Sikap dan Perilaku Kesehatan

Written By Lencir Kuning on Friday, March 15, 2013 | 8:40 PM

Beberapa Pengertian Teori Sikap dan Perilaku Kesehatan


Perilaku merupakan refleksi dari berbagai kejiwaan seperti keinginan, minat, pengetahuan, emosi, berfikir, sikap, motivasi dan sebagainya. Bila ditelusuri lebih lanjut maka gejala kejiwaan yang tercermin di dalam tindakan atau perilaku manusia tersebut antara lain adalah pengalaman, keyakinan, sarana-sarana fisik, budaya masyarakat. Bila dihubungan dengan perilaku mengelola sampah dapat diuraikan sebagai berikut: perilaku manusia merupakan hasil dari segala macam pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungannya yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan yang dilakukan dengan mengelola sampah sebagai wujud dari kebersihan lingkungan.

Menurut Sudibyo (2006), perilaku adalah segala sesuatu yang dikatakan dan dilakukan oleh seseorang. Antara pelaku dan aksi terdapat hubungan yang implisit, sehingga perilaku dapat diubah melalui proses belajar. Sikap mempunyai pengaruh penting terhadap perilaku. Sikap tidak dapat diamati secara langsung tetapi sikap hanya dapat diraba melalui perilaku. Perilaku merupakan salah satu aspek dari perkembangan anak yang memancarkan kondisi psikisnya dalam kehidupan sehari-hari. Triyadi (2006) menyatakan bahwa perilaku yang baik adalah perilaku yang tidak merugikan bagi dirinya sendiri maupun orang lain, misalnya sopan, ramah, jujur, rendah hati, bertanggung jawab dan sebagainya. Secara psikologis, diakui adanya individual differences, artinya setiap individu berbeda, baik dalam fisik, psikis maupun perilakunya. Oleh karena itu, tidak ada manusia yang sama persis, walaupun mereka saudara kembar. Pasti ada perbedaannya walaupun sedikit.

Perilaku adalah suatu kemampuan yang bukan bersifat bawaan, melakukan diperoleh lewat latihan. Dengan demikian tingkah laku yang baik dapat dilatihkan kepada setiap anak, dan tentu saja latihan akan mendapatkan hasil yang lebih baik, dalam hal ini perilaku mengelola sampah. Menurut Kurniawan (2002), perilaku dipengaruhi oleh berbagai faktor individual, seperti kecakapan, kepribadian, persepsi dan pengalaman. Karakteristik perilaku adalah perilaku adalah akibat, perilaku diarahkan oleh tujuan, perilaku dapat diamati dan diukur, perilaku dapat dimotivasi. Menurut Soewarta (2008) perilaku manusia pada dasarnya berorientasi pada tujuan artinya perilaku umumnya di motivasi oleh keinginan untuk memperoleh tujuan tertentu.

Putra (2008) menyebutkan bahwa bentuk dari operasional perilaku dapat dikelompokkan dalam tiga jenis yaitu : 1) Perilaku dalam bentuk pengetahuan, yakni dengan mengetahui situasi atau rangsangan dari luar, 2) Perilaku dalam bentuk sikap, yakni tanggapan batin terhadap keadaan atau rangsangan dari luar diri subjek, dan 3) Perilaku dalam bentuk tindakan yang sudah konkrit, berupa perbuatan atau aksi terhadap situasi atau rangsangan dari luar. Pratiwi (2010) mengemukakan bahwa kemungkinan seseorang akan berbuat sesuatu tergantung pada hasil perpaduan dari keinginan bahwa kegiatan yang dilakukan akan bisa mencapai tujuan yang diinginkan , pentingnya tujuan tersebut menurut yang bersangkutan dan sarana maupun usaha yang diperlukan.

Menurut Ratih (2006) perilaku manusia dapat diukur melalui tiga ranah, yaitu: kognitif (pengetahuan), afektif (sikap) dan psikomotor (praktek). Pengetahuan (knowledge) adalah hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman. Pengetahuan merupakan domain yang penting, sehingga seseorang yang melakukan tindakan perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif terdiri atas enam tingkatan yaitu : a) Tahu (know) sebagai tingkatan yang paling rendah, b) Memahami (comprehension) adalah kemampuan untuk menjelaskan secara benar, c) Aplikasi (application) adalah kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi yang sebenarnya, d) Analisis (analysis) adalah kemampuan untuk menjabarkan materi/objek ke dalam komponen-komponen, e) Sintesis (synthesis) adalah kemampuan untuk meletakkan atau menghubungakan bagian-bagian ke dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru ataupun menyusun suatu formula, dan f) Evaluasi (evaluation) adalah kemampuan untuk melakukan justifikasi. Sikap (attitude) merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek.

Menurut Handayani (2010), sikap adalah suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan mendukung atau memihak (favorable) maupun perasaan tidak mendukung atau tidak memihak (unfavorable) pada objek tersebut. Sikap masih bersifat tertutup, tidak dapat dilihat langsung dan belum terwujud, Menurut Mulyono (2005), sikap terdiri terdiri dari beberapa tingkatan, Yaitu :

a) Menerima (receiving), artinya bahwa orang atau subjek mau memperhatikan stimulus atau objek yang diberikan, b) Merespon (responding) artinya bahwa orang akan memberi jawaban bila ditanya atau mengerjakan/menyelesaikan tugas yang diberikan, c) Menghargai (valuing) artinya bahwa orang mau mengajak orang lain untuk mendiskusikan atau mengerjakan sesuatu hal, dan d) Bertanggung jawab (responsible) sebagai tingkatan sikap yang paling tinggi dimana orang bertanggung jawab atas suatu hal yang sudah dipilihnya dengan segala risiko.

Menurut Handayani (2010) sikap atau attitude adalah pernyataan evaluatif positif atau negatif tentang objek, orang ataupun peristiwa. Sikap terdiri atas tiga komponen yaitu: a) Komponen kognitif yang berisi persepsi, pendapat/ide kepercayaan terhadap seseorang/objek, b) Komponen afektif yaitu emosi atau perasaan, dan c) Kecenderungan untuk bertindak. Proses pembentukan sikap menurut Eviandaru (2003) berlangsung secara bertahap, kemampuan untuk bersikap diperoleh melalui proses belajar. Perubahan sikap bisa berupa penambahan, pengalihan atau modifikasi dari satu atau lebih dari ketiga komponen sikap dengan kemungkinan satu atau dua komponen sikap berubah tetapi komponen yang lain tetap. Praktek atau tindakan suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan. Untuk terwujudnya sikap agar menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas. Terbentuknya suatu perilaku baru dimulai dari domain kognitif, yaitu si subjek tahu terlebih dahulu terhadap stimulus yang berupa materi, sehingga menimbulkan pengetahuan baru pada subjek dan selanjutnya menimbulkan respon batin dalam bentuk sikap. Akhirnya, objek yang telah diketahui dan didasari sepenuhnya akan menimbulkan respon berupa tindakan (praktek).

Menurut Pratiwi (2010), perilaku manusia cenderung bersifat holistik (menyeluruh) dari tiga aspek, yaitu: fisiologi, psikologi dan sosial yang saling mempengaruhi dan sulit untuk dibedakan. Oleh karena itu, faktor penentu/ determinan perilaku sulit dibatasi, karena perilaku merupakan resultante dari berbagai jenis faktor, baik internal maupun eksternal. Bila masalah perilaku ini dianalisis lebih lanjut, maka terdapat faktor lain yang secara tidak langsung turut berpengaruh. Faktor-faktor tersebut di antaranya adalah pengetahuan/ pengalaman, keyakinan, fasilitas, dan sosial budaya.

Notoatmodjo (2003) telah memberikan batasan tentang pengertian perilaku sebagai suatu aktivitas pada manusia, baik yang dapat diamati secara langsung atau secara tidak langsung seperti berfikir, persepsi dan emosi. Perilaku adalah hasil hubungan antara perangsang (stimulus) dan tanggapan (respon). Menurut Budi (2001), perilaku manusia (human behavior) sebagai reaksi yang dapat bersifat sederhana maupun bersifat kompleks. Karakter individu meliputi berbagai variabel seperti motif, nilai-nilai, sifat kepribadian dan sikap yang saling berinteraksi satu sama lain dan kemudian berinteraksi pula dengan faktor-faktor lingkungan dalam menentukan perilaku. Faktor lingkungan memiliki kekuatan besar dalam menentukan perilaku, bahkan kadang-kadang kekuatannya lebih besar dari pada karakteristik individu Green (2000) mengemukakan pendapat Gerace bahwa komponen perilaku dapat dilihat dalam dua aspek perkembangan penyakit. Pertama, perilaku mempengaruhi faktor penyakit tertentu, faktor risiko adalah ciri kelompok individu yang menunjuk mereka sebagai at high risk terhadap penyakit tertentu Kedua, perilaku itu sendiri dapat berupa faktor risiko, sebagai contoh petugas pengangkut sampah yang bekerja tanpa memakai alat pelindung diri seperti sarung tangan, alat pengumpul sampah dan lain-lain dianggap sebagai faktor risiko untuk terpapar penyakit yang disebabkan oleh sampah

Menurut Oktarina (2009), perilaku manusia merupakan hasil dari segala macam pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungannya yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan. Dengan kata lain perilaku merupakan respon reaksi seorang individu terhadap stimulus yang berasal dari luar maupun dari dalam dirinya. Respon ini dapat bersifat pasif (tanpa tindakan: berpikir, berpendapat, bersikap) maupun aktif (melakukan tindakan). Perilaku aktif dapat dilihat (overt), sedangkan perilaku pasif tindakan tidak nampak (convert), seperti misalnya pengetahuan, persepsi dan motivasi Mila (2006) mendefinisikan perilaku sebagai suatu respon individu terhadap stimulus baik yang berasal dari luar maupun dari dalam dirinya.

Perilaku ini dibagi dalam tiga jenis yaitu : 1) Perilaku ideal (ideal behavior), perilaku ini merupakan tindakan yang bisa diamati yang menurut para ahli perlu dilakukan oleh individu atau masyarakat untuk mengurangi atau membantu memecahkan masalah, 2) Perilaku yang sekarang, perilaku ini dapat diidentifikasi dengan observasi dan wawancara di lapangan. Perilaku ini merupakan yang dilaksanakan pada saat ini dan, 3) Perilaku ini diharapkan bisa dilaksanakan oleh sasaran oleh karena itu disebut juga target behavior Menurut Panjaitan (2010), perilaku memiliki tiga domain atau bidang. Ketiga bidang domain tersebut adalah: 1) cognitive domain (bidang pengetahuan), 2) affective domain (bidang sikap), dan 3) psychomotoric domain (bidang praktek/tindakan). Masing-masing mempunyai tingkat kemampuan (level of competency).

Domain pengetahuan adalah perilaku terjadi karena pertumbuhan perkembangan bakat, belajar/pengalaman. Pengetahuan atau kognitif ini merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behavior). Domain sikap adalah perilaku, dibentuk oleh tiga komponen pokok yaitu berpikir, keyakinan dan emosi. Domain praktek atau tindakan adalah wujud dari sikap menjadi perbuatan nyata yang memerlukan faktor pendukung. Handayani (2010) mengatakan bahwa perilaku manusia merupakan hasil dari segala macam pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungannya yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan. Dengan kata lain, perilaku merupakan respon/reaksi seorang individu terhadap stimulus yang berasal dari luar maupun dari dalam dirinya. Respon ini dapat bersifat pasif (tanpa tindakan: berpikir, berpendapat, bersikap) maupun aktif (melakukan tindakan), Perilaku aktif dapat dilihat (overt), sedangkan perilaku pasif tidak dapat dilihat (covert),seperti misalnya pengetahuan, persepsi dan motivasi.

Menurut Soewarta (2008), proses pembentukan dan perubahan perilaku dipengaruhi oleh beberapa faktor internal dan eksternal, Faktor internal tersebut meliputi kecerdasan, persepsi, motivasi , minat, emosi dan sebagainya untuk mengolah pengaruh-pengaruh dari luar. Faktor eksternal meliputi objek, orang, kelompok dan hasil-hasil kebudayaan yang dijadikan sasaran dalam mewujudkan bentuk perilakunya. Kedua faktor tersebut akan dapat terpadu menjadi perilaku yang selaras dengan lingkungannya apabila perilaku yang terbentuk dapat diterima oleh lingkungannya, dan dapat diterima oleh individu yang bersangkutan.

Faktor yang dapat mempengaruhi perilaku menurut Mulyono (2005), tindakan maupun sikap manusia adalah gabungan dari berbagai faktor yang ada dalam kehidupan seseorang. Faktor tersebut adalah pendidikan, penghasilan, keadaaan sosial budaya, norma atau nilai-nilai serta pengalaman sejak kecil. Menurut Sasongko (2005), manusia sebagai individu membutuhkan unsur yang diperlukan agar bisa melakukan sesuatu adalah yaitu : 1) Pengertian atau pengetahuan (knowledge) tentang yang akan dilakukan (cognitive), 2) Sikap (affective), yaitu keyakinan atau kepercayaan tentang manfaat dan kebenaran dari yang akan dilakukan (attitude yang positif); 3) Sarana yang diperlukan untuk melakukannya, dan 4) Dorongan atau motivasi untuk berbuat yang dilandasi oleh kebutuhan yang dirasakan. Pada kenyataannya, hubungan antara unsur-unsur perilaku tersebut tidak sepenuhnya seperti yang telah dijelaskan, yaitu pengetahuan dan sikap yang positif tidak selalu diikuti oleh tindakan,

Namun demikian, jika menghendaki suatu perilaku melembaga atau lestari jelas diperlukan pengetahuan dan sikap yang positif tentang yang akan dikerjakan. Pratiwi (2010) menyebutkan bahwa perilaku manusia secara individu, kelompok masyarakat dan komunitas, dapat dipengaruhi oleh faktor persiapan, faktor pemungkin dan faktor pendorong. Strategi pendidikan dan organisasinya yang memungkinkan untuk dipekerjakan dalam program promosi kesehatan untuk menghasilkan perubahan perilaku dan lingkungan yang mendukung memiliki tiga faktor sebagai: 1) Faktor persiapan (predisposing factors), meliputi pengetahuan individu, sikap, sosiodemografi, tradisi, kepercayaan, norma sosial, persepsi serta unsur-unsur lain yang terdapat didalam diri individu dan masyarakat yang memfasilitasi atau menunda motivasi atas perubahan, 2) Faktor pemungkin atau pendukung (enabling fakctors) adalah keterampilan, sumber daya atau rintangan yang bisa membantu perubaha- perubahan perilaku yang dikehendaki seperti juga perubahan lingkungan, dan 3) Faktor pendorong (reinforcing factors), yaitu penghargaan yang diterima dan umpan-balik lainnya berikut adopsi perilaku, mungkin mendukung atau melemahkan keseimbangan perilaku.

Terbentuknya perilaku baru, terutama pada orang dewasa menurut Pratiwi (2010) dimulai pada domain kognitif dalam arti subjek tahu terlebih dahulu terhadap stimulus yang berupa materi atau objek di luarnya sehingga menimbulkan pengetahuan baru pada subjek tersebut dan selanjutnya menimbulkan respon batin dalam bentuk sikap subjek terhadap objek yang diketahui tersebut. Akhirnya, rangsangan yakni objek yang telah diketahui dan disadari sepenuhnya tersebut akan menimbulkan respon lebih jauh lagi, yaitu berupa tindakan (action) terhadap atau sehubungan dengan stimulus atau objek tersebut. Namun demikian, d idalam kenyataannya, stimulus yang diterima oleh subjek dapat menimbulkan tindakan. Artinya, seseorang dapat bertindak atau berperilaku baru tanpa mengetahui terlebih dahulu makna stimulus yang diterimanya. Dengan kata lain, tindakan (practice) seseorang harus didasari oleh pengetahuan atau sikap.

Pengetahuan (knowledge) adalah hasil tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Agnes (2002) mengemukakan bahwa komponen kognitif merupakan representasi yang dipercaya oleh individu. Menurutnya, komponen kognitif berisi persepsi dan kepercayaan yang dimiliki individu mengenai sesuatu kepercayaan datang dari yang telah dilihat, kemudian terbentuk suatu ide atau gagasan mengenai sifat atau karakteristik umum suatu objek. Sekali kepercayaan telah terbentuk, akan menjadi dasar pengetahuan seseorang mengenai yang dapat diharapkan dari objek tertentu. Namun kepercayaan sebagai komponen kognitif tidak terlalu akurat.

Kadang-kadang kepercayaan tersebut terbentuk justru dikarenakan kurang atau tiadanya informasi yang benar mengenai objek yang dihadapi. Seringkali komponen kognitif ini dapat disamakan dengan pandangan (opini), terutama apabila menyangkut masalah isu atau problem yang kontroversial. Perubahan perilaku, menurut Sudibyo (2006), yang didasari oleh pengetahuan, kesadaran dan sikap yang positif, akan bersifat lenggeng (long lasting). Sebaliknya apabila perilaku tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran akan tidak berlangsung lama. Sebagai contoh, misalnya para siswa SMA yang selalu diingatkan untuk membuang sampah pada tempatnya, selalu mencuci tangan sebelum makan, disarankan untuk memakai pelindung diri saat bekerja di laboratorium atau bengkel, tanpa adanya pengetahuan akan makna dan tujuan dari kebiasaan hidup sehat, siswa tersebut hanya beberapa saat saja mematuhi saran atau peraturan tersebut. Sikap (attitude) merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek.

Komponen afektif merupakan perasaan individu terhadap objek sikap yang menyangkut aspek emosional. Aspek emosional inilah yang biasanya berakar paling dalam sebagai komponen sikap dan merupakan aspek yang paling bertahan terhadap pengaruh-pengaruh yang mungkin akan mengubah sikap seseorang. Menurut Handayani (2010), sikap merupakan suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan. Sikap seseorang terhadap suatu objek adalah perasaan mendukung atau memihak (favorable) maupun perasaan tidak mendukung atau tidak memihak (unfavorable) pada objek. 
Sikap merupakan semacam kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu objek dengan cara-cara tertentu. Dapat dikatakan bahwa kesiapan yang dimaksudkan merupakan kecenderungan potensi untuk bereaksi dengan cara tertentu apabila individu dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki adanya respon. Ratih (2006) mengatakan bahwa sikap mempunyai tiga komponen pokok, yaitu: 1) kepercayaan (keyakinan), ide dan konsep terhadap suatu objek, 2) kehidupan emosional atau evaluasi emosional terhadap suatu subjek, dan 3) kecenderungan untuk bertindak (trend to behave). Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh (total attitude). 
Suatu contoh, misalnya siswa yang sudah mendapatkan atau mendengar tentang risiko sampah, akan berpikir dan berusaha supaya tidak terserang penyakit akibat pengaruh sampah. Dalam berpikir ini komponen emosi dan keyakinan ikut bekerja/aktif, sehingga para siswa berniat untuk melakukan pencegahan. Dengan demikian, para siswa mempunyai sikap tertentu terhadap objek yang berupa pengaruh sampah. Praktek atau tindakan (practice), merupakan komponen kognitif dalam struktur sikap yang menunjukkan bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku yang ada dalam diri seseorang berkaitan dengan objek sikap yang dihadapinya. Kaitan ini didasari oleh asumsi bahwa kepercayaan dan perasaan banyak mempengaruhi perilaku. 
Komponen perilaku berisi tendensi atau kecenderungan untuk bertindak atau bereaksi terhadap sesuatu dengan cara-caratertentu. Pengertian kecenderungan berperilaku menunjukkan kognitif. Berdasarkan uraian di atas, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa perilaku manusia merupakan hasil dari segala macam pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungannya yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan. Dengan kata lain, perilaku merupakan respon/reaksi seorang individu terhadap stimulus yang berasal dari luar maupun dari dalam dirinya. Respon ini dapat bersifat pasif (tanpa tindakan: berfikir, berpendapat, bersikap) maupun aktif (melakukan tindakan). Perilaku aktif dapat dilihat (overt), sedangkan perilaku pasif tidak dapat dilihat (covert), seperti misalnya pengetahuan, persepsi dan motivasi.

Berlangganan Artikel Kesmas Disini

 
berita unik