Geomorfologi dalam AMDAL

Written By Lencir Kuning on Monday, November 12, 2012 | 10:58 PM

Kedudukan Geomorfologi dalam Pelaksanaan Studi AMDAL



Geomoforlogi pada tahap awal perkembangannya lebih dianggap sebagai sebagai kajian dalam suatu ilmu. Beberapa dekade terakhir ini telah meluas terapannya dalam berbagai bidang dalam memiliki arti penting dalam berbgai bidang dan memiliki arti penting praktis untuk tujuan tertentu. Hal tersebut disebabkan oleh lingkup geomorfologi yang cukup luas dan terkait dengan objek kajian dari disiplin ilmu yang lain maupun diperlukannya pertimbangan aspek bentuk lahan untuk setiap kegiatan pembangunan yang terkait dengan lahan. Menurut Verstappen (1983) terapan geomorfologi dapat dikelompokkan menjadi 6 macam, yaitu :

  1. Terapan dalam ilmu – ilmu social (seperti : arkeologi, sejarah dan demografi). 
  2. Terapan dalam ilmu – ilmu kebumian (seperti : geologi, pedologi dan oseanogafi), dalam survai, pemetaan tematik (pemetaan erosi), pemetaan air tanah, pemetaan tanah dan pemetaan lahan kritis). 
  3. Terapan dalam kajian gangguan lingkungan terutama yang ditimbulkan oleh bencana alam seperti : longsor (landslide), gempa bumi, kegunung-apian, lahan terban/amblesan, banjir dan kekeringan. 
  4. Terapan geomorfologi dalam pengembangan pedesaan dan perencanaan pengembangan wilayah, terutama dalam bidang pertanian , pengendalian erosi dan konservasi lahan, dan pengembangan daerah aliran sungai. 
  5. Terapan geomorfologi dalam bidang perkotaan terutama diarahkan kepada perluasan wilayah kota, pemilihan untuk permukiman, industri atau kegiatan pertambangan. 
  6. Terapan geomorfologi dalam bidang kerekayasaan, seperti dalam kerekayasaan jalan raya, kerekayasaan sungai dan kerekayasaan pantai. Uraian tersebut menunjukkan bahwa terapan geomorfologi itu cukup luas termasuk dalam kajian lingkungan. 


Dalam penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan, Analisis Dampak Lingkungan selalu melibatkan aspek – aspek geomorfologi seperti :

  1. Dalam uraian singkat rona lingkungan awal dalam AMDAL disebutkan fisiografi yang meliputi : morfologi, topografi dan struktur geologi; 
  2. Dalam penyusunan AMDAL disebutkan adanya komponen rencana kegiatan yang diperkirakan akan menimbulkan masalah lingkungan secara berarti : antara lain pelongsoran tanah, ketidakstabilan lahan/lereng, bahaya banjir, pencemaran lingkungan dan daya serap tanah akan air, dalam proses penyusunan AMDAL juga perlu dikemukakan rona lingkungan awal tentang fisiografi (lengkap dengan peta berskala memadai), yang meliputi topografi bentuk lahan, struktur geologi, indikator lingkungan yang berhubungan dengan stabilitas geologis dan tanah, terutama ditekankan bila terdapat gejala ketidakstabilan, dan harus diuraikan dengan jelas dan seksama (longsor tanah, gempa besar, dan kegiatan – kegiatan vulkanis), serta keunikan, keistimewaan, dan kerawanan bentuk lahan dan bantuan secara geologi; 
  3. Dalam perkiraan dampak penting yang mungkin timbul akibat kegiatan aspek fisiografi yang diperlukan adalah : ·         Kestabilan geologi (tanah longsor, sesar dan sebagainya) ·         Kestabilan lereng (erosi yang diakibatkan oleh adanya tanah kepentingan rencana kegiatan penggalian) ·         Bentuk lahan yang unik ·         Perubahan/modifikasi lahan akibat penggalian, penimbunan terowongan pengambilan bahan baku (batu,kapur) atau pembuangan sampah dalam bentuk penimbunan. 
  4. Dalam penyusunan studi AMDAL dari kegiatan yang sudah berjalan, diperlukan uraian komponen kegiatan yang diperkirakan telah atau akan menimbulkan masalah lingkungan secara berarti, antara lain : Longsor tanah, Ketidakstabilan lahan / lereng, Bahaya banjir, pencemaran lingkungan, Penggundulan vegetasi penutup (Sekretariat Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup, 1987).


Apabila ditelaah dari uraian tersebut ternyata geomorfologi memiliki peranan yang berarti dalam studi AMDAL bahkan hingga rencana pemantauan lingkungan (RPL) rencana kegiatan yang sudah berlangsung. Peranan geomorfologi yang cukup berarti dalam studi lingkungan tersebut dapat dimengerti karena setiap kegiatan dari itu pasti terletak pada bentuk lahan tertentu. Dan setiap bentuk lahan memiliki watak tertentu, sehingga setiap kegiatan yang akan dilaksanakan atau yang telah dilaksanakan besar atau kecil akan merubah atau mempengaruhi watak dari bentuk lahan.

Watak dari bentuk lahan ditentukan oleh morfomeri, proses geomorfologi, material penyusun dn konteknya dengan lingkungan. Aspek geomorfologi tersebut tidak berdiri sendiri – sendiri tetapi jalin menjalin melalui suatu sistem. Apabila salah satu aspek tersebut mengalami suatu perubahan sebagai berikut suatu kegiatan maka akan diikuti oleh perubahan sebagai akibat suatu kegiatan maka akan diikuti oleh perubahan dari aspek lainnya. Misalnya : kegiatan pengambilan dari aspek lainnya. Misalnya : kegiatan pengambilan material dasar sungai akan mengakibatkan morfometri lembah sungai, yang akan menyebabkan erosi terhadap dasar sungai menjadi semakin aktif, yang selanjutnya dapat merusakkan bangunan di sepanjang aliran sungai.

Contoh lain : suatu laguna lama yang semula berfungsi sebagai penampungan limpahan air hujan kemudian dijadikan lahan pemukiman dengan jalan pengurukan  akan merubah morfometri maupun material penyusunnya ; sehingga proses geomorfologi di daerah tersebut akan mengalami perubahan, yaitu tidak dapat menampung air hujan lagi bahkan memberikan lingkungan ke daerah di sekitarnya, daerah di sekitarnya menjadi sasaran genangan, yang mungkin belum pernah terjadi sebelumnya.

Berlangganan Artikel Kesmas Disini

 
berita unik