Pemberantasan Malaria dengan Ikan Nila

Written By Lencir Kuning on Wednesday, March 20, 2013 | 9:17 PM

Pemanfaatan Predator Ikan Nila Untuk Pemberantasan Jentik  Nyamuk Penyebab Penyakit Malaria

Ikan nila (Oreochromis niloticus) sangat dikenal oleh masyarakat penggemar ikan air tawar, baik di negara berkembang maupun negara maju. Menurut sejarahnya ikan nila pertama kali didatangkan dari Taiwan ke Balai Perikanan Air tawar Bogor Indonesia pada tahun 1969. Setahun kemudian disebarkan kebeberapa daerah. Pemberian nama nila berdasarkan ketetapan Direktur Jendral Perikanan tahun 1972. Nama tersebut di ambil dari nama spesiesnya yakni nilotica kemudian diubah menjadi nila (Amri dan Khairuman, 2008).

Sedangkan kata nilotica berasal dari kata nile atau nil, yaitu nama sungai besar di Afrika yang bermuara di pantai utara Mesir. Memang negeri asal ikan nila yang asli sebenarnya adalah benua Afrika, terutama bagian barat, bagian tengah dan sungai Nil, dari sanalah ia tersebar luas ke beberapa negara di dunia (Mujiman, 1986).

Klasifikasi ikan nila
  • Filum : Chordata
  • Subfilum : Vertebrata
  • Kelas : Pisces
  • Subkelas : Acanthopterigii
  • Suku : Cichlidae
  • Marga : Oreochromis
  • Spesies : Oreochromis niloticus
Awalnya, ikan nila dimasukkan kedalam jenis tilapia atau ikan dari golongan tilapia yang tidak mengerami telur dan larva di dalam mulut induknya. Dalam perkembangannya, para pakar perikanan menggolongkan ikan nila kedalam jenis Sarotherodon niloticus yaitu kelompok ikan yang mengerami telur dan larvanya di dalam mulut induknya, sehingga nama ilmiah yang tepat untuk ikan nila adalah Oreochromis niloticus (Amri dan Khairuman, 2008).

Morfologi

Berdasarkan morfologi, Oreochromis niloticus berbeda dengan kelompok tilapia. Secara umum bentuk tubuh ikan nila panjang dan ramping, dengan sisik berukuran besar. Matanya besar, menonjol dan bagian tepinya berwarna putih. Jumlah sisik pada gurat sisi sejumlah 34 buah. Memiliki lima buah sirip, yakni sirip punggung(dorsal fin), sirip dada (pectoral fin), sirip perut (venteral fin), sirip anus (anal fin) dan sirip ekor (caudal fin). Sirip punggungnya memanjang dari bagian atas tutup ingsang hingga bagian atas sirip ekor. Ada sepasang sirip dada dan sirip perut berukuran kecil. Sirip anus hanya satu buah dan berbentuk panjang sedangkan sirip ekor berbentuk bulat dan hanya berjumlah satu buah. Ikan nila jantan memiliki ukuran sisik yang lebih besar daripada ikan nila betina.

Alat kelamin ikan nila jantan berupa tonjolan agak runcing yang berfungsi sebagai muara urin dan saluran sperma yang terletak didepan anus. Sedangkan nila betina mempunyai genital terpisah dengan lubang saluran urin yang terletak didepan anus. Bentuk hidung dan rahang belakang ikan nila jantan melebar dan berwarna biru muda pada ikan betina berbentuk agak lancip dan berwarna kuning terang. Sirip punggung dan sirip ekor ikan nila jantan berupa garis putus- putus sedangkan pada ikan nila betina garisnya berlanjut atau tidak terputus dan melingkar (Amri dan Khairuman, 2008).

Syarat hidup
Ikan nila memiliki toleransi yang tinggi terhadap lingkungan hidupnya sehingga bisa dipelihara di dataran rendah yang berair payau hingga di dataran tinggi yang berair tawar. Habitat hidup ikan nila cukup beragam dari sungai, danau, waduk, rawa,sawah, kolam hingga tambak. Ikan nila dapat tumbuh secara normal pada kisaran suhu 14-38oC dan dapat memijah secara alami pada suhu 22-27oC. Untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan suhu optimum pada ikan nila 25-30oC. Ikan nila akan mati pada suhu 6oC atau 42oC. Selain suhu faktor lain yang bisa mempengaruhi kehidupan ikan nila adalah salinitas di suatu perairan. Ikan nila bisa tumbuh dan berkembang biak pada kisaran salinitas 0- 29‰. Jika kadar garamnya 29-35‰ ikan nila bisa tumbuh tapi tidak bisa berproduksi. Ikan nila yang masih kecil atau benih biasanya lebih cepat menyesuaikan diri dengan kenaikan salinitas dibandingkan dengan ikan nila yang berukuran besar (Amri dan Khairuman, 2008).

Perilaku hidup
  1. Berkembang biak : Secara alami ikan nila bisa memijah sepanjang tahun di daerah tropis. Frekuensi pemijahan yang terbanyak terjadi pada musim hujan. Ikan nila bisa memijah 6-7 kali dalam setahun. Ikan nila akan mencapai dewasa pada umur 4-5 bulan dengan bobot sekitar 250 gram. Masa pemijahan produktif adalah ketika induk berumur 1,5-2 tahun dengan bobot di atas 500 gram/ekor. Seekor ikan nila betina dengan berat sekitar 800 gram menghasilkan larva sebanyak 1200-1500 ekor pada setiap pemijahan. Dalam waktu 50-60 detik mampu menghasilkan 20-40 butir telur yang telah dibuahi. Pemijahan itu bisa terjadi beberapa kali dengan pasangan yang sama atau berbeda hingga membutuhkan waktu 20-60 menit (Amri dan Khairuman, 2008).
  2. Kebiasaan makan: Nila tergolong ikan pemangsa segala atau omnivora sehingga bisa mengkonsumsi makanan berupa hewan atau tumbuhan. Ketika masih benih makanan yang disukai ikan nila adalah zooplankton (plankton hewani) seperti Rotifera sp., Moina sp., atau Daphina sp. Selain itu juga memangsa alga atau lumut yang menempel pada benda-benda di habitat hidupnya. Ikan nila juga memakan tanaman air yang tumbuh di kolam budidaya (Amri dan Khairuman, 2008).
  3. Laju pertumbuhan: Laju pertumbuhan ikan nila yang dibudidayakan tergantung dari pengaruh fisika dan kimia perairan dan interaksinya. Sebagai contoh, curah hujan yang tinggi akan mengganggu pertumbuhan tanaman air dan secara tidak langsung akan mempengaruhi pertumbuhan ikan nila yang dipelihara di kolam. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui laju pertumbuhan ikan nila lebih cepat jika dipelihara di kolam yang dangkal dibandingkan dengan di kolam yang airnya dalam. Penyebabnya adalah di perairan yang dangkal pertumbuhan tanaman air sangat cepat sehingga ikan nila menjadikannya makanan. Laju pertumbuhan ikan nila di kolam yang dipupuk dengan pupuk organik, seperti kotoran ternak, lebih cepat dibandingkan dengan kolam yang dipupuk dengan pupuk anorganik (Amri dan Khairuman, 2008).
Jenis ikan nila
Dari berbagai jenis ikan nila yang ada, tiga jenis di antaranya merupakan ikan nila yang produktif dan banyak dibudidayakan oleh masyarakat, terutama negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Ketiga jenis nila tersebut adalah nila lokal (biasa), nila gif dan nila merah (Nila nifi) (Amri dan Khairuman, 2008).

Kegiatan penebaran ikan nila
Penebaran ikan pemakan jentik nyamuk yaitu suatu upaya pemanfaatan ikan sebagai musuh alami jentik nyamuk yang ditebarkan ditempat perkembangbiakan potensial nyamuk dengan tujuan pengendalian populasi jentik nyamuk, sehingga dapat mengurangi penularan (Depkes, 2006). Menurut Depkes (2006) ada beberapa kegiatan sebelum penebaran ikan yaitu :
  1. Survei pendahuluan: Melakukan inventarisasi habitat vektor malaria yang potensial, kemudian pemetaan habitat, pengukuran luas, salinitas, pH, suhu dan identifikasi jenis predator, setelah itu baru dilakukan pencidukan jentik untuk mengetahui kepadatan jentik sebelum penebaran ikan. Selanjutnya lepaskan ikan nila yang jumlahnya sesuai dengan luas laguna (25 ekor per 10 m2).
  2. Waktu penebaran: Pada akhir musim hujan atau awal musim kemarau atau selama musim kemarau, pada saat luas tempat perindukan minimum.
  3. Lokasi penebaran: Lokasi adalah Desa-desa endemis malaria dimana terdapat habitat vektor malaria yang potensial dan air permanen yaitu : mata air, anak sungai, rawa-rawa, dan daerah pantai dengan air payau atau air tawar.
  4. Cara penebaran: Ikan ditebarkan atau dilepas di laguna secara pelan-pelan pada permukaan air di pagi atau sore hari, yaitu saat matahari tidak bersinar terik, sehingga benih tidak banyak mati karena pengaruh suhu tinggi (Mujiman, 1986).

Berlangganan Artikel Kesmas Disini

 
berita unik