Pengendalian Vektor Malaria

Written By Lencir Kuning on Thursday, March 21, 2013 | 9:22 PM

Beberapa Metode Pengendalian Vektor Malaria

Pengendalian vektor adalah tindakan untuk mengurangi atau melenyapkan gangguan yang ditimbulkan oleh Arthropoda penular penyakit termasuk reservoir (Depkes, 2006). Menurut Macdonald (1957) pengedalian vektor adalah menjaga agar angka reproduksi dari vektor tetap dibawah satu, sehingga generasi-generasi berikutnya berkurang jumlah populasi dan secara bertahap penyakit yang ditularkan (Malaria) menghilang. Adapun prinsip dalam pengendalian vektor yang dapat dijadikan sebagai pegangan adalah :
  1. Pengendalian vektor harus menerapkan bermacam-macam cara pengendalian agar vektor tetap berada di bawah garis batas yang tidak merugikan/membahayakan.
  2. Pengendalian vektor tidak menimbulkan kerusakan atau gangguan ekologis terhadap tata lingkungan hidup. Pengendalain vektor merupakan salah satu kegiatan utama dalam program pemberantasan penyakit malaria agar dapat memutuskan rantai penularannya.
Banyak pilihan untuk tindakan pengendalian vektor malaria yaitu : dengan bahan kimia (pengendalian kimiawi), bahan hayati (pengendalian hayati), dan pengelolaan lingkungan atau dengan pengendalian terpadu. Pengendalian terpadu yaitu kombinasi beberapa cara pengendalian vektor dengan melakukan seleksi terlebih dahulu secara simultan atau berurutan sesuai kebutuhan dan pertimbangan lingkungan masyarakat setempat (Mardihusodo, 1997).

Beberapa cara pengendalian vektor malaria adalah :

Manipulasi lingkungan
 
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada disekitar kita, baik berupa benda hidup, benda mati, benda nyata ataupun abstrak termasuk manusia lainnya, serta suasana yang terbentuk karena terjadinya interaksi diantara elmen-elmen di alam tersebut. Sesuai dengan perkembangan budaya masyarakat, terdapat masalah lingkungan, angka penyakit, angka kematian dan kesehatan semuanya ditentukan oleh interaksi manusia dan lingkungannya (Soemirat, 2007).

Manipulasi lingkungan adalah suatu bentuk kegiatan untuk menghasilkan keadaan sementara yang tidak menguntungkan bagi nyamuk, untuk berkembang biak di habitatnya, seperti mengangkat lumut dari laguna, pengubahan kadar garam dan sistem pengairan secara berkala dibidang pertanian (Depkes, 2002)

Menurut Depkes, (2006) bahwa tempat perkembangbiakan vektor malaria dibagi menjadi 2 tipe yaitu :
  1. Tipe permanen seperti: Rawa-rawa, laguna, sawah non teknis dengan aliran air gunung, Mata air, Kolam.
  2. Tipe temporer seperti: Muara sungai tertutup pasir di pantai, genangan air payau di pantai, kobakan air di dasar sungai waktu musim kemarau, genangan air hujan, sawah tadah hujan. Laguna adalah sekumpulan air payau yang terpisah dari laut oleh penghalang berupa pasir, karang dan semacamnya, ciri khas laguna pesisir memiliki bukaan sempit ke laut sehingga kualitas airnya agak berbeda dengan air laut (Nybakken, 1988). Menurut Dikes Lombok Utara (2009) laguna adalah sekumpulan air payau, air tawar dekat pantai yang terpisah dari laut oleh penghalang berupa pasir.

Secara kimiawi

Upaya pengendalian vektor dilakukan secara kimiawi misalnya penyemprotan rumah serta bangunan–bangunan lainnya dengan menggunakan fenitrothion, Dichloro Diphenyl Trichloroethane (DDT) dan lain-lain, namun pengendalian ini membutuhkan biaya berlipat ganda, dan harus di sadari bahwa dengan penyemprotan adalah suatu kebijaksanaan jangka pendek sedangkan jangka panjang adalah pengelolaan lingkungan.

Secara hayati

Pengendalian jentik nyamuk Anopheles sp. secara hayati dilakukan dengan mengunakan beberapa agent biologis seperti predator pemakan jentik (clarviyorous fish) yaitu gambusia, guppy, ikan nila dan ikan kepala timah, patogen misalnya dengan virus yang bersifat cytoplasmic polyhedrosis, dengan bakteri seperti Bacillus thuringiensis subsp. dengan protozoa seperti Nosema vavraia dan dengan fungi seperti Coelomomyces (WHO, 1995; Sigit dan Hadi, 2006).

Predator

Predator adalah musuh alami yang berperan sebagai pemangsa jentik dalam suatu populasi nyamuk. Fauna yang bersifat sebagai predator jentik nyamuk menurut Bates (1970) adalah filum Rotifera, filum Annelida, filum Colenterata: Hydra, filum Mollusca: Limnea. Predator dari kelompok hewan vertebrata adalah Pisces, Amphibia, Reptilia dan Aves. Sedangkan predator dari filum Arthopoda meliputi 3 kelas yaitu kelas Crustasea contohnya Entomostraca dan udang, kelas Arachnida yaitu laba - laba, kelas insekta terdiri atas Ephemeroptera (lalat sehari), Odonata (capung), Hemiptera (kepik-kepik), Coleoptera (kumbang-kumbang) dan Diptera (sebangsa lalat). Tetapi predator yang paling penting adalah ikan pemakan jentik.

Menurut Depkes (2006) penebaran ikan pemakan jentik nyamuk yaitu suatu upaya memanfaatkan ikan sebagai musuh alami (predator) jentik nyamuk yang ditebarkan pada tempat perkembangbiakan potensial nyamuk dengan tujuan pengendalian populasi jentik nyamuk, sehingga dapat mengurangi penularan. Keuntungan penggunaan ikan pemakan jentik antara lain; Sekali dikembangkan pada tempat yang cocok, populasinya akan berkembang sendiri secara terus-menerus, sehingga mengurangi populasi jentik nyamuk, biaya relatif murah, tidak mencemari lingkungan dan dapat dipelihara di rawa-rawa yang dalam dan banyak tanaman air.

Berlangganan Artikel Kesmas Disini

 
berita unik