuk lebih meningkatkan permintaan (demand) sanitasi masyarakat juga ditempuh melalui kegiatan Pelatihan fasilitator STBM bagi Tim Kabupaten dan Kecamatan. Mereka dibekali dengan teknik pemberdayaan masyarakat dengan metode CLTS. Pelatihan ini antara lain bertujuan untuk :
  • Meningkatkan ketrampilan Tim Kabupaten dan Tim Kecamatan untuk melakukan gerakan pemicuan di masyarakat.
  • Untuk meningkatkan kesadaran dan swadaya masyarakat dalam usaha meningkatkan kesehatan lingkungan khususnya kepemilikan dan pemanfaatan jamban keluarga

Tim STBM Kabupaten terdiri dari unsure-unsur, TP – PKK Kabupaten, Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Dinas PU, Dinas Pendidikan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Koperasi dan UKM, Bagian Humas, Forum Lumajang Sehat serta Dinas Kesehatan. Sementara Tim Kecamatan berasal unsur – unsure Seksi PMD Kecamatan, TP PKK Kecamatan, Forum Komunikasi Gerbangmas Kecamatan, UPTD Diknas, Koordinator PKM Puskesmas, serta Bidan Puskesmas
PELATIHAN FASILITATOR STBM
Dari Pelatihan ini lahir rencana tindak lanjut untuk mewujudkan target dan kegiatan status ODF dari Tim Kecamatan dan Tim Kabupaten. Optimisme besar mengiringi penyusunan RTL ini, karena sepanjang tahun 2010 ini 8 (Delapan) Kecamatan menargetkan Deklarasi ODF.

Usaha Peningkatan Supply
Usaha-usaha untuk mengembangkan dan memasok (supply) produk dan pelayanan sanitasi dilakukan dengan beberapa cara dan metode, antara lain dalam bentuk Pelatihan Tukang dan Marketing Sanitasi
Aktivitas pemasaran sanitasi pada dasarnya terdiri dari tiga kerangka utama yaitu kerangka penciptaan demand, pengembangan supply produk dan jasa sanitasi serta lingkungan yang mendukung. Pelatihan tukang sanitasi diharapkan sebagai bagian dari pengembangan produk dan jasa sanitasi, dengan harapan antara lain :
  • Menularkan pengetahuan metode pengelolaan sanitasi dimasyarakat (baik bersifat teknik maupun manajemen)
  • Menjalin kerjasama dengan masyarakat sebagai konsumen dengan pihak lain seperti penyalur/toko sehingga lebih memudahkan masyarakat dalam memilih fasilitas sanitasi yang diinginkan.
  • Mampu menjual fasilitas sanitasi kepada masyarakat.
Penerapan pelatihan ini kemudian ditindak lanjuti dengan munculnya kegiatan marketing sanitasi yang dilakukan oleh Sanitarian Puskesmas. Mereka memasarkan produk sanitasi dalam bentuk katalog jamban dalam berbagai pilihan harga dan kualitas bentuk yang beragam. Sistem pemasaran dilakukan dengan memanfaatkan jaringan kader kesehatan, disamping jaringan Sanitarian di berbagai Puskesmas.
2:57 PM | 0 comments | Read More

Kesling Rumah Sakit (Bag 5)

Written By Lencir Kuning on Tuesday, May 4, 2010 | 5:33 PM

Pengukuran Parameter Kualitas Udara dalam Ruangan

Parameter yang harus dipantau untuk mengukur standard baku mutu kualitas udara dalam ruangan Rumah Sakit antara lain meliputi kualitas fisik, kimia, dan mikrobiologi.
1. Pengukuran Kualitas Lingkungan Fisik
    a. Pengukuran kelembaban udara menggunakan Hygrometer.
    b. Pengukuran suhu udara menggunakan Thermometer.
    air-pollution-appendicitis
2. Pengambilan sampel kimia gas
  • Pengambilan sampel gas: HC, CO, Ether menggunakan Plastic Bag.a.
  • Pengukuran debu total Total Suspended Partikulate (TSP) menggunakan Low Volume Air       Sampler   (LVS).
  • Pengambilan sampel gas: H2S, NH3 , SO2 , Ozone, NO2 menggunakan Impinger Gas Sampler.
  
3. Pengambilan sampel mikrobiologi
Sampling mikrobiologis udara dapat diperoleh dengan menggunakan metode settling plates (peletakan lempeng agar) dan metode mekanik Volumetric Air Sampling (Mertaniasih dkk (2004)
  • Metode settling plates. Prinsip metod eini pada peletakan lempeng agar dalam petri diameter 100 mm yang terbuka akan menampung pengendapan partikel mikroba udara sekitar 1 m3 selama terpapar 15 menit, menggunakan media sampling standar brain heart infussion agar atau trypticase soy agar. Metode ini mudah dan tidak mahal tapi hasilnya tidak betul- betul kuantitatif.
  • Metode Volumetric Air Sampling merupakan metode kuantitatif yang lebih tepat, karena partikel udara yang lebih kecil (3 mm) dengan kondisi kelembaban udara akan tetap tersuspensi di udara, tidak turun mengendap di permukaan suatu lempeng agar tetapi dengan metode high- velocity- volumetric air sampling, partikel kecil di udara dapat ditarik dengan kecepatan tinggi ke dalam saluran alat oleh karena suatu pompa (vacuum pump). Selain itu keuntungan pada partikel ukuran besar yang umumnya di udara rumah sakit, rerata 10- 15 mm, dapat ditarik masuk ke dalam media cair (collection fluid) dan terjadi gelembung- gelembung udara yang dapat memecahkan partikel besar sehingga semua kandungan sel- sel mikroba yang hidup akan terpencar dan merata menimpa, menempel pada permukaan lempeng agar yang mengandung nutrisi (brain heart infussion agar atau trypticase soy agar atau Mueller Hinton Agar dan Saboroud Glucosa Agar), sehingga merefleksi jumlah total mikroba di dalam udara per satuan m3. Sedangkan untuk random sampling udara yang akurat dan sering dilakukan menggunakan metode slit sampling atau centrifugal sampling atau staged sampling. Kecepatan aliran udara harus dikalibrasi dengan tepat untuk menjamin hasil yang akurat.

Cara Pengambilan Sampel Udara Ruangan
Berdasarkan Kepmenkes RI No. 1335/ Menkes/ SK/ X/ 2002 tentang standar operasional pengambilan dan pengukuran sampel kualitas udara ruangan di rumah sakit, cara pengambilan sampel udara ruangan adalah sebagai berikut:
1. Pengambilan sampel mikrobiologi udara
  • Waktu pengambilan sampel udara adalah setelah proses sterilisasi dan pembersihan ruangan.
  • Lakukan uji fungsi alat microbiology air sampler yang digunakan untuk mengambil sampel udara.
  • Lepas kipas dan pelindungnya lalu bungkus dengan kertas, sterilkan dalam autoclave dengan suhu 12 1°C selama 15 menit atau dengan sterilisasi kering dengan suhu 70°C selama 1 jam.
  • Badan alat didesinfeksi dengan menggunakan alcohol 70 % atau desinfektan lainnya.
  • Pasang battey pada alat atau adaptor
  • Pasang kembali kipas dan pelindung pada badan alat.
  • Atur waktu sesuai dengan lama pengambilan sampel yang direncanakan yaitu 4 menit.
  • Pasang alat pada piring penyangga / tripod
  • Siapkan agar strip (media agar)
  • Tempatkan alat pada titik pengambilan sampel.
  • Lepaskan media agar strip dari kemasannya dan segera pasangkan pada tempatnya (pelindung kipas) dengan posisi permukaan agar strip mengarah kipas.
  • Hidupkan alat.
  • Tekan tombol start pada remote starter (jarak pengukur dengan alat minimal 3 meter) tinggalkan ruangan apabila alat sedang beroperasi.
  • Alat akan berhenti secara otomatis sesuai dengan pengaturan waktu.
  • Pengukur segera masuk dan mematikan alat.
  • Lepaskan media agar strip dari tempatnya dan masukkan kembali pada kemasannya, tutup rapat dan disegel.
  • Beri keterangan atau label seperlunya antara lain: waktu pengambilan, lokasi/ tempat, lama pengambilan sampel, dan nama pengukur.
  • Amankan agar strip dengan cara: lapisi agar strip dengan aluminium foil, simpan pada cool box (kotak pendingin ) dengan suhu 4- 10 ºC
  • Masukkan agar strip pada incubator dengan suhu 30- 35 ºC dan selama 24 jam (bila 24 jam tidak ada pertumbuhan kuman, pembiakan 24 jam lagi).
  • Setelah waktu pembiakan kuman selesai, jumlah koloni kuman yang tumbuh dihitung dengan menggunakan colony counter.
2. Pengukuran kualitas fisik udara
  • Pengukuran suhu
  • Pengukuran dilakukan dengan menggunakan thermometer yang dipaparkan pada ruangan sampai menunjukkan angka yang stabil.
  • Pengukuran kelembaban relatif, Pengukuran dilakukan dengan menggunakan hygrometer atau humidity meter yang dipaparkan pada ruangan sampai menunjukkan angka yang stabil.
  • Kecepatan aliran udara
Pengukuran dilakukan dengan menggunakan alat Kata termometer yang dipaparkan selama ± 15 menit pada ruang kerja.
5:33 PM | 0 comments | Read More

Kesling Rumah Sakit (Bag 1)

Written By Lencir Kuning on Saturday, May 1, 2010 | 5:30 PM

Standard Ruang Bangunan Rumah Sakit

Tulisan berikut secara berurutan akan kami tuliskan beberapa seri kesehatan lingkungan rumah sakit. Dasar yang dipakai menggunakan masih tetap menggunakan Kepmenkes No.1204/ Menkes/ SK/ X/ 2004 tentang Persyaratan kesehatan lingkungan rumah sakit, serta beberapa sumber referensi lainnya. Kami berharap tulisan ini sedikit dapat menambah wacana dan referensi bagi rekan Sanitarian yang beraktifitas di Unit Sanitasi di Rumah Sakit.

Menurut American Hospital Association (1974) dalam Azwar (1996), definisi dari rumah sakit adalah suatu organisasi yang melalui tenaga medis professional yang terorganisir serta sarana kedokteran yang permanen yang menyelenggarakan pelayanan kedokteran, asuhan keperawatan yang berkesinambungan, diagnosis serta pengobatan penyakit yang diderita pasien.
Ruang bangunan rumah sakit
Menurut Kepmenkes No.1204/ Menkes/ SK/ X/ 2004 tentang Persyaratan kesehatan lingkungan rumah sakit, penataan ruang bangunan dan penggunaannya harus sesuai dengan fungsi serta memenuhi persyaratan kesehatan yaitu dengan mengelompokkan ruangan berdasarkan tingkat risiko terjadinya penularan penyakit sebagai berikut:
Zona dengan risiko rendah
Zona risiko rendah meliputi: ruang administrasi, ruang komputer, ruang pertemuan, ruang perpustakaan, ruang resepsionis, dan ruang pendidikan dan latihan.
  1. Permukaan dinding harus rata dan berwarna terang.
  2. Lantai harus terbuat dari bahan yang kuat, mudah dibersihkan, kedap air, berwarna terang, dan pertemuan antara lantai dengan dinding harus berbentuk konus.
  3. Langit- langit harus terbuat dari bahan multipleks atau bahan yang kuat, warna terang, mudah dibersihkan, kerangka harus kuat, dan tinggi minimal 2,7 meter dari lantai.
  4. Lebar pintu minimal 1,2 meter dan tinggi minimal 2,1 meter dan ambang bawah jendela minimal 1 meter dari lantai.
  5. Ventilasi alamiah harus dapat menjamin aliran udara di dalam kamar atau ruang dengan baik, bila ventilasi alamiah tidak menjamin adanya pergantian udara dengan baik, harus dilengkapi dengan penghawaan mekanis (exhauster).
  6. Semua stop kontak dan saklar dipasang pada ketinggian minimal 1,4 meter dari lantai.
29032010739Zona dengan risiko sedang
Zona risiko sedang meliputi: ruang rawat inap bukan penyakit menular, rawat jalan, ruang ganti pakaian, dan ruang tunggu pasien. Persyaratan bangunan pada zona dengan risiko sedang sama dengan persyaratan pada zona risiko rendah.

Zona dengan risiko tinggi
Zona risiko tinggi meliputi: ruang isolasi, ruang perawatan intensif, laboratorium, ruang penginderaan medis (medical imaging), ruang bedah mayat (autopsy), dan ruang jenazah.
1. Dinding permukaan harus rata dan berwarna terang.
  • Dinding ruang laboratorium dibuat dari porselin atau keramik setinggi 1,5 meter dari lantai dan sisanya dicat warna terang.
  • Dinding ruang penginderaan medis harus berwarna gelap, dengan ketentuan dinding disesuaikan dengan pancaran sinar yang dihasilkan dari peralatan yang dipasang di ruangan tersebut, tembok pembatas antara ruang sinar X dengan kamar gelap dilengkapi dengan transfer cassette.
2.  Lantai terbuat dari bahan yang kuat, mudah dibersihkan, kedap iar, berwarna terang, dan pertemuan antara lantai dengan dinding harus berbentuk konus.
3.  Langit- langit terbuat dari bahan multipleks atau bahan yang kuat, warna terang, mudah dibersihkan, kerangka harus kuat, dan tinggi minimal 2,7 meter dari lantai.
4. Lebar pintu minimal 1,2 meter dan tinggi minimal 2,1 meter, dan ambang bawah jendela minimal 1 meter dari lantai.
5. Semua stop kontak dan saklar dipasang pada ketinggian minimal 1,4 meter dari lantai.

Zona dengan risiko sangat tinggi.
Zona dengan risiko sangat tinggi meliputi: ruang operasi, ruang bedah mulut, ruang perawatan gigi, ruang rawat gawat darurat, ruang bersalin dan ruang patologi.
  1. Dinding terbuat dari bahan porselin atau vynil setinggi langit- langit atau dicat dengan cat tembok yang tidak luntur dan aman, berwarna terang.
  2. Langit- langit terbuat dari bahan yang kuat dan aman, tinggi minimal 2,7 meter dari lantai.
  3. Lebar pintu minimal 1,2 meter dan tinggi minimal 2,1 meter dan semua pintu kamar harus selalu dalam keadaan tertutup.
  4. Lantai terbuat dari bahan yang kuat, kedap air, mudah dibersihkan, dan berwarna terang.
  5. Harus disediakan gelagar (gantungan) lampu bedah dengan profil baja double INP 20 yang dipasang sebelum pemasangan langit- langit.
  6. Tersedia rak dan lemari untuk penyimpanan reagensia siap pakai.
  7. Ventilasi atau penghawaan sebaiknya digunakan AC tersendiri yang dilengkapi filter bakteri, untuk setiap ruang operasi yang terpisah dengan ruang lainnya. Pemasangan AC minimal 2 meter dari lantai dan aliran udara bersih yang masuk ke dalam kamar operasi berasal dari atas ke bawah. Khusus untuk ruang bedah ortopedi atau transplantasi organ harus menggunakan pengaturan udara UCA (Ultra Clean Air) System.
  8. Tidak dibenarkan terdapat hubungan langsung dengan udara luar, untuk itu harus dibuat ruang antara.
  9. Hubungan dengan ruang scrub-up untuk melihat ke dalam ruang operasi perlu dipasang jendela kaca mati, hubungan ke ruang steril dari bagian cleaning cukup dengan sebuah loket yang dapat dibuka dan ditutup.
  10. Pemasangan gas medis secara sentral diusahakan melalui bawah lantai atau di atas langit- langit.
  11. Dilengkapi dengan sarana pengumpulan limbah medis.
5:30 PM | 0 comments | Read More

Berlangganan Artikel Kesmas Disini

 
berita unik