Epidemiologi Anopheles

Written By Lencir Kuning on Friday, March 22, 2013 | 9:31 PM

Klasifikasi, Siklus dan Perilaku Jentik dan Nyamuk Anopheles sebagai Vektor Malaria

Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit malaria (plasmodium) bentuk seksual dalam tubuh nyamuk Anopheles betina yang ditularkan kemanusia melalui gigitan (WHO, 2002). Di Indonesia dilaporkan 424 kabupaten/kota endemis malaria dari 579 kabupaten/kota yang ada dan diperkirakan 42,42% penduduk Indonesia berisiko tertular malaria. Penyakit ini merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama, karena mempengaruhi angka kesakitan bayi, balita dan ibu melahirkan serta menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB)- (Harijanto, 2009).

Dewasa ini upaya pemberantasan malaria dilakukan melalui pengendalian vektor nyamuk Anopheles sp. dan pengobatan kepada penderita diduga malaria atau terbukti positif secara laboratorium. Pemberantasan malaria di Indonesia sudah dimulai sejak zaman Hindia belanda tahun 1919, dengan kegiatan anti jentik dan penyehatan lingkungan (Laihad & Gunawan, 2000).

Pada tahun 1959 WHO mengeluarkan kebijakan upaya pemberantasan malaria ditingkatkan menjadi pembasmian malaria memggunakan insektisida Dichloro Diphenyl Trichloroethane (DDT), tetapi sejak tahun 1992 tidak boleh digunakan lagi, karena sudah terjadi resistensi terhadap nyamuk Anopheles sp. dan pencemaran lingkungan. Oleh karena itu upaya lain yang dilakukan agar lebih aman dan baik adalah pengendalian vektor malaria secara hayati dan pengelolaan lingkungan (environmental management) (Kardinan, 1999).

Diantara program penanggulangan malaria, penulis tertarik tentang pengendalian vektor malaria dengan pengendalian hayati yaitu penebaran ikan nila di laguna sebagai predator (pemangsa) jentik dan manipulasi ingkungan, karena program ini lebih murah biayanya, mudah dikerjakan dan ramah lingkungan jika dibandingkan dengan program pengendalian malaria lainnya.

Ikan nila selain memakan jentik nyamuk, juga memakan gulma air, sehingga dapat membersihkan kolam ikan dari tanaman air yang dipakai sebagai tempat bertelur nyamuk. Lebih dari itu, ikan nila mempunyai nilai ekonomi tinggi, sehingga diharapkan penduduk mau membudidayakan untuk mendapatkan tambahan pendapatan dan tambahan gizi mereka (Sudomo, et al., 1998).

Manipulasi lingkungan adalah suatu bentuk kegiatan untuk menghasilkan keadaan sementara yang tidak menguntungkan bagi nyamuk, untuk berkembang biak di habitatnya, seperti mengangkat lumut dari laguna, pengubahan kadar garam dan sistem pengairan secara berkala dibidang pertanian (Depkes, 2002; Sigit & Hadi, 2006). Dalam penelitian yang dilakukan di Sihepeng, Siabu, Tapanuli Selatan telah dibuktikan bahwa ikan nila mampu menurunkan populasi jentik nyamuk di kolam percobaan. Ikan nila dipilih dan dipakai sebagai pengendali nyamuk karena beberapa hal yang menguntungkan yaitu, karena ikan nila sangat rakus memakan jentik dari ikan Poecilia sp. maupun Gambusia sp. Ikan nila mudah dikembangbiakkan, bersifat omnivora, cepat besar, rasanya enak dan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi (Sudomo, et al., 1998). Pengalaman di Cina dan India menunjukkan, bahwa pemeliharaan ikan pemakan jentik nyamuk, yang dapat dikonsumsi dan dijual, sangat menguntungkan untuk mengurangi populasi jentik dan sekaligus menambah penghasilan. Dengan pengurangan sumber (source reduction) nyamuk, maka dampak yang diharapkan adalah pengurangan penularan malaria (WHO, 1995).

Vektor adalah arthropoda yang dapat menimbulkan dan menularkan suatu Infectious agent dari sumber infeksi kepada induk semang yang rentan (Kirnowardoyo, 1991). Vektor malaria termasuk vektor biologis, karena tubuh serangga digunakan oleh parasit (Plasmodium) untuk berkembang biak atau memperbanyak diri, kemudian ditularkan kepada inang yang lain (Boewono dan Boesri, 1999). Menurut Bruce-Chwatt (1985) hanya jenis nyamuk Anopheles tertentu diketahui sebagai vektor biologis mampu menularkan Plasmodium falciparum, Plasmodium vivax, Plasmodium malariae atau Plasmodium ovale antar manusia.

Di Indonesia sampai saat ini dilaporkan ada 80 spesies nyamuk Anopheles. Dari jumlah tersebut yang benar-benar sebagai vektor malaria berdasarkan distribusi geografis, pemastian peranan sebagai vektor dan bionomi stadium dewasa dan pradewasa terdapat 24 spesies yaitu; An. aconitus, An. balabacensis, An. barbirostris, An. kochi, An. leucosphyrus, An. maculatus, An. aitkenii, An. subpictus, An. sundaicus, An. tessallatus, An. farauti, An. koliensis, An. punctulatus, An. bancrofti, An. vagus, An. nigerrimus, An. sinensis, An. letifer, An. flavirostris, An. umbrosus, An. beazai, An. roperi, An. minimus, An. annularis (Takken & Knols, 1990).

Klasifikasi Nyamuk Anopheles

Menurut Borror dan Delong’s (1954); Reid (1968) klasifikasi nyamuk Anopheles berdasarkan sistem taksonomi yaitu :
  • Kingdom : Animalia
  • Phylum : Arthropoda
  • Class : Insecta
  • Sub Class : Pterygota
  • Ordo : Diptera
  • Sub Ordo : Nematocera
  • Familia : Culicidae
  • Sub famili : Anophelinae
  • Genus : Anopheles
Perilaku (Bionomi) Nyamuk Anopheles sp.

Bionomi nyamuk Anopheles adalah hubungan kehidupan nyamuk Anopheles sp. dengan lingkungannya baik lingkungan abiotik maupun biotik. Ruang lingkup bionomi nyamuk Anopheles sp. antara lain :

Siklus hidup dan dinamika aktifitas kehidupan nyamuk Anopheles sp.

1). Siklus Hidup Nyamuk Anopheles sp.

Semua nyamuk mengalami metamorfose sempurna (Holometabola) mulai dari telur, menjadi jentik, berkembang menjadi pupa dan kemudian menjadi nyamuk (Sigit & Hadi, 2006). Jentik dan pupa hidup di air sedangkan setelah dewasa hidup di darat. Kelangsungan hidup nyamuk akan terputus apabila tidak ada air (Depkes, 1999).
  • a). Telur diletakkan langsung di permukaan air satu persatu, ukuran telur ± 0,5 mm, jumlah telur 100-300 butir, rata-rata 150 butir. Frekuensi bertelur 2-3 hari sekali dan menetas menjadi jentik beberapa saat setelah kena air atau 2-3 hari setelah berada di air (Depkes, 1999). Jumlah telur tergantung pada spesies, kualitas dan banyak darah di hisap, biasanya bertelur pada malam hari (Warrel & Gilles, 2002).  Telur yang baru keluar berwarna putih dan akan menjadi warna hitam pada kondisi normal (Bates, 1970). Telur nyamuk Anopheles sp. dapat mengapung karena dikedua sisinya terdapat semacam pelampung (Russel et al. 1963).
  • b). Jentik (Larva) nyamuk Anopheles sp. bersifat akuatik, hidup di air dan pertumbuhan mengalami empat tahap instar yaitu: Instar I + 1 hari, Instar II 1-2 hari, Instar III ± 2 hari dan Instar IV 2-3 hari dan tiap instar didahului oleh proses pengelupasan kulit (ecdysis). Kecepatan pertumbuhan meningkat dengan naiknya suhu dan tersedianya makanan yang cukup (B2P2VRP, 2006; Depkes, 2007). Masing–masing instar memiliki ukuran tubuh yang berbeda. Umur rata-rata pertumbuhan mulai jentik sampai menjadi kepompong berkisar antara 8–14 hari (Rao, 1981).
  • c). Kepompong (Pupa) merupakan stadium perkembangan istirahat, berada di air, tidak makanan, pada stadium ini terjadi proses pembentukan alat-alat tubuh nyamuk, seperti: alat kelamin, sayap dan kaki, kebanyakan spesies cenderung terjadi pupasi pada waktu-waktu tertentu seperti : pagi, siang, senja atau malam hari, pada umumnya nyamuk jantan menetas lebih dahulu dari pada nyamuk betina (Depkes, 1999; B2P2VRP, 2006). Pupa agak pasif, lebih banyak diam tetapi mempunyai kemampuan berenang sangat cepat (Bates, 1970). Dalam kondisi normal, metamorphosis dari pupa menjadi imago Anopheles berkisar antara 24-48 jam (Rao, 1981; Depkes, 2007).
  • d). Nyamuk baru muncul dari pupa kurang lebih 15 menit setelah bersentuhan dengan udara, tubuhnya akan mengeras dan terbang untuk mencari tempat istirahat. Jumlah nyamuk jantan dan nyamuk betina menetas pada umumnya hampir sama banyak (1:1), nyamuk melakukan perkawinan biasanya terjadi pada waktu senja. Nyamuk betina akan kawinan satu kali dalam hidupnya (biasanya 24-48 jam), sebelum betina pergi untuk menghisap darah (Reid, 1968; Warrel & Gilles, 2002; Depkes, 2007). Di alam nyamuk jantan umur 25 hari relatif pendek (±1 minggu) sedangkan nyamuk betina umumnya lebih panjang, rata-rata 1-2 bulan. Nyamuk jantan menghisap cairan tumbuh-tumbuhan (nectar) dan jarak terbangnya tidak jauh dari tempat habitat. Nyamuk betina perlu menghisap darah untuk pertumbuhan telurnya dan dapat terbang jauh mencapai 0,5-2 km (Depkes, 2007).  Jarak terbang nyamuk Anopheles, sebagian besar ditentukan oleh lingkungan dan angin kencang dapat membawa nyamuk Anopheles sp. sampai 30 km atau lebih (Warrel & Gilles, 2002).
Perilaku nyamuk Anopheles sp.

Perilaku nyamuk akan berubah secara alami apabila ada rangsangan atau pengaruh dari luar, seperti terjadinya perubahan lingkungan baik oleh alam maupun aktivitas manusia. Faktor lingkungan fisik yang mempengaruhi seperti: musim, kelembaban udara, angin, suhu udara dan cahaya matahari. Lingkungan kimia (kadar garam, pH) dan lingkungan biologik (tumbuhan bakau, ganggang, vegetasi disekitar habitat dan musuh alami) (Warrel & Gilles, 2002). Kemampuan hidup dari suatu spesies nyamuk dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu tersedia sumber darah, tempat berkembang biak dan tempat istirahat (Kirnowardoyo, 1991).
  1. Perilaku berkembang biak: Nyamuk Anopheles sp. betina mempunyai kemampuan untuk memilih tempat berkembang biak yang sesuai. Ada jenis nyamuk yang senang kena sinar matahari (An. sundaicus) dan ada pula yang membutuhkan tempat yang teduh (An. umbrosus). Ada yang berkembang biak di air payau, air tawar dan ada pula yang di air asin (laut) (Depkes, 1999; Sigit & Hadi, 2006).
  2. Perilaku mencari darah: Waktu mencari darah (menggigit) nyamuk Anopheles sp. pada umumnya malam hari mulai senja hingga pagi. Kebiasaan tempat menggigit nyamuk adalah eksofagik (diluar rumah) dan ada endofagik (didalam rumah). Kebiasaan menggigit dikaitkan pemilihan hospes, ada yang bersifat antropofilik (menghisap darah manusia), ada yang bersifat zoofilik (menghisap darah hewan) dan ada pula yang menyukai keduanya yang disebut indiscriminate bitter. (Depkes, 1999; Warrel & Gilles, 2002)
  3. Perilaku istirahat: Nyamuk Anopheles sp. mempunyai dua cara istirahat yaitu istirahat sebenarnya selama waktu menunggu proses perkembangan telur dan istirahat sementara pada waktu sebelum dan sesudah mencari darah. Nyamuk mempunyai perilaku istirahat berbeda-beda, An. aconitus banyak beristirahat ditempat dekat tanah sedangkanAn. sundaicus beristirahat ditempat-tempat yang lebih tinggi (Depkes, 1999; Warrel dan Gilles, 2002).
Pada waktu malam hari nyamuk masuk kedalam rumah untuk menghisap darah lalu keluar dan ada pula sebelum atau sesudah menghisap darah hinggap di dinding untuk beristirahat terlebih dahulu (Depkes, 1999; Warrel & Gilles, 2002). Nyamuk yang senang beristirahat di dalam rumah (endofilik) dan di luar rumah (eksofilik). Nyamuk yang ada di dalam rumah beristirahat seperti di gantungan baju, kelambu dan tembok, yang di luar rumah beristirahat pada lubang-lubang tanah, rerumputan, semak-semak dan lain-lain (Warrel & Gilles, 2002; Gandahusada & Ilahude, 2003; Sigit & Hadi, 2006).

Perilaku Jentik Anopheles sp.

Jentik nyamuk Anopheles sp. bersifat akuatik yakni hidup di air, umumnya berada dipermukaan air dengan posisi mendatar, sejajar dengan permukaan air dan spirakelnya selalu kontak dengan udara luar, sesekali mengadakan gerakan masuk ke dalam air untuk menghindari musuh alami (predator) atau adanya rangsangan gerakan di permukaan air (Bates, 1970; Warrel & Gilles, 2002 ).

Menurut Depkes (2007) pemilihan berbagai macam tempat genangan air yang disenangi nyamuk dilakukan secara genetik oleh seleksi alam. Satu tipe genangan air yang di sukai oleh satu jenis nyamuk, belum tentu disukai jenis nyamuk yang lain. Jentik nyamuk berkumpul pada bagian-bagian dimana dapat diperoleh makanan, terlindung dari arus air dan predator. Jentik meninggalkan permukaan air untuk mencari makanan atau sebagai reaksi untuk melarikan diri.

Berbagai jenis tanaman air merupakan indikator bagi jenis- jenis jentik nyamuk tertentu. Ada atau tidaknya tanaman air pada genangan air dapat memberikan petunujuk ada atau tidaknya jenis nyamuk tertentu. Contoh klasik ialah bila pada laguna banyak ditemukan lumut perut ayam (Hetermorpha sp.) dan lumut sutera (Enteromorpha sp.) kemungkinan laguna tersebut ada jentik An. sundaicus.

Penyebaran jentik tidak merata, tempat-tempat perindukan yang kecil jentik akan selalu berkumpul dipinggir atau sekitar benda-benda yang terapung di air atau tanaman air. Flora dan fauna yang mikroskopis sebagai bahan makanan jentik lebih banyak terdapat sekitar tanaman. Pada genangan air yang besar jentik instar I dan II berkumpul pada tempat dimana telur-telur diletakkan, sedang instar III dan IV bergerak beberapa meter dari tempat penetasan dan berkumpul dibagian-bagian yang disenangi misalnya bagian yang teduh atau terang. Waktu pertumbuhan dan perkembangan yang diperlukan setiap instar tidak saja dipengruhi oleh musim dan jumlah makanan yang tersedia, tetapi sangat tergantung dari masing-masing jenis nyamuk Anopheles sp. Pada kondisi normal, waktu yang diperlukan untuk perubahan dari instar I-IV berkisar antara 8-10 hari (Rao, 1981).

Lingkungan hidup nyamuk Anopheles sp.

Perubahan lingkungan merupakan fenomena kompleks terutama berkaitan dengan hal-hal yang disebabkan oleh intervensi manusia seperti degradasi lahan yang dipengaruhi oleh variabilitas iklim, lebih lagi di daerah kering dan semikering sangat rentan terhadap perubahan iklim (Sukowati, 2004). Dalam perkembang biakan nyamuk Anopheles sp. dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan antara lain :

Lingkungan fisik

1). Pengaruh suhu udara
Nyamuk adalah binatang berdarah dingin oleh karena itu proses-proses metabolisme dan siklus hidupannya tergantung pada suhu lingkungan. Nyamuk tidak dapat mengatur suhu tubuhnya sendiri terhadap perubahan-perubahan di luar tubuhnya. Suhu rata-rata optimum untuk perkembangan nyamuk adalah 25-27oC. Nyamuk dapat bertahan hidup dalam suhu rendah, tetapi proses metabolismenya menurun atau bahkan terhenti bila suhu turun sampai di bawah suhu kritis dan pada suhu yang sangat tinggi akan mengalami perubahan proses fisiologinya. Pertumbuhan nyamuk akan terhenti sama sekali bila suhu kurang dari 10ºC atau lebih dari 40oC. Toleransi terhadap suhu tergantung pada spesies, tetapi pada umumnya tidak akan tahan lama bila suhu lingkungan naik 5-6ºC di atas batas dimana spesies secara normal dapat beradaptasi. Kecepatan perkembangan nyamuk tergantung dari kecepatan proses metabolisme yang sebagian diatur oleh suhu. Oleh karena itu kejadian–kejadian biologis tertentu seperti lamanya masa pradewasa, kecepatan pencernaan darah yang dihisap, pematangan dari indung telur, frekuensi mencari makanan atau menggigit dan lamanya pertumbuhan parasit di dalam tubuh nyamuk dipengaruhi oleh suhu (Depkes, 2002; Sukowati, 2004).

2). Curah hujan
Hujan dapat menambah tempat perkembangbiakan nyamuk (breeding place) atau dapat pula menghilangkan tempat perkembangbiakan. Curah hujan yang tinggi menyebabkan tempat perkembangbiakan yang berupa genangan-genangan meluap dan akan menghanyutkan jentik. Bila musim kemarau untuk daerah laguna-laguna yang berisi air payau akan semakin terkonsentrasi untuk tempat berkembang biak nyamuk (Depkes, 1999; Sukowati, 2004).

b). Lingkungan kimia
  1. Kadar garam: Nyamuk ada yang suka berkembang biak di air tawar seperti nyamuk An. aconitus, An. balabacensis, An. maculatus dan ada juga yang suka berkembang biak di air payau seperti An. sundaicus dan An. subpictus (Depkes, 1999). Kadar garam yang optimal untuk perkembangbiakan nyamuk An. sundaicus adalah antara 5-12‰. Kadar garam yang terlalu tinggi atau terlalu rendah dapat menyebabkan jentik mati. Namun ada penelitian menyatakan dalam kondisi tertentu dapat hidup di air tawar (Sustriayu et al., 1986).
  2. Derajat keasaman (pH): Derajat keasaman (pH) mempunyai peranan penting dalam pengaturan respirasi dan fotosintesis. Dengan bertambahnya kedalaman maka pH cendrung menurun, hal ini diduga berhubungan dengan kandungan CO2. Boyd, (1990) membuat klasifikasi pH air yaitu; pH 6,5-9 tingkat yang dibutuhkan oleh hewan air untuk bereproduksi, pH 4-6,5 perkembangan hewan air lambat, pH 4-5 hewan air tidak bereproduksi, pH 4 merupakan titik kematian asam dan pH 11 merupakan titik kematian basa. Russel et al. (1963) menyatakan bahwa pH merupakan faktor yang berpengaruh terhadap penyebaran populasi jentik nyamuk.

Lingkungan biologik: 

Lingkungan biologik dapat mempengaruhi populasi baik jentik maupun nyamuk. Lingkungan biologik yang dimaksud seperti biota air baik tumbuh-tumbuhan maupun hewan di dalam tempat-tempat perindukan, makanan dan perlindungan jentik. Tempat perkembangbiakan nyamuk (breeding place) bermacam-macam tergantung pada spesiesnya, ada yang digunung dan ada di daerah pantai (Depkes, 1999; Warrel & Gilles, 2002).

Nyamuk An. sundaicus senang dengan tempat perkembangbiakan yang berganggang atau lumut, sedangkan An. aconitus senang pada sawah yang tanaman padinya mulai tumbuh, menua dan rimbun. Keberadaan hewan atau predator juga berpengaruh terhadap perkembangan dan kepadatan jentik misalnya adanya ikan pemakan jentik (Depkes, 2002).

Adanya tumbuh-tumbuhan sangat mempengaruhi kehidupan nyamuk antara lain sebagai tempat meletakkan telur, tempat berlindung, tempat mencari makan dan berlindung bagi jentik dan tempat hinggap istirahat nyamuk betina selama menunggu siklus gonotropik. Selain itu adanya suatu jenis tumbuhan atau sebagian jenis tumbuhan pada suatu tempat dapat dipakai sebagai indikator memperkirakan adanya jenis- jenis nyamuk tertentu. Tumbuhan air yang dapat diasosiasikan dengan keberadaan jentik An. sundaicus adalah lumut sutera dari golongan Enteromorpha sp. Bates (1970).
  1. Tempat meletakkan telur: Di dalam memilih tempat untuk berkembang biak, nyamuk akan meletakkan telurnya di tempat-tempat tertentu. Ada nyamuk yang suka di tempat-tempat terbuka dan kena sinar matahari langsung, seperti An. sundaicus serta ada pula nyamuk yang suka di tempat-tempat yang teduh, terlindung dari sinar matahari, seperti An. barbirostris. Dengan demikian tumbuhan juga mempengaruhi nyamuk dalam pemilihan tempat untuk meletakkan telurnya (Reid, 1968; Warrel & Gilles, 2002; Depkes, 2007).
  2. Tempat berlindung dan mencari makan bagi jentik: Penyebaran jentik nyamuk terutama jentik Anopheles sp. biasanya di sekitar tumbuh-tumbuhan yang ada di air. Di tempat tersebut jentik terlindung dari pengaruh gerakan permukaan air dan musuh-musuhnya. Tumbuhan dan binatang-binatang kecil sebagai makanan jentik biasanya banyak terdapat di sekitar tumbuhan air (Clements, 1963; Depkes, 2007).
Kepadatan jentik dipengaruhi oleh banyaknya mikroplanton dan detritus hasil penguraian sampah organik pada laguna sebagai sumber makanan. Keberadaan ganggang dan tumbuhan air yang membusuk membantu perkembangan jentik nyamuk (Rao, 1981).

Berlangganan Artikel Kesmas Disini

 
berita unik