Manajemen Pengelolaan Sampah

Written By Lencir Kuning on Sunday, March 24, 2013 | 8:45 PM

Aspek Yang Berpengaruh pada Manajemen Pengelolaan Sampah

Derajat kesehatan masyarakat atau suatu komunitas dalam satu wilayah sangat ditentukan oleh kualitas lingkungannya. Baik dalam skala individual maupun komunal, sehat merupakan resultante hubungan interaktif antara manusia dan lingkungannya secara seimbang. Oleh sebab itu, bila terjadi perubahan lingkungan akan menyebabkan gangguan keseimbangan yang akan disusul oleh perubahan tingkat kesehatan masyarakatnya. Ilmu Kesehatan Lingkungan adalah ilmu yang mempelajari dinamika hubungan interaktif antara manusia dan perubahan komponen lingkungan yang memiliki potensi bahaya kesehatan serta melakukan upaya pencegahan gangguan tersebut. Tingkat kesehatan sekelompok masyarakat pada hakekatnya merupakan resultante hubungan interaktif antara manusia dan perubahan komponen lingkungan sekelilingnya.

Ilmu Kesehatan Lingkungan melakukan juga identifikasi potensi bahaya kesehatan dari perubahan-perubahan komponen lingkungan tersebut. Oleh sebab itu, dalam sudut pandang ilmu kesehatan lingkungan, perubahan yang terjadi akibat setiap proses kegiatan ataupun konstruksi, dapat menimbulkan ancaman gangguan kesehatan lingkungan. Perubahan komponen lingkungan dalam ekosistem dapat menyangkut komponen air, udara, makanan, binatang penular, maupun perubahan pada manusia itu sendiri baik jumlah maupun perilakunya (Achmadi, 1992).
Sasaran utama dari pengelolaan sampah adalah menyingkirkan sampah dari tempat-tempat lokasi penduduk dari waktu ke waktu guna menangkal penyebaran penyakit, mencegah terjadinya kebakaran dan mengurangi estetika kurang sedap yang ditimbulkan oleh bau pembusukan sampah. Sasaran kedua yang tak kalah penting adalah menghilangkan sampah agar lingkungan dapat sehat dan nyaman ( Tjokrokusumo, 1998).

Seperti negara berkembang lainnya, Indonesia saat ini masih mengalami kesulitan dalam pengelolaan sampah padat,walaupun pemerintah telah menggalakkan pengelolaan dengan tujuan kebersihan lingkungan. Namun hambatan-hambatan yang dihadapi dalam pengelolaan sampah, antara lain : 1) belum sepenuhnya tercipta iklim budaya masyarakat yang mendukung kebersihan lingkungan, terutama yang dikaitkan dengan kesehatan masyarakat 2) masih kurangnya teknologi tepat guna yang dapat menangani dan memanfaatkan sampah (Keman dkk, 1993).

Kebersihan lingkungan adalah suatu keadaan bebas dari pengotoran oleh benda cair, benda padat maupun gas yang dapat menimbulkan pencemaran lingkungan atau gangguan kesehatan pada umumnya (Departemen Kesehatan, 1999). Keberhasilan sistem pengelolaan sampah dipengaruhi oleh berbagai aspek, seperti: aspek teknik, manajemen, perilaku, sosial, budaya dan lain-lain (Departemen Pekerjaan Umum, 1989).

Tjokrokusumo(1998) mendefinisikan sampah sebagai suatu benda buangan padat hasil sampingan dari kegiatan manusia atau mahkuk hidup lain menyusul produk dari peristiwa alam. Sedangkan Slamet (2004), mendefinisikan sampah sebagai segala sesuatu yang tidak lagi dikehendaki oleh pemiliknya dan bersifat padat. Sampah ada yang mudah membusuk terutama terdiri atas zat organik seperti: sisa sayur, sisa daging, daun dan lainnya, dan tidak mudah membusuk berupa plastik, kertas, karet, logam, abu atau bahan bangunan bekas, tidak termasuk kotoran manusia atau bangkai hewan yang cukup besar.

Oleh Notoatmodjo (2003) dikatakan bahwa sampah harus mengandung prinsip-prinsip seperti berikut : a)adanya sesuatu benda atau bahan padat b)adanya hubungan langsung atau tak langsung dengan kegiatan manusia c)benda atau bahan tersebut tidak dipakai lagi. Sampah merupakan sesuatu bahan atau benda padat yang sudah tidak terpakai lagi oleh manusia atau sudah digunakan dalam suatu kegiatan manusia dan dibuang. Dari definisi-definisi yang dikemukakan oleh para ahli terdapat kesamaan, bahwa sampah merupakan hasil suatu kegiatan manusia yang dibuang oleh karena sudah tidak berguna lagi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi sampah

Kuantitas dan kualitas sampah sangat dipengaruhi oleh berbagai kegiatan dan tarap hidup masyarakat (Slamet, 2004), yaitu :
  1. Jumlah penduduk. Semakin banyak penduduk, semakin banyak pula sampahnya. Pengelolaan sampah inipun berpacu dengan pertumbuhan penduduk.
  2. Keadaan sosial ekonomi. Semakin tinggi keadaan sosial ekonomi masyarakat, semakin banyak sampah yang dibuang per kapita, kualitasnya pun semakin bersifat tidak mudah membusuk.
  3. Kemajuan teknologi. Kemajuan teknologi akan menambah jumlah maupun kualitas sampah, karena pemakaian bahan baku yang semakin beragam, cara pengepakan dan produk manufaktur beragam pula.
  4. Tingkat pendidikan . Semakin tinggi tingkat pendidikan semakin sedikit sampah organik yang dibuang.
  5. Budaya dan estetika. Budaya masyarakat yang kurang disiplin dalam membuang sampah pada tempatnya, menimbulkan estetika yang kurang nyaman.
Pengaruh sampah terhadap kesehatan

Pengaruh sampah terhadap kesehatan dapat di kelompokkan menjadi efek yang langsung dan tidak langsung. Pengaruh langsung disebabkan karena kontak langsung dengan sampah tersebut, misalnya: sampah beracun, korosif, karsinogenik atau yang mengandung kuman patogen, sehingga dapat menimbulkan penyakit, sedangkan yang tidak langsung dirasakan oleh masyarakat adalah akibat proses pembusukan, pembakaran dan pembuangan sampah ( Slamet, 2004).

Budiyono (2004) menyebutkan, bahwa sampah yang tidak dikelola dengan baik akan menjadi tempat berkembang biaknya vektor penyakit, sehingga dapat mengakibatkan meningkatnya kejadian penyakit dimasyarakat, seperti: a) penyakit- penyakit saluran pencernaan yang ditularkan oleh lalat. b) penyakit demam berdarah yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti yang berkembang biak akibat banyak kaleng bekas dan genangan air. c) penyakit kulit akibat jamur atau parasit melalui kontak langsung atau melalui udara d) kecelakaan pada pekerja atau masyarakat, akibat tercecernya potongan besi, kaca, seng dan kaleng.

Pengaruh sampah terhadap lingkungan

Pengaruh sampah terhadap lingkungan akibat pengelolaan yang kurang baik, yaitu: a) akan menyebabkan estetika lingkungan menjadi kurang sedap dipandang sehingga mengganggu kenyamanan lingkungan masyarakat. b) timbulnya bau busuk akibat gas-gas tertentu yang dihasilkan pada proses pembusukan sampah oleh mikroorganisme. c) adanya debu beterbangan dapat mengganggu mata dan pernafasan. d) penurunan nilai harga tanah disekitar tempat pembuangan sampah (Budiyono, 2004). Kesamaan pandangan atau persepsi dari berbagai unsur yang terkait dalam masalah sampah, merupakan titik tolak yang penting dalam penetapan proses implementasi lebih lanjut. Demikian banyaknya jenis sampah, maka dipisahkan pula karakteristiknya terhadap lingkungan hidup, khususnya efek sampah terhadap kesehatan lingkungan dan kepekaannya terhadap penularan penyakit melalui vektor dan rodent yang menggunakan sampah sebagai tempat mencari makan dan tempat perkembang biakan mikroorganisme ( Tjokrokusumo, 1998).

Pengelolaan Sampah

Pengelolaan sampah secara umum menurut Departemen Pekerjaan Umum (1989 ), adalah kegiatan - kegiatan yang meliputi :
  1. Pewadahan: Pewadahan adalah suatu cara penampungan sampah dengan tujuan untuk menghindari terjadinya sampah yang berserakan sehingga mengganggu lingkungan dari segi kesehatan, kebersihan dan estetika.
  2. Pengumpulan sampah: Pengumpulan adalah suatu proses pengambilan sampah mulai dari tempat pewadahan / penampungan sampah sampai ketempat pengumpulan sementara atau sekaligus diangkut ketempat pembuangan akhir.
  3. Pemindahan sampah: Pemindahan adalah proses utama pemindahan sampah hasil pengumpulan kedalam truk sampah.
  4. Pengangkutan sampah: Pengangkutan adalah kegiatan pengangkutan sampah yang telah dikumpulkan di tempat penampungan sementara (transfer station) atau langsung dari tempat sumber ketempat pembuangan akhir (TPA).
  5. Pengolahan sampah: Pengolahan sampah adalah suatu upaya yang dilakukan dalam pengelolaan persampahan dengan tujuan meningkatkan efisiensi operasional pengelolaan sampah dan mendaur ulang material yang dianggap kurang manfaat untuk diubah menjadi produk-produk lain atau energi. Beberapa cara proses pengolahan yang dilakukan dinegara berkembang atau negara maju, antara lain: pemadatan (compaction), pengomposan (composting), pembakaran (incineration) dan pembuangan akhir (final disposal).
Ada beberapa sistem pembuangan akhir sampah, antara lain : a) open dumping yaitu pembuangan sampah yang dibuang begitu saja di TPA dan dibiarkan terbuka sampai pada suatu saat TPA penuh, kemudian pembuangan sampah dipindahkan ke TPA lain. b) sanitary landfill yaitu pembuangan akhir sampah dengan cara sampah ditimbun dan dipadatkan, kemudian ditutup dengan tanah sebagai lapisan penutup. Hal ini dilakukan terus menerus secara berlapis-lapis sesuai rencana yang telah ditetapkan. Disebutkan oleh Departemen Pekerjaan Umum (1989), bahwa masalah pengelolaan persampahan merupakan masalah yang unik dan khas, tergantung pada multi aspek, antara lain : aspek teknik, manajemen, sosial, budaya, perilaku manusia dan lain-lain. Dengan kata lain pengelolaan persampahan sebenarnya bukan hanya merupakan tanggung jawab intansi pemerintah daerah saja, melainkan tanggung jawab bersama , orang-perorangan, masyarakat serta pemerintah.

Kendala dalam pengelolaan sampah

Kendala yang dihadapi saat ini, bahwa sampah sulit dikelola oleh karena berbagai hal, diantaranya: a)meningkatnya tarap hidup masyarakat, yang tidak disertai dengan keselarasan pengetahuan tentang persampahan. b)meningkatnya biaya operasional, pengelolaan dan kontruksi disegala bidang termasuk bidang persampahan.c)pembiayaan yang tidak memadai mengingat sampai saat ini kebanyakan sampah hanya dikelola oleh pemerintah. d)kurangnya pengawasan dan pelaksanaan peraturan dan perundangan. e)sulitnya mencari peran serta masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya dan memelihara kebersihan. f) sumber daya manusia yang masih rendah (Slamet, 2004).

Kualitas lingkungan yang sehat adalah keadaan lingkungan yang bebas dari resiko yang membahayakan kesehatan dan keselamatan hidup manusia. Kesehatan lingkungan dilaksanakan terhadap tempat-tempat umum seperti: pasar, hotel, terminal, pertokoan, bioskop dan usaha-usaha sejenis ( Undang-Undang Kesehatan R I No.23, 1992).

Derajat kesehatan masyarakat atau suatu komunitas dalam satu wilayah amat ditentukan oleh kualitas lingkungannya. Baik dalam skala individual maupun komunal, sehat merupakan resultante hubungan interaktif antara manusia dan lingkungannya secara seimbang. Oleh sebab itu, bila terjadi perubahan lingkungan akan menyebabkan gangguan keseimbangan yang akan disusul oleh perubahan tingkat kesehatan masyarakatnya (Achmadi, 1992).

Pengaruh sampah terhadap kesehatan dikelompokkan menjadi: 1) efek langsung yaitu efek yang disebabkan karena kontak langsung dengan sampah tersebut, sehingga dapat menimbulkan penyakit 2) efek tidak langsung yaitu yang dapat dirasakan oleh masyarakat akibat proses pembusukan (bau), pembakaran (gas) dan pembuangan sampah (estetika). Kendala dalam pengelolaan sampah dapat disebabkan oleh berbagai hal, diantaranya:
  1. meningkatnya tarap hidup masyarakat, yang tidak disertai dengan keselarasan pengetahuan persampahan.
  2. meningkatnya biaya operasional, pengelolaan dan kontruksi disegala bidang termasuk bidang persampahan.
  3. pembiayaan yang tidak memadai mengingat sampai saat ini kebanyakan sampah hanya dikelola oleh pemerintah.
  4. kurangnya pengawasan dan pelaksanaan peraturan.
  5. sulitnya mencari peran serta masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya dan memelihara kebersihan lingkungan ( Slamet, 2004).
Kebersihan lingkungan adalah suatu keadaan bebas dari pengotoran oleh benda cair, padat maupun gas yang dapat menimbulkan pencemaran lingkungan atau menimbulkan gangguan kesehatan pada umumnya (Departemen Kesehatan RI, 1999). Sasaran utama dari pengelolaan sampah adalah menyingkirkan sampah dari tempat - tempat lokasi penduduk dari waktu ke waktu guna menangkal penyebaran penyakit, mencegah terjadinya kebakaran dan mengurangi estetika kurang sedap yang ditimbulkan oleh bau pembusukan sampah. Sasaran kedua yang tak kalah penting adalah menghilangkan sampah agar lingkungan dapat sehat dan nyaman (Tjokrokusumo, 1998).

Pengelolaan persampahan tergantung pada multi aspek, antara lain : aspek teknik, manajemen, sosial, budaya, perilaku manusia dan lain-lain (Departemen Pekerjaan Umum, 1989). Sedangkan perilaku merupakan semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang dapat diamati langsung (perilaku terbuka), maupun diamati tidak langsung (perilaku tertutup). Untuk mengukur perilaku tertutup dapat dipakai indikator pengetahuan dan sikap, sedang untuk mengukur perilaku terbuka dapat dipakai indikator tindakan (perilaku). Cara mengukur atau memperoleh data atau informasi tentang pengetahuan dan sikap cukup dilakukan wawancara terstruktur maupun wawancara mendalam. Sedang untuk memperoleh data tindakan atau perilaku yang akurat yaitu melalui pengamatan (observasi), namun dapat juga dilakukan melalui wawancara dengan pendekatan mengingat kembali (recall) perilaku yang telah dilakukan oleh responden beberapa waktu yang lalu (Notoatmodjo, 2003).

Berlangganan Artikel Kesmas Disini

 
berita unik